Stuck With New Employe

Stuck With New Employe
Bab. 20


__ADS_3

Perusahaan kembali aktif seperti sedia kala. Begitu selesai konferensi, Adit sengaja kembali mengaktifkan perusahaan keesokan harinya, karena ia memikirkan nasib karyawannya jika ia terlalu lama menonaktifkannya. Selain itu keadaan perusahaan mulai kembali stabil, berkat dukungan orang yang berada di pihaknya, dan bukti yang dikumpulkannya yang membuat posisinya yang hanya korban semakin kuat, itulah sebabnya perusahaan Adit lekas kembali pulih meskipun tidak seperti dulu. Adit masih harus bekerja sedikit lebih keras untuk kembali menyakinkan para investor yang mencabut investasinya di Bagaskara Corp, untuk kembali bekerja sama.


Adit terlihat melamun di ruang kerjanya memikirkan siapa yang tengah ditemui papanya. Tidak biasanya papanya bertemu dengan seseorang disaat jam kantor, bahkan bertemu di luar kantor seperti sekarang. Semakin dipikir Adit semakin penasaran, membuatnya tidak fokus dengan berkas-berkas yang menumpuk, menunggu untuk dijamah nya.


" Sebenarnya siapa yang sedang ditemuinya? kenapa sampai sekarang dia belum juga kembali?" Rasa penasaran Adit semakin dalam karena sampai saat ini papanya belum juga kembali, sejak Adit tiba di kantor.


" Bahkan ini sudah jam makan siang, dan dia masih belum kembali juga, sebenarnya kemana dia pergi?! " Kesabaran Adit mulai menipis, Dia beranjak dari duduknya berniat mencari keberadaan papanya, namun niatnya terhenti setelah seseorang membuka pintu ruang kerjanya.


Adit menoleh mendapati asistennya masuk. " Apa papa sudah kembali? "


" Tuan Feri baru saja tiba tuan. Apa perlu saya memberitahu beliau jika anda ingin menemuinya? "


" Tidak perlu, aku akan langsung ke ruangannya. " Tolak Adit kemudian bergegas keluar dari ruangannya melewati asistennya begitu saja tanpa rasa terima kasih sedikitpun.


Dika yang sudah kebal dengan sikap Adit memilih mengabaikannya, kemudian ikut keluar menyusul Adit.


Dika terus mengekori Adit di belakang, membuat Adit sedikit risih. " Apa perlu saya menemani anda tuan? " Niat baik yang ditawarkan Dika tidak sesuai dengan ekspektasinya. Pria itu justru kembali menjadi korban mulut tajam bosnya.


Adit menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah asistennya yang terus saja mengekori dirinya. " Apa kau tidak punya pekerjaan selain terus mengikuti ku?! Dan aku bukan anak kecil yang harus ditemani olehmu. Pergi sana!! " Usir Adit sarkas tanpa perasaan dengan tatapan nyalang.


" Ah baiklah, kalau begitu saya permisi tuan." Telinga Dika serasa panas begitu pun dengan hatinya yang dongkol dengan mulut tajam Adit, membuatnya memilih undur diri setelah mendapat pengusiran tanpa rasa kemanusiaan. Meskipun begitu, ia tetap pamit dengan sopan pada bosnya, akal sehatnya masih bekerja untuk tidak membalas ucapan pedas bosnya yang bisa membuat hidupnya terancam.


Dengan menggerutu pelan, Dika mulai berjalan menjauhi Adit yang masih menatapnya nyalang. Hingga dimana Adit juga mulai kembali berjalan ke ruangan papanya dan menghilang dari pandangan Dika. Dika mengeluarkan segala umpatannya yang sejak tadi ia simpan. Tidak peduli dengan karyawan lain yang menatap dirinya aneh, ia ingin mengeluarkan kekesalannya yang ia tahan sedari tadi, sampai ia merasa puas.


Rasanya Dika sedikit menyesal membantu bosnya itu keluar dari masalah jika sikap bosnya begitu mengesalkan seperti sekarang. Ingin melawan tapi dia tidak cukup kaya darinya, sehingga ia hanya bisa diam dan sekali lagi membesarkan hatinya.


***


" Masuk! "

__ADS_1


Adit langsung memasuki ruang kerja papanya, Begitu mendapat jawaban dari sang papa, yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


" Adit? " Feri sedikit terkejut melihat Adit ternyata yang mengetuk pintu.


