
Keheningan menyelimuti ruangan dimana Harwell tengah di sibukkan oleh laptop serta beberapa dokumen miliknya.
Beberapa kali ia sempat meneguk segelas kopi di mejanya agar tidak mengantuk.
Tak lama setelahnya, seorang wanita memasuki ruangan kerja miliknya. Ia terlihat membawa sebuah tas yang di selempangkan pada pundaknya.
Perlahan wanita itu berjalan mendekati Harwell yang nampak menyambut akan kedatangannya.
"Harwell, apa masih banyak pekerjaan yang harus kau urus?" tanya nya seraya duduk pada sofa.
"Iya, masih sangat banyak. Seharusnya aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat agar bisa makan malam denganmu," cetus nya dengan raut wajah kecewa.
Wanita yang ia sebut sebagai Nata beranjak dari duduknya dan memeluk Pria itu dari belakang.
"Tidak masalah, kebetulan aku belum makan malam. Bagaimana jika sekarang kita pulang dan mampir ke restoran? Pekerjaanmu lanjutkan besok saja, besok aku akan membantumu," usul Nata sembari memperlihatkan senyuman lebar yang mampu meluluhkan hati Harwell.
"Baiklah, ayo."
Harwell lantas memutuskan untuk mengikuti perkataan Nata. Secepat mungkin ia mengemasi beberapa dokumen miliknya kedalam lemari kecil.
*****
Sesampainya di restoran, mereka memesan beberapa makanan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
Harwell melahap makanannya hingga penuh di dalam mulut.
"Makanlah dengan santai, aku akan menunggumu," ujar Nata menatap wajah suaminya.
"Ah iya, ini semua karena aku sangat lapar. Apalagi makanannya enak."
"Hmm, bagaimana dengan masakanku kemarin? Apakah makanan di restoran ini lebih enak?"
"Tentu saja tidak. Masakanmu jauh lebih enak dari makanan restoran ini," celetuk Harwell yang beberapa kali tertawa kecil.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu makan malam berdua di restoran, akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pulang setelah usai makan malam.
******
Suasana ricuh menyelimuti ruang keluarga kediaman Gard. Terlihat tiga orang yang tengah membicarakan sesuatu di ruangan tersebut. Nampaknya, dua dari tiga orang tengah memarahi seorang wanita yang duduk bersama mereka.
Seorang pria paruh baya melempar gelas berisi jus di hadapannya. Membuat gelas yang penuh dengan jus itu terlempar hingga pecah dan berceceran.
__ADS_1
"Kau masih mau menuduh Nata?!! Kau pikir bisa melempar semua masalahmu padanya?!!" celoteh Pria paruh baya tersebut.
Tangisan wanita di hadapannya tak kunjung berhenti hingga membuat sang kakek kesal.
"Apa kau tidak bisa berkata jujur dan berhenti menangis?!" bentak nya yang sontak membuat Floryn menghentikan tangisannya.
Tak berselang lama, seorang pasangan suami istri tiba-tiba saja masuk di tengah kericuhan yang terjadi. Mereka kontan menghentikan langkah masing-masing begitu mendapati pecahan gelas di lantai.
"Apa yang terjadi?" tanya Harwell dengan polosnya.
Sang kakek yang kesal, memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tak memperdulikan kedatangan Harwell serta Nata. Ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga hingga tak terlihat sebatang hidung pun.
"Kau!! Ini semua gara-garamu!!! Nata, katakanlah kalau semua itu memang salahmu!" teriak Floryn yang sontak membuat Nata berdalih menatapnya tajam.
"Cukup, Floryn!! Sudah berapa kali kami semua mengingatkanmu untuk tidak terus menerus menuduh Nata!! Dia bukan orang yang seperti itu!" tegas Hansen seraya menodongkan jari telunjuknya pada Floryn.
"Tapi ini semua memang salahnya!! Aku jadi keguguran karena dia!!!"
**PLAK!*
Nata menampar wajahnya hingga memerah. Wanita itu sontak berhenti membuat kebisingan di rumah sang kakek.
