
Sinar matahari menembus masuk melewati hordeng kamar. Sinar yang terang itu nampak memberikan senyuman untuk memulai hari yang baru. Terlihat ruang makan yang sudah penuh dengan beberapa orang di dalamnya.
Nata berjalan dengan anggun menuruni setiap anak tangga. Di pandangnya wanita itu bagai pusat perhatian.
"Kenapa Kak Nata terlambat bangun? Seharusnya, sebagai istri yang baik itu memasakkan makanan untuk suaminya, dan merapikan pakaian kantornya," cibir Floryn dengan manja.
Wajahnya yang sok polos membuat Nata geram. Namun, dengan ruang makan yang sudah kedatangan sang kakek tentu membuatnya menahan amarah.
Ia tak menggubris perkataan Floryn. Wanita itu langsung duduk di kursi yang tersisa, dimana ia duduk berdampingan dengan mantan suaminya.
"Nata … apa yang dikatakan Floryn itu memang benar. Seharusnya kau bangun lebih awal dibandingkan suamimu," tegur sang kakek dengan kasar.
Hal itu tentu membuat Harwell geram begitu mendengarnya. Ingin sekali ia membela istrinya di depan keluarga besarnya, namun ia masih dalam proses menjalankan rencana bersama Nata.
"Maaf, Kakek … tapi semalam aku kurang tidur. Badanku sedikit pegal-pegal," lontar Nata melirik ke arah Harwell yang duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"A– apa maksud …."
"Baiklah, sekarang kau sarapan. Bukankah kalian semua ada janji untuk membeli pakaian bersama?" sela kakek seraya bertanya.
Nata terdiam sejenak mendengar perkataan Pria paruh baya di hadapannya.
"𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘍𝘭𝘰𝘳𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 … " gumam Nata berdalih menatap Floryn.
Wanita itu nampak memperlihatkan senyuman licik yang terukir di wajahnya.
Nata menghela nafas panjang dan meraih sebuah piring yang berisi makanan pembuka.
Tak berselang lama, keluarga besar itu usai makan pagi di ruang makan. Keempatnya lantas bersiap-siap menaiki satu mobil yang sama untuk menuju toko pakaian.
Jalanan yang di penuhi oleh banyak kendaraan membuat mobil mereka terjebak di tengah kemacetan lalu lintas. Udara yang panas serta berdebu mereka rasakan.
"Ugh, panas sekali … Kak Nata, apa kau bisa mengipasi aku?" keluh Floryn seraya mengipas-ngipasi tubuhnya dengan tangan.
"Tidak sopan sekali. Memangnya aku ini pembantumu?"
"Bu– bukan begitu. Sayang, kau lihat, kan? Kak Nata tidak begitu nenyukaiku, dia sering membentakku seperti itu," rengek nya dengan manja.
Hansen mengelus pelan ubun-ubun Floryn. Ia menatap tajam ke arah Nata yang kemudian memperlihatkan senyuman sinis.
"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘦𝘩. 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘍𝘭𝘰𝘳𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶," batin Nata.
__ADS_1
Setelah cukup lama terjebak macet di lalu lintas, akhirnya mobil mereka pun bisa melaju dengan santai. Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai ditempat tujuan.
Keempat orang yang berada di dalam mobil lantas keluar. Mereka disambut dengan hangat oleh sang pemilik toko. Senyuman lebar diperlihatkan oleh para pekerja toko yang ramah.
"Nata, kau ingin membeli pakaian yang mana?" bisik Harwell.
"Jangan seperti itu, telingaku geli."
Harwell tertawa kecil mendengar perkataan istrinya.
Namun, hal itu nampaknya membuat Floryn tak senang. Raut wajahnya terlihat geram melihat pasangan suami istri itu melakukan hal romantis. Dengan sigap, tangannya menarik keras lengan Nata.
"Auh!"
"Floryn, apa yang kau lakukan?!!" bentak Harwell yang sontak membuat tubuh Floryn bergetar hebat. Hansen yang mendengar hal itu lantas berlari ke arah sumber suara. Ia mendapati Nata, Harwell, serta Floryn tengah berada dalam pertengkaran.
"Ada apa ini?" tanya Hansen terheran-heran.
