
Harwell melepas kemejanya dalam sekejap. Pria itu perlahan meraba tubuh Nata, di lepasnya pula pakaian Nata hingga membuatnya telanjang dada.
Perilaku Harwell semakin liar, ia memegangi kedua lengan Nata hingga membuat wanita itu tak bisa bergerak sedikitpun.
******
Semburat mentari pagi menyinari tanah hijau, tanah tandus, serta sungai yang mengalir. Suara derasnya air terasa menggelegar dan menyejukkan tubuh.
Namun ternyata, suara air itu berasal dari jam beker milik Harwell. Ia lantas terbangun begitu mendengar suara nyaring yang masuk ke dalam telinganya.
"Ternyata sudah pagi." Pria itu beranjak dari ranjang dan mengambil pakaian yang semalam terlempar ke lantai.
Dilihatnya Nata yang masih tertidur lelap. Nampaknya, wanita itu cukup kelelahan akibat drama semalaman.
Harwell berjalan mendekati Nata yang masih tertidur lelap. Ia mengelus lembut ubun-ubun wanita di hadapannya. Ditambah dengan kecupan kecil pada dahinya.
"Beristirahatlah, sampai rasa lelah mu hilang."
******
Jam menunjukkan pukul 11.00 tepat. Suara ketukan langkah kaki terdengar menuruni setiap anak tangga. Nampak seorang wanita tengah berjalan turun menuju ruang makan.
"Ah, Nata. Duduklah, kau pasti belum sarapan, kan?" ucap pria paruh baya sembari mempersilahkan Nata untuk duduk.
"Terima kasih, Kek ...." Ia kemudian duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan pria yang ia sebut sebagai Kekek.
"Ambillah, ini khusus untukmu. Jaga baik-baik kesehatanmu agar bisa memberiku cucu."
"𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘚𝘪 𝘵𝘶𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢," gumam Nata seraya menyantap makanan yang disiapkan khusus untuknya.
Tatapan tajamnya terus mengarah pada sang kakek yang masih lahap menelan makanannya.
Beberapa menit setelahnya, akhirnya Nata selesai sarapan. Wanita itu kemudian kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua. Diambilnya ponsel dan diletakkan pada tas yang kemudian ia bawa.
Begitu keluar dari rumah, nampaknya supir pribadinya tengah menunggu Nata untuk menuju tempat tujuan.
Setelah beberapa menit, perjalannya menuju perusahaan Harwell pun usai.
__ADS_1
Ia keluar dari mobilnya dan segera masuk ke dalam perusahaan. Sebuah lift ia naiki untuk sampai di ruangan pribadi Harwell. Nampaknya, para pekerja yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala. Seakan mereka tau bahwa Nata adalah istri dari Harwell.
Setelah beberapa langkah ia lalui, Nata pun berhenti tepat di sebuah ruangan. Ruangan yang tak lain milik Harwell seorang.
Ia memasukinya tanpa mengetuk pintu sekalipun. Didapatinya sang suami yang tengah disibukkan oleh pekerjaan kantornya.
"Harwell ... " panggil Nata yang sontak membuat Harwell tersadar.
"Ah, rupanya kau sudah bangun. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Pria di hadapannya sembari beranjak dari kursi.
"Tentu saja nyenyak. Ngomong-ngomong, apakah kau masih sibuk?"
"Begitulah, hari ini pekerjaan ku sangat padat. Padahal aku berharap bisa menghabiskan waktu bersamamu di rumah," lontar Harwell yang sempat membuat Nata tertawa kecil.
Wanita itu lantas duduk di sebuah kursi panjang di ruangan tersebut. Sambil memperhatikan suaminya bekerja, sesekali ia membantu pekerjaan Harwell.
"Hoam ... Nata, apakah kau tidak mau menghiburku? Aku lelah ... " cakap Harwell dengan senyuman licik di wajahnya.
Nata perlahan mendekatinya. Ia kemudian mengecup bibir Harwell dengan lembut. Wajah Pria itu sontak memerah, dan membuatnya tak bisa menahan untuk membalas perilaku Nata padanya.
Harwell lantas menarik keras tubuh Nata ke dalam dekapan tubuhnya. Posisi Nata kini berada pada pangkuan Harwell. Keduanya tentu saling bertatapan dalam jarak yang dekat.
"Tapi kau membuatku semakin lelah, jika aku harus melakukan hal ini setiap hari," lontar Nata sedikit bercanda.
Mendengar perkataan itu, membuat Harwell berusaha untuk mencari lubang pakaian Nata. Namun, wanita itu langsung menolaknya dengan cara menyentuh lembut hidung Harwell.
"Sudah waktunya makan siang. Aku akan menemanimu makan di kantin," tukas Nata yang langsung melepaskan tubuhnya dari genggaman Harwell.
"Kau memang licik, hahaha ...."
Pasangan suami istri itu berlarian di satu ruangan yang lebar. Canda dan tawa menyertai keduanya.
"Kena kau!" Pria itu menarik lengan Nata sambil tertawa lepas.
"Sudah sudah, sekarang waktunya untukmu mengisi perut. Jangan sia-siakan waktu istrahatmu, cepat," tegur Nata dengan wajah riang.
Keduanya lantas memutuskan untuk datang ke kantin perusahaan sebelum jam istirahat usai.
__ADS_1
Karena terlalu lapar, Harwell sampai memesan beberapa menu makanan dengan porsi banyak. Ditambah dengan dua gelas jus yang terlihat begitu menyegarkan.
Ia melahap makanan di hadapannya dengan lambat. Sembari memandang wajah sang istri yang memperhatikannya sejak tadi.
"Kenapa kau tidak makan? Apa kau benar-benar tidak lapar?" tanya Harwell memastikan.
"Hmm, aku sudah makan di rumah sebelum ke sini. Melihatmu makan juga sudah membuatku kenyang," celetuk Nata.
******
"Hoam ... " pria itu menguap. Nampaknya, ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang padat hari ini.
Ia berdalih menatap kursi panjang di sebelahnya. Di atas kursi itu, terdapat Nata yang tengah tertidur lelap.
"Sudah jam sebelas malam, aku sampai melupakannya."
Perlahan Harwell melangkahkan kakinya mendekat ke arah Nata. Ia membelai rambut panjang wanita itu.
"Aku bahagia bisa menikah denganmu, Nata ... " ucap nya sembari melepaskan jas yang dipakai.
Jas itu kemudian dipakai kan pada Nata, lantaran tubuhnya terlihat menggigil, begitu angin terus berhembus masuk ke dalam tubuhnya.
"Nata, bangunlah ... ini sudah malam. Ayo kita pulang." Harwell menggoyang kecil tubuh Nata. Namun, wanita itu nampaknya tertidur begitu lelap hingga membuatnya tak merasa terganggu sedikitpun.
"Nata? Bangunlah ...."
Sudah lebih dari 15 menit ia menunggu istrinya terbangun, tapi sayangnya usahanya untuk membangunkan Nata tak berhasil.
Ia lantas menggendong Nata dan dibawanya ke dalam mobil yang berada di basement perusahaan.
Suasana sunyi menyelimuti perusahaan yang hanya terdapat beberapa orang di dalamnya.
Perlahan ia meletakkan wanita itu pada kursi mobil. Dan setelah dirasa semuanya sudah aman, Harwell kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Hmm ... Harwell, kita ada dimana?" tanya Nata yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya.
"Kita sedang dalam perjalanan pulang. Tidur saja, aku akan membangunkanmu setelah sampai di rumah," lontar Harwell sembari mengusap kepala Nata.
__ADS_1
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