
Helaan napas penuh tekanan Adit keluarkan, begitu dirinya sampai dan duduk di sofa apartemennya.
Penampilan Adit begitu kacau dengan rambut dan jas yang terlihat berantakan. Hal itu senada dengan pikirannya yang sedang kacau. Hidupnya yang perlahan kacau dengan masalah yang terus datang bertubi menyerangnya akhir-akhir ini.
Adit tampak frustasi menghadapi kekacauan yang terjadi padanya kali ini. Bahkan selama ini ia tidak pernah sekacau ini dalam menghadapi berbagai masalah, dirinya selalu menyelesaikannya dengan mudah. Tapi kali ini sungguh berbeda, Adit terasa ingin menyerah, tenaganya seakan terkuras menghadapi masalah kali ini.
" Ini sebabnya aku tidak ingin berurusan dengan wanita, membuat hidupku rumit saja! " Keluh Adit tampak begitu frustasi dengan sesekali mengusap wajahnya kasar.
Bagi Adit wanita adalah sumber kerumitan dalam hidupnya. Ia mengatakan itu tanpa sadar melupakan hal penting bahwa mamanya juga seorang wanita. Dengan begitu ia juga menganggap mamanya juga termasuk sumber kerumitan dalam hidupnya.
" Kenapa aku harus terikat dengan karyawan ku sendiri, aishh!! " Racau nya sembari menjambak rambutnya kasar dan semakin berantakan.
Flashback on
" Papa! kenapa papa membuat keputusan secara sepihak begitu, apa papa tidak memikirkan perasaan Adit! papa benar-benar keterlaluan! mama tidak menyangka papa masih begitu egois!!, mama kecewa pada papa! " Mama Adit kali ini begitu marah pada suaminya yang masih tidak berubah dan tetap egois.
Papa Adit hanya bisa terdiam menghadapi kemarahan istrinya, karena ia sadar ia memang salah, dan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.
Sementara nyonya Mita memilih menghampiri Adit yang sedari tadi hanya diam, tentu masih dengan rasa marah di hati Adit. Namun ia berusaha menahannya karena ia tidak ingin disebut sebagai anak durhaka jika ia sampai mengeluarkan emosinya pada orang tuanya itu.
" Kamu tenang saja sayang, mama akan selalu mendukung apapun keputusanmu, kamu tidak perlu pedulikan apa yang papamu katakan, tetaplah pada keputusanmu, mama yakin itu yang terbaik bagimu. " Ucapnya berpihak pada putranya itu.
Tuan Feri hanya bisa tersenyum miris, sekarang ia sadar keegoisannya membuatnya semakin jauh pada putranya itu, dan kini ditambah dengan istrinya yang lagi-lagi kecewa dengan sikapnya. Tapi ia bukan tanpa alasan melakukan ini semua, dan ia tidak memiliki pilihan lain untuk itu, ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putranya itu meskipun hanya sekali.
" Papa tetap pada keputusan papa, jika kamu tidak setuju, maka kamu harus siap meninggalkan jabatan mu di Bagaskara Corp. Pilihan ada di tanganmu, pikirkanlah baik-baik. " Ucap tuan Feri yang tetap pada keputusannya menyuruh Adit untuk menikahi karyawannya itu. Setelah mengatakan hal itu, ia pun bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Adit dan istrinya yang tertegun dengan ucapannya.
" Pa! apa maksud ucapan papa. Papa!! " Teriak Mita memanggil suaminya yang sedikit pun tidak menoleh dan terus berjalan menuju lantai dua.
Tidak mendapat respon dari suaminya, Mita pun bergegas mengikuti suaminya, tapi sebelum itu ia memilih berbicara dulu pada Adit yabg terlihat masih shock.
" Adit dengarkan mama! Kamu tidak perlu memikirkan apa yang papamu katakan tadi, biar mama yang bicara pada papamu. Lebih baik sekarang Kamu istirahat dulu di kamarmu, mama akan menyusul papamu dulu. " Ujar Mita berusaha menenangkan putranya dengan memegang wajah Adit dan kemudian menyuruhnya istirahat.
Adit terlihat masih sangat shock dengan perkataan papanya. Bagai tertikam batu, dada Adit terasa sakit. Baru saja tadi papanya begitu membelanya saat pers berlangsung, tapi sekarang papanya bahkan dengan terang-terangan mengancamnya menggunakan jabatannya. Kepala Adit terasa begitu berat, kepalanya terasa sangat sakit dan berputar hingga sekali lagi ia membuat mamanya bersedih dengan penolakannya.
Adit meringis memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
" Aku akan kembali ke apartemen saja. Aku perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri." Sahut Adit tanpa menatap mamanya, kemudian bangkit dari duduknya dan beranjak keluar dari rumah megahnya tanpa sepatah katapun lagi.
