Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 19 [Dinner Perang Dingin]


__ADS_3

Langit malam terlihat semakin pekat. Ditambah, rintik-rintik air yang turun dari langit menambah suasana malam terasa semakin menyeramkan.


Di tuangkan nya secangkir teh untuk Nata serta Tn. Lyn. Mereka nampak sedang duduk berdua di ruang keluarga. Rasa nyaman dan hangat menyelimuti ruang keluarga yang hanya berisikan dua orang di dalamnya.


"Nata, apa kau jadi pergi makan malam di Restoran bersama keluarga Gard?" tanya sang ayah memastikan. Raut wajahnya memperlihatkan bahwa dirinya merasa khawatir.


"Tentu saja, Ayah."


"Tapi, kau tau sendiri kan? Kalau sekarang ini sedang hujan deras?"


"Apa Ayah merasa takut?" canda Nata mampu membuat Tn. Lyn tertawa kecil.


"Tidak, Putriku. Baiklah, sekarang kau bersiap-siap dulu. Baru setelah itu kita pergi bersama," tutur sang ayah yang dibalas anggukan oleh Nata.


Wanita itu lantas berjalan menaiki setiap anak tangga menuju kamarnya. Sang ayah nampak terus memerhatikan setiap pergerakannya meskipun berada di dalam rumah.


Setelah cukup lama menunggu, Nata pun selesai mempersiapkan dirinya. Wajahnya terlihat begitu cantik walaupun tak banyak menggunakan make up.


"Putriku, kau sangat cantik," puji Tn. Lyn sembari membelai rambut panjang anaknya.


"Terima kasih, Ayah."


"Semoga keluarga Gard bisa menerimamu, itulah yang Ayah harapkan," imbuh nya sambil mengangguk kecil.


"Ayah, kau tidak tau bahwa keluarganya sempat membuatku kecewa di masa lalu. Tapi, aku harap kali ini semuanya berjalan dengan baik," batin Nata.


Keduanya lantas menaiki sebuah mobil menuju sebuah Restoran besar.


Tentu kedatangan Nata sempat membuat beberapa orang yang berada sekelilingnya menjadi heboh.


Tak berselang lama, kehebohan itu reda setelah Joy serta Darren memberi jalan untuk Nata dan Tn. Lyn.


Begitu sampai di dalam, terlihat seorang lelaki nampak melambai-lambai kan tangannya pada Nata. Tentu dirinya dengan sang ayah segera berjalan menghampiri meja makan tersebut.


"Malam ini kau terlihat sangat cantik, Nata," ungkap Harwell diiringi senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.


"Terima kasih, Harwell. Malam ini pun kau terlihat sangat tampan," puji nya sukses membuat Harwell tersipu malu.


Terlihat seorang pria paruh baya yang tak lain adalah kakek Harwell nampak memperhatikannya dengan seksama. Menyadari akan hal itu, membuat Nata merasa tersinggung lantaran tatapan yang di perlihatkan oleh sang kakek terlihat kesal.


Ditambah, terdapat dua orang yang begitu di bencinya juga duduk berhadapan dengannya. Dua orang itu tak lain adalah Hansen serta Floryn. Raut wajah keduanya memperlihatkan rasa tak suka akan hal yang terjadi.


"Senang bertemu denganmu, Tn. Lyn." Kakek Harwell menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Senang bertemu denganmu juga," balas Tn. Lyn sembari membalas uluran tangan pria paruh baya di hadapannya.


Terlihat beberapa makanan mewah yang sudah dihidangkan di meja tersebut. Tidak hanya satu atau dua menu saja, melainkan lebih dari sepuluh menu makanan restoran tersebut nampak di hidangkan.


Tentu mereka langsung menyantap makanan tersebut, setelah Nata serta Tn. Lyn datang.


Suasana yang terasa nyaman dan damai itu sempat membuat Nata melupakan masa lalunya dengan Hansen.


Namun, begitu mantan suaminya menjatuhkan garpu yang sedari tadi di pegangnya. Tentu membuat Nata kembali teringat akan sosoknya. Ditambah, pria itu nampak terus memperhatikannya saat makan malam berlangsung.


"Maaf, aku ijin ke belakang sebentar," lontar Nata ditengah berjalannya makan malam.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, Nata," ucap pria paruh baya yang duduk disamping kanannya.


