Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 16 [Bukan Waktu Yang Tepat]


__ADS_3

Langit terlihat semakin gelap setiap detiknya. Lampu-lampu di setiap jalanan mulai dinyalakan sesuai dengan kebutuhannya. Beberapa kendaraan nampak terparkir di pinggiran jalan dengan rapih.


Suara ketukan langkah kaki yang menginjak lantai minimarket terdengar cukup keras. Wanita dengan sepatu yang tingginya kurang dari 5 cm itu berjalan mendekati lemari pendingin.


Diambilnya sebuah minuman kaleng yang langsung di teguknya ditempat tersebut.


Lantas dirinya berdiri di depan kasir yang kebetulan sedang kosong, dan di bayarnya minuman tersebut.


"Terima kasih, selamat datang kembali ...."


Wanita itu lantas keluar dari minimarket dan bersandar pada tiang lampu. Ia mengambil ponsel yang berada di dalam tas kecil miliknya.


*Flashback on*


"Hai, Nata!" panggil seorang wanita sambil berlari mendekat ke arahnya.


"Janse? Ada apa?" tanyanya pada wanita yang ternyata bernama Janse.


"Apa kau tau? Apa yang aku bawa?" Janse memperlihatkan sebuah amplop kecil yang entah berisikan apa pada Nata.


"Ehmm, gaji harianmu?" tebak nya yang langsung membuat Janse menggeleng pelan.


"Baiklah, akan ku beritahu! Jadi, ini adalah hasil pemeriksaan kehamilan seseorang."


"Itu milikmu? Kau hamil dengan siapa?! Bukankah kau belum menikah dengan siapapun?" lontat Nata yang nampak gelisah.


"Stt, jangan keras-keras. Ini bukan milikku, tapi milik Tn. Hansen. Lihat, nama yang tertera di hasil pemeriksaan kehamilan ini adalah Floryn Lawrence. Nama yang tidak asing, bukan?" papar Janse sembari memperlihatkan isi surat tersebut pada Nata.


Hal itu sontak membuat Nata terdiam mematung. Kedua bola matanya nampak membendung air mata. Hingga akhirnya, cairan bening itu mulai bercucuran membasahi wajahnya, lantaran tak kuasa menahan kesedihan itu.


"Na-- Nata?! Kenapa kau menangis?!"


"Ti-- tidak, aku hanya kelilipan saja. Ngomong-ngomong, kau mendapatkan surat hasil pemeriksaan ini dari siapa?"


"Tadi aku tidak sengaja menabrak Tn. Hansen di lobby, dan surat ini tidak sengaja terjatuh dari saku jas nya. Karena penasaran, jadi aku tidak mengembalikannya pada Tn. Hansen," ungkap Janse sambil mengingat kembali kejadian sebelumnya.


Lantas Nata beranjak pergi meninggalkan Janse seorang. Kakinya berjalan mengarah pada toilet laki-laki lantaran kurang fokus.


Didapatinya Hansen yang tengah membuka kran air dengan wajah yang nampak kesal. Begitu keduanya menyadari satu sama lain, seketika Hansen membuka mulut terlebih dahulu.

__ADS_1


"Nata? Kenapa kau ada di sini?" tanya nya dengan heran.


"A-- apa maksudmu? Bukankah ini toilet perempuan?"


"Bukan, sepertinya kau salah masuk. Tapi, kenapa matamu merah seperti itu? Apa kau baru saja menangis?"


"Tidak, aku hanya kelilipan saja. Permisi ...."


Wanita itu segera beranjak keluar dan menuju tempat tujuannya sejak awal. Ia kemudian bersandar pada dinding toilet sembari menangis tersedu-sedu.


*Flashback off*


"Hansen, sejak awal aku memang sudah tau bahwa Floryn mengandung anakmu. Tapi, aku berpura-pura tidak tau karena saat itu aku masih belum yakin. Tidak ku sangka, di malam hari anniversary kita yang ke 2 bulan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kau memang sudah berhubungan jauh dengan Floryn," ucapnya dengan mata yang berkilau akibat air mata.


