Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 7 [Penolakan]


__ADS_3

Malam semakin larut, dan Nata masih berada di rumah sakit untuk menemani Yilan. Beberapa kali dirinya juga sempat keluar untuk mencari makanan yang bisa mengisi perutnya.


Setelah lebih dari tiga jam menunggu Yilan terbangun dari pingsannya, akhirnya pria itu pun membuka matanya.


Menyadari akan hal itu, Nata langsung mendekati tempat tidur yang sedang digunakan oleh Yilan.


"Akhirnya kau siuman juga. Aku khawatir kau tidak akan selamat hanya karena Hansen," kata Nata sembari melihat dengan dalam wajah pria yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit.


"Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi untuk sekarang, lebih baik kau pulang," cakap Yilan dengan suara yang terdengar semakin merendah.


Lantas Nata menganggukkan kepalanya dan langsung keluar seperti yang di inginkan oleh Yilan sebelumnya.


****


Membutuhkan waktu beberapa menit baginya untuk sampai di apartemen tempat tinggalnya. Begitu Nata sampai tepat di depan rumah apartemennya, ia mendapati sesosok wanita yang tengah berdiri tegak.


Nampak wanita itu terus menekan tombol bel pada rumah Nata hingga membuatnya penasaran siapa wanita itu sebenarnya.


Perlahan Nata mendekatinya, lantas wanita itu berdalih menatapnya saat menyadari ada seseorang yang sedang mendekat.


"Floryn? Wanita itu, kenapa dia ada di sini? Dan kenapa dia tau tempat tinggal ku?? Apa Harwell yang sudah memberitahu nya?" batin Nata sembari terus melangkah maju.


"Akhirnya kau datang juga, Natalia Faralyn. Aku kira usahaku untuk mencari tau tempat tinggalmu sia-sia saja," celetuk Floryn diiringi senyuman lebar.


Nata tak menggubris setiap perkataannya, wajahnya yang tak memperlihatkan ekspresi tentu membuat wanita bernama Floryn itu jengkel. Bahkan sebelum Nata bertindak sedikitpun.


"Hai! Apa kau tidak mendengarkanku?! Jangan-jangan kau tuli, haha ... " cemooh Floryn sambil memutar kedua bola matanya.


Masih dengan hal yang sama, Nata sama sekali tak memandang wajah wanita di hadapannya sedikitpun. Ia terus melanjutkan membuka password rumahnya, dan menganggap bahwa tak ada orang lain selain dirinya di sana.


"Dasar ******!!" Karena merasa kesal lantaran Nata tak menganggap kehadirannya, Floryn pun langsung menampar keras wajah Nata hingga memerah.


"Aku sudah berbaik hati padamu dengan membiarkanmu bertindak seenaknya. Tapi sekarang kesabaranku sudah hilang," ungkapnya dengan wajah dingin bak es dalam freezer.


"Jujur, aku tidak tau apa yang membuatmu datang hingga bersikap kurang ajar padaku. Dan sekarang, aku minta secepatnya kau angkat kaki dari tempat ini," sambung Nata sembari mendekatkan wajahnya pada Floryn.


"Kau ...!"

__ADS_1


"Pergilah, sebelum aku memanggil petugas keamanan."


"Asal kau tau, aku lebih berkuasa dari pada dirimu. Kau hanya seorang wanita miskin! Ingat itu!! Aku akan membuat perhitungan padamu!" sindir Floryn yang kemudian melangkah mundur.


Setelah cukup lama berdiri di depan rumahnya untuk memastikan bahwa Floryn benar-benar sudah pergi, tiba-tiba saja ponselnya bergetar hebat.


Sesegera mungkin ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecil di tangannya. Nama yang tertera di layar ponsel membuatnya enggan untuk mengangkat panggilan tersebut.


Tanpa rasa ragu sedikitpun, Nata langsung mematikan ponselnya lantaran tidak ingin diganggu oleh siapa pun.


*****


Seperti biasa, ia di bangunkan oleh dering alarm jam nya yang menunjukkan bahwa matahari sudah terbit.


Setelah cukup lama bersiap-siap, ia pun melanjutkannya dengan sarapan pagi berupa sepotong roti dan segelas susu.


