
Esoknya.
Permasalahan pelik yang membuat kepalanya serasa ingin pecah, membuatnya masih tertidur lelap di kasur king sizenya. Hingga suara deringan ponsel yang begitu nyaring mengganggu indera pendengarannya, membuatnya harus mengakhiri mimpi indah yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Ponsel Adit terus berdering berusaha membangunkan sang empu yang terus mengabaikannya dengan menutup kedua telinganya dengan bantal. Adit yang merasa mulai kesal, melempar ponsel mahalnya yang berada di atas nakas dengan bantal yang digunakannya tadi, membuat ponselnya jatuh ke lantai dengan kondisi mengenaskan dengan deringan panggilan yang sudah tidak terdengar lagi.
Adit yang ingin kembali merebahkan tubuhnya, harus gagal karena ponselnya yang kembali berdering, menandakan jika ponselnya baik-baik saja. Adit mengumpat kesal pada si penelepon yang berani mengganggu tidurnya. "****, siapa yang berani mengganggu tidurku !! " Umpatnya, kemudian bangkit dari tidurnya mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dan masih terus berdering.
" Kau ingin ku pecat ha! Berani sekali kau menggangu tidurku! Ini masih terlalu pagi jika kau ingin merecoki ku dengan pekerjaan!! " Adit yang terlihat begitu kesal kembali mengumpat si penelepon yang ternyata adalah asistennya.
" Maaf tuan, tapi ini sudah hampir siang dan anda masih belum berada di kantor, maka dari itu saya terus menghubungi anda sedari tadi. " Jawab Dika mengabaikan umpatan yang dikeluarkan bosnya itu padanya.
Adit langsung melihat jam di ponselnya yang kini menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi, dia kesiangan, bahkan sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor. " Kenapa kau tidak membangunkan ku dari tadi?! Kau sengaja ingin membuatku terlambat ke kantor!! Gajimu ku potong 50 persen! " Lagi-lagi umpatan Adit layangkan pada asistennya itu, menjadikan asistennya sebagai kambing hitam atas kesalahannya sendiri. Dengan tanpa perasaan, Adit memutuskan panggilannya secara sepihak setelah berbagai umpatan keluar dari mulut tajamnya.
Adit melempar ponselnya kasar ke ranjang dan bergegas membersihkan diri untuk segera ke kantor sebelum hari semakin siang. Jiwa disiplin yang sudah melekat dalam dirinya, membuat iblis yang selama ini bersembunyi dalam diri Adit muncul tanpa bisa dicegah. Itulah sebabnya umpatan tidak senonoh terus keluar dari bibir Adit.
Di tempat lain.
" Apakah aku berdosa jika aku berpikir menjadikan bos ku sebagai umpan hewan buas di sungai Amazon? Sepertinya tidak, justru itu rencana yang sangat bagus yang pernah terpikir olehku. " Pikiran licik terlintas di kepala Dika yang terlihat begitu kesal pada bosnya yang terus saja mengumpatinya bahkan menjadikannya kambing hitam. " Huhh... ku harap kesabaran ku masih tersisa sampai aku lebih kaya darinya nanti." Lanjutnya terus mengeluarkan kekesalannya sembari berjalan kembali ke ruangannya.
Sementara Adit, kini sudah tampak rapi dengan setelan jas mewah berwarna navy senada dengan dasi yang dipakainya membuatnya semakin berkarisma. Tampilannya kini benar-benar mampu membuat wanita manapun tak mampu mengalihkan pandangan darinya. Ditambah dengan wajah bak dewa Yunani yang menambah nilai plus dalam dirinya, membuatnya semakin dijadikan kandidat incaran suami idaman kaum wanita. Tapi sayangnya tampilannya berbanding terbalik dengan sikapnya yang bernilai minus.
Tidak membutuhkan waktu lama, Adit sudah siap pergi ke kantornya. Ia melihat jam tangan mewahnya yang bertengger di tangan kirinya, yang kini telah menunjukkan tepat pukul 10.00. Adit bergegas mengambil kunci mobilnya dan langsung keluar dari apartemennya.
Adit lebih dulu mengambil mobilnya yang terparkir di basement apartemen. Begitu sampai dan masuk ke dalam mobilnya, Adit tidak lantas menjalankannya, ia masih diam terlihat tengah memikirkan sesuatu, dan itu sepertinya hal yang begitu penting terlihat dari kening Adit yang berkerut tengah berpikir keras.
