Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 15 [Tidak Akan Pernah]


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti ruangan tersebut. Tak ada sedikitpun suara yang dikeluarkan oleh orang-orang yang berada di sana, selain suara Harwell.


"Apa maksud mu, Harwell?! Kenapa kau ingin menjadikannya sebagai istrimu?!!" teriak Hansen yang sontak membuat suasana kembali ricuh.


"Ini bukan urusanmu, Hansen. Sekarang kau sedang menikah dengan Floryn, bukan? Jadi, tidak ada salahnya jika aku melamar Nata," beber Harwell sembari memperlihatkan senyuman lebar yang nampak licik.


"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭?" gumam Nata penuh keraguan.


Ia memperhatikan setiap tamu undangan yang ada, salah satunya adalah Yilan. Raut wajahnya nampak berharap agar Nata menolak lamaran Harwell. Namun, sesuatu hal tiba-tiba terlintas di kepalanya.


Dengan senyuman manis yang mampu menaklukkan para pria, Nata pun menerima lamaran dari Harwell di hadapan banyak orang.


Beberapa dari para tamu undangan bersorak-sorai sembari bertepuk tangan dengan meriah.


Perlahan Harwell berdiri dan memakaikan cincin berlian miliknya pada Nata.


Keduanya saling berpelukan dengan erat. Di liriknya Hansen yang tengah berdiri menatapnya dengan raut wajah penyesalan. Walaupun begitu, hati Nata masih merasa belum siap untuk memulai hubungan pernikahan untuk yang kedua kalinya. Ditambah, orang yang kali ini akan menjadi suami keduanya adalah kakak dari mantan suaminya sendiri.


Di lain sisi, Yilan yang juga tengah memerhatikan keduanya lantas dibuat syok berat. Bola matanya yang nampak memberikan harapan besar seketika berubah menjadi dendam.


Ia menghela nafas panjang sembari tersenyum kecut menatap wajah Nata dari kejauhan. Perlahan kakinya melangkah keluar dari ruangan itu hingga tak terlihat sehelai rambut pun.


"𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶, 𝘠𝘪𝘭𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪𝘮𝘶. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘏𝘢𝘯𝘴𝘦𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶," batin Nata.


Tidak hanya Yilan saja yang merasa geram lantaran Harwell melamar Nata. Begitu juga dengan Hansen dan Floryn. Bagaimana tidak? Hansen yang sengaja memutuskan hubungan dengan Nata, sebenarnya masih memendam rasa cinta yang tinggi.


Namun tidak dengan Floryn, yang merasa kesal hanya karena Nata selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Benar, kan? Dia wanita yang aku maksud saat itu," cibir seorang pria pada wanita di sebelahnya.


"Yah, benar. Dia memang orang yang dicari oleh Tn. Kita harus segera memberitahukan hal ini pada Tn. besar," timpal nya yang kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jas nya.


Hanya dalam waktu beberapa detik, ia mampu mengambil beberapa potret seorang wanita dengan kamera ponselnya.

__ADS_1


...****************...


Tak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore, beberapa orang nampak mulai buyar lantaran acaranya telah usai. Namun tidak dengan Nata yang masih duduk berdampingan dengan Harwell Gard.


"Nata, terima kasih karena mau mau menerimaku," ucapnya dengan tulus.


Nata tersenyum lebar mendengar ucapannya. Lantas ia mengangguk kecil tanda jawaban.


Harwell nampak mulai mendekatkan tubuhnya pada Nata. Kedua tangannya memegang dengan erat kedua bahu Nata yang tegak.


**𝘗𝘓𝘈𝘒!**


Sebuah tangan memberikan tamparan keras pada Harwell yang tengah menatapnya dengan dalam. Tamparan keras itu tentu membuat wajahnya memerah sekaligus membuat keduanya terkejut.


"Apa yang kau lakukan tadi pagi?! Kau melamarnya?! Wanita miskin ini!? Apa kau sudah gila? Hansen saja lebih memilih untuk meninggalkannya, tapi kenapa kau malah melamarnya di hadapan para tamu undangan?!" protes seorang pria paruh baya yang tak lain adalah kakek dari Harwell.


