Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 45 [Kehilangan Adalah Hal Terberat Dalam Hidup]


__ADS_3

Suasana hening kembali menyelimuti ruang utama setelah seorang pria bersikeras menghampirinya. Ia dengan cepat menarik lengan Nata dan dibawanya ke ruangan lain.


Pria itu adalah Yilan. Ia melihat kesana kemari untuk memastikan bahwa tidak ada satupun orang yang melihat keduanya. Pria itu lantas kembali menanyakan beberapa perihal mengenai Harwell pada Nata.


"Yilan, sudah kubilang aku tidak ingin diganggu," ucapnya kesal.


"Aku tau, tapi setidaknya kau menceritakan singkat kejadian kecelakaan Harwell."


Wanita itu tak menggubris perkataan Pria di hadapannya. Perlahan ia melangkah melewati Yilan. Nampaknya, Pria itu merasa sedikit kecewa lantaran Nata tak mau berbicara dengannya.


......................


Hari berganti hari hingga akhirnya sudah dua minggu setelah kematian Harwell berlalu. Musim gugur melanda kota mereka, dedaunan kering berjatuhan dari pohonnya, melayang terbawa angin, hingga membuat jalanan terlihat seperti sampah.


Rasanya, musim itu sangat cocok bagi seorang wanita yang tengah bersedih. Ia menatap cermin di hadapannya, menggerakkan beberapa make up di atas meja. Tak ada hal istimewa yang di lakukannya saat ini selain mengingat kembali kejadian minggu lalu.


Ia lantas merebahkan kepalanya pada meja. Perlahan air matanya keluar membasahi wajahnya yang sudah diaplikasikan make up.


*𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊!*


Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinganya. Membuat wanita bernama Nata merlirik pada pintu, namun tak dibukanya benda besar itu. Ia hanya diam termenung dengan cairan yang tak kunjung reda.


"Permisi, Nona ... " ucap seseorang dari luar ruangan. Nata sama sekali tak merespon, bahkan baginya terlalu berat untuk mengeluarkan suara kecil.


Setelah menunggu diluar ruangan dalam waktu yang cukup lama, akhirnya seseorang yang berada di luar kamarnya memutuskan untuk masuk.


Perlahan ia membuka pintu berwarna cokelat keemasan itu, dengan beberapa makanan di tangannya. Ia melangkah dengan hati-hati mendekati Nata yang duduk tak berkutik.


"Nona, sejak semalam Anda belum makan. Sebaiknya Anda memakan beberapa suap untuk mengisi energi," bujuknya dengan raut wajah cemas.


"Bagaimana jika saya suapi Nona? Mungkin ini terdengar konyol, tapi aku khawatir Nona akan sakit."


Matanya melirik ke arah seorang asisten yang berada di sebelahnya. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun tak ada satupun suara yang bisa ia keluarkan.


"Tinggalkan aku sendiri." Suara itu terdengar serak dan kurang jelas. Namun asisten itu nampak mengerti apa maksudnya.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, ia bergegas meninggalkan Nata seorang di dalam ruangan.


Tak berselang lama, wanita itu merasa ingin berjalan mengelilingi taman rumahnya. Setelah lebih dari dua minggu ia tak keluar dari satu ruangan itu saja.


Kakinya beranjak dari kursi, tubuhnya terasa berat untuk ia bawa berjalan. Bahkan, beberapa kali ia hampir terjatuh lantaran tak kuasa menahan beban yang di gendongnya.


Melihat sosoknya yang keluar dari ruangan kamar, tentu mengejutkan seisi kediaman. Para asisten serta beberapa penjaga nampak ternganga melihatnya. Kulitnya yang putih, dengan bibir pucat tanpa riasan make up.


"Nona, Anda ingin pergi kemana?" tanya salah seorang penjaga sambil berjalan mendekatinya.


"Jangan pedulikan aku," lontarnya dengan lemas.


Tubuhnya yang tak berenergi itu membuat sejumlah asisten merasa khawatir, ditambah, sudah sejak kemarin malam Nata belum malahap sesuap pun nasi kedalam mulutnya.


"Tapi Nona ... Anda terlihat tidak--."


"Lakukan pekerjaan kalian. Tidak usah pedulikan aku."