__ADS_1
"Sepertinya aku melupakan hal penting, tapi apa? kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali." Adit berusaha mengingat hal yang terlupakan olehnya.
" Ah, sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aish! sudah jam 10 lewat,sebaiknya aku segera pergi." Adit memilih tidak memikirkannya lagi dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari basement gedung apartemen.
Selama perjalanan, nyatanya Adit masih terpikir dengan hal penting apa yang dilupakannya itu. Hingga sebuah bayangan karyawannya tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Bayangan wajah Key muncul begitu saja dalam pikiran Adit, membuat Adit menghentikan mobilnya secara mendadak dan tentu ia harus menerima kemarahan pengguna jalan lain yang ada dibelakangnya yang turut menghentikan laju mereka dengan mendadak untuk menghindari benturan.
" Hei, apa jalan ini milik kakek moyangmu!! kenapa kau berhenti mendadak di tengah jalan! " Protes bapak-bapak yang turun dari mobil dan menghampiri Adit lalu menggedor kaca pintu mobil Adit sedikit kasar.
Adit memilih turun dari mobilnya dan menghampiri bapak itu dengan ekspresi tak kalah garangnya dengan sang bapak.
" Maafkan saya, tadi tiba-tiba saja ada kucing melintas di depan mobil saya, membuat saya harus mengerem mendadak." Dengan mulusnya kalimat itu terlontar dari bibir Adit, ditambah ekspresi dinginnya membuat alasan itu semakin meyakinkan.
" Ah, rupanya begitu. Maaf bapak tidak tahu, kalau begitu bapak akan kembali ke mobil. " Secepat kilat nada dan ekspresi sang bapak berubah begitu mendengar ucapan Adit, setelah itu sang bapak langsung kembali ke mobilnya mungkin karena malu karena mengumpat Adit sembarangan.
Adit mengendikkan bahunya acuh, dan berlalu masuk ke dalam mobilnya dan langsung menjalankannya sebelum dirinya kembali diprotes.
" Astaga, kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu." Adit dengan satu tangannya mengambil ponselnya yang berada di saku celananya, dan langsung menghubungi asistennya setelah teringat sesuatu.
" Dika kau hubungi sekretaris papa, tanyakan padanya papa datang ke kantor hari ini atau tidak! " Suruh Adit begitu panggilan terhubung.
" Kenapa tuan tidak menghubungi tuan Feri langsung? "
" Sekali lagi kau bertanya, Ku turunkan jabatanmu jadi OB! Lakukan saja apa yang Ku suruh!! " Entah kenapa asistennya membuatnya kesal seharian ini membuat tekanan darah Adit naik.
" Baik tuan. Saya akan segera mengabari Anda nanti "
__ADS_1
" Sepertinya aku harus segera merealisasikan pikiranku yang ingin menjadikanya umpan di sungai Amazon." Gumam Dika di seberang sana begitu panggilan terputus. Pikiran licik kembali muncul dan kali ini lebih dari pikiran liciknya tadi. Setelah itu ia bergegas melaksanakan perintah bosnya itu. dan kembali menghubungi bosnya begitu selesai.
" Semakin lama dia semakin menyebalkan." Ucap Adit bersungut-sungut
Perasaan dongkol pada asistennya yang terus saja membuatnya kesal, ia lampiaskan pada ponselnya yang ia lempar dengan kasar ke dasbor mobilnya. Tapi tidak lama ponselnya kembali berdering yang ternyata dari Dika.
" Bagaimana? " Tanya Adit
" Tuan Feri hari ini datang ke kantor tuan, tapi beliau sedang keluar menemui seseorang. Sekretarisnya mengatakan jika ia tidak tahu kemana tuan Feri pergi dan siapa yang ditemuinya, karena beliau tidak mengatakan apapun pada sekretarisnya, seperti itu tuan."
" Baiklah. Ah ya, sebentar lagi aku sampai di kantor."
Lagi-lagi penggilan diputus sepihak oleh Adit.
Dan diseberang sana Dika hanya mampu mengumpat dalam hati. Karena ia tidak berani mengumpat terang-terangan bosnya yang memiliki banyak mata-mata yang bisa membuat hidupnya terancam punah dari Bagaskara Corp.
TBC
*
*
*
Happy reading😊
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya 😘
Lope you all❤️