Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 27 [Pengakuan]


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti ruangan dimana ada Nata serta Harwell berada di dalamnya. Keduanya nampak saling berdiam diri tanpa mengatakan sepatah katapun.


Ia tak menggubris perkataan suaminya tadi. Nata lantas pergi dengan langkah kaki cepat meninggalkan Harwell seorang.


"Ah, ada apa dengan wanita itu?! Kenapa dia sangat keras kepala?!!" geram Harwell sembari melangkahkan kakinya ke ruangan lain.


Sementara itu, terlihat Nata yang tengah membaca sebuah buku di kamarnya. Ia membuka lembaran demi lembaran tanpa membacanya.


"Harwell, aku tidak menyangka kau akan hilang ingatan sementara. Apalagi, kita mempunyai banyak kenangan," kata Nata seraya melempar buku yang di pegangnya.


*𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊!*


Suara ketukan pintu terdengar, spontan wanita itu beranjak dari ranjangnya dan membukakan pintu. Ia memperhatikan Pria di hadapannya dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau selalu muncul di saat yang tidak tepat, Hansen?! Sudah ku bilang berkali-kali, bahwa ki--." Hansen membungkam mulut Nata, di dorongnya wanita itu hingga terbaring di atas ranjang. Ia juga tak lupa menutup pintu kamar tersebut.


"Lepaskan!" teriak Nata sembari memukul keras tangan Pria itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Selama ini aku benar-benar khawatir. Tapi apa? Setelah kau kembali, kau malah membuat masalah dengan Floryn! Kau mendorongnya, dan membuat perut Floryn keram!" bentak Hansen dengan raut wajah kesal.


Mendengar hal itu, tak membuat Nata jengkel sedikitpun. Ia hanya merespon perkataan Hansen dengan senyuman sinis yang terpampang di wajahnya.


"Kenapa kau malah terse--."


"Kau pikir dia benar? Apa kau tidak berpikir sedikitpun, bahwa Floryn berbohong!?" sela Nata sembari menarik keras pakaian Hansen.


"Bukan dia yang berbohong, melainkan dirimu!" Pria itu menodongkan jari telunjuknya pada dahi Nata. Hingga membuat wanita di hadapannya hampir terjatuh untuk yang kedua kalinya.


"Cukup bercandanya, Hansen! Dia sendiri yang bilang bahwa kecelakaan yang menimpaku satu bulan yang lalu adalah ulahnya!" tungkas Nata dengan nada tinggi.


Ia kemudian melepaskan tangannya dari pakaian Hansen, dan berjalan ke arah sebuah meja kecil yang berada di samping ranjangnya.


Namun, siapa sangka? Tiba-tiba saja Pria itu mendekat ke arahnya dan membuat Nata terpojokkan. Mendapati gelas yang berisi penuh dengan teh panas, membuatnya segera melempar seisi gelas itu pada Hansen.


"Auh!! Apa-apaan kau, Nata?!!"


"Semua kebusukan, akan terbongkar pada waktunya. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti."


"Omong kosong! Lihat, bajuku jadi basah gara-garamu! Siapa yang akan bertanggung jawab?!"


"Keluar sekarang ...."

__ADS_1


"Nata, kau!"


"Cepat, keluar sekarang!!" bentak Nata yang sontak membuat Hansen keluar dari kamarnya.


......................


Senja mulai nampak di langit. Warnanya yang berpadu sempurna dengan warna langit yang oren membuat suasana terasa damai.


Nata keluar dari kediaman sang kakek. Nampak sebuah taksi yang tengah menunggunya. Taksi itu kemudian melaju dengan kecepatan tinggi hingga tak terlihat sedikitpun.


Setelah melakukan perjalanan selama 25 menit, taksi itu berhenti di sebuah Cafe yang cukup familiar baginya. Ia masuk ke dalam Cafe dimana ada orang yang ingin di jumpainya.


Nata duduk disebuah meja yang kebetulan sedang kosong pengunjung. Ia mengangkat dengan tinggi tangannya, hingga membuat seorang Pria bertubuh kekar menghampirinya.


"Anda ingin meme--." Perkataannya seketika terhenti begitu mendapati seorang pelanggan yang ternyata adalah Nata.


Keduanya lantas saling terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun. Beberapa pekerja Cafe nampak memperhatikan keduanya yang terdiam membisu.