Wanita itu berjalan dengan langkah kaki tak beraturan, ia menghentikan langkah kakinya begitu sampai di sebuah taman.


Seorang pria tiba-tiba saja bersandar pada kursi yang sama dengannya. Nata berdalih menatap pada seorang pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu nampak memperlihatkan senyuman palsu yang begitu jelas.


"Nata, sudahlah ... jangan bersedih. Sudah lebih dari dua minggu kau seperti ini, bahkan kau juga jarang makan," tutur nya sembari mengelus lengan Nata yang kini begitu kurus.


Bahkan, tubuhnya yang kurus itu terlihat kehilangan beberapa kilo berat badan dalam dua minggu.


Beberapa kali Pria di sebelahnya berusaha untuk menghiburnya, agar membuatnya memperlihatkan senyuman. Namun usahanya itu terasa tak berguna. Nata bahkan tak memperlihatkan ekspresi maupun merespon perkataannya.


Pria itu adalah Hansen, ia perlahan merangkul bahu Nata yang semakin mengecil. Sembari berkata, "Ayolah Nata, aku tau ka--."


Nata nampak tak senang akan perilakunya, setelah mencoba untuk meraba beberapa bagian tubuh yang lain. Wanita itu lantas memperlihatkan raut wajah sinis yang bahkan membuat tubuh Hansen bergidik.


Tatapannya terlihat jelas seperti orang yang akan membunuhnya tanpa berpikir panjang. Merasa tak nyaman, Nata memutuskan untuk kembali ke kamarnya bahkan sebelum bisa mengelilingi taman.


"Untuk saat ini, aku minta padamu untuk tidak mendekatiku." Wanita itu berjalan menjauh, semakin lama sosoknya semakin tak terlihat.

__ADS_1


Sementara Hansen hanya menyeringai sembari menghela nafas panjang.


......................


Masih di musim yang sama, namun perasaan dan suasana hati wanita yang cantik bak seorang dewi itu sudah semakin membaik. Hari-harinya yang terasa suram setelah kehilangan sang suami, kini terlihat ada sedikit pencerahan dalam hidupnya.


Ia yang sebelumnya bahkan tak mau keluar dari satu ruangan itu saja, kini sering masuk keluar dari kediaman. Hingga akhirnya, hari ini ia memutuskan untuk tinggal pada rumah peninggalan Harwell, suaminya.


Rumah yang saat itu mereka beli dengan kesepakatan di antara keduanya.


Beberapa koper terlihat sudah siap dengan isinya masing-masing. Nata keluar dari kamarnya dengan penampilan yang memukau.


Sejumlah orang terpana melihat kecantikannya yang natural, ditambah gaya pakaiannya yang membuatnya terlihat begitu menonjol di kalangan orang-orang miskin.


"Nata, kau mau pergi kemana?" tanya Hansen begitu mendapati sosoknya yang sudah siap dengan beberapa barang di tangannya.


"Aku akan tinggal di rumah yang sebelumnya aku dan Harwell beli. Anggap saja rumah ini ku berikan padamu," papar nya sembari menyeringai.


Ia berjalan dengan beberapa asisten di belakangnya. Anting-anting panjang yang ia gunakan terlihat menghuyung terkena angin. Rambut-rambut kecil pada bagian depan nampak menutupi wajahnya.


"Nata, tunggu!" Pria bernama Hansen itu berlari mengejarnya.


Memanggil dengan suara lantang hingga menggema ke seluruh ruangan. Namun nampaknya wanita itu sama sekali tak peduli. Ia bahkan tak menatap ke belakang sedikitpun.


"Tunggu!" Begitu sukses meraih tangannya, Nata baru mau menatap wajahnya dengan posisi yang cukup dekat.


Kini keduanya saling menatap satu sama lain, udara berhembus melewati tatapan mata mereka yang sama sekali tak buyar.


Hingga akhirnya, wanita itu lebih dulu menyadarkan posisi keduanya saat ini.


"Maaf, aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu. Kita baru bisa membahasnya jika bertemu kembali," ujar Nata dengan raut wajah dingin.


Keberadaan para asisten serta beberapa penjaga rumah membuatnya enggan untuk terus mengejar-ngejar Nata yang sebelumnya ia buang. Ia khawatir bisa merusak reputasinya di depan banyak orang.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2