"Sa– sayang, Kak Harwell membentakku! Dia membela Kak Nata yang sudah mendorongku, hiks … " rintih Floryn seraya mengeluarkan cairan bening dari kedua bola matanya.
Tanpa berpikir panjang, Hansen langsung memukul Harwell yang tengah memeluk erat istrinya.
"Siapa suruh kau membentak istriku, padahal Nata yang bersalah. Jika aku tidak mencintai Nata, aku pasti sudah membuatnya menyesal karena sudah berbuat jahat pada Floryn!" tukas Hansen yang kemudian membawa Floryn pergi.
"Apa maksudnya? Kenapa dia masih saja percaya pada wanita ular itu?!!" geram Harwell.
Nata lantas berjalan mendekatinya. Ia memeluk Harwell yang tengah kesakitan akibat pukulan dari Hansen.
"Maaf, ini salahku. Seandainya aku tidak melibatkanmu, mungkin kau tidak akan terluka," lontar Nata masih dengan posisi tangan yang berada di perut Harwell.
"Apa yang kau bilang? Ini bukan salahmu, bahkan aku yang merasa bersalah karena membiarkan wanita itu kabur!"
Karena permasalahan yang terjadi, kedua keluarga itu pun tak jadi memilih pakaian secara bersamaan. Mereka berpencar dan berpura-pura tidak saling mengenal begitu berpapasan.
****
Kini matahari sudah berada tepat di tengah. Cuaca yang panas mulai membara, rasanya matahari berada tepat di atas kepala. Bahkan, alat pendingin pun tak bisa menyejukkan ruangan yang terkena sinar matahari itu.
"Nata, bagaimana jika sekarang kita pulang?" usul Harwell sembari menggandeng tangan istrinya.
"Tidak masalah. Lagipula kita sudah membeli semua yang diperlukan," ucap Nata.
__ADS_1
Keduanya lantas memutuskan untuk segera menuju tempat parkir. Mereka mendapati Hansen serta Floryn yang tengah menunggu kedatangannya untuk mengemudikan mobil.
"Bisa-bisanya kau menungguku di dalam mobil," sindir Harwell begitu masuk ke dalam mobil miliknya.
"Jika aku sangat kejam pun aku sudah membawa pergi mobilmu. Untungnya aku masih membelas kasihani dirimu."
"Jaga bicaramu, ya!"
"Harwell, sudah. Jangan membuat keributan … " sela Nata sukses melerai pertengkaran antara keduanya.
Nampaknya, Floryn tengah menikmati minuman di tangannya. Ia menyeruput minuman itu di sepanjang jalan menuju kediaman sang kakek.
Namun, siapa sangka? Jika ternyata, ia sengaja menumpahkan sisa minumannya pada pakaian baru milik Nata.
"Aaa!!!" teriaknya sontak membuat seisi mobil terkejut bukan main.
"Ada apa?!!"
"Ma– maafkan aku, Kak Nata. Minumanku tumpah ke atas bajumu," lontar nya dengan raut wajah manja.
"Pakaian yang mana?"
"I– itu, eh?"
"Kau pasti terkejut, kan? Aku sengaja memindahkan pakaianku di bawah, dan menggantikan pakaianmu di atas. Jadi, minumanmu tumpah pada pakaianmu sendiri," ungkap Nata yang sontak membuat wanita itu terdiam mematung.
Ia kemudian mengambil pakaian berwarna merah yang sama dengan milik Nata dari bungkus. Tentu ia mendapati pakaian miliknya sendiri yang terkena tumpahan air.
"Lain kali jangan ceroboh, ya."
"𝘈– 𝘢𝘱𝘢?!! 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘸𝘢𝘭?! 𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘯𝘰𝘥𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯," gerutu nya dalam hati.
******
Setelah perjalanan pulang berlangsung kurang lebih selama 30 menit, akhirnya mereka pun sampai. Keempatnya keluar secara bersamaan dengan bungkusan pakaian yang berbeda-beda.
Ketiga di antaranya memperlihatkan wajah bahagia karena bisa membeli pakaian baru, namun tidak dengan Floryn yang nampak murung lantaran pakaiannya terkena noda minuman.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀
__ADS_1