Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 42 [Meninggalnya Tuan Besar]


__ADS_3

Kendaraan yang melintas di jalanan terlihat semakin berkurang. Begitu pula dengan para pejalan kaki yang ada. Nampaknya, larut malam kini tak lagi menjadi hobi bagi mereka untuk keluar dari rumah.


Nata yang masih berada di sebuah restoran besar lantas memutuskan untuk kembali ke rumahnya sebelum sang kakek mencarinya.


Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi lantaran kecil kendaraan melintas.


Tak berselang lama, akhirnya wanita itu sampai di rumahnya. Sebelum ada yang melihatnya kembali, ia bergegas menuju lantai dua.


Di dapatinya pintu ruangan kamar tidur milik kakek tengah terbuka. Merasa heran lantaran pria tua itu tak pernah membuka pintunya di malam hari, wanita itu pun melihat kedalam ruangan dari lubang pintu yang tersisa.


Ia mendapati seorang pria yang tak lain adalah Hansen tengah berdiri di samping ranjang milik pria paruh baya itu. Entah apa yang sedang di lakukannya tengah malam begini. Ditambah, sang kakek pula sedang tertidur di ranjangnya.


"Ah, aku harus segera keluar sebelum ada yang melihatnya," ucap Hansen yang tak terdengar dengan jelas oleh Nata.


Menyadari bahwa Pria itu akan keluar, Nata pun bergegas masuk ke dalam kamarnya yang hanya berjarak beberapa ruangan saja dari kamar tidur sang kakek.


"Hosh ... hosh ... dia tidak melihatku, kan?" cetus nya seraya mengintip keluar ruangan.


"Apa yang sedang di lakukannya malam-malam begini di kamar kakek? Apa dia sedang mencari berkas atau semacamnya?" pikirnya heran.


Melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malamn, wanita itu pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan tidur setelahnya.


......................


Nata terbangun di pagi yang berbeda dari biasanya. Mungkin karena kelelahan, ia menjadi terlambat untuk bangun. Suara huru-hara yang terdengar diluar ruangan mampu membuatnya terbangun dari tidur lelap. Mungkin jika tak ada suara bising yang terdengar, wanita itu akan tertidur sampai siang hari.


"Hoam ... sepertinya aku kelelahan ...."


Suara langkah kaki yang terdengar berjalan ke sana kemari dari luar ruangan kamarnya membuat Nata merasa penasaran. Ia yang masih berpakaian tidur lantas keluar dari kamarnya untuk memastikan kericuhan apa yang tengah terjadi.


Begitu keluar, ia mendapati ruangan tidur milik sang kakek yang tengah ramai dikelilingi oleh beberapa asisten rumah tangga. Tak berpikir panjang, Nata bergegas menghampirinya.


"Ada apa ini?!" tanya Nata seraya mencoba untuk membuyarkan keramaian itu.


Beberapa di antara mereka langsung memberikan jalan untuk Nata. Mereka menundukkan kepalanya menatap lantai yang kosong.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya nya untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"No-- Nona ... Tu-- Tuan besar ... meninggal," ucapnya yang sontak membuat Nata terdiam mematung.


Wanita itu berdalih menatap sang kakek yang tengah terbaring di ranjangnya. Perlahan Nata melangkahkan kakinya mendekati ranjang di sebelahnya.


"Kenapa ... kenapa ini bisa terjadi?" Air matanya bercucuran membasahi wajahnya yang natural.


Ia lantas menjatuhkan tubuhnya di lantai sembari memegangi tangan sang kakek yang sudah terasa dingin.


"Tadi ... saat saya hendak mendatangi kamar Tn. Besar, saya melihat beliau sudah terbaring lemas di lantai. Saya pikir ia pingsan, dan saya memanggil beberapa penjaga untuk mengeceknya. Tapi mereka bilang, Tn. Besar sudah tiada," ungkap salah seorang asisten rumah tangga sembari mengingat kejadiannya.


