Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 41 [Keputusan]


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti seisi ruangan kediaman Gard. Nampaknya, tak ada satupun dari mereka yang menyalakan televisi maupun benda yang bersuara. Begitu pula dengan para asisten rumah tangga, banyak dari mereka yang mengambil hari libur membuat rumah bak Istana itu terasa sunyi.


Namun tidak dengan sebuah ruangan di lantai dua kediaman tersebut. Terdengar suara ricuh yang menggema di dalam ruangan.


"Ha– Hansen, menyingkir!" perintah Nata yang sama sekali tak bisa bergerak di buatnya.


"Sudah ku bilang kau akan menjadi milikku, setelah aku menceraikan Floryn," tegas seorang pria bertubuh kekar yang tengah berada di atas tubuhnya.


Nata nampak terus berusaha agar bisa menyingkirkan Hansen darinya. Ia melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa ada benda yang bisa di gunakannya.


Menyadari ada vas bunga di atas meja kecil miliknya, tangannya pun berusaha untuk meraih vas bunga tersebut.


Di lemparnya vas bunga dengan ukuran sedang itu pada kepala seorang pria di atasnya.


"Arghh!!! Nata, apa yang kau lakukan?!" tanya Hansen dengan suara lantang. Tangannya menmegangi kepala yang sempat berdarah akibat vas bunga yang dilemparkan padanya.


Pria itu lantas bangkit dari atas tubuh Nata. Tentu hal itu menjadi kesempatan baginya untuk bisa kabur.


"Kenapa kau melakukan hal itu padaku?! Apa kau pikir kepalaku tidak sakit?!" celoteh nya hingga tak menyadari bahwa Nata menodongkan benda tajam padanya.


"Aku minta kau keluar sekarang, atau …."


"Atau apa?! Atau kau akan membunuhku sekarang? Heuh, baiklah … kali ini kau bisa lolos, tapi tidak untuk berikutnya," tegas nya yang kemudian beranjak keluar dari kamar Nata.


Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang begitu lebar. Tangannya mengusap kasur yang empuk bak di atas salju yang tebal.


Ia kemudian meraih ponselnya yang berada di dalam tas selempang miliknya.


"Dulu, kau memang pernah menjadi kesayanganku. Namun tidak untuk sekarang setelah kau membuat hatiku hancur berkeping-keping," ujar Nata seraya menatap dalam sebuah potret dalam ponselnya.


Ia mengusap wajah seorang pria yang berada di dalam foto tersebut. Dalam sekejap, pikirannya di penuhi oleh satu pria itu saja.


******


Langit gelap kini berubah terang begitu pagi menggantikan malam. Suara kicauan burung menambah kehangatan yang ada dalam kediaman tersebut.


Seorang wanita nampak menyibukkan dirinya di dalam kamar. Ia mengaplikasikan make up tipis pada wajahnya. Di kenakannya pula perhiasan yang mewah nan elegan, tentu harganya sepadan dengan keindahannya.

__ADS_1


Tak berselang lama, wanita yang disebut-sebut sebagai Nata melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Ia berjalan lurus menuju pintu keluar. Dikendarai nya sebuah mobil berwarna hitam berkilau. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang nampak asing baginya.


Waktu satu jam ia gunakan selama perjalanan menuju sebuah gedung tempat Floryn dirawat.


Sosoknya yang baru saja keluar dari mobil langsung disambut hangat oleh pemilik rumah sakit jiwa tersebut.


"Selamat datang, Nn. Natalia. Silahkan … " sapanya sembari mengarahkan jalan pada wanita itu.


"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaannya saat ini?" tanya Nata selama perjalanan menuju ruangan Floryn.


"Kondisinya semakin memburuk, dia selalu menyebut-nyebut nama Tn. Hansen. Hmm, kalau boleh tau, kenapa Tn. Hansen tidak pernah datang untuk mengunjunginya?" tanya sang kepala rumah sakit pada Nata.


"Karena dia … tidak mencintainya."


****"


Sementara itu, nampaknya Hansen tengah membuat kericuhan di rumahnya. Ia berdebat dengan sang kakek yang sudah berumur. Emosinya meluap-luap bak air mendidih.


