
Suasana hening menyelimuti ruangan dimana seorang Pria tengah bermain dengan Floryn di ranjang. Ia melepas pakaian wanita itu hingga telanjang seluruh tubuhnya. Tentu Floryn tak merasa keberatan akan hal itu, lantaran keadaannya saat ini sedang mabuk berat.
*****
Kicauan burung terdengar begitu nyaring. Ditambah, suara dering alarm yang berbunyi secara bersamaan membuat Nata terbangun dari tidur lelapnya.
Wanita itu bangkit dari ranjang miliknya dan meraih sebuah ponsel yang ia letakkan di atas meja.
Beberapa pesan WeChat dari seorang pria tertera di layar ponselnya. Spontan ia langsung membalas satu persatu pesan yang dikirim oleh pria itu untuknya.
Tanpa berpikir panjang, Nata pun menuju sebuah ruangan untuk menyibukkan dirinya dengan sabun mandi serta air. Setelahnya, ia mengenakan pakaian casual yang sederhana.
Sementara itu, kericuhan terjadi di Hotel XX. Tempat dimana acara Tn. Lyn dilaksanakan. Hansen nampak beberapa kali berteriak memanggil-manggil nama Floryn. Namun tak ada sedikitpun jawaban dari wanita itu.
"Argh! Dimana kau sebenarnya?!" geram Hansen dengan raut wajah putus asa.
"Tenanglah, dia pasti akan menemuimu sendiri nantinya. Mana mungkin dia pulang sendirian semalam? Pasti dia tidur di salah satu kamar hotel ini," lontar Harwell seraya meletakkan tangannya dibahu sang adik.
"Bagaimana aku bisa tenang?! Semalaman Floryn tidak terlihat setelah aku pergi mengantarkan Nata pulang!"
"Kau … mengantarkan Nata pulang?" tanya Harwell dengan raut wajah heran.
Hansen terdiam membisu begitu Harwell menanyakan hal tersebut. Ia tak menggubris nya, dan menaiki lift untuk menuju lantai berikutnya.
"Tunggu!" Harwell menghentikan.
"Bagaimana jika kita minta Tn. Lyn untuk menunjukkan CCTV setiap ruangan? Agar kita bisa menemukan Floryn dengan cepat … " usul nya. Hansen lantas mengangguk dan keluar dari lift tersebut.
Baru beberapa kali mereka melangkahkan kakinya untuk menemui Tn. Lyn, mereka tak sengaja berpapasan dengan Nata yang baru saja tiba. Keduanya lantas menghentikan langkah kaki mereka dan berhenti tepat di hadapan wanita itu.
"Ah, kebetulan sekali bertemu denganmu," seru Hansen sembari menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Kalian mau kemana?" tanya Nata.
"Kami ingin menemui Tn. Lyn untuk memintanya mengecek CCTV setiap ruangan. Karena Floryn menghilang sejak semalam," ungkap Harwell menjelaskan.
"Ah, itu artinya kejadiannya terjadi semalam, ya? Baiklah, ikut aku."
__ADS_1
Ketiga orang itu lantas berjalan menuju sebuah ruangan CCTV, dimana ruangan itu hanya ada beberapa computer keamanan Hotel.
Tanpa berpikir panjang, Nata langsung memperlihatkan rekaman CCTV itu pada Hansen.
Dalam sebuah rekaman terlihat bahwa ada seorang pria berpakaian serba hitam dengan menggunakan masker dan topi yang juga hitam membawa Floryn ke ruangan kamar nomor 107.
Ketiganya lantas berlari ke arah lift. Nata menekan tombol lantai 15 dimana kamar 107 berada. Sesampainya di lantai tersebut, Hansen mendapati ruangan kamar yang sama dengan yang berada di rekaman CCTV.
Ia lantas membuka pintu kamar tersebut yang berada dalam keadaan tak terkunci. Begitu pintu terbuka, ketiganya mendapati sosok Wanita yang tak lain adalah Floryn tengah tertidur lelap di atas ranjang dalam keadaan telanjang tubuh.
Hansen berjalan mendekatinya dengan langkah kaki kecil. Dirasanya semua yang terlihat dengan kedua bola matanya hanyalah sebuah mimpi.
"I– ini, apakah ini mimpi?" Hansen bertanya. Tubuhnya nampak bergetar hebat mendapati istrinya tengah telanjang tubuh.
