
" Boleh Aku bergabung? "
Key dan Sisil kompak melihat pria asing, yang tiba-tiba ingin bergabung dengan mereka. Mereka saling tatap, kemudian menggeleng kecil, tanda tidak tahu siapa pria asing itu. Sedangkan pria itu sudah duduk, tanpa mendengar jawaban Key dan Sisil. Key yang melihat itu mendengus kesal, merasa pria itu sangat tidak sopan. Untuk apa bertanya jika ujungnya tetap duduk tanpa mendengar jawabannya. Jika akan tau seperti itu, dia akan menolak pria itu bergabung.
Berbeda dengan Sisil, yang tampak santai saja seolah tidak keberatan dengan tindakan pria itu. Key semakin mendengus melihat kelakuan Sisil, yang tidak bisa jika sudah melihat pria tampan. Lihat saja dia kan mengadukan ini pada Heri.
" Ehm! Maaf, tapi Aku belum mengijinkan mu duduk! " Ucap Key sedikit ketus pada pria itu, tanda jika dia tidak suka dengan tindakan pria itu.
Sil berdecak mendengar ucapan Key, yang terkesan mengusir pria itu. " Key kenapa Kau bicara seperti itu! Kau ini! " protes Sisil, sembari tersenyum masam pada pria itu. Dia merasa tidak enak dengan ucapan Key.
" Ah maaf, sepertinya Aku menganggu. Kalau begitu Aku pergi saja. " Ucap pria itu, mulai berdiri dari duduknya matanya menatap Key lekat, yang menatapnya penuh ketidak sukaan. Entah kenapa, dia merasa tidak suka dengan pria itu, padahal mereka baru bertemu.
Baru saja Key ingin menjawab, bibirnya lebih dulu di bungkam Sisil dengan tangan gadis itu. Seakan tau apa yang akan di katakan Key, Sisil dengan cepat menutup mulut sahabatnya itu, dan memotong ucapan Key. Tentu aksi Sisil, membuat Key terkejut sekaligus marah. Dia segera melepaskan tangan Sisil yang berada di bibirnya dengan sedikit kasar.
" Tidak, Kau sama sekali tidak mengganggu. Duduk saja, kami tidak keberatan benar kan Key?! "
Mata Key membola mendengar ucapan Sisil. Sontak tangannya bergerak mencubit tangan Sisil, membuat gadis itu mengaduh kesakitan dan menatap tajan Key, yang juga melototinya.
Pria itu urung beranjak dari sana, begitu mendengar ucapan Sisil. Key mendengus melihatnya. Dia memilih mengalihkan tatapannya saat sadar jika pria itu terus menatapnya. Ingin sekali dia mencongkel mata itu. Dan Sisil, awas saja dia setelah ini.
Seolah tidak terjadi apapun, pria itu malah bersikap santai. Padahal sudah tau jika kedatangannya tidak diterima. Tidak, lebih tepatnya, hanya Key yang seperti itu. Di merasa terganggu dengan kedatangan pria itu.
" Aku Daniel, dan kalian pasti karyawan di Bagaskara corp, benar bukan? " Ucap pria itu membuat Key dan Sisil terkejut dengan ucapannya. Key yang semula malas, kini mengalihkan tatapannya melihat Daniel, yang terus menebarkan senyumnya.
" Bagaimana Kau tau? " Tanya Sisil dengan ekspresi kagetnya. Membuat Daniel terkekeh kecil.
" Kalian pikir untuk apa Aku kesini, jika tidak mengenal kalian. "
Tatapan Daniel beralih pada Key. " Kau pasti Keysha, yang saat ini menjadi tunangan bosmu bukan. Aku mendengar skandal kalian waktu itu. Aku tidak menyangka, pria sekelas Adytia akan melakukan itu. "
" Apa maksudmu?! " Key mulai tersulut. Apa pria ini berusaha menjelekkan Adit?
__ADS_1
" Ah maaf, maksudku pria sekelas Aditya pasti sangat menjaga kehormatannya bukan? dan sekarang dia justru terlibat skandal denganmu yang notabenya adalah karyawannya sendiri. "
Entah apa sebenarnya maksud dari ucapan Daniel, itu membuat Key bingung. Memang dia siapa berhak menilai seseorang seperti itu. Key semakin tidak suka dengan Daniel yang seolah sengaja melakukan semua ini.
" Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu, tapi dengar baik-baik, semua itu tidak ada hubungannya denganmu, jadi Kau tidak perlu ikut campur. " Geram Key.
