
"Lepaskan!!! Lepaskan aku sekarang!" teriak Nata setelah merasa gagal untuk melarikan diri.
"Akhirnya kau sadar juga, makan itu!"
"Tolong, ku mohon lepaskan aku sekarang ... aku minta maaf telah berbuat kasar pada kalian, lepaskan aku, tolong ... " pinta Nata sembari menangis tersedu-sedu.
Merasa tak tega melihat wanita yang nampak lemah menangis di hadapannya, pria asing itu pun memutuskan untuk menghubungi orang terdekat Nata dan meminta uang tebusan.
"Berapa kode ponselmu?" tanya pria itu dengan kasar.
"2305," jawab Nata secara spontan.
Tubuhnya bergetar hebat, dan mulai bercucuran keringat dingin dari tubuhnya. Tidak berbeda dengan bulu kuduk nya yang juga berdiri.
"Siapa orang terdekatmu?"
"I-- itu, a-- aku tidak mempunyai orang dekat. Aku tinggal sebatang kara di sebuah apartemen. Ba-- bahkan, aku tidak mempunyai seorang suami," lontar Nata dengan lirih.
Dilihatnya beberapa panggilan telepon yang sempat tak terjawab dari dua orang yang berbeda. Menyadari bahwa orang-orang yang sebelumnya menelepon Nata memiliki nama yang sama dengan orang-orang berkedudukan tinggi, pria itu pun tanpa ragu menelepon keduanya.
"Berani berbohong juga kau rupanya. Padahal aku sudah berbaik hati padamu."
Pria itu perlahan menjauhi Nata untuk mencoba menghubungi dua orang yang tak lain adalah Harwell dan Hansen.
Di sisi lain, Hansen yang sedang berendam di dalam kolam air panas, membuatnya tak mendengar ponselnya berdering.
Sedangkan Harwell, orang kedua yang dihubungi oleh pria itu lantas menerima panggilan telepon yang bertuliskan Nata.
"Nata?! Kemana saja kau?! Aku menunggumu sejak tadi, sekarang aku sedang di depan kamar apartemen mu. Tapi sepertinya ka--,"
"Kau mengenal Nata? Ah, ya ... wanita itu sedang di sini," sela nya.
"Si-- siapa kau?! Dimana Nata?!" bentak Harwell pada sambungan telepon. Segelas kopi di hadapannya lantas terjatuh lantaran dirinya tak sengaja menyenggol dengan keras meja tersebut.
"Santai saja, wanita itu aman. Jika kau ingin dia kembali dengan selamat, berikan uang tebusan senilai 100 juta dolar, kau mengerti?"
__ADS_1
"Sebenarnya siapa dirimu?! Kau mau membohongi ku ya?"
"Oh, jadi kau tidak percaya jika wanita itu sedang kesulitan? Kalau begitu, aku akan membuatnya berbicara padamu," cetus pria tersebut sembari meletakkan ponsel Nata di hadapannya.
"Hai wanita cantik, bicaralah dengan pria bernama Harwell ini. Dia akan membantumu babas, loh ... " ucapnya sembari merayu.
"Ha-- Harwell?! Kau benar Harwell?!! Tolong aku!! Ku mohon, tolong aku sekarang." Suaranya yang terdengar kesulitan, dan terdengar seperti orang yang baru saja menangis, sontak membuat Harwell terkejut.
"Dimana tempatnya? Aku akan memberikan uang itu padamu, cepat katakan!!!"
"Wah wah, sepertinya kau sangat peduli dengan wanita cantik ini, ya? Kalau begitu, kau siapkan dulu saja uangnya. Baru setelah itu kau menghubungi ku lagi," tuturnya yang kemudian mematikan sambungan telepon mereka.
Harwell yang mendapat kabar itu, lantas membuatnya khawatir berat pada Nata. Berjalan ke sana kemari, sembari memegangi kepalanya yang mendadak terasa sakit.
"Arghhh!! Kenapa aku tidak bisa menjaga satu wanita saja?!!!!!" teriak Hansen yang sontak membuat beberapa asisten rumah tangga mendengarnya.
