Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 26 [Hilang Ingatan Sementara]


__ADS_3

Satu minggu setelah Harwell mengalami kecelakaan telah berlalu. Ia yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit tiba-tiba saja memperlihatkan kesadarannya.


"Ka-- Kakek, Harwell sudah sadar!" teriak Hansen membangunkan seisi ruangan tersebut.


Beberapa orang lantas berjalan mendekat ke arahnya. Nampaknya, Pria itu masih belum sembuh total setelah satu minggu dirawat di rumah sakit.


"A-- aku dimana?" tanya Harwell sembari melihat ke sekelilingnya.


"Akhirnya kau sadar juga, Harwell. Bagaimana keadaanmu? Apa sudah jauh lebih membaik?" tanya sang Kakek.


"Aku ... baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


"Kau mengalami kecelakaan saat pulang dari BAR bersama Kak Nata. Tapi, sampai saat ini dia belum ditemukan. Apalagi keadaannya saat itu sedang mabuk berat," ungkap Floryn dengan raut wajah sedih.


Harwell memperlihatkan raut wajah yang tak biasa. Ia bahkan tak menunjukkan ekspresi terkejut maupun sedih, melainkan kebingungan.


"Na-- Nata? Siapa Nata?" Pertanyaannya itu kontan membuat orang-orang yang berada di ruangan itu merasa terkejut.


"Kau ... tidak mengingatnya?"


Harwell menggeleng pelan, sambil menatap satu persatu orang di sekelilingnya.


"Sepertinya dia hilang ingatan sementara. Nyatanya, dia masih mengingat kita," bisik Hansen pada sang Kakek.


Semantara itu, di laut dimana Nata menghilang masih melakukan pencarian terhadapnya.


Tempat itu nampak ramai di penuhi oleh tim penyelamat.


"Apa sampai sekarang masih belum ada kemungkinan dia ditemukan?" tanya Tn. Lyn pada salah satu tim penyelamat di sebelahnya.


"Maaf, tapi kami tidak bisa asal bicara. Karena sampai sekarang kami belum menemukan bukti apapun," tutur nya sambil mengangguk kecil.


Tn. Lyn menghela nafas panjang. Ia kemudian mencoba berkeliling di sekitar jembatan. Melihat dengan tatapan tajam laut yang terus membendung air.


"Putriku, ayah selalu mendoakanmu agar selamat."


Sebuah mobil nampak berhenti di sisi jembatan. Seorang Pria keluar dengan mengenakan kacamata hitamnya. Pria itu lantas melepas kacamata hitamnya, begitu mendapati Tn. Lyn tengah berada di tempat yang sama dengannya.


"Tn. Lyn?" sapa Pria itu seraya memastikan bahwa orang yang di lihatnya benar Tn. Lyn.


"Ah, Yilan?"


Keduanya berjabat tangan.


"Sedang apa Anda di sini?" tanya Yilan terheran-heran.


"Aku sedang mengamati pencarian Putriku yang hilang. Sudah sejak satu minggu yang lalu dia belum ditemukan di laut ini," ungkap Tn. Lyn dengan raut wajah sedih.


Tak disadari ia meneteskan air mata tanda kesedihan.


"Bukankah Putri Anda adalah ... Nata?" tebak Yilan yang dibalas anggukan oleh Pria di hadapannya.


Yilan sontak terkejut, begitu mengetahui bahwa Nata menghilang di laut tersebut.


"Bagaimana bisa ... Nata menghilang di laut?"


"Jadi ... " Tn. Lyn menjelaskan keseluruhan kejadian yang terjadi.

__ADS_1


"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘍𝘭𝘰𝘳𝘺𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘈𝘙? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘉𝘈𝘙 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢? 𝘈𝘵𝘢𝘶 ... 𝘢𝘩, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘍𝘭𝘰𝘳𝘺𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘕𝘢𝘵𝘢," pikir Yilan sedikit melamun.


Masih fokus dalam perbincangan mereka, tiba-tiba saja Tn. Lyn dikabarkan bahwa Nata telah ditemukan dalam keadaan kritis.


Mendengar hal itu, spontan membuatnya berlari terbirit-birit ke arah Nata yang tak sadarkan diri.


"Nata!!! Putriku!! Kau harus kuat!! Ayah yakin kau bisa bertahan!!" teriak Tn. Lyn sembari memegangi tangan Putrinya.


Lantas Nata dibawa ke rumah sakit terdekat. Tak ada kemungkinan bahwa wanita itu selamat, lantaran kondisinya begitu kritis.


"𝘜𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢," gumam Yilan sembari kembali mengemudikan mobilnya.


Ia mengikuti ambulans yang berjalan tepat di depannya.


*******


Musim berganti, suasana dingin yang tak ter bandingkan mulai terasa di sekitar Kota tersebut. Deduanan mulai membeku dengan sendirinya, salju yang turun cukup deras membuat jalanan tertutup es.


Beberapa toko di sekitar jalanan nampak tutup, lantaran cuaca yang begitu dingin membuat mereka enggan membuang-buang waktu di luar rumah. Semua orang juga terlihat mengenakan pakaian yang sangat tebal untuk melindungi diri mereka dari dinginnya salju.