Sisil hanya bisa diam karena dia juga tidak tau harus mengatakan apa. Dia juga merasa bersalah, karena mengijinkan Daniel bergabung dengan mereka. Dia pikir, Daniel hanya ingin menyapa dan berkenalan sebentar, ternyata pria itu malah mengenali mereka, dan membahas sesuatu yang sensitif bagi Key.
" Sepertinya Kau sudah salah paham nona Key. Aku tidak bermaksud ... "
Key bangun dari duduknya, membuat ucapan Daniel terhenti. Tanpa sepatah katapun Key pergi dari sana meninggalkan Daniel dan Sisil yang menatapnya bingung.
" Key Kau mau ke mana?! " Teriak Sisil, namun tidak dijawab Key yang terus berjalan.
Sampai Key menghilang dari pandangan mereka, Alice kembali menatap Daniel gang memasang wajah bersalahnya.
" Sepertinya Aku melakukan kesalahan. "
" Kalau begitu, Aku harus meminta maaf padanya. " Ucap Daniel, hendak bangun namun ditahan Sisil.
" Jangan, dia terlihat emosi tadi, jadi sebaiknya jangan sekarang. Biar Aku saja yang mengatakannya nanti. " Larang Sisil, saat melihat emosi di wajah Key tadi. " Ah ya, bagaimana Kau bisa mengenal kami? dan... skandal Key dengan bos Adit, bagaimana Kau tau itu? "
Daniel hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Sisil, yang begitu penasaran. Tepat setelah itu, ponsel Daniel berbunyi dan pria itu langsung mengangkatnya. Matanya kembali melihat Sisil yang seolah berharap Daniel segera mengakhiri pembicaraannya di telepon dan segera mengatakan apa yang dia tanyakan. Namun harapannya meleset, saat Daniel mengatakan jika pria itu harus pergi, dan meninggalkan Sisil dengan rasa penasarannya.
" Sebenarnya siapa dia? "
***
Sementara Key kini berada di toilet. Dia tidak benar-benar pergi dari restoran itu. Dia memilih ke toilet, untuk mencuci mukanya, berharap emosinya yang hampir tersulut bisa reda. Untung saja dia segera pergi dari sana, jika tidak dia tidak berjanji, jika wajah Daniel akan selamat dari korban tangannya. Jika mengingat itu, rasanya dia begitu kesal. Kenapa pria itu harus membahas skandal itu. Kejadian yang membuat ketenangan hidupnya terenggut, kejadian yang sempat membuat hubungannya dengan sang mama renggang.
Tapi dia penasaran dengan sosok Daniel yang mengenal dirinya, bahkan tau tentang skandal tentangnya. Aish, dia lupa jika skandal itu pernah disiarkan di televisi, tentu saja pria itu tau. Apalagi saat konferensi pers, dia bahkan muncul di sana.
__ADS_1
Key menepuk keningnya, bagaimana dia bisa melupakan hal itu. Tapi yang menjadi pertanyaan di benaknya saat ini, siapa Daniel. Apa hubungannya skandalnya dengan pria itu, bahkan dia merasa, Daniel mencoba menjelekkan Adit tadi.
Tunggu, apa dia merasa kesal karena Daniel yang menjelekkan Adit? bukankah seharusnya dia senang? Tapi kenapa dia seolah kesal tadi.
Key menggeleng kuat, menampik semua pikiran itu.
" Sepertinya Aku sudah gila. "
Tidak ingin pikirannya semakin aneh, Key segera keluar dari toilet. Key berjalan keluar restoran, dia tidak berminat lagi untuk kembali ke tempatnya. Rasanya dia masih kesal pada Daniel, padahal apa yang dikatakan pria itu semua benar. Tapi entah kenapa dia tidak suka dengan keberadaan Daniel.
Key hanya mengirim pesan pada Sisil bahwa dirinya sudah berada di luar dan menunggu gadis itu di sana.
Tepat setelah Key keluar, dia justru berpapasan dengan Daniel di sana. Padahal dia sedang menghindari pria itu, tapi sekarang justru mereka bertemu di luar.
Hening, hanya tatapan mereka yang berbicara. Mereka saling menatap sebentar sebelum Key memutus tatapan itu. Key berjalan menghampiri Daniel, yang diam seolah menunggu Key.
" Siapa Kau? " Tanya Key penuh penekanan.
Cekrek
Tanpa sadar mereka menjadi objek kamera tidak bertanggung jawab, yang berhasil membidik mereka dari kejauhan.
*
*
*
Happy reading😘
Jangan lupa ritualnya ya😊 maap kalau kalau kurang memuaskan ya🤧 kalau ada kritik dan saran boleh kok diutarakan, othor malah seneng😊
__ADS_1
Lope you all❤️