Nata hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Lantas ia segera pergi dari meja tersebut dan menuju toilet.


Tak berselang lama setelah Nata meminta ijin untuk pergi, mendadak Hansen beranjak dari kursinya.


"Hansen, kau mau kemana?" tanya Floryn dengan perasaan curiga.


"Aku ingin ke belakang sebentar. Kau tunggu disini saja," jawab Hansen tanpa memberikan ekspresi di wajahnya.


Lelaki itu berjalan dengan langkah kaki cepat menuju toilet dimana Nata berada.


*BUGH!*


"Ah, maaf ... " ucap Hansen sebelum menyadari bahwa orang itu adalah Nata.


"Iya, tidak masa--."


"Nata?"


"Maaf, aku harus segera kembali," tutur Nata dengan raut wajah sinis. Ia mendorong kecil tubuh pria di sebelahnya, hingga sempat berjalan beberapa langkah berada di depannya.


"Tunggu!" Hansen dengan kasar menarik pergelangan tangan Nata. Tubuhnya sontak terlempar ke dalam dekapan dada bidang Hansen.


Nampaknya, Hansen memeluk dengan erat Nata hingga membuatnya tak bisa lepas dari tubuhnya itu.


"Hansen, lepaskan!" perintah Nata sambil berusaha melepas tangan Hansen darinya.


Tubuhnya dipeluk menghadap ke depan. Terlihat, Hansen yang berusaha keras untuk menghentikan wanita itu agar tidak pergi.


"Sudah ku bilang lepaskan, jangan membuatku berbicara untuk yang kedua kalinya!"

__ADS_1


"Nata, aku sangat merindukanmu. Jujur, aku menyesal karena sudah menceraikanmu saat itu," ungkap Hansen sembari bersandar pada bahu Nata.


"Itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang, tolong lepaskan tanganku."


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya."


Keduanya yang terlihat memiliki hubungan gelap dibelakang tak sengaja di perlihatkan pada Floryn yang tiba-tiba saja berada tak jauh dari sana.


"Ha-- Hansen, apa yang kau lakukan dengannya?!" Wanita itu nampak mengeluarkan cairan bening dari kedua bola matanya.


Lantas Hansen segera melepaskan tangan Nata yang sempat di pegangnya dengan erat.


"Floryn, kenapa kau berada di sini?" tanya Hansen berusaha untuk menutupi semua yang telah terjadi.


"Apa yang kau lakukan dengannya?!! Cepat jelaskan padaku!" teriak Floryn sambil menangis keras. Cairan bening itu perlahan membasahi wajahnya yang penuh dengan make up.


"Jangan salah paham, dia hanya membantuku. Tadi aku hampir terjatuh, dan suamimu itu menangkap ku," sanggah Nata sembari berjalan keluar dari tempat tersebut.


Wajahnya memperlihatkan seakan tak ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya, dan sukses membuat Floryn mempercayainya.


"Apakah yang dikatakan oleh Nata benar?" tanya nya memastikan. Sambil sesegukan, ia berusaha untuk memeluk pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Iya, apa yang Natalia katakan memang benar. Tidak ada yang terjadi di antara kami tadi."


"Hansen, apa kau masih menyukainya?" Floryn nampak curiga akan gerak-gerik Hansen. Namun, pria itu tetap berusaha untuk menyangkal apapun yang terjadi.


"Tidak, aku sudah mulai melupakannya. Walaupun aku sempat ingin terus menjadi suaminya," ungkap Hansen sembari mengusap air mata Floryn.


"Apa itu artinya, sampai saat ini juga kau belum bisa melupakan wanita itu?!" gerutu Floryn dengan raut wajah cemberut.


"Ti-- tidak, bukan begitu. Floryn, dengarkan aku ... sekarang kau adalah istriku. Dan aku tetap mencintaimu."


"Apa kau yakin ...?"


"Hmm, aku yakin. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu kedepannya."


"Terima kasih, Hansen." Wanita itu lantas kembali memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Di sisi lain, suasana meja makan mereka terlihat canggung semenjak kepergian Nata.


Begitu ia kembali, Harwell terlihat memulai perbincangan untuk memecahkan suasana hening yang menyelimuti ruangan tersebut.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2