
" Kemana dia sebenarnya, ponselnya juga tidak aktif. " Gumam Adit.
Beberapa kali Adit mencoba menghubungi Johan namun ponselnya tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit menghantui benaknya, ia takut terjadi sesuatu pada Johan. Namun dengan cepat Adit berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu, dengan mengalihkan pada berkas- berkas di mejanya.
" Aku akan mencoba menghubunginya lagi nanti, mungkin dia sedang ada urusan. " Putus Adit.
Adit mencoba fokus pada pekerjaannya. Ia tidak ingin pikiran-pikiran buruk kembali menghantui kepalanya membuat pekerjaannya yang menumpuk terbengkalai. Dia hanya berharap Johan baik-baik saja, dan segera menemuinya. Tidak dipungkiri Ia begitu penasaran kenapa Johan tiba-tiba ingin menemuinya, dan keberadaan pria bule itu sekarang hingga ponselnya tidak aktif.
***
" Tuan Feri? "
Dika sontak bangun dari duduknya, saat Bos besarnya berdiri di depan meja kerjanya.
" Tuan ingin menemui tuan Adit? " Tanya Dika.
" Hmm... apa dia ada di ruangannya? "
" Tuan Adit ada di dalam tuan. " Jawab Dika.
" Baiklah, Aku masuk dulu, kau lanjutkan saja pekerjaanmu! " Titah Feri kemudian masuk ke ruangan Adit.
Begitu masuk terlihat Adit tengah sibuk dengan pekerjaannya, hingga kedatangannya tidak disadari oleh putranya itu.
" Dit! ... " Panggil Feri membuat Adit mengalihkan pandangannya dari berkas ditangannya.
" Papa?! ... ada apa ke sini? " Tanya Adit merasa bingung dengan kedatangan papanya yang tiba-tiba, tidak seperti biasanya.
" Ada yang ingin papa bicarakan, tapi sepertinya kau sedang sibuk. Sebentar, kenapa kau terlihat begitu sibuk hari ini, padahal pensiun papa masih minggu depan. " Cibir Feri pada putranya itu.
__ADS_1
Adit memutar matanya jengah mendengar cibiran sang papa.
" Bukankah aku harus mempersiapkannya dari sekarang?! " Balasnya penuh sindiran.
Feri hanya tersenyum dengan kalimat penuh sindiran dari Adit. Bukannya kesal, ia justru merasa senang melihat sikap Adit yang tidak sedingin dulu padanya. Harapannya terwujud, tidak sia-sia ia menjadi sosok menyebalkan bagi putranya meskipun sering kali berakhir dengan perdebatan, namun ia justru senang melihat perubahan sikap Adit, meski belum sepenuhnya.
Ada secercah harapan untuk mendapat maaf dari putranya itu. Meskipun sulit dan harus sering berdebat, ia yakin cepat atau lambat hati dingin sang putra akan mencair seiring berjalannya waktu. Meski ia sedikit menyesal harus terus bersikap egois pada putranya.
" Apa yang ingin papa bicarakan? " Tanya Adit yang sudah duduk di sofa.
Feri tersadar dari lamunan singkatnya, mendengar pertanyaan terlontar dari Adit. Segera ia menyusul Adit yang menunggunya di sofa.
" Fragas, papa ingin membicarakan tentangnya. " Pungkasnya dengan semburat wajah kecewa saat ia sudah duduk di hadapan Adit.
Kecewa, sedih, marah menjadi satu dirasakan Feri saat ini. Ia masih tidak percaya, orang yang begitu dekat bahkan ia anggap adik tega menikamnya dari belakang. Mungkin jika dirinya yang menjadi sasaran kejahatan Johan, ia masih bisa memaafkannya, tapi tidak jika yang diusik adalah keluarganya, ia tidak akan tinggal diam dan menghukum siapapun itu yang berani melakukannya.
Sementara Adit yang awalnya merasa malas kini berubah serius, bagaimanapun pembicaraan tentang Fragas adalah pembicaraan yang sensitif baginya, semenjak penghianatan yang dilakukan pria itu padanya.
" Papa masih tidak percaya dengan semua ini. Pria yang ku anggap sebagai adikku menikamku dari belakang, dan ia melakukannya padamu, dan itu membuatku tidak bisa diam saja. " Tutur Feri dengan kekecewaan besar yang tersimpan di hatinya.
" Hukuman apa yang akan kau berikan padanya? " Tanya Feri menatap Adit dalam.