"Apa kau tidak bisa diam? Atau mulutmu memang sedang eror, sampai terus-menerus menuduhku? Apa kau ingin aku mendapat masalah?" tukas nya yang kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga.
*****
Rembulan bersinar seakan waktu siang telah habis. Suara kicauan burung di pagi hari terganti oleh suara mengerikan burung hantu. Awan-awan gelap berjalan mulus melewati langit malam.
Nata terbangun dari tidur lelapnya, seakan ada yang sengaja membangunkannya untuk berjaga di malam hari.
Ia kemudian terduduk di atas ranjang, menatap tubuh Pria yang tengah tertidur pulas di sebelahnya.
Perlahan tangan Nata mengelus pelan dahi Pria tersebut. Lantas, ia berjalan keluar ruangan dan menuju lantai bawah. Nata berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya, kakinya itu terhenti di sebuah ruangan yang penuh akan makanan.
Siapa yang tak mengerti akan tempat itu? Tentu saja itu adalah tempat dimana berkumpulnya orang-orang untuk makan.
Wanita itu kemudian melanjutkan jalannya dan mendekat ke arah kulkas yang tengah tertutup rapat.
Dibukanya kulkas itu dan diambilnya sebotol susu untuk diminum.
"Ah, kenapa tiba-tiba kepalaku terasa sakit?" gumamnya seraya memegangi kepala.
__ADS_1
Setelah menghabiskan sebotol susu di tangannya, Nata bergegas kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahatnya.
Setiap detik ia langkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Ia yang tak sadarkan diri terus berjalan sambil berpegangan pada besi di tangga. Panggilan dari seseorang secara tiba-tiba kontan membuatnya setengah tersadar. Ia berdalih menatap ke arah belakang dan mendapati seorang wanita bernama Floryn.
"Sepertinya aku harus membuatmu mengerti agar kau mau mengakui semua kesalahanmu," papar Floryn seraya melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"𝘜𝘨𝘩, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪?" gumam Nata. Ia tak menggubris perkataan wanita itu dan kembali melanjutkan jalannya yang terhenti.
Seketika wanita yang tadi masih berada di bawah tiba-tiba saja menarik keras lengannya.
"Apa yang kau lakukan?! Aku hampir terjatuh!" ucap Nata secara spontan.
"Hee … jangan berpura-pura tidak tau. Alasanku malam-malam begini terbangun, adalah karena aku akan menjalankan misiku."
"Yaitu … membuatmu keguguran juga!" ia berbisik pada telinga Nata. Mata wanita itu sontak terbelalak kaget mendengar perkataan Floryn.
Ia mendorong Nata dari atas hingga terjatuh ke lantai bawah.
"Aaa!!!!"
"Siapa suruh kau membuatku keguguran! Ini adalah balasan dari perbuatanmu!"
Sementara itu, di saat yang bersamaan Hansen tak sengaja melihat kejadian dimana Floryn mendorong Nata. Hal itu tentu membuatnya terkejut setengah mati, begitu mendapati istrinya mencoba untuk melakukan pembunuhan.
"Nata!!" teriaknya sontak membuat Floryn terkejut bukan main.
Sesegera mungkin Hansen berjalan menghampiri keduanya. Ia langsung membantu Nata yang tengah kesakitan lantaran terjatuh dari tangga.
"Aku akan membantumu. Apa ada yang sakit?" tanya Hansen seraya berusaha membantu Nata bangkit.
"Pe– perutku … perutku terasa sedikit keram."
"Apa yang kau lakukan padanya?!! Berani sekali kau mencoba untuk membunuh Nata! Kau pikir kau siapa, berani melakukan hal seperti itu?!!" bentak Hansen membuat istrinya itu terdiam mematung.
Tubuh wanita itu bergetar hebat bak sebuah bencana gempa. Ia tak bergerak sedikitpun, bahkan kedua bola matanya itu sampai meneteskan air mata yang begitu banyak, hingga membasahi pakaiannya.
Nata yang tengah berjalan dibantu oleh Hansen nampak memperlihatkan tatapan sinis nya. Tatapan itu tentu membuat Floryn ketakutan. Bagaimanapun juga, ia akan tetap mendapat masalah walaupun misi pembunuhannya gagal.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