Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 18 [Pengakuan Nata]


__ADS_3

Awan gelap nampak menyelimuti langit di pagi buta. Terlihat burung-burung mengepakkan sayapnya dengan keras.


Beberapa orang yang tengah berada di luar rumah nampak khawatir hujan akan turun secara mendadak. Lantaran tidak semua membawa payung.


Sebuah acara siaran televisi di pusat kota tiba-tiba saja menyala ditengah keramaian orang-orang. Acara TV yang di tayangkan secara mendadak itu memperlihatkan sosok Nata dengan seorang pria yang sangat dikenal banyak orang.


"Bukankah itu Nata?" gumam Harwell begitu melihat acara televisi tersebut.


Ia ternganga melihat Nata yang sedang berada di dalam acara televisi di pusat kota. Nampak beberapa orang yang sedang berjalan ke sana kemari tengah fokus menonton acara tersebut.


"Benar, itu Nata!"


Lantas dirinya kembali mengemudikan mobil yang sempat terjebak kemacetan lalu lintas. Mobil yang di kendarainya itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju studio dimana Nata berada.


Nampaknya sejumlah orang tengah menonton siaran langsung yang ditayangkan secara mendadak itu.


Tidak hanya orang-orang yang berada di pusat kota saja yang tau akan hal itu, melainkan dengan orang-orang yang juga berada di rumah mereka masing-masing.


"Tidak mungkin itu Nata, kan?! Apa benar dia generasi pertama dari keluarga Lyn?" pikir Hansen dengan raut wajah heran begitu menonton acara tersebut.


Floryn yang tak sengaja mendapati hal itu sontak dibuat syok berat, begitu mengetahui identitas Nata yang sebenarnya.


Kopi yang tengah dibawanya lantas terjatuh dan membuat Hansen terkejut.


"Floryn?! Apa yang terjadi?! Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Hansen khawatir.


Kakinya dengan cepat beranjak dari kursi ruang TV dan mendekati Floryn yang tengah berdiri.


Tubuhnya terlihat menggigil dan terasa dingin. Sesegera mungkin Hansen membawanya ke rumah sakit karena khawatir sesuatu terjadi pada Istri barunya itu.


*****


Tak lama setelah acara Nata di tayangkan di berbagai Kota, studio itu nampak ramai di penuhi oleh sejumlah wartawan.


Beberapa orang berpakaian rapi terlihat mengelilingi Nata untuk menjaganya dari para wartawan yang terlalu memaksa.


Dari kejauhan terlihat Harwell yang sedang berusaha untuk masuk ke dalam studio. Namun, dengan banyaknya penjaga Nata, membuatnya tak bisa menyelinap masuk untuk bertemu dengan wanita itu.

__ADS_1


Begitu Nata serta beberapa orang yang berjalan beriringan dengannya sampai di luar studio, ia langsung menyadari akan kedatangan Harwell ditempat tersebut.


Ia lantas meminta ijin pada orang-orang di sekelilingnya untuk mencari seseorang.


Namun dengan keramaian yang melanda studio itu, tentu membuat Nata tak bisa pergi sedikitpun.


...----------------...


Pagi berlalu begitu cepat. Kini terlihat cahaya matahari siang yang menyinari Kota dengan terangnya.


Suasana di rumah barunya nampak terasa sejuk dan damai. Tidak seperti saat berada di apartemen sebelumnya, yang terasa begitu panas dan bising.


Terlihat Nata yang tengah menikmati jus jeruk disertai biskuit. Ia menyeruput minuman di hadapannya sembari membaca sebuah buku di tangannya.


"Permisi, Nn. Natalia ... ada yang ingin bertemu denganmu," ucap Joy yang tiba-tiba saja berada di sebelahnya.


"Siapa?"


"Dia adalah Tn. Harwell Gard. Kelihatannya dia ingin sekali bertemu dengan Anda sejak kemarin sore," ungkap Joy sembari memberitahukan.


Wanita itu lantas mendatangi ruang tamu yang sudah di tempati oleh sosok Harwell.