Siang gelap itu, seorang wanita terbangun di atas ranjang rumah sakit. Perlahan ia membuka kedua bola matanya dan mendapati sang ayah yang tengah berbaring sembari duduk.


Ia memegangi tangan Ayahnya, kontan membuat Pria itu terbangun dari tidurnya.


Sudah lebih dari satu bulan wanita itu baru terbangun dari tidur panjangnya di ranjang rumah sakit.


"Na-- Nata?!! Kau sudah bangun!!" teriak sang Ayah dengan riang, begitu mendapati Putrinya yang sudah lama mengalami masa kritis kembali tersadar.


"Ayah ... dimana aku?" tanya Nata sembari memutar kedua bola matanya menatap setiap sudut ruangan.


"Kau berada di rumah sakit setelah mengambil kecelakaan mobil bersama dengan Harwell," tutur sang Ayah memberitahukan.


"Ha-- Harwell ... dia ada di mana?"


"Dia ... amnesia sementara. Harwell mengenal keluarganya, namun tidak denganmu, Floryn, dan juga Ayah. Mungkin hanya masa lalunya saja yang ia ingat," jelas Tn. Lyn dengan raut wajah pasrah.


Nata meneteskan cairan bening dari kedua bola matanya hingga membasahi bantal yang sedang ia gunakan.


"Apa ini sudah musim dingin?"


"Benar, sudah satu bulan berlalu. Dan saat ini kau baru terbangun dari masa kritis."


"Turunnya salju pun, tak kami lihat bersama. Ini semua salahku karena membuatnya terlalu menunggu."


"Tidak, Nata. Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini semua memang takdir, tahun depan kau pasti bisa melihat turunnya salju bersama Harwell," cakap Tn. Lyn menenangkan.


******


Langit terlihat semakin gelap, bulan muncul menggantikan matahari.


Nampaknya, Nata sama sekali tak beranjak dari ranjang rumah sakit sekalipun. Ia tetap terbaring di atas ranjang yang sempit dan keras itu.


*𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊!*


Tiba-tiba saja pintu ruangannya berbunyi. Tn. Lyn lantas membukakan pintu untuk orang di luar.


"Ha-- Harwell?!!"

__ADS_1


"𝘈𝘱𝘢?! 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭?! 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘬𝘶?!"


"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Tapi Kakek saya bilang bahwa ini adalah ruangan Nata, istri saya. Kakek menyuruhku untuk mencoba mengingat kembali wanita itu," tutur Harwell menjelaskan.


Tn. Lyn langsung mempersilahkannya untuk masuk. Dilihatnya seorang wanita cantik yang tengah berbaring dalam keadaan yang kurang baik.


"Harwell, apa kau sudah mengingatku?" tanya Nata sembari memegang erat tangan Pria di sebelahnya.


"𝘞𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 ...."


"Arghhh!!!!!" Harwell berteriak seraya memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit.


Spontan Tn. Lyn membawanya keluar dari ruangan Nata.


"Apa yang terjadi?"


"Aku seperti mengingat sebuah kenangan. Tapi aku tidak tau jelas bagaimana kenangan itu," jelas Harwell dengan tubuh yang mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Lebih baik sekarang kau pulang. Lain kali aku akan mempertemukanmu dengan Nata."


"Hmm ...."


*****


Tak terasa hari berlalu begitu cepat. Hingga pada akhirnya, hari ini Nata diperbolehkan untuk pulang, karena kondisinya sudah jauh lebih membaik.


"𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬," gumam Nata dengan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.


Setelah melakukan perjalanan selama 15 menit, Nata pun sampai di sebuah rumah mewah. Taksi yang di tumpanginya berhenti tepat di depan rumah tersebut.


Lantas Nata segera keluar dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan di sana nampak membungkukkan badannya.


Terlihat Hansen serta Floryn yang tengah memperhatikannya dari atas tangga.


"Kakak!!!!" teriak Floryn yang kemudian turun menghampirinya.


Wanita itu memeluk Nata dengan erat.


"Sayang sekali kau masih hidup. Padahal, aku berharap untuk selamanya kau meninggalkan dunia ini," bisiknya pada telinga Nata.


"Aku tau, pasti kecelakaan hari itu ada hubungannya denganmu."


Nata melepas pelukan erat Floryn, dalam sekejap wanita itu terjatuh ke lantai.


"Ka-- Kak Nata!! Kenapa kau mendorong ku?!!"


Dua Pria muncul dari arah yang berbeda. Keduanya memperlihatkan raut wajah tak suka akan kedatangannya.


"Nata! Apa yang kau lakukan pada Floryn?! Kau masih ingat, kan? Kalau dia mengandung anakku!" geram Hansen sembari mengangkat Floryn.


"Dia hanya berpura-pura," sangkal Nata.


Pria yang tak lain adalah Harwell berjalan menghampirinya. Ia langsung menarik keras tangan Nata dan di bawanya ke lantai atas.


"Harwell, lepaskan!"


"Kenapa kau membuat keributan besar?! Padahal kau sendiri baru saja datang!" bentak nya yang sontak membuat Nata terdiam membisu.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2