Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 43 [Hari Yang Melelahkan]


__ADS_3

Happy Reading 🍁


______________________________________________


Semua orang nampak mengenakan pakaian serba hitam. Mereka mengambil dupa dan di perlihatkan pada sebuah foto yang terpampang dengan karangan bunga.


Hari yang berat Nata lalui seorang diri hingga siang tiba. Ia berjalan kesana kemari melayani para orang berkedudukan tinggi untuk memberi do'a pada jenazah Tn. Gard. Bagaimana dengan Hansen? Pria itu hanya menyambut orang-orang tanpa membantu Nata.


Pekerjaannya yang hanya berdiri dan memberikan senyuman lebar pada setiap orang yang datang. Siapa saja bisa melakukan hal itu dengan mudah. Namun tidak dengan wanita itu yang cukup kelelahan lantaran para tamu yang datang tak kunjung usai.


"Hansen, kita ganti posisi. Seharusnya, kau sebagai cucunya melayani para tamu, bukan hanya menyambut mereka saja," cakap Nata dengan raut wajah kesal.


"Ah, baiklah ...." Pria itu lantas mengganti posisinya ke dalam ruang utama. Kini gilirannya untuk melayani para tamu yang datang.


Baru beberapa detik Nata berdiri menyambut kedatangan orang-orang, tiba-tiba saja ponsel dalam sakunya berdering. Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo, Harwell," sapa Nata pada sambungan telepon.


"Ha-- hai, apa kau sudah tidak marah lagi padaku?" tanya nya berharap bahwa perkataannya benar.


"Bukan itu yang ingin aku katakan, tapi ... kakek, yah ... pagi ini kakek meninggal," ungkap Nata yang kontan membuat pria di seberang sana terdiam membisu.


"Kau masih disana? Harwell?"


"Nata ... apa kau serius? Kakek ... kakek meninggal? Bagaimana bisa?!!!" suaranya terdengar tak biasa. Mungkin Pria itu sudah lebih dulu menangis sebelum mengetahui kepastiannya.


"Benar, kakek meninggal. Maka dari itu aku meneleponmu, dan berharap kau akan segera kembali," cetus Nata dengan pasrah.


Sudah lebih dari tiga puluh menit Nata disibukkan oleh percakapannya dengan Harwell dalam panggilan telepon. Hingga pada akhirnya, ia kembali menyambut para tamu yang berdatangan sembari menunggu kepulangan suaminya.


...----------------...


Suara bising di kediaman Gard kini berkurang begitu malam tiba. Sedikit demi sedikit keheningan kembali menyelimuti kediaman mereka.


Seorang wanita nampak sedang menikmati segelas susu di ruang makan. Ia menatap kosong segelas susu di hadapannya dan berharap keadaan melelahkan ini akan cepat usai.


Tiba-tiba saja Tn. Lyn datang dan sempat membuatnya terkejut. Ia lantas memperlihatkan senyuman kecutnya seraya bersandar pada bahu sang ayah.

__ADS_1


"Ayah ... ini sangat melelahkan. Kapan hal ini akan usai? Mungkin jika kakek adalah orang biasa, kita tidak akan kedatangan tamu sebanyak itu. Cukup sulit bagiku melakukannya seorang diri," paparnya dengan raut wajah lesu.


Perlahan Tn. Lyn mengusap ubun-ubun Nata. Sembari membangunkannya dari sandaran dan berkata, "Jangan sedih, semua ini akan cepat berakhir seiring berjalannya waktu. Kau tidak perlu khawatir, Harwell juga pasti akan segera kembali."


Nata hanya membalasnya dengan senyuman kecil. Tiba-tiba saja suara ketukan langkah kaki yang terdengar menggema di seluruh ruangan terdengar mendekat ke arah ruang makan.


Perlahan sosok Harwell muncul dengan tas di tangannya. Dengan cepat, Pria itu berlari ke arah Nata dan spontan memeluknya.


"Nata, aku merindukanmu. Akhirnya kita bisa bertemu kembali," ucapnya sembari memeluk erat wanita di hadapannya.


"Nata, Ayah tinggal dulu."


"Ba-- baiklah ...."


Pria yang tak lain ayahnya mulai melangkahkan kakinya menjauh dari ruang makan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Harwell setelah cukup lama memeluk istrinya.