" Tidak! " Tukas Adit menggeleng kecil, membuat sang papa mengernyit bingung.
" Aku tidak akan menghukumnya. Aku sudah membuatnya babak belur, dan menyekapnya selama ini, kurasa itu sudah cukup bagiku. Lagipula aku merasa papa lebih berhak melakukannya dari pada diriku, karena yang lebih terluka adalah papa bukan aku. " Tutur Adit yang dapat merasakan kekecewaan sang papa yang lebih dari pada dirinya.
" Kuserahkan pada papa. Terserah papa ingin melakukan apapun padanya, karena papa lebih berhak dariku. " Sambung Adit.
" Baiklah, jika itu mau mu, kau tenang saja papa akan menghukumnya sesuai dengan apa yang dilakukannya selama ini. Dia akan mendapat hukuman yang setimpal atas semua kejahatannya. " Tegas Feri. Ia berjanji akan menghukum siapapun yang berani mengusik dirinya tidak peduli siapapun itu.
__ADS_1
" Fragas sudah menjadi urusan papa sekarang. Itu artinya satu masalahmu sudah selesai, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? apa kau sudah memiliki rencana? tidak perlu sungkan jika kau membutuhkan bantuan papa Dit, papa harap kau melibatkan papa dalam masalah ini, karena papa tidak akan membiarkanmu menyelesaikannya sendirian. " Pungkas Feri penuh harap.
Ia berharap Adit tidak sungkan untuk meminta bantuannya, meskipun sebenarnya tanpa putranya itu meminta ia akan tetap membantunya mencari siapa dalangnya.
" Terserah papa saja. " Jawab Adit dengan rasa gengsinya yang tinggi, berusaha menyembunyikan senyumnya dengan wajah dinginnya.
" Untuk rencana kedepannya aku masih belum memikirkannya, tapi sekarang aku sedang menyelidiki sebuah cafe, dan aku meminta tolong pada Johan untuk menyelidikinya. " Tutur Adit menceritakan rencana penyelidikannya bersama Johan di cafe tempatnya melihat pria mirip Fragas.
" Cafe apa? Kau sedang menyelidiki siapa? apa ada yang kau curigai di cafe itu? Dimana cafe itu berada, biar papa suruh orang papa untuk menyelidikinya. " Cerocos Feri dengan berbagai pertanyaan.
" Aku tidak bisa memberi tahu papa sekarang, aku masih menunggu Johan untuk membicarakannya lebih lanjut, dan sekarang dia tidak bisa dihubungi, padahal tadi dia mengirimiku pesan akan menemui ku, tapi sampai sekarang dia belum datang. Aku berpikir dia sedang sibuk. " Jelas Adit.
" Mungkin saja dia memang sedang sibuk. " Imbuh Feri.
Adit mengangguk kecil membenarkan ucapan sang papa.
" Ya sudah, papa hanya ingin membicarakan itu padamu. Ingat jika kau membutuhkan bantuan papa, papa siap membantumu. " Ujar Feri menepuk pelan bahu Adit kemudian bangun dari duduknya dan beranjak keluar dari ruangan Adit.
" Pa sebentar! " Panggil Adit menghentikan langkah Feri.
Adit turut bangun dan menghampiri sang papa.
" Masalah om Fragas, Aku memang sudah menyerahkannya pada papa, tapi bisakah papa hanya menghukum om Fragas saja. Sampai saat ini keluarganya belum tahu keberadaan om Fragas, aku yakin papa paham apa yang ku maksud." Ujar Adit.
Feri tersenyum kecil sembari menepuk pelan bahu Adit. " Kau tenang saja, papa hanya menghukum orang yang bersalah. " Jawab Feri yang paham dengan maksud perkataan Adit.
" Baiklah, sekarang aku merasa tenang. " Ujar Adit tersenyum tipis.
" Terima kasih. " Lanjutnya.
__ADS_1
Feri mengembangkan senyumnya. " Tentu. " Jawabnya setelah itu keluar dari ruangan Adit.
Senyum Adit mengembang dengan apa yang terjadi tadi. Momen yang ditunggu-tunggu olehnya sejak dulu kini terjadi, sikap hangat sang papa mampu membuatnya lupa dengan segala perilaku buruk sang papa padanya sejak dulu. Entah kenapa ia tidak menyesali masalah yang menimpanya saat ini, karena masalahnya sikap sang papa perlahan mulai sedikit berubah padanya.