Mama Adit hanya bisa terdiam, tidak mencegah ataupun menyusul putranya yang sudah hilang dari pandangannya. Sedih pasti dirasakannya karena penolakan putranya yang kesekian kali, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga ia pun memilih menyusul suaminya.
Flashback off
" Tapi baiklah, aku akan mengikuti maunya, aku akan melihat sampai di mana papa akan melakukan permainannya ini. "
Gumam Adit.
Adit memilih mengalah dengan mengikuti kemauan papanya itu, ia ingin melihat sejauh mana papanya ingin mengendalikannya.
" Baiklah, setelah kupikir- pikir tidak sulit untuk melakukannya." Kini seringai kecil yang tersungging di bibir tebalnya, seringaian yang mengisyaratkan akan sesuatu yang mulai tersusun dalam kepalanya.
Raut wajah frustasi Adit sirna tanpa jejak begitu ia memutuskan untuk menerima keputusan papanya. Tidak ada sedikitpun rasa takut akan menyesal tampak pada wajah Adit, sepertinya ia sudah memikirkannya dengan sangat matang.
Adit kemudian beranjak dari duduknya menuju ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering dengan air. Tidak itu saja ia juga terlihat menghubungi seseorang entah siapa itu.
***
Key tidak berani bertanya, meskipun ia sangat ingin. Key lebih memilih diam sampai mamanya sendiri yang mengatakannya. Namun begitu sampai di rumah, nyatanya sang mama tidak juga mengatakan apapun hingga keadaan menjadi hening.
Key mencoba memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan mamanya. Dia tidak ingin keadaan ini terus berlanjut tanpa ada penyelesaian.
" M- Ma. " Suara Key tercekat dan berhenti di tenggorokannya, hingga suara yang keluar terasa bergetar. Faktanya Key begitu gugup hingga suara yang keluar bergetar dan membuatnya terlihat gagap. Dia tidak berani menatap mata mamanya yang kini menatapnya. Keringat dingin mulai muncul di dahi dan telapak tangannya yang mulai basah. Key merasa tatapan mamanya lebih menakutkan dari pada kemarahan bosnya di kantor.
" A-apa mama masih marah padaku? " Pertanyaan itu yang akhirnya terlontar dari bibir Key karena terlalu gugup dan takut.
" Menurutmu? " Bukannya menjawab, pertanyaan lain justru dilontarkan oleh Diana.
Key yang mendapat pertanyaan itu, hanya menggeleng. ingin menjawab tidak, takut dirinya salah dan sebaliknya, ia takut jika jawabannya akan membuat sang mama kembali atau semakin marah padanya.
" Tidak! " Celetuk Diana.
Key mengernyitkan dahinya bingung, tidak mengerti dengan ucapan mamanya. " Ma-maksud mama, mama sudah tidak marah padaku? benarkah? " Tanya Key memastikan.
__ADS_1
" Hem. "
" Aaa!! terima kasih ma. Tapi Mama benar-benar sudah tidak marah padaku kan? Mama tidak bercanda kan? " Pertanyaan absurd justru dilontarkan Key.
" Kamu mau mama masih marah huh?! yasudah lebih baik mama marah lagi saja "
Bruk!
Key langsung memeluk mamanya dengan senyum lebar di bibirnya. Ia begitu bahagia mamanya sudah tidak lagi marah padanya.
Begitupun dengan Diana yang turut tersenyum dan membalas pelukan putrinya itu. Ia begitu merindukan putrinya itu, dan sekarang putrinya telah kembali. Wajah murung dan sedih telah hilang pada wajah putrinya, dan itu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Melihat putrinya tersenyum seperti ini adalah kebahagian tersendiri baginya yang merupakan orang tua tunggal bagi Key.
" Terima kasih, terima kasih mama sudah memaafkan Ku. Aku menyayangimu Ma. " Ucap Key tulus, tanpa melepaskan pelukannya.
" Sama-sama, mama juga minta maaf sudah begitu keras padamu." Ujar mama Key lembut, sambil mengusap surai hitam Key dengan sesekali kecupan ringan dilabuhkan pada pucuk kepala putrinya itu.
" Tapi mama masih belum memaafkan mu sepenuhnya, sebelum mama menghukum kamu karena sudah berani mabuk " Kini elusan lembut pada kepala Key berganti dengan jeweran di telinganya, hingga membuat pelukan mereka terlepas tentunya dengan ringisan dari Key akibat jeweran mamanya di telinganya.
.
TBC
*
*
*
Happy reading😊
Maaf othor baru update ya gess🙏 soalnya terhalang sama kehidupan nyata othor... hehehe🤣 Semoga suka ya😘
Jangan lupa ritualnya oke😘
Lope you all❤️
__ADS_1