
" Tuan, mereka telah berhasil menangkap orang itu. " Lapor Dika menghubungi Adit.
" Suruh mereka membawanya ke tempat biasa! dan kau, cepat siapkan mobil, kita akan segera ke sana! " Perintahnya, lalu memutus sambungan secara sepihak.
Adit mengabaikan rasa sakit kepalanya, ia berjalan cepat menuju lantai 1. Baru saja Dia keluar dari ruangan sang papa, ponselnya bergetar dan ternyata Dika yang menghubunginya. Asistennya itu melaporkan jika anak buahnya berhasil menemukan orang yang mengambil foto dirinya.
" Jalan cepat! " Suruh Adit pada Dika yang sudah menunggunya di depan dengan mobil.
Dika langsung menjalankan mobilnya dengan cepat tanpa mengatakan apapun. Dia tau bosnya sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari penampilan bosnya yang sedikit berantakan dari sebelumnya.
Keheningan terjadi, tidak ada yang mengeluarkan suaranya selama perjalan. Dika tidak berani untuk memulainya, dia takut mulut tajam bosnya kembali menyambarnya. Sedangkan Adit terus melamun, pikirannya terbagi saat ini. Di satu sisi dia senang karena salah satu pelaku sudah ditemukan dan itu artinya masalahnya mulai berkurang. Sedangkan di sisi lain, Adit memikirkan kejadian tadi. Idenya justru menjadi bumerang untuknya sendiri, ide pertunangan yang lantang ia ucapkan pada papanya sebagai alibi untuk menggagalkan keputusan sang papa.
" ****!! " Umpatnya kesal, mengacak rambutnya kasar terlihat begitu frustasi.
Fokus Dika yang sedang menyetir tiba-tiba hilang karena terkejut mendengar pekikan latang Adit di belakang. Namun Dia tidak berani bertanya, Dia hanya melihat bosnya dari kaca kecil yang berada di depan.
" Dia terlihat begitu frustasi. " Batin Dika sesekali melihat bosnya dari kaca.
" Terlintas saja di kepalamu sedang menertawakan ku, ku pastikan kau tidak akan berada di negara ini lagi! " Ancamnya menyadari jika asistennya terus melihatnya dari kaca tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.
Glek!
Dika menelan ludahnya kasar, tubuhnya merinding, bulu kuduknya berdiri setelah mendengar ucapan Adit yang mengetahui isi pikirannya. Dia tidak berani lagi melihat Adit dari kaca dan memilih memfokuskan matanya ke jalan.
Butuh waktu hampir setengah jam, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Terlihat sebuah restoran yang cukup jauh dari keramaian. Cukup aneh jika Adit membangun restoran di tempat sepi, namun di sana terlihat ada beberapa orang pria yang berseragam karyawan restoran tengah bekerja.
Adit memasuki restoran itu, bukan untuk makan atau minum, namun untuk menemui seseorang yang selama ini dicari olehnya.
" Di mana dia? " Tanyanya pada karyawan tadi yang ternyata anak buahnya.
" Dia ada di dalam tuan. " Jawab salah satu dari mereka.
" Tetap di sini! pastikan tidak ada orang yang mengikuti ku, dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan! " Peringat Adit.
" Baik tuan. "
Adit kembali masuk dengan Dika di belakangnya.
Tempat itu bukanlah restoran. Adit sengaja mendesainnya seperti restoran pada umumnya. Karyawan, bahkan menu serta pelanggan tentu orang-orang itu adalah orang kepercayaannya, Adit mengatur semuanya dengan sempurna agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mustahil akan ada pembeli di restoran ini, maka dari itu Adit mengaturnya seolah restoran ini berjalan layaknya restoran pada umumnya.
Adit memasuki ruangan gelap yang hanya disinari satu lampu, membuat ruangan itu menjadi temaram.