Di teguknya hingga habis dalam sekejap. Menyadari bahwa jarum jam di tangannya sudah menunjukkan lebih sepuluh menit dari keberangkatan seharusnya, Nata pun sampai melupakan ponsel yang berperan sebagai benda paling penting.


Hanya dalam waktu lima belas menit, ia pun sampai di Cafe, tempat dimana dirinya bekerja. Terlihat seorang pria dengan mengenakan pakaian kantor yang begitu familiar di matanya.


"Ha-- Harwell," sapa Nata.


"Ah, Nata? Sudah ku duga, kau bekerja di sini," lontar nya yang sempat membuat Nata tersinggung.


"Duduklah, aku ingin berbicara denganmu," perintahnya dengan lembut.


Tanpa berpikir panjang, Nata langsung duduk pada sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan Harwell. Sosoknya yang tak memperlihatkan wajah bahagia tentu membuat Harwell bertanya-tanya.


"Ekhem!" Harwell berdehem.


Lantas Nata berdalih menatapnya dengan heran.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Begini, jika ada waktu ... aku ingin mengajakmu kencan hari ini. Bagaimana?" Harwell mengusulkan. Namun, wanita di hadapannya sama sekali tak memberikan jawaban dengan cara apapun.


Ia hanya fokus pada segelas kopi yang di sajikan pada meja tersebut.

__ADS_1


"Nata?"


"Ah, maaf. Tapi hari ini aku tidak bisa pergi denganmu. Kebetulan atasan ku sedang ada sedikit masalah, jadi aku tidak bisa meminta izin padanya," ungkap Nata.


Beberapa kali Harwell hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Ia kemudian meneguk segelas kopi yang sudah dingin setelah cukup lama dihidangkan oleh pelayan Cafe.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya, aku harap besok kau bisa cuti sehari saja, selamat tinggal," ucapnya sembari memperlihatkan senyuman tipis pada Nata.


Tentu yang Nata rasakan adalah perasaan tidak enak lantaran sudah menolak ajakan dari Harwell. Walaupun begitu, tak sepenuhnya ia merasa kecewa karena tidak bisa pergi bersama lekaki itu.


"Hai, cepatlah berganti pakaian! Sudah banyak pelanggan yang mengantri!" teriak kasir Cafe yang terdengar emosi.


Sesegera mungkin Nata berlari kecil menuju sebuah ruangan yang digunakan khusus untuk berganti pakaian kerja.


"Aku tidak tau perasaan apa yang ada pada diriku saat ini. Aku merasa kecewa, sedih, tapi juga merasa bebas. Aku harap, kedepannya kehidupanku akan berjalan dengan baik," gumam Nata seraya mengenakan pakaian kerjanya.


...----------------...


Di sisi lain, nampak Hansen yang tengah duduk melamun di ruangannya. Bahkan, kopi yang sudah disajikan sejak beberapa jam yang lalu belum ia teguk sedikitpun.


"Arghh!!!" ia berteriak keras, dilemparnya dokumen-dokumen yang sudah tertata rapi di atas meja kerjanya.


"Bagaimana bisa Nata menolakku?! Apa yang sebenarnya ia pikirkan?! Mau bagaimanapun, aku harus bisa membujuknya untuk menunggu kakek meninggal!"


"A-- apa yang kau katakan, Hansen? Ka-- kau berniat untuk kembali padanya?" tanya Floryn yang kebetulan mendengar semua perkataan Hansen.


"Flo-- Floryn? Ti-- tidak, aku hanya sedang bosan saja. Duduklah, kenapa kau tidak bilang akan datang ke sini?" papar Hansen berasalan.


"Kau tidak sedang berbohong padaku, kan?" rengeknya bak seorang bayi.


"Tentu saja tidak, Floryn. Bagaimana jika besok kita berjalan-jalan untuk menenangkan pikiran? Kebetulan besok aku sedang tidak ada kerjaan," ajak Hansen sembari berjalan mendekati Floryn. Lantas dirinya memeluk erat tubuh wanita tersebut.


"Baiklah, Hansen. Aku senang kau mengajakku berjalan-jalan."


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2