
" Aku tidak ingin melihat kesalahan seperti ini lagi!!" Adit menggebrak meja meeting cukup keras, hingga membuat semua yang berada di sana terjengkit kaget. Tidak ada yang berani bersuara, saat melihat emosi Adit kali ini.
Meeting kali ini, benar-benar membuat Adit murka dengan kinerja karyawannya. Semua yang dipresentasikan tidak sesuai dengan harapannya.
" Perbaiki semuanya! Aku tidak akan mentolerir lagi, jika ini kembali terjadi. Paham!! "
Semua karyawan di sana mengangguk takut. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan sekedar menatap wajah Adit yang semakin menyeramkan. Mereka takut, jika satu kata saja yang keluar, membuat hidup mereka terancam, maka dari itu mereka mencari aman dan memilih untuk diam.
" Keluarlah! " Adit memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Hari ini terasa begitu berat baginya. Moodnya benar-benar buruk. Jika saja dia bisa, dia akan melampiaskan emosinya sekarang, tapi dia tidak melakukan itu dan memilih menahannya.
Tidak ingin membuat sang bos besar semakin murka, mereka keluar dengan tergesa. Rasanya begitu melegakan saat terbebas dari ruang menyeramkan itu. Adit begitu mengerikan.
" Apa menurutmu Aku harus menyusul Johan Dik? Pria itu benar-benar... " Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Adit, setelah sekian lama pria itu terdiam, sejak meeting berakhir.
Dika sebagai responden, tampak bingung harus menjawab apa. Dia harus berpikir keras untuk menjawabnya, demi menghindari kerugian yang mungkin menimpanya.
" Ck, sudahlah. Percuma saja Aku membayar mu mahal!" Adit berdecak kesal, saat Dika tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Al hasil, pria itu kembali melontarkan kata tak senonoh pada sang asisten yang hanya bisa menggeram dalam hati.
Dika ingin menjawab, namun suara berisik ponselnya, membuat pria itu urung berucap, dan memilih memeriksa benda pipih itu.
Mata Dika membeliak, saat melihat pesan masuk di ponselnya. Segera saja dia memberikan ponselnya pada Adit yang tampak malas. " Tuan lihatlah! Anda tidak akan percaya ini. "
Dengan malas Adit mengambil ponsel Dika yang melihat apa yang dimaksud asistennya itu. Sontak Adit berdiri, hingga kursi kebesarannya terdorong dan hampir terjungkal. Mata pria itu bahkan terlihat melotot sekarang. Urat lehernya, sudah tercetak jelas di sana. Sementara jarinya terus menggeser layar ponsel seolah mencari sesuatu di sana.
__ADS_1
" Sial!! " Tak lama suara gebrakan kembali terdengar. Ponsel yang dipegangnya turut menjadi korban benturan meja. Bisa dipastikan, jika ponsel itu tidak selamat, saking kerasnya gebrakan. Dika yang melihat itu, hanya tersenyum miris. Meratapi nasib ponselnya yang harus berakhir mengenaskan di tangan Adit. Bahkan itu ponsel keduanya, setelah yang pertama juga rusak menjadi korban Adit. Bisa dipastikan, dia akan mengganti ponsel itu untuk ketiga kalinya. Astaga, jika terus seperti ini, dia akan beralih profesi menjadi penjual ponsel.
" Dimana Dia?! " Dengan sedikit menahan geram, Adit menoleh pada Dika, dan bertanya pada asistennya itu.
" Dia berada di ruangannya tuan. "
Tanpa sepatah kata lagi, Adit keluar dari sana meninggalkan Dika dan ponsel pria itu, yang tergeletak mengenaskan dia atas meja. Dika mengambil ponselnya dengan tatapan nanar dan helaan napas berat yang keluar dari bibirnya. Pria itu menatap kepergian Adit dengan kesal, lalu menyusul keluar.
***
Baru saja Key keluar dari toilet, dia sudah dihadang para wanita ular. Key menghela napas pelan, dan kembali berjalan. Dia berusaha mengabaikan mereka, yang bisa dia tebak apa tujuan mereka menghadangnya. Langkahnya, kembali terhenti, saat seorang wanita berdiri tepat di hadapannya, menghadang jalannya.
" Minggir, selagi Aku masih bersikap baik pada mu! " Tegas dan penuh ancaman, Key memperingatkan wanita itu untuk minggir. Namun seperti angin lalu, wanita itu mengabaikan peringatan Key, dan tidak bergeser sedikitpun.
Mata Key memicing melihat foto yang terpampang jelas di layar. Key mengambil ponsel itu, dan melihat dengan jeli foto dirinya dengan seorang pria. Jari lentiknya terus menggeser layar, dan melihat semuanya. Matanya membelalak saat membaca semuanya.
Wanita itu mengambil kembali ponselnya dengan kasar.
" Bagaimana bisa Kau mendapatkan foto itu?! " Tanya Key.
" Ada apa ini?! " Tepat setelah itu, Adit datang dan menghentikan semuanya. Mereka kompak menoleh ke arah Adit termasuk Key yang terkejut melihat kedatangan pria itu. Entah kenapa dia merasa takut melihat wajah Adit yang seolah menyimpan kemarahan di dalamnya.
Adit mendekat, membuat mereka menggeser memberi pria itu jalan. Tepat di hadapannya Key yang menatapnya takut. Mata Adit teralih pada ponsel wanita yang tadi berbicara pada Key. Adit mengambil ponsel itu, dan melihat apa yang tertera di benda pipih itu.
__ADS_1
Matanya menatap tajam wanita pemilik ponsel, dan tanpa rasa bersalah Adit membanting ponsel itu, membuat semua yang berada di sana terkejut sekaligus takut. " Jika Aku melihat kalian melakukan ini lagi. Aku pastikan kalian akan keluar dari sini, dan tidak akan bisa bekerja dimanapun!! "
Key terperangah dengan ucapan Adit yang seolah membelanya. Tapi kenapa pria itu melakukannya, dia yakin Adit pasti mengetahui rumor itu. Tapi kenapa, pria itu membelanya? apakah...
Setelah mengatakan itu, Adit pergi dari sana dengan menarik Key, yang terlihat tertatih menyamai langkah lebar Adit. Matanya menyiratkan kemarahan. Bahkan dia tidak perduli dengan ringisan Key, yang memintanya melepaskan tangannya, yang terasa sakit akibat cengkeramannya.
Adit membawa Key ke ruangannya. Tanpa melepaskan cengkeramannya, Adit menatap Key tajam, membuat gadis itu takut.
Adit mengusap wajahnya kasar, dan melepaskan cengkeramannya pada Key. " Apa Kau tidak bosan membuatku dalam masalah? Ck, seharusnya kau lebih pintar! " Adit menekan kening Key, membuat gadis itu bingung dengan maksud ucapannya. " Kalau Kau ingin berselingkuh, seharusnya Kau mencari tempat yang lebih sepi, bukan di restoran seperti itu! "
" Apa!! "
*
*
*
Happy reading😘
Maap ya othor baru come back😭 othor buntu😭
Tapi sekarang othor usahain up ya🤧 semoga kalian suka dan menghibur😊
__ADS_1
Lope you all ❤️