Pria tampan di hadapannya lantas menundukkan kepala, nampaknya ia pasrah dengan perlakuan kakeknya padanya.


"Maaf, kakek. Tapi aku mencintainya, itu alasan kenapa aku ingin menikah dengannya," jelas Harwell yang sontak membuat Nata terdiam mematung.


"Kakek! Kau tidak mempunyai hak untuk merendahkan Nata!! Kita ini sama-sama manusia yang saling membutuhkan, mungkin suatu hari nanti kakek akan menyesal karena sudah merendahkan nya."


"Ha-- Harwell, sepertinya aku harus pergi sekarang," sela Nata ditengah pertengkaran antara Harwell dengan sang kakek.


"Tidak, aku akan mengantarmu sampai rumah," sanggahnya berusaha menghentikan Nata.


Namun wanita itu hanya membalasnya dengan menggeleng kecil. Ia kemudian keluar dari ruangan tersebut untuk menjauhi dua orang yang tengah berdebat hanya karenanya.


"Aku tidak menyangka hidupku akan serumit ini. Ya Tuhan ... bagaimana caranya agar aku bisa hidup dengan tenang?"


Kedua bola matanya memandang langit sore yang cerah.


Kedua tangannya nampak memegangi kepalanya yang mendadak terasa sakit.

__ADS_1


"Natalia!" teriak seorang pria yang nampak berlari ke arahnya.


"𝘏𝘢𝘯𝘴𝘦𝘯?! 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯?!"


Nata yang sempat mencoba untuk segera lari tak disangka tangannya dengan cepat diraih oleh Hansen. Lantas keduanya saling bertatapan satu sama lain.


"Lepaskan!" perintah Nata dengan suara lantang.


"Nata, apa yang sebenarnya kau lakukan?! Kenapa kau mau menerima Harwell?! Dia itu kakakku sendiri!" ungkap Hansen dengan raut wajah kecewa.


"Memangnya kenapa jika dia kakakmu? Tidak ada salahnya jika nantinya aku akan menikah dengannya. Lagipula, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi ...."


"Nata, aku tau ini semua salahku! Tapi aku mohon padamu, untuk menungguku di saat yang tepat," pinta Hansen yang nampak berharap lebih padanya.


Semakin lama, tangannya yang memegang pergelangan tangan Nata terasa semakin erat hingga membuatnya kesakitan.


"Ku bilang lepaskan tanganku!" perintah Nata untuk yang kedua kalinya.


Pria di hadapannya sontak dengan pasrah melepaskannya. Ia menghela nafas panjang dengan raut wajah yang masih sama.


"Tidak ada lagi harapan bagimu untuk terus mendekati ku. Kau sendiri sudah mempunyai pengganti yang lebih baik. Memangnya salah? Jika aku juga mempunyai penggantimu?" urai Nata yang mendapat respon buruk dari mantan suaminya.


Ia kemudian berjalan menjauhi Hansen yang masih memperhatikannya hingga tak terlihat sehelai rambut pun.


Tak lama setelah Nata pergi, muncul seorang lelaki yang sempat membuatnya merasa geram. Dengan sigap, ia menarik kerah pakaian lelaki itu hingga membuat keduanya saling menatap benci.


"Kenapa kau melakukan itu padaku?!! Apa salahku sampai-sampai kau mau mengambil Nata dariku?!!!" tangkas nya. Tanpa disadari, matanya mulai membendung air mata yang tak kuasa di tahannya.


"Kau tidak ada salah padaku, tapi kau mempunyai kesalahan besar yang tak bisa dimaafkan oleh siapapun pada Nata. Ingat itu baik baik."


"Harwell, cepat tarik kembali perkataan mu tadi! Atau akan kubuat kau menyesal karena sudah berani mengambil Nata dariku!" ancam Hansen yang tak membuat Hawell goyah sedikitpun.


Lelaki itu nampak memperlihatkan wajah sinis nya, sembari berkata,"penyesalanku yang dibuat olehmu, tidak akan sama seperti aku merelakan Nata pada Pria murahan sepertimu!"

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2