"Aku tidak tau. Saat pagi tiba-tiba saja kakek sudah tiada. Tapi semalam, aku melihat Hansen berada di kamarnya. Ah, bagaimanapun juga aku tidak bisa menuduhnya begitu saja," ungkap Nata.


Kedatangan seorang pria ke ruang makan secara mendadak sontak menghentikan perbincangan mereka. Keduanya menatap pria yang baru saja tiba dengan pakaian kantornya.


"Kau pulang? Aku pikir kau tidak akan peduli dengan kematian kakek," cibirnya seraya menyeringai.


Harwell tak menggubris perkataannya, ia acuh tak acuh pada sang adik yang kebiasaannya hanya bisa menguras emosinya saja.


"Mau kemana kau malam-malam begini?" tanya Harwell heran.


"Aku mau pergi menemui Floryn untuk memberikan surat perceraian ini. Kenapa? Kau mau menghalangiku? Coba saja kalau bisa ...." Senyuman licik terukir di wajahnya.


Pria itu lantas melangkahkan kakinya dengan santai menuju pintu keluar. Kedua orang yang tengah berada di ruang makan hanya bisa memperhatikan kepergiannya menuju rumah sakit jiwa. Hingga pada akhirnya, sang kakak turun tangan untuk melarangnya menceraikan Floryn.


Harwell berlari secepat mungkin sebelum adiknya itu melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah.


"Hansen, tunggu!!"


"Ada apa? Terus terang, aku merasa terbebani jika kau melarangku untuk menceraikan wanita yang sudah sakit jiwa itu!" beber Hansen sambil menaikkan kedua bahunya.

__ADS_1


"Bagaimanapun juga, dia adalah istrimu! Rawat dia agar bisa kembali normal. Aku mohon, jangan membuat dirimu sendiri kecewa untuk yang kedua kalinya."


"Sudahlah, diam. Itu bukan urusanmu." Ia mendorong kakaknya dengan keras.


"Hansen, jangan keras kepala!"


"Dengar, aku tidak akan kecewa setelah menceraikan Floryn. Ingat itu baik-baik," tegasnya yang kemudian masuk kedalam mobil.


Harwell pasrah akan perilaku adiknya. Ia hanya bisa memperhatikan sebuah mobil yang melaju keluar dari halaman kediaman Gard.


......................


Suasana rumah sakit jiwa terasa begitu mencekam, saat setelah seorang pria yang tak lain adalah Hansen datang membuat keributan. Ia melempar surat perceraiannya ke arah Floryn. Ia memperlihatkan tatapan benci dari matanya bak seekor raja hutan yang siap menerkam mangsanya.


"Hansen, aku mohon jangan ceraikan aku ... " pinta nya sembari menangis tersedu-sedu. Wanita itu menggenggam erat tangan pria di hadapannya.


"Lepaskan! Aku minta kau menandatanganinya sekarang juga," bentak Hansen yang kontan mengejutkan beberapa orang di sana.


"Kalian semua, keluar!!" perintah nya dengan suara lantang. Orang-orang yang tengah menonton pertengkaran itu lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Ha-- Hansen, aku tidak ingin bercerai de--."


"Diam! Atau akan kubunuh kau di tempat ini sekarang juga!" Hansen menarik keras rambut Floryn hingga membuatnya mendongak menatap langit-langit ruangan tersebut.


"Sa-- sakit Hansen ... sakit sekali ...." Air matanya kembali menetes membasahi wajahnya. Namun, pria itu nampak tak peduli sedikitpun. Beberapa kali pula Hansen sempat menampar keras wajah istrinya hingga membekas.


"Aww!!!"


"Cepat tanda tangani atau aku akan membuatmu menderita!!" tegas nya mampu membuat Floryn menuruti perkataannya.


Wanita itu dengan sigap meraih sebuah pulpen di atas meja. Ia meninggalkan jejak pena di surat perceraian pemberian Hansen.


"Bagus ... wanita pintar. Oh ya, jangan harap aku akan menjengukmu kembali ke sini. Karena kita sudah tak ada lagi hubungan setelah ini," tutur nya membuat Floryn ternganga mendengarnya.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2