
Begitu menerima panggilan telepon dalam waktu yang cukup lama, akhirnya perbincangan mereka pun usai.
Karena langit nampak gelap, Nata pun memutuskan untuk langsung masuk ke dalam rumah.
Ia mendapati tiga orang yang tengah berada di deretan anak tangga. Wanita itu tak mempedulikannya, dan melewati begitu saja tiga orang tersebut.
Namun, seketika tangannya ditarik dan hampir membuatnya terjatuh.
"Apa yang kau lakukan, Harwell?!" tanya Nata sedikit berteriak.
"Kenapa kau tidak ada sopan santun sedikitpun. Kau lihat, kan? Ada suamimu yang sedang duduk di sini," ketus Harwell sembari menatapnya dengan tajam.
"Tapi maaf ... ini bukan kursi melainkan anak tangga. Lagipula, kenapa kalian bertiga harus duduk di tengah jalan seperti ini?"
"Memangnya tidak boleh?! Ini rumah kakek, bukan rumahmu!" Pria itu dengan sigap mengangkat tangannya dan menampar wajah Nata.
Wanita itu sontak terdiam membisu. Kedua bola matanya nampak membendung air mata, hingga akhirnya cairan bening itu menetes lantaran tak kuasa menahannya.
"Ha-- Harwell! Apa yang kau lakukan pada Nata?!" teriak Hansen yang kemudian menarik keras tubuh Pria tersebut.
"Wanita ini sangat kurang ajar. Aku sangat jijik melihat wajahnya!"
"Apa yang kau katakan barusan?! Dia itu istrimu, Harwell!!"
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴! 𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳, 𝘕𝘢𝘵𝘢 ... " gumam Floryn dengan senyuman licik di wajahnya
Nata tak menggubris nya, ia lantas bergegas masuk ke dalam kamar yang hanya beberapa langkah dari tangga.
Wanita itu melempar tas selempang yang sedari tadi di bawanya, ia kemudian berbaring menatap langit-langit kamar yang kosong.
Perlahan air matanya kembali menetes hingga membasahi seisi wajahnya.
"Ah, Nata ... ini hanya sementara. Harwell begini karena dia hilang ingatan. Kau tidak boleh cengeng ... " ucapnya pada diri sendiri sembari mengusap air matanya.
Cukup lama wanita itu terbaring menghadap langit-langit kamarnya, membuat kedua bola mata Nata perlahan mulai menutup.
Sudah lebih dari tiga jam ia tertidur pulas dengan posisi kaki berada di lantai. Tiba-tiba saja, Nata terbangun begitu mendengar kericuhan terjadi di luar kamarnya.
"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳?" pikir Nata seraya beranjak dari ranjangnya dan mendekat ke arah pintu.
Ia menempelkan telinganya pada pintu yang posisinya sedang tertutup rapat. Namun, siapa sangka jika tiba-tiba saja orang yang berada di luar membuka pintu kamarnya.
Kontan Nata terjatuh ke lantai. Ia memegangi bahunya yang tak sengaja terluka lantaran terkena benturan keras dari pintu.
__ADS_1
"Aduh!"
Terlihat seorang Pria bertubuh kekar memasuki kamarnya dalam keadaan telanjang dada.
"Kenapa kau berada di sini?" tanya Pria itu yang tak lain adalah Harwell.
"I-- ini kan kamarku. Memang sudah seharusnya aku berada di sini," lontar Nata yang kemudian berusaha untuk bangkit.
"Keluar!"
"Apa maksudmu?!"
"Aku bilang, keluar!! Cepat!" bentak Harwell yang sontak membuat hati wanita itu hancur berkeping-keping.
Ia meneteskan air matanya, dan langsung keluar dari kamar Harwell yang seharusnya menjadi tempat keduanya untuk beristirahat.
Seorang wanita nampak menghentikan langkah kakinya di depan Nata. Ia tersenyum sinis dengan kedua tangan yang berada didada.
"Kau bahagia, bukan?" ucapnya begitu mendapati Nata yang tengah menangis.
Nata tak menggubris nya, ia kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ruangan kamar tidur lain.
"Hai ... aku sedang berbicara denganmu, loh ... " imbuhnya dengan raut wajah yang seketika berubah.
"Aku sedang tidak ingin mencari masalah denganmu. Saat ini aku sedang kesal pada semua orang, jangan membuatku bertindak buruk padamu!" tungkas Nata berdalih menatap Floryn.
