
Siulan angin terasa menembus kulit. Suara kicauan dan kepakan burung terdengar memanggil orang-orang yang tengah berkerumun.
Harwell, Hansen, serta Yilan langsung masuk ke dalam bangunan tua itu secara bersamaan. Suara ketukan langkah kaki terdengar begitu nyaring.
Nampak sejumlah orang mulai menghampiri mereka, satu di antaranya membawa Nata dengan kondisi yang kurang baik.
"Na-- Nata?!" teriak Hansen. Kakinya dengan cepat melangkah ke arah Nata yang bahkan tidak bisa melihatnya. Hanya suara teriakan serta langkah kakinya saja yang terdengar.
*DOR!*
Dalam sekejap, suara senapan sontak membuat telinga terasa nyaring. Kaki Hansen yang terus berjalan menghampiri Nata mendadak terkena peluru yang sengaja ditembakkan padanya. Sontak dirinya terjatuh.
"Tidak!! Hansen!!" lantas sang kakak menolongnya. Raut wajah Hansen yang mulai bersinar kini kembali suram.
Bibirnya yang indah itu dalam sekejap berubah menjadi warna abu-abu. Tangannya terlihat bergetar hebat lantaran tak bisa menahan rasa sakit pada kakinya.
"A-- apa yang terjadi pada Hansen?" pikir Nata yang kemudian mencoba untuk melangkah.
"Jangan coba-coba maju sebelum kau memberikan uang tebusan itu! Kau mengerti?!" tegas seorang pria yang membawa senapan.
"Hansen, bangunlah! Kau tidak boleh tiada di sini!"
"Ja-- jangan pedulikan aku, bawa Nata pergi secepatnya," urai Hansen yang nampak mulai melemah.
"Tn. Harwell, biar saya saja yang menangani Tn. Hansen. Lebih baik Anda berikan uang tebusan itu agar secepatnya Nata bisa bebas," saran Yilan.
Harwell kemudian mengangguk, ia meninggalkan adiknya yang masih terbaring lemah di atas tanah tandus.
Sedangkan Yilan berusaha untuk mengangkat dan membawanya masuk ke dalam mobil sebelum kondisinya menjadi lebih parah.
"Ini uangnya, sesuai yang kau minta. Jumlahnya 100 juta dolar." Harwell melempar beberapa tas serta diberikannya beberapa koper yang juga berisi uang dengan jumlah banyak.
"Lepaskan wanita itu!"
"Baik!"
Pria itu lantas mendorong Nata hingga terjatuh ke dalam dekapan tubuh Harwell. Di rasakannya dada bidang yang besar dan berotot.
"Nata ... Nata!!" Ia memeluk erat tubuh wanita di hadapannya. Tentu Nata membalas pelukan hangat itu sebagai rasa terima kasihnya karena sudah mau menolongnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Harwell. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak menolongku," ucap Nata sembari tersenyum lebar.
......................
Beberapa saat setelah kejadian itu berlalu, nampak Hansen yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Beberapa orang termasuk Floryn nampak sedang menemaninya.
Perlahan pintu ruangan tersebut terbuka, seorang wanita yang terlihat begitu cantik dengan gaya pakaian biasa melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Nata?!! Ini semua gara-gara mu! Pernikahan ku dengan Hansen pekan depan jadi dibatalkan karena dirimu!" teriak Floryn sembari menarik pakaian wanita di hadapannya.
Wanita itu hanya terdiam mendapat perlakuan kasar dari Floryn. Tak di perlihatkannya sedikitpun ekspresi, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi enggan untuk berbicara padanya.
"Dasar ******! Berani-beraninya kau mendatangi calon suamiku! Kehadiran mu disini, hanya akan membuatnya tersiksa!" geram Floryn, kedua bola matanya nampak meneteskan air mata yang cukup banyak.
"Maaf, tapi kedatangan ku kesini hanya untuk menjenguknya saja. Aku membawa beberapa buah-buahan untuknya, dan aku ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya," ungkap Nata sembari beberapa kali membungkukkan badannya.