Ia kemudian teringat akan Yilan, wajah kesalnya diperlihatkan pada Nata yang saat itu tengah berdiri di atas panggung.


"Apa aku harus meminta maaf padanya? Sepertinya dia benar-benar kesal."


Setelah cukup lama menempuh jalan panjang menuju rumah Yilan, akhirnya ia pun sampai di tempat tujuan.


Rumah sederhana nan mewah itu nampak sepi penghuninya. Beberapa kali Nata sempat berpikir untuk mengurungkan niatnya lantaran tak ada satupun orang yang terlihat.


Sesegera mungkin ia masuk sebelum gerbangnya kembali tertutup.


Seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil yang dikendarai nya sempat terkejut begitu mendapati Nata.


"Yilan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," cetus Nata sembari berjalan mendekati Yilan.


Tampangnya, lelaki itu tengah mabuk berat setelah kepulangannya dari suatu tempat. Wajahnya yang memperlihatkan rasa tidak suka, serta cara berjalannya yang tidak biasa.


"Apa kau sedang mabuk?" tanya Nata memastikan. Lelaki itu nampak tak merespon sedikitpun.


Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya tanpa mengatakan sepatah katapun pada Nata.


"Sepertinya dia memang sedang mabuk berat," pikirnya sembari berjalan keluar dari halaman rumah Yilan.


Dari lantai atas terlihat sosok Yilan yang tengah memperhatikannya dengan tatapan menyedihkan. Tangannya meraba-raba kaca di hadapannya yang memperlihatkan sosok Nata.


*****

__ADS_1


Nata terbangun di atas ranjang yang sama setiap harinya. Ruangan dan suasana yang sama juga ia rasakan.


Perlahan kakinya beranjak turun dari ranjang untuk menuju kamar mandi yang terletak satu ruangan dengan kamarnya.


Setelah cukup lama disibukkan oleh beberapa hal, akhirnya Nata pun memutuskan untuk segera menuju Cafe sebelum jam kerjanya tiba.


Dibukanya pintu rumah secara perlahan. Dari dalam nampak dua orang tengah berdiri dengan tegak didepan pintu. Pakaiannya yang serba hitam, serta kacamata yang juga hitam membuat Nata merasa enggan untuk keluar.


Tapi, mau bagaimanapun juga, ia harus tetap keluar dari rumahnya untuk bekerja.


"Ma-- maaf, ada urusan apa kalian berdiri di depan rumahku?" tanya Nata memastikan.


"Perkenalkan, namaku Joy. Dan ini rekan ku, namanya Darren," wanita dengan tubuh tinggi itu memperkenalkan dirinya.


Lantas keduanya tersenyum dan membuka kacamata mereka secara bersamaan.


Pria yang disebut-sebut sebagai Darren itu nampak familiar baginya. Nata merasa seakan mereka pernah bertemu di suatu tempat.


"Jika boleh tau, siapa namamu?" tanya Darren sambil memperlihatkan senyuman kecil.


"Namaku Natalia Faralyn. Apa kalian ada urusan denganku?"


Dua orang dengan pakaian serba hitam itu lantas saling berbisik satu sama lain. Tampaknya, mereka membicarakan sesuatu mengenai Nata. Karena beberapa kali Darren juga sempat melirik ke arahnya.


"Kami ingin menanyakan seputar kehidupan pribadi mu. Ku harap kau mengijinkannya," lontar Joy.


Nata hanya mengangguk kecil. Ia kemudian mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah.


Setelah cukup lama mereka membahas kehidupan pribadi Nata, Joy serta Darren memutuskan untuk pergi.


"Jika ada waktu, nanti sore kita akan bertemu kembali di sini. Ini nomor telepon ku, hubungi aku jika kau ada waktu," urai Joy menutup pembicaraan di antara ketiganya.


Lantas kedua orang berpakaian serba hitam yang mengaku sebagai Joy dan Darren pun beranjak pergi meninggalkan Nata.


"Sebenarnya, siapa mereka? Aneh, padahal aku tidak mengenal wanita bernama Angelyn, tapi kenapa mereka menanyakan hal itu padaku?" pikir Nata.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2