
Terdiam tak berkutik, wanita itu lantas melempar beberapa hidangan makanan yang berada di atas meja. Tentu hal itu membuat lantai berserakan dan menjadi kotor. Ibu serta ayahnya berteriak histeris, mendapati putrinya kini seolah mengidap penyakit sakit jiwa.
"Floryn!! Hentikan!!" perintah Hansen dengan suara lantang sukses membuat istrinya berhenti mengamuk.
Wanita itu menarik rambutnya dengan keras. Ia menangis tersedu-sedu hingga membuat kedua matanya bengkak.
"Apa yang kau lakukan, berhentilah … " ujar Hansen sersya berjalan mendekati Floryn. Ia mengangkat istrinya yang sempat menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
"Bawa dia ke kamarnya, kepalaku jadi pusing karena dia berteriak sambil menangis," perintah sang kakek dengan raut wajah iba.
Hansen lantas mengikuti perintah kakeknya, dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga yang kebetulan berada di ruang makan.
"A– apa yang terjadi pada putriku?! Kenapa … kenapa dia seperti itu? Apa yang salah dengan Floryn?" cakap seorang wanita yang sudah berumur. Ia menggigit ibu jarinya yang bergetar hebat.
Di sebelahnya, seorang pria memeluknya dengan erat, sambil menenangkan wanita yang tak lain adalah istrinya. Ia mengelus pelan ubun-ubun wanita itu.
"Tenang, istriku. Putri kita akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan.
"Putri kalian sudah sejak beberapa hari yang lalu bertingkah aneh. Dia bahkan mencoba untuk membunuh Nata dan bayi dalam kandungannya. Mungkin dia sakit jiwa," ungkap sang kakek yang mampu menarik perhatian orangtua Floryn.
Pasangan suami istri itu saling menatap satu sama lain, tentu dengan perasaan khawatir yang mendalam lantaran putri merekai satu-satunya mempunyai masalah pada kejiwaan.
"Ayah, Kakek, Nyonya, Tuan, kami akan kembali ke lantai dua. Silahkan lanjutkan makan malam kalian, jangan terlalu dipikirkan kejadian tadi," pamit Nata yang dibalas anggukan oleh beberapa orang di ruang makan, termasuk ayahnya.
"Baik, sayang … beristirahatlah …."
"Terima kasih, Ayah." Nata memperlihatkan senyuman lebarnya.
Ia serta Harwell lantas berjalan menuju lantai atas secara beriringan. Mereka menaiki setiap anak tangga untuk sampai ke sebuah ruangan.
"Nata, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Harwell seraya menatap wajah wanita di sebelahnya.
"Aku akan terus membuat kejiwaannya bermasalah, dan membuat Floryn masuk ke rumah sakit jiwa," jawab Nata diiringi raut wajah sinisnya.
*****
2 Minggu setelah kejadian itu menimpa keluarga Gard, mereka memutuskan untuk membawa Floryn ke rumah sakit jiwa. Setelah beberapa hari sebelumnya Floryn memperlihatkan perilaku yang tak biasa. Bahkan, wanita itu sering menangis dan tertawa disaat yang bersamaan.
"Tidak!! Aku tidak mau berpisah dengan Hansen!!" teriak nya sambil berusaha melepaskan diri dari beberapa petugas rumah sakit jiwa.
__ADS_1
"Hansen … jangan tinggalkan aku!! Aku mau kau tetap berada di sisiku … " rengek nya begitu berhasil menggenggam tangan sang suami.
"Lepaskan tanganmu! Sekarang kau sudah tidak seperti dulu lagi, kejiwaanmu sekarang bermasalah. Dan tidak akan berguna bagiku maupun keluargaku," hina Hansen dengan raut wajah iba.
"A– apa …."
"Hansen, jangan seperti itu. Putri kami sangat mencintaimu, aku harap kau tidak berbicara kasar padanya … " sela Nyonya Law dengan wajah yang sudah dibasahi oleh air mata.
"𝘒𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪!" geram Hansen yang kemudian mengelus pelan ubun-ubun wanita di hadapannya.
Setelah cukup lama drama berlangsung, akhirnya keluarga Law pun melepaskan putri mereka yang nantinya akan tinggal di rumah sakit jiwa selama beberapa tahun.