Mengetahui hal itu, ia tak kuasa menahan air matanya yang sudah membendung. Tentu saja wanita itu hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan harapan akan ada keajaiban.


Masih dalam waktu yang sama, ia kembali teringat akan Hansen. Pria itu sama sekali tak memperlihatkan sebatang hidung pun di ruangan kamar sang kakek. Hingga pada akhirnya, Nata menyuruh salah satu asisten rumah tangga untuk memanggilnya ke ruangan tersebut.


"Dimana Tn. Muda Hansen?" tanya Nata memastikan. Beberapa di antara mereka menggeleng pelan, lantaran tak mengetahui posisinya saat ini.


"Panggilkan dia untuk datang kesini, sekarang juga!" perintah Nata yang kontan membuat setengah dari asisten yang berada di sana bergegas mencarinya.


"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 ...."


Wanita itu berjalan dengan langkah kaki kecil mendekatinya.


Ia memperbaiki kerah pakaian Hansen yang nampak berantakan. Di genggamnya erat dasi kantor pria tersebut.


"Kemana saja kau?" tanya Nata menatap sinis pria di hadapannya.


"Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan, memangnya kenapa?"


"Apa kau tidak tau kalau kakek meninggal?"


"A-- apa?! Kakek?!! Kenapa bisa secara tiba-tiba begini?!!" Pria itu berlari ke arah kakeknya yang sudah terbaring tak bernyawa di atas ranjang. Perlahan air matanya mulai bercucuran dan membasahi wajahnya.


"Kakek!!! Kenapa kau meninggalkanku?! Kenapa tiba-tiba kau pergi ... kakek, katakanlah sesuatu padaku!"


"𝘈𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮? 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭?" pikir Nata.


Kedua bola matanya menatap tajam ke arah pria yang tengah menangis tersedu-sedu begitu kehilangan sang kakek.

__ADS_1


Namun, Nata sama sekali tak memperdulikan hal itu. Ia lantas keluar dari ruangan tersebut untuk menghubungi ayah serta suaminya.


Wanita itu berjalan menuruni anak tangga tanpa tujuan. Ia melangkah dan terus melangkah sambil menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangannya.


Ia kemudian menghentikan langkah kakinya begitu seseorang menerima panggilan telepon darinya.


"Halo, Putriku? Ada apa pagi-pagi begini kau menelepon Ayah? Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya sang Ayah pada sambungan telepon.


Nata menghela nafas panjang, ia kemudian membuka mulutnya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi di kediamannya pagi ini.


"Kakek meninggal," ucapnya kontan membuat sang Ayah terdiam membisu.


"Kenapa ... kenapa bisa tiba-tiba begini? Apa sebelumnya dia sedang sakit?" tanya Tn. Lyn setelah cukup lama terdiam.


"Aku tidak tau, saat aku bangun ... para pelayan bilang kakek meninggal, dan ternyata benar."


"Apa kau sudah menghubungi Harwell?"


"Belum, aku akan menghubunginya setelah ini."


"Ba-- baiklah, Ayah akan segera kesana."


Wanita itu menghela nafas panjang dan duduk di sebuah kursi. Ia membelai rambut panjangnya. Tak berselang lama, ia mencoba untuk menghubungi suaminya yang belum mendengar kabar bahwa kakeknya meninggal.


Beberapa kali Nata mencoba untuk menghubunginya, namun tak ada satupun dari panggilannya yang diterima. Ia lantas memutuskan untuk meninggalkan pesan pada pria itu, lantaran berpikir bahwa suaminya tengah disibukkan oleh pekerjaan.


"No-- Nona Nata!" teriak seorang asisten rumah tangga yang kontan membuyarkan lamunannya.


"Ada apa?"


"Kami menemukan surat ini di bawah tempat tidur Tn. Besar. Dan ini tertuju pada Anda, Nona."


"A-- apa?!"


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀

__ADS_1


__ADS_2