Ia kemudian mengulurkan tangannya yang membawa beberapa bungkus makanan.
"Kau pikir aku akan menerimanya? Mati saja kau, dasar ******!!!" Floryn langsung menampar wajah anggun Nata, serta di lemparnya buah-buahan pemberian wanita itu.
"Ha-- Hansen? Kau masih mau membelanya setelah kakimu terluka karena menolong wanita ****** ini?!"
"Siapa yang kau anggap ******, Floryn? Jangan bicara sembarangan tentangnya ...."
"𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘏𝘢𝘯𝘴𝘦𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘍𝘭𝘰𝘳𝘺𝘯, 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯?" gumam Nata sembari mengambil kembali buah-buahan bawaannya yang sempat berserakan di lantai rumah sakit.
"Nata, pergilah. Untuk saat ini, aku tidak mau melihatmu," usir Hansen yang sontak membuatnya merasa heran.
Nampak senyuman licik terpampang di wajah Floryn. Namun, ia tak mempedulikan hal itu, dan segera keluar dari ruangan tersebut tanpa berpamitan.
......................
Malamnya, tiba-tiba saja Nata mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Ia langsung mengangkat pangggilan dari nomor asing itu.
"Halo? Dengan siapa?" tanya nya memulai pembicaraan di dalam telepon.
"Saya adalah ...."
__ADS_1
Begitu mendapat panggilan telepon itu, raut wajah Nata seketika berubah drastis. Percakapannya dengan orang pada telepon itu membuat tangan serta tubuhnya bergetar hebat.
Entah apa yang dikatakan pria itu padanya. Tapi yang pasti, ia langsung keluar dari apartment tempatnya tinggal dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat dan kosong penumpang.
Hanya dalam waktu beberapa menit saja, taksi itu berhenti tepat di sebuah perusahaan yang tak asing baginya.
Ia melangkahkan kakinya secara perlahan, hingga akhirnya sampai di depan sebuah ruangan asing.
"Masuklah," perintah seseorang dari dalam, begitu menyadari akan kedatangannya.
"Natalia Faralyn, kau sudah membuat cucuku celaka. Aku tidak menyangka kau seburuk itu di mataku."
"Sebenarnya, aku tidak seburuk itu di mata orang lain. Mungkin saja, kau yang sudah tua seperti itu menjadikan penglihatan mu berbeda dengan yang lain," sindir Nata dengan ketus.
"Heuh, aku menyesal sudah mengundang mu datang ke sini. Mulai sekarang, aku minta jauhi cucuku. Karena bagaimanapun juga, dia akan menikah dengan Floryn, wanita yang cantik dan juga kaya raya. Tidak seperti dirimu yang miskin itu."
"Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan segera pergi dari sini." Lantas Nata beranjak dari kursinya dan mulai berjalan menjauhi pria tua di hadapannya.
Dalam sekejap, sosoknya yang cantik itu mulai tak terlihat sehelai rambut pun.
...----------------...
1 bulan setelah kecelakaan yang menimpa Hansen telah berlalu. Beberapa orang di kediaman keluarga Gard nampak tengah menyibukkan diri untuk menyambut acara pernikahan antara Hansen dengan Floryn. Yang akan dilaksanakan empat hari lagi.
Seorang pria nampak memarkirkan mobilnya di depan Cafe tempat Nata bekerja. Perlahan pria itu memasuki Cafe dengan bau harum semerbak yang tercium menyengat.
"Harwell? Selamat datang, kau ingin memesan apa?" sambut Nata sembari menanyakan.
"Hmm, aku ingin pesan Cappucino saja. Ngomong ngomong, apa kau ada waktu untuk berbicara denganku?" cakap Harwell dengan lembut.
"Ah, tapi pelanggannya sedang banyak. Tidak mungkin aku duduk santai dan mengobrol denganmu," tolak Nata sembari melihat setiap sudut ruangan Cafe yang terlihat penuh.
"Baiklah ... sepulang kau bekerja aku akan menjemputmu di sini. Baru setelah itu aku akan memberitahukan sesuatu padamu."
"Iya."
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
__ADS_1