Cukup banyak air mata yang mereka keluarkan, membuat Nata merasa bersalah akan tindakannya.
Sementara itu, terlihat Nata serta Harwell yang tengah berjalan mengelilingi taman di rumah sakit jiwa tersebut. Nampaknya, mereka menikmati suasana yang indah nan asri.
"Nata, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu," ucapnya membuat wanita yang berjalan beriringan dengannya berdalih menatap wajahnya.
"Katakan saja."
"Hmm, mulai besok aku akan pergi dinas ke luar negeri. Kurang lebih selama dua bulan, aku harap kau tidak keberatan akan hal itu," ungkapnya kontan menghentikan langkah kaki Nata.
Ia lantas memeluk Pria di sebelahnya dan menempelkan kepalanya pada dada bidang Pria tersebut. Di dengarnya detakan jantung yang berdetak kencang.
"Maaf, Nata. Tapi …."
"Tidak masalah jika itu untuk kebaikanmu. Aku akan menyetujui kepergian dinasmu, dan aku harap semuanya akan berjalan dengan lancar," sela Nata sembari memperlihatkan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.
*****
Tak terasa hari esok pun tiba, pagi ini suasana di kediaman Gard begitu sunyi. Tak seperti hari-hari dimana Floryn masih berada di rumah tersebut.
Keheningan itu pula akan bertambah begitu Harwell pergi ke luar negeri untuk melakukan perjalanan dinas selama dua bulan kedepan.
"Dasi mu kurang rapi. Saat kau berada di luar negeri, kau harus memperhatikan yang satu ini," urai seorang wanita. Wanita itu lantas memperbaiki dasi Harwell yang terlihat berantakan.
"Terima kasih, Nata."
"Hmm, sama sama. Nah, sudah, sekarang kita pergi ke ruang makan. Kau harus mengisi perutmu sebelum melakukan perjalanan panjang," cetus nya diiringi senyuman lebar.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu lantas keluar dari kamar mereka, dan menuju ruang makan yang berada di lantai satu.
Keheingan menyelimuti ruangan tersebut. Bahkan, tak satupun ekspresi terpampang pada wajah orang-orang yang tengah nenyantap makanan.
"Hansen, aku ingin menitipkan Nata padamu. Walaupun sebenarnya aku merasa ragu, tapi hanya kau satu-satunya keluargaku yang tersisa," tutur Harwell begitu sampai di ruang makan.
"Kau tidak menganggap kakek sebagai keluargamu?" canda nya mampu membuat beberapa orang termasuk Nata tertawa kecil.
"Bukan seperti itu, maksudku keluarga muda yang tersisa. Bagaimana mungkin aku memerintahkan kakek yang sudah tua?"
"Hai, jaga bicaramu," sela pria paruh baya yang juga berada di sana.
"Hahaha, maaf Kek. Aku hanya bercanda."
Beberapa menit setelahnya, anggota keluarga Gard nampak usai mengisi perut mereka. Satu persatu di antara mereka menaiki mobil yang terparkir di halaman rumah.
Mobil-mobil itu nampak melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara.
Waktu dua belas menit mereka habiskan dalam perjalanan ke bandara. Supir yang mengendarai mobil langsung mengeluarkan koper milik Harwell dari bagasi mobil.
"Harwell, jaga dirimu baik-baik," ucap Nata. Air matanya perlahan menetes membasahi wajahnya yang cantik.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu padamu. Kau harus menjaga dirimu baik-baik, terlebih anaki dalam kandunganmu. Makan dan istirahat yang teratur, ingat itu," cakap Harwell sembari mengusap air mata Nata.
Begitu juga dengan sang kakek serta Hansen. Mereka memberikan kata-kata yang mampu meluluhkan hati pria tersebut.
"Hansen, tolong jaga Nata untuk dua bulan kedepan, ya." Pria itu menepuk bahu Hansen dalam pelukannya.
"Tenang saja, serahkan hal itu padaku."
****
Sebuah pesawat diluncurkan saat setelah Harwell memasukinya. Nata melambai-lambaikan tangannya pada seseorang yang berada didalam pesawat tersebut. Walaupun ia tau, bahwa Harwell tidak akan mungkin melihatnya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪, 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭."
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
__ADS_1