Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 6 [Jangan Salahkan Aku]


__ADS_3

Langit yang cerah serta awan putih di langit membuat siapa saja bisa beraktivitas dengan mudah. Ditambah, suara kicauan burung yang terdengar merdu tentu membuat suasana terasa lengkap.


Sedikit demi sedikit orang-orang yang baru saja makan di Cafe milik Yilan keluar dengan perut yang sudah penuh akan makanan.


**KRIET**


Seorang pria dengan pakaian bak pelayan Cafe memasuki tempat tersebut. Mendapati sosoknya, tentu membuat Nata terdiam mematung.


"Kenapa kau mengenakan pakaian seperti itu?" tanya Nata yang dibuat heran olehnya.


"Tentu saja! Karena mulai hari ini, aku akan ikut membantumu bekerja," celetuknya sembari memamerkan senyuman.


"Aih! Mana mungkin ada seorang bos yang membantu pekerjaan bawahannya!" sergah Nata sambil menggelengkan kepalanya.


Yilan hanya membalas perkataan Nata dengan senyuman kecil. Ia kemudian mulai membantu pekerjaan Nata yang bahkan siapa saja bisa melakukannya dengan mudah.


******


Langit yang awalnya cerah berubah menjadi warna kuning ke orenan. Itu artinya, jam kerja Nata telah usai. Ia kemudian mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai, lantaran dirinya akan segera pulang.


"Bagaimana jika kita mengobrol dulu?" Yilan menawarkan. Nata hanya membalasnya dengan anggukan kecil sebagai jawaban.


Keduanya kemudian duduk di bangku yang sudah kosong pelanggannya.


Nampak seorang pelayan yang kebetulan masih berada di Cafe menyajikan minuman kecil untuk Nata.


"Minumlah," ujar Yilan.


"Kau … tidak minum juga?" tanya Nata dengan ragu.


"Tidak, aku sudah bosan dengan menu minuman dan makanan di Cafe ku sendiri. Aneh bukan?"


"Tidak juga. Kalau aku menjadi dirimu, mungkin aku akan merasakan hal yang sama."


"Nata, seandainya kau tau bahwa aku menyukaimu. Apa reaksimu nantinya? Aku harap kau senang mendengar hal itu," batin Yilan yang tanpa sengaja membuatnya tersenyum.


"Kau baik-baik saja?" tanya Nata, lantaran ia merasa ada yang aneh pada lelaki di hadapannya.


"Te– tentu saja, kenapa tidak?" balasnya dengan suara lembut.


Setelah keduanya cukup lama mengobrol, hingga akhirnya satu jam berlalu. Nata pun memutuskan untuk segera pulang sebelum malam tiba.


Ia di antar oleh Yilan sampai ke jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan untuk mencari taksi. Memang sejak awal Yilan sengaja membuka Cafe miliknya di tempat yang jauh dari keramaian para pengendara motor dan mobil. Dengan tujuan untuk menambah suasana sejuk di Cafe nya.

__ADS_1


Tidak hanya saling berdiam diri bak sebuah patung, Nata serta Yilan banyak memperbincangkan hal yang menarik sebelum berpisah.


"Ah, Nata … maafkan aku karena tidak bisa mengantarmu pulang," ucap Yilan di tengah obrolan menarik mereka.


"Tidak masalah, lagipula kau juga harus menjaga Cafe mu, kan?" balas Nata sambil menaikkan kedua bahunya.


"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa hari ini kau tidak pergi ke kantor? Bukankah masa cuti masih bulan depan?" lanjut ucap Nata bertanya.


"Itu … karena aku keluar. Yah, aku memutuskan untuk bekerja di Cafe ku sendiri …."


"Apa yang membu–,"


Nata menghentikan pertanyaannya begitu mendapati sekumpulan mobil yang melaju ke arah mereka.


Mobil itu nampak melaju dengan kecepatan tinggi hingga pada akhirnya berhenti tepat di hadapan Nata.


"Oh, jadi itu alasanmu keluar dari perusahaan?" cibir seorang pria yang baru saja keluar dari salah satu mobil tersebut.


Mata Nata sontak terbelalak keget begitu mendapati mantan suaminya yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Tidak hanya datang seorang diri, Hansen nampak membawa beberapa orang bertubuh kekar bersamanya.


"Apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya Nata dengan ketus.