Ia melempar serta membanting beberapa barang dengan harga tinggi di kamarnya. Kamar yang awalnya tertata rapi itu, dalam sekejap berubah menjadi sarang burung.
"Nata, bertahan lah ... aku akan segera datang menjemputmu," teriak Harwell hingga membuatnya meneteskan air mata. Raut wajahnya nampak putus asa, seakan tak ada lagi harapan baginya untuk bertemu kembali dengan wanita bernama Natalia Faralyn.
Esok pun tiba, kicauan burung terdengar sedang menari-nari di atas pohon-pohon rindang. Matahari yang terbit seakan membawa burung-burung yang tengah menyanyi itu pada konser musik.
"Nata ... aku harus secepatnya menemukannya sebelum dia benar-benar pergi dari dunia ini," tegas Harwell dengan kedua mata yang nampak bengkak lantaran menangis semalaman.
Terlihat uang dengan jumlah besar tengah di siapkannya untuk menebus Nata.
Sesegera mungkin ia menuju garasi di rumahnya dan mengambil salah satu mobil yang terparkir dengan rapi.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang diberikan oleh pria tersebut.
Nampak sebuah mobil yang baru saja berhenti di kediaman kakeknya tengah mencari-cari nya.
"Tn. Hansen, apakah Anda ingin menemui kakak Anda?" tanya seorang asisten rumah tangga sambil menundukkan kepalanya.
"Iya, memangnya kenapa? Apa dia sedang tidak berada di rumah?"
__ADS_1
"Benar, Tn. Harwell baru saja pergi menggunakan mobil berwarna merah. Sepertinya ada sesuatu yang ia bawa di dalam beberapa koper berukuran besar," ungkap sang asisten.
"𝘈𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢," gumam Hansen dalam hati sembari bergegas mengemudikan kendaraannya.
Di lain sisi, Harwell memberhentikan mobilnya di depan Cafe tempat Nata bekerja. Dengan langkah kaki cepat, ia memasuki Cafe tersebut.
"Dimana bos kalian?" tanya Harwell tanpa berbasa-basi.
Beberapa pekerja Cafe nampak ketakutan akan sikapnya yang terlihat seperti berandal. Namun di lain sisi, Yilan menyambutnya dengan hangat.
"Ada apa Tn. Harwell? Sepertinya ada hal yang mendesak?" tebak Yilan yang mendapat respon baik dari Harwell.
"Iya, maaf untuk hari ini Nata tidak bisa datang. Ada sesuatu yang terjadi padanya, aku harap kau memaklumi nya."
"𝘈-- 𝘢𝘱𝘢? 𝘕𝘢𝘵𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢?!"
"Ti-- tidak masalah, kalau begitu ... bolehkah aku ikut?" Yilan mengusulkan. Tangannya menggaruk kepala yang tak terasa gatal.
"Tidak perlu, lagipula kau tidak dibutuhkan."
Pria itu lantas meninggalkan Yilan yang bahkan belum selesai berbicara padanya. Karena merasa khawatir akan keadaan Nata, Yilan pun memutuskan untuk membuntuti mobil Harwell yang juga sedang diikuti oleh Hansen.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘠𝘪𝘭𝘢𝘯? 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘵𝘶𝘵𝘪 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭?" pikir Hansen yang masih ragu harus mengikuti mobil yang mana.
Setelah dua jam perjalanan menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi, akhirnya mobil Harwell pun berhenti di sebuah bangunan yang nampak usang.
Perlahan ia turun dari mobilnya. Menyadari bahwa ada dua mobil asing yang mengikutinya ke tempat itu, lantas ia pun tak jadi masuk ke dalam bangunan tua di hadapannya.
Yilan serta Hansen yang juga menyadari bahwa Harwell sudah tau akan keberadaan mereka, keduanya pun lantas keluar secara bersamaan dari mobil masing-masing.
"Kenapa kalian mengikutiku sampai sini? Apa yang sebenarnya akan kalian lakukan?" tanya Harwell dengan ketus.
Wajahnya nampak memperlihatkan raut wajah kesal. Sembari menghela nafas panjang, ia berdalih menatap kembali ke arah bangunan usang tersebut.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