"Bukan, ini bukan mimpi. Di sini ada surat dari seseorang," timpal Harwell sembari memperlihatkan sebuah surat yang berada di atas meja.
Belum lama setelah ketiganya masuk, tiba-tiba saja Floryn membuka kedua bola matanya. Ia memegangi keningnya yang terasa sakit akibat terlalu banyak minum.
"A– apa yang terjadi padaku? Ah, kepalaku sakit … " rintihnya belum menyadari dimana keberadaannya saat ini.
"Kau …."
Wanita itu seketika tersadar begitu Hansen menampar wajahnya dengan keras.
"Berani sekali kau bermain-main dengan pria lain semalam! Wanita macam apa kau ini!!" bentak Hansen yang masih belum dimengerti oleh Floryn.
"A– apa msksud dari perkataanmu?! Dan kenapa kau menampar ku!"
"Kau!! Jangan berani berpura-pura padaku! Kau semalam bermain di ranjang dengan pria lain, kan?!!" tuduh Hansen yang sontak membuat Floryn memandang tubuhnya.
"A– apa yang sebenarnya terjadi?! A– aku, aku tidak mela–."
"Semuanya sudah terungkap, Floryn. Di surat ini mengatakan, bahwa dia tidak akan bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukannya padamu semalam. Dan, semuanya sudah terekam di CCTV, itu artinya kau tidak bisa menyangkal sedikitpun," sela Nata dengan raut wajah sinis.
Ia memperlihatkan isi surat yang ditulis oleh pria anonymous. Begitu membacanya, Floryn langsung menangis tersedu-sedu dan mengatakan bahwa semalam ia tak sadarkan diri.
"Itu salahmu karena terlalu banyak minum!"
__ADS_1
"Pria itu yang menyuruhku!! Mana mungkin aku mau diremehkan olehnya! Saat aku tidak sadar, dia pasti membawaku ke sini!" ungkap Floryn sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Floryn, rasakan pembalasanku!" bisik Nata pada telinganya.
"I– ini perbuatan Nata!! Dia yang melakukan semua itu!!"
"Eh? Bagaimana caraku melakukan hal itu, jika semalam aku juga pulang?"
"Benar, Floryn. Nata tidak mungkin melakukannya! Jangan menghindari topik!" sela Harwell sembari menodongkan jari telunjuknya pada wanita itu.
"Kau … bagaimana dengan anak di kandunganmu nantinya!" tukas Hansen dengan nada tinggi.
Merasa geram, Hansen menampar Floryn untuk yang kedua kalinya. Begitu wanita itu menangis, ia lantas pergi dengan langkah kaki cepat keluar dari ruangan kamar tersebut.
Wanita bernama Nata nampak memperlihatkan senyuman sinisnya. Ia berdalih menatap Harwell yang berdiri di sebelahnya.
"Itulah akibat dari perbuatanmu, Floryn. Lagipula, kenapa kau harus menyakiti istriku berkali-kali? Ini sebagai peringatan agar kau tidak bertindak gegabah setelahnya," papar Harwell yang kemudian menggenggam erat tangan istrinya.
Keduanya lantas meninggalkan Floryn seorang diri di dalam ruangan tersebut. Nampaknya, Floryn menyesal lantaran sudah mengikuti perkataan pria yang bersamanya semalam.
Ia merobek-robek isi surat dari pria semalam. Tak hanya itu, Floryn juga menangis tersedu-sedu begitu mendapat perlakuan kasar dari suaminya.
"Tidak … aku tidak mau Hansen meninggalkanku!! Ini semua salah Harwell dan Nata! Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini!"
Sementara itu, Hansen nampak terduduk di taman belakang hotel tersebut. Ia memegangi kepalanya dan beberapa kali berteriak.
Harwell yang menyadari akan keberadaannya, membuat Pria itu menghampiri sang adik yang tengah tenggelam dari rasa kekecewaan.
"Hansen, tenanglah. Ini semua hanya ujian," tutur Harwell seraya merangkul pundak adiknya.
"Bagaimana aku bisa tenang!! Istriku sendiri bermain-main dengan pria lain! Aku tidak menyangka Floryn akan melakukan hal sekeji itu di belakangku."
"Apa kau pernah merasakan penyesalan yang dalam saat menceraikan Nata?"
"A– apa?"
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