Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 8 [Kebetulan]


__ADS_3

Langit-langit mulai menampakkan senja. Begitu juga dengan awan yang berwarna ke orenan.


Sesegera mungkin Nata mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai yang sebelumnya ia gunakan.


Beberapa barang yang sempat di keluarkan dari dalam tasnya, termasuk ponsel mulai ia kemasi.


Terlihat seorang lelaki yang tengah ditunggu-tunggu olehnya memasuki Cafe. Nata berlari kecil menghampirinya dengan tas pada tangannya.


"Yilan, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Nata tanpa berbasa-basi.


"Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Bagaimana jika kita sambil berjalan-jalan? Sebagai ganti yang kemarin karena aku tidak jadi mengantarmu," lontar Yilan yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Nata.


"Apa mungkin dia ingin menanyakan perihal kemarin mengenai Hansen? Aku harap kecemasan ini tidak terjadi," gumam Nata.


Keduanya lantas keluar dari Cafe dan berjalan secara beriringan. Hembusan angin yang santai membuat suasana terasa damai, ditambah dengan adanya senja pada sore itu.


"Hmm, Nata. Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Karena terlalu penasaran, aku jadi tidak bisa tidur semalaman," ungkapnya.


"Apa?"


"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Tn. Hansen? Apa kalian adalah ... suami dan ... istri?" tebak Yilan yang sontak membuat Nata menghentikan langkahnya.


Wanita itu hanya terdiam bak seorang patung. Ia bahkan sama sekali tak menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Yilan padanya.


Lantas Yilan melambai-lambai kan tangannya pada wajah Nata untuk membuatnya tersadar. Tapi ternyata, tangannya itu tak mampu membuat wanita di sampingnya tersadar akan lamunannya.


"Nata?" panggilnya dengan suara lantang.


"Ah, i-- iya, ada apa?"


"Heuh, jangan bilang kau tidak mendengarkan ku tadi," celoteh Yilan bak seorang anak kecil.


Ia memanyunkan bibirnya, dan sempat membuat Nata tertawa kecil.


"Tidak, tidak ... sebenarnya, aku dan Hansen memang suami dan istri. Tapi dia tidak mau membeberkan hubungan kami yang hanya untuk kepentingan politik saja. Yang tau mengenai hubungan kami hanyalah keluarga Hansen saja, tidak ada orang luar yang tau akan hal ini," ungkap Nata sambil memandang senja yang berada di atas langit.


Tanpa disadari, kedua bola matanya mengeluarkan cairan bening yang sontak membuat Yilan merasa khawatir. Ia kemudian mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, dan diusapkan pada wajah Nata yang basah akibat air mata.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak berniat untuk membuatmu sedih."


"Tidak masalah, lagipula aku menangis bukan karena dirimu. Tapi, aku hanya teringat oleh masa lalu saja ...."


"Heuh, sebenarnya aku ingin menanyakan apakah dia sudah bercerai dengan Tn. Hansen atau belum. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat," gumam Yilan sembari menatap dalam wajah wanita di sampingnya.


"Ah, iya. Sebenarnya aku ingin meminta cuti besok, untuk satu hari saja. Tapi jika kau tidak mengizinkannya, itu tidak masalah ... " lontar Nata berdalih menatap Yilan. Sontak Yilan langsung mengubah pandangannya ke arah lain.


"Tentu saja aku akan mengizinkannya. Bersenang-senang lah besok."


...----------------...


Suasana malam di rumah Nata terasa begitu damai. Lantaran tidak ada orang lain selain dirinya yang tinggal di rumah itu. Tentu yang Nata rasakan adalah kesendirian, kesunyian, dan bahkan jauh dari kata kebersamaan.


Namun hal itu baginya sudah biasa. Setiap kali merasa bosan, Nata selalu mengerjakan kesibukannya. Entah itu menyenangkan, ataupun tidak.


"Sebenarnya, alasanku menyetujui permintaan Harwell adalah karena aku ingin memutuskan hubungan dengannya dan juga keluarganya."


......................


Begitu bangun, hal pertama yang dilakukan olehnya adalah menyibukkan diri dengan sabun mandi di kamar mandi. Setelah itu, ia mengisi perutnya di pagi hari dengan makanan dan minuman yang setiap harinya sama saja.


Setelah dirasa bahwa semuanya telah beres, Nata pun keluar dari apartemen tempat tinggalnya. Ia menaiki sebuah taksi yang beberapa waktu lalu sempat di pesan.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, akhirnya taksi yang di tumpanginya sampai di tempat tujuan. Ia memasuki sebuah Cafe, dimana keduanya sudah sepakat untuk bertemu di sana.


"Nata, hari ini kau terlihat sangat cantik," ucap Harwell pada Nata yang baru saja tiba.


"Terima kasih ...."


"Oh ya, bagaimana jika kita pergi ke mall saja? Mungkin ada barang-barang yang kau butuhkan, atau ...."


"Tidak masalah, aku akan ikut denganmu," sela Nata.


"Sebenarnya, aku ingin langsung mengatakan tujuanku bertemu dengannya. Tapi sepertinya, aku terlalu jahat jika harus mengatakan itu sekarang," gumamnya sembari bangkit dari kursi.


Keduanya pun keluar dari Cafe secara bersamaan. Harwell langsung mempersilahkan Nata untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Sampai pada akhirnya, ia menarik tuas rem begitu sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


Harwell serta Nata berjalan beriringan selama berkeliling di dalam mall. Siapa saja yang melihat mereka tentu akan dibuat salah paham. Bahkan, orang-orang yang berpapasan dengannya sempat mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


"Nata, apa tidak ada pakaian yang kau inginkan?" tanya Harwell.


"Aku tidak sedang menginginkan apa-apa, jika ada yang aku inginkan, pasti aku akan langsung mengambilnya."


"Ah, baiklah ...."


Sepanjang perjalanan mengelilingi mall tersebut, Nata hanya memerhatikan setiap pakaian serta barang-barang yang tak menarik perhatiannya sedikitpun.


Sampai pada akhirnya, di saat Nata sedang menikmati keramaian mall tersebut, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh Hansen yang tengah berjalan bersama dengan Floryn.


Keduanya terlihat sangat romantis jika hanya dibilang sebagai pasangan biasa. Sosoknya bersama dengan wanita lain sontak membuat Nata membendung cairan bening yang tak kuasa ditahan nya.


"Na-- Natalia??"


"Hansen?! Apa dia juga melihatku?"


"Tiba-tiba saja aku menginginkan pakaian itu. Bagaimana jika kita kembali ke sana?" lontar Nata sembari memeluk lengan Harwell di sampingnya.


"Te-- tentu saja! Apapun yang kau inginkan ...."


Nata melangkahkan kakinya dengan cepat agar bisa menghindari Hansen yang sudah menyadari akan keberadaannya.


"Kenapa Natalia pergi dengan Harwell?!!! Apa dia berusaha untuk mengambil Natalia dariku?!" geram Hansen dalam hatinya. Perlahan kedua tangannya mengepal tanda kekesalan.


Bahkan, tidak hanya Hansen yang dibuat kesal oleh Nata. Floryn yang juga melihat Nata tengah membeli pakaian mahal dengan calon kakak iparnya, membuat emosinya meluap-luap.


"Harwell! Kenapa kau pergi dengan Nata?!!" tanya Hansen yang sudah berada di sisinya.


"Memangnya tidak boleh? Apa masalahmu?"


"Kau! Berani-beraninya mau merebut Nata dariku! Jangan pikir dia akan mau bersamamu!" tangkas Hansen dengan nafas yang tak teratur.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2