
Suara langkah kaki terdengar di lorong perusahaan. Suara itu terdengar semakin mendekat ke arah kantin yang berada tak jauh dari lorong. Tak berselang lama, muncul seorang wanita yang kemudian duduk di salah satu kursi kosong.
Ia duduk sambil memegangi keningnya yang terasa sakit. Begitu ia bangkit dari kursi dan berbalik badan, wanita itu tak sengaja menabrak Yilan yang berada di belakangnya.
Saat ia hampir terjatuh, kontan Yilan menangkapnya.
"Yiโ Yilan?" panggil nya seraya bangkit dari dekapan Pria tersebut.
"Eh? Kebetulan sekali kita bertemu disini, Nata."
"Begitulah โฆ sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Duduklah," Nata mempersilahkan Yilan untuk duduk.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Pria itu sembari mendekatkan wajahnya.
"Aku ingin meminta pertolongan padamu. Ini menyangkut kecelakaan yang menimpaku satu bulan yang lalu. Dan aku ingin kita membuat rencana bersama agar pelakunya terungkap didepan publik," tutur Nata menjelaskan.
Yilan nampak terdiam cukup lama, ia kemudian mengangguk kecil.
"Tidak masalah, aku akan siap membantumu kapan saja," balas Yilan seraya meraih buku menu di atas meja tersebut.
"Kau ingin memesan apa? Biar aku yang traktir," lontar Yilan menawarkan.
Nata hanya membalasnya dengan menggelengkan kepalanya yang diiringi dengan tawa kecil.
Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Yilan di kantin perusahaan, akhirnya keduanya pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan tersebut.
Keduanya lantas keluar secara bersamaan dari perusahaan, dan menghentikan dua taksi yang berbeda.
Wanita itu melambai-lambai kan tangannya dengan senyuman lebar yang terukir di wajahnya. Tentu saja Yilan membalasnya dengan hal yang sama.
Begitu menaiki taksi, Nata langsung mendapat panggilan telepon dari sang ayah. Nampaknya, ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Tn. Lyn padanya.
"Halo, Ayah?" sapa Nata pada sambungan telepon.
"Hai Putriku, ngomong-ngomong kau sedang berada dimana? Apa kau sedang sibuk?" tanya nya.
"Hmm, tidak ada yang sedang aku lakukan, Ayah. Memangnya ada apa?"
"Jika tidak ada, Ayah minta kau pulang ke rumah Ayah. Karena ada yang ingin aku sampaikan padamu," tuturnya memberitahukan.
"Baik Ayah, aku akan segera ke sana." Nata menutup panggilan telepon antara keduanya.
Ia lantas menyuruh sang supir taksi untuk menuju tempat tujuannya.
Tak berselang lama, akhirnya sebuah taksi yang ditumpangi oleh Nata berhenti tepat didepan rumah sang ayah.
__ADS_1
Sesegera mungkin wanita itu masuk dan mendatangi Tn. Lyn yang tengah disibukkan oleh komputernya.
*๐๐๐! ๐๐๐! ๐๐๐!*
Mendadak pintu ruangannya berbunyi, membuat Pria itu beranjak dari kursinya.
"Putriku? Ayo masuk โฆ duduklah."
"Apa yang ingin Ayah sampaikan padaku?" tanya Nata seraya duduk di sebuah sofa.
"Karena sudah terlalu tua, Ayah memutuskan untuk pensiun dari dunia bisnis. Ayah minta kau dan Harwell mengambil alih perusahaan-perusahaan Ayah atas namamu," papar Tn. Lyn yang kontan membuat raut wajah Nata seketika berubah.
"Tapi, Ayah โฆ."
"Jangan khawatir, Ayah akan mengurusnya. Ayah juga berniat untuk membuat acara pesta di Hotel milikku besok malam, sebagai acara pensiun ku di dunia bisnis," imbuh nya seraya meraih sebuah dokumen di atas meja kerja miliknya.
Ia kemudian memberikan dokumen itu pada Nata. Dibacanya setiap halaman dengan sangat teliti oleh wanita itu.
"Baiklah, Ayah. Aku setuju dengan keputusanmu."
"Bagus, Natalia. Ayah bangga memiliki Putri sepertimu."
******
Hal itu tentu membuat mereka sering bertemu, lantaran berada pada satu rumah yang sama. Seperti malam ini, makan malam di ruang makan terasa begitu ricuh akibat pertengkaran antara dua keluarga.