Matanya mengitari seluruh ruangan hingga ia menemukan seseorang dengan kaki dan tangan yang terikat di kursi, lengkap dengan kain hitam yang menutupi kepalanya.
Tanpa basa-basi Adit menghampiri dan menarik kain hitam itu.
" Om Fragas?! " Pekiknya begitu melihat wajah yang begitu dikenalnya.
" Jadi om yang... katakan, katakan kenapa om melakukan ini padaku! " Teriaknya memekakkan telinga.
" Menurutmu?! " Seringai Fragas, tidak menjawab. Pria paruh baya itu menatap Adit yang menatapnya nyalang dengan tangan terkepal kuat.
" Siapa? siapa yang menyuruhmu melakukannya, jawab!!" Adit menarik kerah baju Fragas memaksa pria itu agar menjawabnya.
__ADS_1
" Untuk apa? menjawab atau tidak, kau tidak akan melepaskanku bukan? " Jawab Fragas tenang sengaja memancing emosi Adit.
" Brengsek!! "
Bugh!
Bogem mentah Adit layangkan pada wajah Fragas hingga ia terjungkal ke samping masih dalam keadaan terikat. Adit tidak mampu lagi menahan emosinya, sudah cukup ia menahannya dari tadi, namun Fragas terus memancing emosinya.
" Baiklah, jika kau tak ingin menjawabnya dengan cara ini, akan ku buat kau mengatakannya dengan cara lain! " Kali ini Adit yang menyeringai menatap Fragas yang kesakitan karena pukulannya.
" Dika, panggil mereka ke sini! " Suruh nya untuk memanggil anak buahnya yang berada di luar.
Dika mengangguk, kemudian keluar meninggalkan Adit bersama Fragas.
" Hah, pantas saja Aku tidak melihatmu di ruangan mu tadi, rupanya kau sedang mengerjakan pekerjaan lain. " Ujar Adit menyindir Fragas.
" Karena kau terlalu bodoh, membiarkan musuh mu berkeliaran di sekitarmu tanpa curiga. "
" Ah ya kau benar, Aku sungguh bodoh mempercayaimu selama ini. Lalu bagaimana jika keluargamu tau semua ini, apakah Aku masih bodoh, atau aku sudah menjadi pintar. " Senyuman licik terukir di bibir Adit. Dia menatap Fragas yang sekarang berganti menatapnya tajam setelah mendengar ucapannya.
" Jangan berani kau mengusik mereka brengsek!! " Teriaknya, memberontak berusaha melepaskan diri.
" Kau mengusik hidupku, jadi jangan salahkan Aku, jika Aku juga akan mengusik hidupmu melalui mereka. Aku hanya mengikuti permainanmu! Bukankan ini yang kau inginkan?! Aku hanya membantumu mempermudahnya. " Adit mencengkeram kuat wajah Fragas. Dia berjongkok di depan pria tua itu, tangannya mulai terangkat ingin kembali memukul wajah itu sebelum suara ponsel menahannya bersamaan dengan Dika yang baru kembali.
Adit lebih dulu mengangkat teleponnya yang ternyata sang papa.
" Halo."
" Dit kau cepat datang ke alamat yang sudah papa kirim. cepatlah! " Suruh nya pada Adit setelah itu langsung memutus sambungannya tanpa mendengar jawaban Adit.
Adit mengalihkan pandangannya pada Dika dan anak buahnya yang sudah berkumpul. " Aku harus pergi sekarang. Kalian tau bukan apa yang harus kalian lakukan?! " Tanyanya pada anak buahnya.
" Siap tuan! " Jawab mereka kompak, mengerti dengan ucapan Adit.
" Bagus, segera lakukan apa yang ku maksud. "
Adit berjalan keluar bersama Dika meninggalkan Fragas bersama dengan anak buahnya.
" Brengsek! Jangan pergi kau brengsek! Lepaskan aku! lepaskan aku sialan!! " Teriak Fragas begitu melihat kepergian Adit.