"Yilan, bagaimana kabarmu?" tanya Nata berusaha untuk mencairkan suasana.


"Ba-- baik, bagaimana denganmu?" jawabnya terbata-bata.


"Aku juga baik. Ngomong-ngomong, apa kau ada waktu? Aku ingin mengobrol sebentar denganmu," cakap Nata sembari berdalih menatap sisi lain agar bisa menghindari kontak mata dengan Pria tersebut.


"Terima kasih ...."


Setelah cukup lama menunggu minuman untuk dihidangkan khusus untuknya, akhirnya Yilan beserta minuman di tangannya pun datang. Pria itu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Nata.


Nampaknya, hubungan mereka mulai canggung semenjak cukup lama tidak saling bertemu.


"Aku senang bisa bertemu kembali denganmu," seloroh Nata berusaha untuk mencari topik pembicaraan.


"Ah, begitu ya?"


"Apa saat itu kau datang ke acara pernikahanku?" tanya Nata memastikan. Pria di hadapannya terlihat memikirkan sesuatu hingga membuatnya terdiam cukup lama.


"Yilan?"


"Ah, i-- iya. Ehm, maksudku tidak. Aku tidak tau kau menikah. Ngomong-ngomong, kau menikah dengan siapa?"


"Dengan Harwell. Memangnya, kau tidak mendapat undangan dariku? Seingatku, saat itu aku menaruh undangannya di bawah pintu."

__ADS_1


"Tidak ada. Aku tidak melihatnya sama sekali," jawab Yilan beralasan.


Begitu perbincangan itu usai, keduanya kembali tak membicarakan apapun selain terdiam. Nata pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, lantaran ia merasa ragu untuk mengatakan tujuannya menemui Yilan.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih untuk waktunya," ucap Nata sembari beranjak dari kursinya.


Yilan hanya membalasnya dengan anggukan kecil, dan merelakan kepergian wanita itu dalam waktu yang singkat.


"Maaf, Nata. Aku sudah berbohong padamu."


...----------------...


Begitu Nata kembali ke kediaman sang kakek, ia langsung disambut oleh sosok Floryn yang seketika membuatnya kesal. Wanita itu nampak berdiri di tengah pintu dengan senyuman licik yang terukir di wajahnya.


"Bisa tolong menyingkir dari hadapanku?" lontar Nata dengan lembut. Namun, nampaknya Floryn tak memperdulikan perkataannya, dan tetap berdiri ditengah pintu masuk.


"Ah, sudahlah ... kau hanya membuatku jengkel," gerutu Nata yang kemudian memutuskan untuk masuk melewati pintu belakang.


Ia yang tengah melangkahkan kakinya menuju pintu belakang, tiba-tiba saja mendapat telepon dari seorang pria yang tak lain adalah Yilan. Tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung mengangkat panggilan dari Yilan.


"Halo? Ada apa kau menghubungiku?" tanya Nata pada sambungan telepon.


"Aku lupa menanyakan hal ini padamu. Dengar dengar, kau kecelakaan saat pulang dari BAR satu bulan yang lalu?" ujar nya memastikan.


"Hmm, benar. Memangnya ada apa?"


"Jika boleh tau, apa saat itu kau pergi ke BAR yang sama dengan Floryn? Karena saat itu aku tidak sengaja melihatnya sedang melakukan sesuatu pada sebuah mobil yang terparkir," ungkap Yilan yang sontak membuat Nata terkejut bukan main.


"Benar, aku datang ke BAR yang sama dan di waktu yang sama dengan wanita itu. Memangnya, apa yang sedang dia lakukan saat itu?"


"Aku kurang tau. Yang pasti, saat itu dia sedang mengutak-atik mobil berwarna hitam."


"𝘏𝘪-- 𝘩𝘪𝘵𝘢𝘮?! 𝘐𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘯, 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘦 𝘉𝘈𝘙!"


Menyadari Nata terdiam cukup lama begitu mendengar penjelasannya, Yilan pun membuka mulut.


"Tapi aku tidak menuduhnya, loh. Maaf jika aku sudah lancang karena berani menuduh adikmu," lanjut ucap Yilan.


"Tidak, dia bukan adikku. Dan kurasa, apa yang kau lihat saat itu ada hubungannya dengan kecelakaanku."


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2