
Setelah cukup lama mengganti pakaiannya di ruang ganti, akhirnya Nata pun keluar dengan penampilan yang kembali rapi. Ia berjalan mendekati Yilan yang tengah menunggunya di salah satu kursi pengunjung yang kebetulan sedang kosong.
"Yilan," sapa nya dengan suara lirih.
"Sudah selesai?"
"Hmm."
"Ngomong-ngomong, bagaimana cuti mu kemarin? Apa menyenangkan?" tanya Yilan dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Tidak begitu baik,"
Masih dalam perbincangan mereka, tiba-tiba saja pelanggan yang baru saja masuk ke dalam Cafe seketika menyita perhatian para pengunjung lain.
Penampilannya yang elegan dengan warna serba hitam, serta kacamata yang juga berwarna hitam membuatnya nampak seperti orang kaya.
Ditambah, beberapa pria bertubuh kekar yang berjalan di belakangnya sontak menarik perhatian sejumlah orang. Beberapa dari pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka lantas menjauh karena merasa takut.
Yilan, sang pemilik Cafe tentu mendekatinya untuk memastikan bahwa wanita itu tidak mempunyai niat yang buruk.
"Selamat datang ... ada urusan apa Anda datang ke sini?" sambutnya sekaligus bertanya.
Wanita itu perlahan melepas kacamata yang sempat membuat orang-orang penasaran siapa dirinya. Begitu kacamatanya terlepas, sontak membuat Nata terkejut dan hampir membuat jantungnya terlepas.
"Perkanalan, namaku Floryn Lawrence. Tujuanku datang ke sini adalah untuk bertemu dengan pekerja Cafe yang bernama Natalia Faralyn. Apakah dia ada di sini?" jelas Floryn seraya tersenyum manis bak bulan purnama.
"Aku, aku adalah orang yang kau cari. Duduklah, kita bicara di sini," timpal Nata berusaha untuk tidak membuat kekacauan.
Lantas Floryn berjalan ke arahnya bersama dengan para pria bertubuh kekar. Begitu para pekerja Cafe mengetahui bahwa ia adalah anak dari keluarga Konglomerat generasi ke-4, tanpa diperintahkan olehnya pun mereka langsung menghidangkan makanan kecil serta minuman yang nampak mewah untuknya.
"Wah, kalian sangat perhatian padaku. Aku akan memberi nilai tinggi untuk Cafe rendahan ini," cemooh nya dengan wajah tanpa penyesalan.
"Bukankah dia calon istri Tn. Hansen? Apa yang sedang di lakukannya di Cafe ku?" gumam Yilan.
Para pengunjung yang sempat ketakutan pun kembali pada meja mereka masing-masing. Sedangkan Nata serta Floryn, memulai perbincangan mereka.
__ADS_1
"Katakan apa tujuanmu menemuiku di sini? Aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu di jam kerja," celoteh Nata lantaran kesal akan sikap Floryn.
"Baiklah baiklah, santai saja berbicaranya. Tidak usah terlihat tegang seperti itu ...."
"Sudah ku bilang langsung ke intinya saja!"
"Heuh, kau ini pemarah ya? Jadi, tujuanku menemuimu adalah untuk memberitahukan bahwa pekan depan aku akan menikah dengan Hansen," ungkap Floryn sambil tersenyum licik. Ia menutupi mulutnya dengan kipas bak seorang bangsawan.
"Oh, jadi?"
"A-- apa?! Kenapa responnya hanya seperti itu?! Apa dia tidak merasa sedih sama sekali kalau Hansen akan menjadi milikku?" gumamnya.
"Jika tidak ada urusan lain, maka aku akan melanjutkan pekerjaan ku yang tertunda karena kedatangan mu," sindir Nata seraya beranjak dari kursinya.
Sontak Floryn langsung memegang erat pergelangan tangannya, hingga membuat Nata tidak bisa pergi kemana-mana selain tetap berada di sisinya.
"Aku tidak menyuruhmu untuk pergi. Duduklah," cakap Floryn. Wajahnya yang nampak kesal tentu membuat Nata tersenyum sinis.
Walaupun hatinya sempat hancur lantaran Floryn mengatakan bahwa dirinya akan segera menikah dengan mantan suaminya itu, namun Nata tetap berusaha agar tidak meneteskan setetes pun air mata.