Sementara itu, suasana di kamar tidur Harwell menjadi hening. Pria itu duduk di atas ranjang sembari mengambil tas selempang milik Nata yang tak sengaja tertinggal.
Ia membuka setiap isi yang ada di dalamnya. Dan menemukan sebuah foto dimana keduanya saat itu sedang melakukan pernikahan.
Dalam sekejap, Harwell merasakan sakit yang tak tiada tanding pada kepalanya.
Beberapa kali Pria itu sempat berteriak meminta tolong, namun tak ada siapapun yang mendengarnya. Hingga pada akhirnya, rasa sakitnya pun reda setelah ia meminum segelas air putih.
"Siapa sebenarnya wanita itu?! Kenapa ada pecahan kenangan dalam pikiranku?!!"
Harwell lantas berlari keluar dari kamarnya dan mencari dimana keberadaan Nata saat ini. Dilihatnya wanita itu yang baru saja menutup pintu sebuah ruangan.
Tanpa berpikir panjang, Harwell langsung berlari terbirit-birit ke arahnya.
Perlahan Pria itu membuka pintu kamar Nata dengan pelan. Tak ada sedikitpun suara yang terdengar.
Begitu masuk, Harwell mendapati Nata yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Ia berjalan mendekatinya. Cukup lama Pria itu menatap dengan dalam wajah wanita di hadapannya.
__ADS_1
"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶?! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨-𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨?" gumam Harwell sembari membelai rambut panjang Nata.
Keduanya sontak terkejut begitu Nata membuka matanya. Siapa sangka? Bahwa sebenarnya Nata belum tertidur lelap.
"A-- apa yang sedang kau lakukan di sini?!" tanya Nata dengan nada tinggi.
Pria di hadapannya nampak kebingungan akan menjawab apa.
"A-- aku, aku hanya ingin melihatmu saja."
"Kenapa sifatmu tiba-tiba saja beru--."
"Arghh!! Kepalaku!!! Sakit!! Na-- Nata!! Tolong ambilkan aku minum, kepalaku sakit sekali!" teriak Harwell sembari memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja kambuh.
"I-- iya, aku akan segera mengambilkannya untukmu." Wanita itu berlari kencang keluar dari kamarnya menuju ruangan dapur.
Diambilnya segelas air putih dan dibawa masuk ke dalam kamar. Ia menjulurkan tangannya dan memberikan segelas air putih itu pada Harwell.
Setelah satu gelas penuh air putih di teguknya, Pria itu langsung menatap wajah Nata yang duduk di sebelahnya.
Tangannya meraba wajah cantik Nata.
"Maaf, aku membuatmu menunggu terlalu lama." Perkataan yang baru saja di lontarkannya tentu membuat Nata merasa berada di dalam mimpi.
Ia menggenggam erat tangan Pria di sebelahnya.
"Kau ... sudah mengingatku?" tanya Nata seraya memeluk Harwell. Kedua bola matanya kembali meneteskan air mata, namun kali ini ia menangis bukan karena sedih maupun kecewa. Melainkan tanda kebahagiaan yang dalam.
"Iya, Nata ... maaf karena aku sudah berbuat kasar padamu. Aku menyesal karena sudah menamparmu tadi sore. Sekali lagi, maafkan aku ... " papar Harwell sambil menangis tersedu-sedu.
Matanya nampak lebam lantaran terlalu banyak meneteskan air mata. Ia kemudian mencium kening wanita di hadapannya, dan berharap tidak pernah lagi ada hal seperti ini terjadi.
"Harwell, apa sekarang kau juga sudah mengingat hari dimana kita berdua mengalami kecelakaan?" tanya Nata mampu membuat Harwell menghentikan tangisannya.
"Iya, aku sudah mengingatnya. Saat itu kecelakaan terjadi karena rem mobilku blong. Dan aku tidak sempat untuk menyelamatkanmu. Apa kau merasa kecewa akan hal itu?" tutur Harwell dengan raut wajah sedih. Ia menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata dengan Nata.
"Tidak, aku sama sekali tidak kecewa padamu. Tapi, aku tau siapa pelakunya … " lontar Nata dengan raut wajah sinis.
Harwell menatapnya dengan serius. Pria itu lantas memegangi kedua bahu Nata.
"Siapa?"
"Floryn Lawrence."
__ADS_1
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