Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 9 [Jangan Lagi Berharap]


__ADS_3

Hembusan angin yang keluar dari pendingin ruangan seakan membuat Nata kembali ke masa lalu. Dimana saat dirinya berdiri beriringan bersama Hansen di mall tersebut.


Namun tidak dengan kali ini, semua hal terasa berbeda di matanya. Ia menatap dengan tajam sepasang kekasih di hadapannya.


"Harwell, menurutmu apakah aku cocok menggunakan pakaian ini atau tidak?" tanya Nata sembari memperlihatkan pakaian dengan warna full hitam.


"Mau menggunakan pakaian apapun, kau tetap cantik."


Nata merlirik ke arah Floryn yang nampak kesal lantaran ia membeli pakaian yang harganya di atas rata-rata.


Perlahan kaki wanita itu melangkah mendekatinya sambil menodongkan jari telunjuk pada dahi Nata.


"Kau, hanya wanita miskin! Mana mungkin kau mampu untuk membeli pakaian semahal itu," ejek Floryn sembari tersenyum sinis.


Nata tak menggubris perkataannya, ia tetap diam dan berpura-pura tidak mendengar perkataan Floryn yang sempat menyakiti perasaannya.


"Harwell, aku ingin meminjam uangmu untuk membeli pakaian ini. Aku janji akan mengembalikannya saat aku mendapat gaji pertama," bisik Nata pada telinga Harwell.


Lelaki itu lantas tertawa kecil dan mencubit pelan hidung Nata. Wajahnya sontak memerah bak daging panggang.


"Ambillah jika kau mau, aku akan membayarnya untukmu," celetuk Harwell. Matanya kemudian melirik ke arah Hansen yang nampak emosi dibuatnya.


Dengan jelas ia melihat kedua tangan adiknya yang sudah mengepal seakan ingin memukulnya.


"Hansen, belikan aku pakaian mahal juga!" rengek Floryn.


"Diam dulu, Floryn."


"Natalia, kenapa kau tidak meminta padaku saja? Sudah jelas aku bisa memberimu lebih dari itu," lontar nya sembari berjalan mendekati Nata.


"Harwell, ayo kita pulang. Aku ingin segera makan."


"Baiklah, bagaimana jika kita ke restoran saja setelah ini?"


"Boleh ...."


"𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭𝘪𝘢?! 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢?! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪?! 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭!!" geram Hansen.


*****


Hari yang terasa berat dilalui oleh Nata seorang. Kini tubuhnya sedang merebah di atas ranjang yang empuk. Sembari memainkan ponselnya, sesekali Hansen terlintas di kepalanya.

__ADS_1


"Padahal aku berniat untuk memutuskan hubungan dengan keluarga mereka. Tapi siapa sangka, Harwell malah memberikanku pakaian mahal itu dengan gratis."


Perlahan kakinya menapak pada lantai yang dingin nan kosong seakan tak ada lagi harapan.


Ia melangkah menuju dapur dan membuka kulkas yang berisi banyak persediaan makanan untuk sebulan.


*Glukk*


Ia meneguk segelas susu yang baru saja di tuangkannya ke dalam gelas kecil. Kedua tangannya memegangi kepala yang tiba-tiba saja terasa berputar.


"Huh, tidak ku sangka aku akan memberitahukan rahasia besarku pada Yilan," celoteh nya seraya menuang kembali susu ke dalam gelas.


Perlahan kedua matanya mulai tertutup rapat. Alam lain pun di jelajahinya seakan berada di dunia nyata.


*Tok! Tok! Tok!*


Suara ketukan pintu yang terdengar begitu nyaring lantas membuat Nata terbangun dari kesenangannya di dunia mimpi.


Ia melihat sekeliling dan mencari tau dimana sumber suara itu berasal. Begitu suara ketukan pintu kembali terdengar, ia pun bergegas mendekatinya.


*Kriett**


Dibukanya pintu rumah dengan perlahan. Sosok yang kini tengah berdiri tepat di depan pintu rumahnya, sontak membuat Nata terkejut.


Nata memperlihatkan wajah dinginnya dan berdalih menatap tempat lain, untuk mengindari kontak mata dengan Hansen.


Namun, tiba-tiba saja tangannya ditarik dengan keras hingga membuatnya terjatuh dalam dekapan mantan suaminya itu.