"Kalau sejak awal kau hanya mencintai Nata, kenapa kau harus menceraikannya?" tanya sang kakek dengan raut wajah iba.


"Sekarang Kakek menanyakan hal itu padaku?! Jangan gila … kau sendiri yang menyuruhku untuk melakukan hal itu!" tuduh Hansen seraya menyeringai.


"Oh, jadi sekarang Kakek mau menyalahkanku atas kesalahan yang kau lakukan? Terserah Kakek saja, intinya … aku akan tetap menceraikan Floryn!" tukas Hansen yang kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Namun, nampaknya sang kakek tak mengizinkannya untuk pergi. Beberapa pria berotot bersikeras menghalangi jalannya untuk keluar dari rumah, sesuai perintah yang berkuasa.


"Kakek … jangan seperti ini! Memangnya aku anak kecil?!"


"Kau tidak boleh keluar dari rumah. Silahkan kau berusaha sekeras mungkin, tapi aku tetap tidak akan mengizinkanmu untuk pergi!" tegasnya sembari memperlihatkan wajah tak suka pada Hansen.


Bukannya Tuan muda itu yang pergi, melainkan si paruh baya yang kemudian meninggalkannya seorang diri di ruangan tersebut.


Merasa geram, Hansen melangkahkan kakinya dengan keras. Suara langkah kakinya itu terdengar menggema hingga ke seluruh ruangan.


Dimasukinya ruang kerja pribadi miliknya. Ia mengambil ponsel yang berada di dalam saku jas.


Nampaknya, Hansen tengah menelepon seseorang untuk membawakan sesuatu ke rumahnya.

__ADS_1


****


Jarum jam berjalan begitu cepat, hingga membuat Nata lupa bahwa kini hari sudah menjelang sore. Ia lantas memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut. Wanita itu kembali mengendarai mobilnya yang sempat ia parkir kan.


Dengan kecepatan rendah, Nata menghentikan mobilnya di sebuah restoran bintang lima.


Begitu sampai di dalam, beberapa orang yang merasa familiar akan sosoknya kontan menghampirinya di meja makan.


"Ah, Nn. Nata … anda ingin memesan apa?" tanya salah seorang pekerja.


"Aku ingin memesan kue untuk makanan pembuka, lobster dan salad untuk penutup. Minumannya strawberry cream saja."


"Baik, silahkan menunggu. Kami akan menghidangkan makanan terbaik untuk Anda, Nona." Pekerja itu berjalan menjauhinya.


Terdengar beberapa pekerja lain yang tengah membicarakannya di belakang. Namun Nata tak memperdulikan hal itu, ia hanya fokus pada keyboard di ponselnya.


Tak berselang lama, beberapa orang nampak membawakan pesanannya. Mereka menghidangkan makanan itu dengan ramah. Senyumannya nampak terukir di wajah mereka masing-masing.


"Terima kasih … " ucap Nata seraya tersenyum lebar.


"Sama sama, Nona. Selamat menikmati …."


Begitu para pekerja itu usai mengantarkan pesanannya, Nata kembali fokus pada ponsel di tangannya.


Ia menelepon seorang pria yang tak lain adalah sang suami.


Setelah beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi pria itu, akhirnya panggilannya pun diterima.


"Halo, Nata. Aku sangat merindukanmu … aku harap waktu cepat berlalu," ungkapnya membuka pembicaraan pada telepon.


"Jika kau merindukanku, kenapa kau tidak lebih dulu menghubungiku?" Pria itu kontan terdiam begitu mendengar perkatannya. Merasa tak ada jawaban, Nata lantas mematikan sambungan telepon mereka.


"Na– Nata!! Ah, sepertinya dia marah … tapi ini memang salahku karena tidak menghubunginya lebih dulu." Dalam sekejap, raut wajahnya berubah murung setelah ia sempat memperlihatkan senyuman begitu mendapat panggilan dari Nata.


Di lain sisi, merasa geram, Nata menaruh sendok di tangannya dengan keras. Kedua tangannya membelai rambut panjangnya.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2