***
" Kita akan ke mana tuan? " Tanya Dika begitu mereka masuk ke mobil.
Adit menyerahkan ponselnya pada Dika tanpa menjawab sedikit pun.
" Bukankah ini..." Dika merasa tidak asing dengan alamat itu.
" Apa kau tau dimana alamat itu? " Tanya Adit.
" Ah tidak, saya hanya merasa tidak asing saja. " Jawabnya, kemudian menjalankan mobilnya.
****
__ADS_1
Di tempat lain.
" Silahkan diminum tuan dan nyonya bagaskara. " Diana mempersilahkan papa dan mama Adit minum.
" Terima kasih. "
" Maaf tuan, nyonya. Jika boleh tau tujuan kalian datang ke rumah kami untuk apa? " Tanya mama Key merasa penasaran dengan kedatangan orang tua Adit.
" Kita tunggu seseorang dulu. Kau akan tau maksud kedatangan kami nanti. " Ucap Feri, meletakkan minuman yang tersisa setengah ke atas meja. " Oh ya, di mana putrimu? " Tanyanya karena tidak melihat keberadaan Key.
" Dia sedang membersihkan diri tuan. " Jawab mama Key.
" Panggil nama saja, rasanya terlalu berlebihan jika memanggil tuan dan nyonya. " Ucap Feri kembali.
Sedari tadi Sarah hanya diam memperhatikan interaksi suaminya dengan mama dari karyawan putranya tanpa ada niatan untuk ikut dalam pembicaraan itu.
Tak berselang lama. Adit tiba di kediaman Key, dan langsung masuk ke rumah Key setelah menyuruh Dika kembali ke kantor sembari mengawasi Fragas.
Adit masuk bersamaan dengan Key yang juga keluar setelah selesai membersihkan diri. Mereka saling menatap terkejut terutama Adit yang tidak menyangka jika dirinya berada di rumah gadis ini. Keterkejutan mereka berakhir setelah papa Adit menegur mereka, membuat mereka saling mengalihkan pandangan
Adit dan Key sama-sama duduk. Adit duduk di dekat mamanya sementara Key juga duduk di dekat mamanya.
" Baiklah, karena semua sudah berkumpul maka langsung saja. Jadi maksud kedatangan kami ke sini yaitu ingin melamar putri anda untuk putra kami. " Jelas tuan Feri mengatakan tujuan kedatangannya.
" APA!! " Teriak Key begitu melengking setelah mendengar ucapan Feri.
" Kenapa kau begitu terkejut. Kita sudah membicarakan ini tadi bukan dan kalian sudah setuju untuk BERTUNANGAN. " Tuan Feri sengaja menekan kata bertunangan seolah sedang menyindir Adit.
" Kalian akan bertunangan seminggu lagi, jadi persiapkan diri kalian. " Ucap tuan Feri lagi tanpa memikirkan Yang lain.
" Baiklah, kita akan bertunangan seminggu lagi. " Ucap Adit mengiyakan ucapan papanya. Dengan seringaian kecil menatap Key.
Semua mata memandang Adit yang begitu lantang mengucapkan hal itu. Sementara Key dengan berani menatap tajam pada Adit yang menatapnya misterius.
Diana justru merasa senang akan hal ini, itu artinya hidup Key akan kembali seperti semula, ia berpikir jika putrinya akan bahagia karena tidak akan ada lagi yang menggunjing putrinya nanti.
Berbeda dengan Key yang sudah ingin menangis di sana. Dia merasa jika hari ini adalah hari terakhir dari hidup bahagianya. Karena sebentar lagi hidupnya akan bagai di neraka, Dia sangat yakin akan hal itu, karena Adit adalah manusa paling licik dalam hidup Key.
" Hidupku. " Batin Key putus asa.
TBC
*
*
*
Happy Reading😊😘
Semoga suka🤗
Jangan lupa ritualnya oke biar othor semangat up😘
__ADS_1
Lope you all❤️