" Aku ingin membicarakan hal penting pada papa, kuharap papa tidak sedang sibuk sekarang." Tanpa basa-basi Adit langsung mengutarakan tujuannya menemui sang papa.


" Sepertinya papa tahu hal penting itu." Feri tersenyum kecil begitu mengetahui isi pikiran putranya itu.


" Kalau begitu duduklah! kita bicarakan di sofa."


Mereka berdua menuju sofa yang ada di ruangan itu, kemudian duduk dengan saling berhadapan. Suasana sedikit tegang menyelimuti keduanya, hingga Feri memecah suasana itu dengan lebih dulu membuka pembicaraan.


" Bagaimana keputusanmu? " Tanya Feri.


" Ya, aku akan melakukannya, tentunya dengan syarat. Seperti yang papa pikir, Aku tidak akan semudah ini menuruti keinginan papa. " Jawab Adit tenang dengan seringaian kecil yang tentunya hanya dia yang tahu.


" Baiklah, kalau begitu apa syarat mu?"


Sudah diduga jika Adit tidak akan melakukan pernikahan itu. Dengan mengajukan syarat, Adit dengan percaya diri jika syaratnya akan diterima oleh papanya.


" Tentu saja berbeda. Papa menyuruhmu menikah bukan bertunangan. Jadi syarat mu papa tolak." Jawab Feri dengan senyuman yang ditahannya karena merasa lucu dengan syarat yang diajukan Adit begitu inginnya putranya itu menghindari pernikahan.


Berbeda dengan Adit yang merasa geram dengan papanya yang seakan mempersulit hidupnya.


" Aku tahu kau sedang menahan amarahmu pada papa, dan pasti kau berpikir ini tidak adil bagimu. Tidak apa-apa, kau tidak perlu menahannya, kau bisa mengeluarkan rasa kesal mu pada papa di sini. Tapi papa akan tetap pada keputusan papa." Ucap Feri seolah mengetahui isi kepala Adit hanya dengan mengamati wajah putranya itu yang terlihat begitu jelas tengah menahan amarah padanya.


Belum sempat Adit menjawab Dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang begitu dikenalnya.


" Dia, kenapa dia di sini? " Batin Adit begitu melihat gadis yang tidak asing lagi di hidupnya, kini duduk di samping papanya dengan kepala terus tertunduk.

__ADS_1


Adit langsung melihat papanya, yang kini juga menatapnya. Sekarang Adit tahu, jika papanya yang memanggil gadis itu ke sini. Kali ini apalagi yang akan dilakukan papanya itu dengan memanggil gadis itu.


" Tidak perlu takut. Aku memanggilmu ke sini karena ingin berbicara denganmu. Jadi bisakah kau menatap lawan bicaramu!" Ucap Feri menyadari ketakutan gadis di sampingnya ini.


Dengan ragu Key perlahan mengangkat kepalanya, dan hal pertama yang dilihatnya adalah tatapan tajam Adit yang berada di hadapannya. Key langsung mengalihkan tatapannya pada Adit dan memilih menatap Feri yang tengah tersenyum lembut padanya.


" Bagus, tetaplah seperti ini, terutama di depan calon suami dan mertuamu."


Sontak saja keduanya langsung menatap Feri dengan tatapan kaget. Key yang kaget karena tidak mengerti dengan ucapan atasannya itu. Sedangkan Adit kaget karena tidak menyangka papanya akan mengatakan hal itu. Keduanya saling menatap, Adit yang menatap Key tajam berbeda dengan Key yang menatap Adit bingung seolah meminta penjelasan. Tatapan keduanya terputus begitu mendengar ketawa Feri yang menggelegar.


" Hahaha... kalian berdua begitu serasi, respon kalian sangat mirip." Feri yang terus tertawa tanpa menyadari tatapan Adit yang berubah nyalang padanya.


" Apa menurutmu ini lelucon?! Keterlaluan! " Geram Adit tanpa sadar membentak sang papa.


Tangannya terkepal kuat berusaha menahan segala emosi yang menguar dalam dirinya. Wajah Adit memerah, otot-otot wajahnya terlihat jelas terbentuk saking kerasnya ia menahan emosinya. Sanksi jika Adit bisa menahan emosinya kali ini, karena apa yang dilakukan papanya telah melewati batas. Apa yang yang dilakukan papanya begitu keterlaluan, sangat keterlaluan.


*


*


*


*


*


Happy Reading😊


Jangan lupa ritualnya ya😘

__ADS_1


Lope you all❤️


__ADS_2