"Kenapa kau tidak marah ataupun sebagainya?" tanya Floryn dengan serius.
"Tenang, Floryn ... kau harus menjaga image mu di hadapan orang-orang."
"Natalia Faralyn, untuk saat ini aku akan membiarkanmu mempermalukan ku. Tapi tidak setelah aku menikah dengan Hansen," bisiknya pada telinga Nata.
Ia juga sempat mengundang Nata untuk datang ke acara pernikahannya pekan depan. Walaupun begitu, Nata sama sekali tidak ada kemauan untuk datang di acara tersebut.
Pekerjaannya di pagi yang suram ini, membuatnya kurang bersemangat untuk melakukan aktivitas. Ditambah, setelah mendengar perkataan Floryn beberapa waktu lalu, tentu membuatnya merasa hancur.
"Nata, kehidupan yang kita jalani di dunia ini memang tidak selalu sama dengan keinginan kita. Bahkan, biasanya Tuhan memberi kita penyesalan meninggalkan yang baik untuk yang terbaik," cakap Yilan berusaha untuk menghibur Nata.
"Terima kasih, Yilan. Kau membuat hatiku terasa sedikit tenang."
"Yah, tidak masalah. Aku merasa senang jika melihatmu tersenyum, bukan sedih seperti itu."
__ADS_1
"A-- apa maksudmu?" tanya Nata sambil menatap dengan dalam wajah pria di sebelahnya.
"Apa kau mau datang bersamaku di acara pernikahan Tn. Hansen? Mungkin kau butuh pasangan untuk menemanimu di sana nantinya," Yilan mengusulkan.
Wanita itu terdiam sejenak begitu mendapat usulan darinya. Ia kemudian berpikir untuk datang ke acara pernikahan yang bahkan sangat di benci olehnya.
"Tapi ... aku masih belum yakin untuk datang ke sana. Aku khawatir nantinya aku akan menangis tersedu-sedu melihat Hansen menikah dengan Floryn," ungkap Nata diiringi senyuman kecut.
Raut wajah menyedihkan yang terpampang di wajahnya tentu membuat Yilan merasa bersalah, lantaran ia sendiri yang mengusulkan agar Nata datang bersamanya ke acara pernikahan tersebut.
"Jika kau merasa keberatan, maka kita tidak perlu datang ke sana. Lagipula, acara itu juga bukan acara yang penting."
"Tidak, Yilan. Kita akan tetap datang ke acara pernikahan Hansen dengan Floryn. Mungkin saat ini aku berpikir nantinya aku akan menangis, tapi tidak ada salahnya jika diriku mencoba," cakap Nata yang sempat membuat Yilan kagum akan perkataannya.
Keduanya pun memutuskan untuk merencanakan hal yang nantinya akan membuat Hansen menyesal, lantaran lebih memilih wanita bernama Floryn dibandingkan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senja di langit sore mulai nampak memancar. Ditambah, matahari sore yang perlahan menghilang dan menyambut bulan yang akan menerangi di setiap malam.
Wanita bernama Natalia Faralyn berjalan seorang diri untuk sampai di rumahnya. Beberapa kali dirinya sempat berpikir untuk ber singgah di sebuah restoran, namun karena uang yang dibawanya dirasa tidak akan cukup, wanita itu pun mengurungkan niatnya.
"Seandainya aku ini orang kaya, mungkin aku tidak akan direndahkan oleh orang-orang. Sejak kecil, aku sudah ditinggal oleh kedua orang tuaku yang bahkan tidak ku ketahui identitasnya. Kenapa hidupku begitu menyedihkan?" gumam Nata sambil menatap langit sore yang nampak cerah oleh senja.
*Bugh!* Bruk!*
Karena tidak begitu memerhatikan jalan dengan benar, Nata sampai menabrak pria asing yang kebetulan berpapasan dengannya. Keduanya tentu terjatuh di jalanan yang dipenuhi oleh genangan air hujan.
"Ma-- maaf! Aku benar-benar minta maaf. Tadi aku tidak memperhatikan jalan dengan benar, ini salahku. Tolong maafkan aku," ucap Nata sembari beberapa kali membungkukkan badannya.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘺𝘢?"
"Tu-- tuan?"
"Ah, iya. Tidak masalah, lain kali hati-hati."
__ADS_1
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