"Nata, aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi. Senang bertemu kembali denganmu," cetus Harwell yang nampak gugup.


Entah apa yang berada dipikiran Nata, hingga membuatnya langsung bersandar pada dada bidang Pria di hadapannya. Nata memeluk erat Harwell dengan harapan bahwa lelaki itu akan tetap berada di sampingnya.


"A-- ada apa, Nata?" tanya Harwell terheran-heran.


"Aku merindukan mu, aku benar-benar ingin bertemu denganmu."


"Nata ... ternyata kau merasakan hal yang sama denganku."


Wanita itu nampak melepaskan pelukannya pada Harwell. Ia menatap dengan dalam wajah Pria di hadapannya sembari memegangi erat kedua pergelangan tangan Pria tersebut.


"Aku ingin menikah denganmu," ungkap Nata yang sontak membuat Harwell terdiam membisu.


Suasana di ruang tamu itu seketika berubah menjadi hening. Hanya ada suara hembusan penyejuk ruangan yang sedang menyala.

__ADS_1


Bahkan, beberapa asisten rumah tangga yang berada tak jauh dari keduanya nampak terdiam mematung.


"Nata, apa kau sedang bercanda?" tanya Harwell dengan serius.


Lantas Nata menggeleng pelan, ia menundukkan kepalanya lantaran khawatir Harwell tidak akan setuju dengan permintaannya.


Pelukan hangat dilontarkan oleh Harwell begitu mendengar permintaan Nata. Kedua bola matanya nampak membendung cairan bening atas kebahagiaan yang di rasakan olehnya.


"Entah apa yang membuatku melakukan hal ini. Mungkin saja karena aku benar-benar ingin membuat Hansen kecewa, atau karena aku benar-benar mencintai Pria ini?" batinnya hingga tak menyadari bahwa Harwell sedang bertanya padanya.


"Ah, apa yang kau tanyakan tadi?" tanya Nata memastikan, sembari menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Bagaimana jika nanti malam kau datang ke rumahku? Mungkin saja kakek akan merestui hubungan kita," usul Harwell yang mendapat respon positif dari Nata.


Pria itu lantas memutuskan untuk pulang lantaran ingin menyiapkan makan malam yang mewah untuk Nata.


Tak lama setelah kepergian Harwell dari rumahnya, nampak seorang lelaki yang memaksa untuk bertemu dengan Nata.


Kedatangannya sontak membuat Nata merasa gelisah. Enggan rasanya untuk menemui lelaki yang telah menyakiti hatinya.


"Nn. Natalia? Apa Anda tidak mau menemuinya? Kelihatannya pria itu ingin sekali bertemu denganmu," tutur Darren yang nampak kewalahan untuk mengusir seseorang di luar.


"Usir saja dia, bilang padanya bahwa aku tidak mau bertemu dengannya," perintah Nata.


"Nata!! Ini aku, Hansen! Aku ingin berbicara denganmu, sebentar saja!!" teriak lelaki yang mengaku-ngaku sebagai Hansen.


Perlahan Nata melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan mendapati Hansen yang tengah berusaha untuk masuk.


Namun, tak sedikitpun Nata membelas kasihani Hansen. Ia hanya memperlihatkan senyuman sinis yang sempat membuat pria di hadapannya berhenti berteriak.


"Kau ... apa sekarang kau sudah melupakanku?"


"Maaf, tapi aku tidak pernah mengenal pria brengsek sepertimu. Sudah cukup menyesal saat itu aku menyetujui perjanjian yang aneh. Dan sekarang, aku tidak mau lagi mengulangi hal yang sama di masa lalu," papar Nata dengan raut wajah dingin.


Ia lantas berjalan menjauhi Hansen yang masih berharap bahwa Nata akan berbicara dengannya. Lelaki itu nampak masih belum menyerah atas usahanya agar bisa bertemu dengan mantan istrinya.


Namun, berbeda dengan Nata yang ingin sekali mantan suaminya pergi jauh-jauh dari kehidupannya yang baru.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2