Hansen mendekatkan wajahnya pada Nata. Perlahan tangannya meraih wajah Nata dengan lembut.


"Nata, ku mohon … jangan tinggalkan aku. A– aku …."


"Jangan bicara omong kosong! Sudah ku bilang, mulai saat ini kita tidak ada hubungan apapun!" tegas Nata dengan suara lantang.


Mendengar perkataannya yang terdengar seperti teka-teki, tentu membuat Yilan yang berdiri tepat di sampingnya mulai bertanya-tanya dalam benaknya.


"Memangnya, sebelum ini mereka ada hubungan apa?" pikirnya sambil beberapa kali melirik ke arah Nata.


"Kalian, pukuli lelaki itu sampai habis!" perintah Hansen mampu membuat orang-orang bertubuh kekar di belakangnya mulai bergerak.


"A– apa maksudmu?!!!" Yilan yang menyadari ada tanda bahaya, sontak membuatnya langsung menarik tangan Nata untuk kembali ke Cafe miliknya.


Keduanya berlari dengan langkah kaki cepat hingga sempat membuat keadaan mereka menjadi aman.


Bruk!!


Nata yang tidak memperhatikan jalan dengan benar, membuatnya tersandung oleh batu hingga terjatuh. Di tambah, kakinya yang terluka tentu membuatnya tidak bisa melanjutkan pelarian mereka.


"Yilan, kaulah orang yang sedang menjadi sasaran Hansen. Pergilah!" teriak Nata dengan nafas yang tak beraturan.

__ADS_1


"Aku akan tetap membawamu, jangan khawatir," perlahan Yilan mengangkat tubuh Nata agar keduanya bisa kabur bersama.


Namun dengan kecepatan yang tak sepadan, lantaran Hansen dengan beberapa orang lainnya menggunakan mobil mereka, tentu bisa mengejar Nata serta Yilan yang hanya menggunakan kakinya.


**Bugh**


Tiba-tiba saja salah satu di antara anak buah Hansen memukul tubuh Yilan dari arah belakang. Keduanya sontak terjatuh.


"Yi– Yilan!!" teriak Nata.


"Pergilah, Nata!"


"Ti– tidak, aku tidak akan pergi. Hansen!! Hentikan perbuatanmu, jangan terlalu kekanak-kanakan!!" tegas Nata yang kemudian berusaha untuk mendekati Hansen dengan kondisi kaki yang terluka.


"Nata, kenapa sekarang kau membelanya?! Aku ini suamimu!!"


"Sekarang tidak lagi, kita bahkan tidak lagi mempunyai hubungan apapun. Ku mohon, hentikan!!"


"Sekarang kau berani berbicara kasar padaku hanya karena bawahanku itu?" lontar Hansen yang tanpa disadari mulai meneteskan air mata.


"Hansen, aku harap kita tidak pernah lagi bertemu. Lagipula, untuk apa kau terus berbicara padaku, sedangkan kau sendiri yang menginginkan agar aku pergi!" terang Nata dengan suara lantangnya.


Mendengar perkataannya itu, mampu membuat Hansen menghentikan anak buahnya untuk memukuli Yilan yang sekarang tak berdaya.


Hansen serta beberapa orang-orang nya langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Rasa sakit pada hatinya mulai Hansen rasakan begitu kehilangan sosok wanita yang dicintainya.


"Nata, asal kau tau. Aku menikahimu bukan hanya karena politik saja, melainkan karena aku mencintaimu," batinnya sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Begitu menyadari bahwa keadaan Yilan saat ini tak baik-baik saja, membuat Nata seketika berlari ke arahnya.


"Yilan! Bangunlah!!"


"Nata …."


"Ku mohon, bertahanlah sampai aku menemukan taksi. Aku akan segera kembali!"


Nata kemudian berlari secepat mungkin menuju jalan raya yang di penuhi oleh kendaraan untuk mencari taksi. Setelah cukup lama berjalan, akhirnya ia pun menemukan taksi yang kebetulan sedang kosong penumpang.


Sesegera mungkin ia membawa Yilan ke rumah sakit terdekat untuk menjamin keselamatannya. Beberapa kali Nata sempat meneteskan air mata ketika berada di dalam taksi.


Tidak hanya Hansen yang merasakan sakit pada hatinya, melainkan juga Nata yang sudah sejak lama merasa tidak diperlakukan dengan adil selama menjalani kehidupan dengan mantan suaminya.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2