Dada bidang yang besar dirasakan nya. Kehangatan, dan kenyamanan pun ia rasakan dalam waktu yang sama.


"Hansen, cukup! Kenapa kau terus seperti ini?! Kita ini sudah tidak mempunyai hubungan apapun!" tegur nya sembari mendorong kecil tubuh pria di hadapannya.


"Iya, aku tau mengenai hal itu. Tapi, tidak bisakah kita tetap bersama?"


"Jujur, aku tidak tau apa yang kau pikirkan. Ku kira kau menikahi ku hanya karena kepentingan politik saja. Tapi apa? Kau bersikap seakan tidak ingin kehilanganku," papar Nata sembari memperlihatkan senyuman sinis.


Raut wajah Hansen mendadak berubah. Nampak kesedihan yang mendalam terpampang pada wajah tampannya itu. Perlahan tangan pria di hadapannya meraih tubuh Nata.


"Aku tidak sedang main-main ... lebih baik sekarang kau pergi dari sini."


"Sepertinya dia benar-benar sudah membenciku. Apa aku harus mengatakan semua rahasiaku selama ini, bahwa aku benar-benar mencintainya?" batin Hansen hingga tak menyadari bahwa cairan bening keluar dari kedua bola matanya.

__ADS_1


Mendapati mantan suaminya yang tengah menangis, lantas membuat hati Nata terasa hancur. Walaupun begitu, kini ia tidak lagi merasa peduli pada Hansen. Lantaran pria di hadapannya saat ini sudah lebih dulu membuatnya kecewa.


*BRAK!*


Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, wanita itu langsung menutup pintu rumahnya hingga mengeluarkan suara yang begitu nyaring.


"Baiklah, mungkin kali ini aku sudah kalah untuk mengambil hatimu. Tapi jangan pikir aku akan menyerah untuk mendapatkan mu kembali, Natalia Faralyn."


...****************...


*Cuit**Cuit**Cuit*


Suara nyanyian burung di pagi hari nampak membuat beberapa orang langsung terbangun. Begitu juga dengan Nata, ia terbangun di atas ranjang dan ruangan yang sama setiap harinya.


Telinganya mendengar kepak sayap dan suara derasnya hujan yang tiba-tiba. Lantas, suara itu membawanya berjalan mendekati jendela yang nampak dibasahi oleh air hujan.


"Huh, kenapa hari ini harus hujan deras? Tidak mungkin aku mengambil cuti lagi. Bagaimanapun, aku harus tetap bekerja, kan?" keluh nya sembari menghela nafas panjang.


Menyadari bahwa langit kelabu tua telah mengelabuhi nya, ia pun sontak dibuat terburu-buru untuk mandi.


Karena terlalu gugup, kakinya pun sampai tersandung kayu yang kebetulan berada di depan kamar mandi.


"Aduh! Kakiku!! Kenapa aku harus lupa kalau kayunya belum ku singkirkan?" rintihnya seraya memegangi pergelangan kaki yang sudah berdarah.


Tanpa menunda-nunda waktu lagi, Nata terpaksa mengerjakan semua kesibukannya di pagi hari, hingga akhirnya sampai di depan Cafe tempat kerjanya.


"Astaga, aku tidak membawa payung!" Ia menepuk pelan dahinya dengan harapan Yilan akan menghampirinya.


Namun, sudah cukup lama ia berada di dalam taksi sambil berharap lebih, bahwa akan ada orang yang menghampirinya dan membawakannya payung. Semua itu tidak terjadi.


Hingga pada akhirnya, Nata pun memutuskan untuk menerobos ditengah derasnya hujan untuk masuk ke dalam Cafe.


"Nata?! Kenapa kau basah kuyup seperti itu?! Apa kau berjalan kaki untuk sampai di Cafe?" tanya Yilan dengan tatapan khawatir.


"Ti-- tidak, bukan begitu. Aku basah karena turun dari taksi dan lupa membawa payung," jelasnya dengan suara lirih. Bibirnya bergetar hebat lantaran kedinginan.


"Astaga, kenapa kau tidak menelepon ku saja? Kalau begitu, cepat ganti pakaiannya, aku khawatir kau akan sakit."


"Hmm, baiklah ...."


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2