"Tidak! Seharusnya tidak begitu!" sanggah Hansen sambil menodongkan garpu di tangannya pada sang kakak.
"Hei, kau ini adikku! Seharusnya aku yang memutuskannya!" tungkas Harwell dengan raut wajah kesal.
Sang kakek nampaknya pasrah melihat keduanya bertengkar hanya karena perbedaan pendapat.
"Maaf, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian. Ini terkait acara ayahku," sela Nata sukses membuat kedua kakak beradik itu berhenti beradu mulut.
"Apa itu?" keduanya bertanya secara bersamaan.
"Ayah memutuskan untuk pensiun dari dunia bisnis. Dan besok malam dia akan membuat acara perpisahannya di hotel. Ayah meminta kalian semua untuk datang ke acaranya," lontar Nata sambil menatap satu persatu wajah manusia di hadapannya.
"Ah, itu mudah. Aku dan Floryn akan datang, tenang saja."
"Aku suamimu, pasti akan datang bersamamu."
Tiga orang telah menyatakan bahwa mereka menyetujui undangan tersebut. Namun tidak untuk sang kakek yang hanya terdiam mendengar penjelasan Nata.
"Bagaimana dengan Kakek?" tanya Nata memastikan. Ia lantas membuat Pria paruh baya di hadapannya terbuyar dari lamunannya.
__ADS_1
"Itu โฆ ah, kepalaku sakit. Aku akan kembali ke kamar," ujar kakek membuat Nata menatapnya dengan tatapan kosong.
Pria paruh baya itu lantas beranjak dari kursinya dan menuju kamar yang berada di satu lantai yang sama dengan ruang makan. Setiap kotak lantai diinjaknya hingga tak terlihat sebatang hidung pun.
"Nata, jangan terlalu dipikirkan. Kakek memang seperti itu, nanti aku akan membujuknya," timpal Hansen sembari memegangi kedua tangan Nata.
Hal itu sontak membuat Harwell serta Floryn terkejut.
"Lepaskan tanganmu dari istriku!" tegas Harwell kontan membuat Hansen tersadar akan perbuatannya.
"Hansen, kenapa kau selalu seperti itu! Sekarang, aku ini istrimu! Bukan dia lagi โฆ " gerutu Floryn dengan raut wajah kesal bercampur sedih.
"Maโ maaf, aku tidak sengaja. Tanganku spontan menyentuhnya."
"๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ?!" geram Nata dalam hati. Kedua bola matanya menatap tajam Pria di hadapannya.
Harwell lantas beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang makan. Diikuti oleh Nata yang berjalan di belakangnya.
"Hansen, apa menurutmu Kak Harwell masih belum pulih ingatannya?" tanya Floryn memastikan, pandangannya masih tertuju pada sepasang suami istri yang berjalan tak beriringan.
"Kelihatannya begitu. Setahuku, Harwell sangat perhatian dan peduli pada Nata. Eh? Tapi tadi dia juga begitu, saat aku menyentuh tangan Nata," balas Hansen membuat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Apa maksudmu โฆ ingatannya sudah pulih? Tapi dia tidak memberitahu kita semua โฆ."
"๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐๐ข๐ณ๐ธ๐ฆ๐ญ๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐๐ข๐ต๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ."
Sementara itu, terlihat Nata serta Harwell tengah duduk di ranjang mereka. Nampaknya, Nata sedang disibukkan oleh ponsel di tangannya. Sedangkan Harwell hanya memperhatikan Nata yang sibuk dengan keyboard ponselnya.
"Hoam โฆ."
"Kau sudah mengantuk?" tanya Harwell yang kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Nata.
"Hmm, hari ini aku sangat lelah. Sepertinya aku akan tidur sekarang," jawab Nata seraya meletakkan ponselnya di atas meja.
Pria itu memperlihatkan wajah murungnya, begitu mengetahui bahwa Nata memutuskan untuk tidur lebih awal. Wanita itu lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tidur menyamping.
"Nata โฆ bangunlah โฆ " bisik Harwell.
"Jangan berisik. Kita sudah melakukannya tadi pagi. Jangan bilang kau ingโ."
"Ah, ya sudahlah."
๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐๐๐....
๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐, ๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐! ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐!!!๐น๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐ ๐ข๐๐
__ADS_1