
Malam dengan suasana hening seketika berubah menjadi ricuh, setelah Floryn membuat masalah untuk yang kesekian kalinya. Beberapa orang termasuk sang kakek yang tengah tertidur lelap di bangunkan oleh huru-hara yang menyelimuti lantai dua.
Pria paruh baya itu keluar dari kamarnya dibantu oleh seorang asisten rumah tangga. Didapatinya kedua cucu serta dua menantunya yang tengah mempermasalahkan suatu hal. Pria tua itu lantas berjalan menghampiri mereka.
"Ada apa ini?!" tanyanya dengan jengkel, lantaran membuatnya terbangun ditengah malam.
"Lagi-lagi Floryn membuat masalah, Kek. Dia mendorong Nata dari tangga, dan sekarang kami sedang menunggu dokter untuk memeriksa kandungannya," jelas Harwell seraya menggelengkan kepalanya.
"Apa yang salah denganmu?! Kenapa lagi-lagi kau berulah!" bentak sang kakek hingga menggema ke seluruh ruangan.
Wanita di hadapannya hanya terdiam tak berkutik. Ia menundukkan kepalanya menatap lantai yang kosong tanpa harapan.
"Besok, besok orang tua kalian akan datang mengunjungi kalian. Tn. Lyn, dan juga Keluarga Law. Padahal aku berharap tidak ada lagi masalah yang terjadi di rumah ini!" imbuhnya yang kontan membuat Nata serta Floryn ternganga mendengarnya.
"A-- ayah?! Ibu?! Mereka akan datang besok?! Bagaimana ini, apa reaksi mereka begitu melihat perutku tak memperlihatkan apapun," lontar Floryn dengan raut wajah cemas. Ia menggigit ibu jarinya.
"Sudahlah, lebih baik kalian semua tidur. Harwell, kau harus menjaga Nata baik-baik. Aku tidak ingin menantuku yang ceroboh ini menyakiti Nata serta calon bayinya," tegas sang Kakek yang kemudian berjalan kembali ke kamarnya.
Harwell hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Pria itu memperlihatkan wajah tak suka pada wanita yang berdiri menunduk di sebelahnya.
****
Kicauan burung di pagi hari terbawa hembusan angin hingga terdengar masuk ke dalam kediaman keluarga Gard. Kicauan yang terdengar merdu membuat suasana terasa damai, sekaligus membangunkan orang-orang yang tengah tertidur lelap.
Pagi ini, para asisten kediaman Gard terlihat sedang disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Yang setengahnya berada di dapur keluarga Gard. Nampaknya, mereka tengah mengerjakan sesuatu yang cukup penting.
"Sudah sampai mana perkembangan hidangan untuk siang nanti?" tanya seorang Pria bertubuh kekar sembari mengamati dapur yang dipenuhi oleh orang-orang.
"Ah, Tn. Harwell, kami sudah menyiapkan beberapa adonan yang hanya perlu mematangkan nya saja nanti siang," jawab salah seorang asisten rumah tangga yang bertugas di dapur.
"Bagus, aku harap tidak ada kendala."
"Baik, Tuan."
Di ambilnya sebuah roti dan segelas susu yang diletakkan di atas meja ruang makan. Ia membawanya dengan nampan ke lantai dua.
Begitu sampai di depan sebuah ruangan yang tak asing, ia memasukinya.
Terlihat seorang wanita yang tak lain adalah Nata tengah membaca sebuah buku di atas ranjang. Wanita itu berdalih menatap Harwell.
__ADS_1
Perlahan Pria tersebut berjalan menghampirinya dengan beberapa makanan di tangannya.
"Makanlah, kau harus mengisi perutmu di pagi hari," ujar Harwell seraya meletakkan bawaannya ke atas lemari kecil.
"Nanti saja, aku masih belum lapar."
"Nata, kau harus makan. Kesehatanmu dan bayimu itu penting."
"Baiklah, suamiku. Aku akan memakannya sekarang." Wanita itu lantas meletakkan buku yang tengah di bacanya dan meraih sepotong roti di atas lemari kecil.
"Tunggu, biar aku suapi," sela Harwell yang kemudian mengambil segelas susu.
"Tidak per--."
"Aaaa ...."
"Ah, baiklah ...."
****
Suasana yang menyejukkan di pagi hari kini berubah menjadi panas begitu matahari berada tepat di tengah langit. Bahkan, pendinginan ruangan pun tak mampu mengalahkan rasa panas yang menyelimuti setiap tempat.
"Huh, kenapa siang ini cuacanya begitu panas? Rasanya aku ingin minum es setiap detiknya," keluh Hansen yang kemudian melepas beberapa kancing bajunya. Hingga terlihat dada bidangnya yang berotot itu.
"Jangan berlebihan seperti itu, Hansen. Cepat rapikan pakaianmu!" tegur Harwell yang beberapa kali melirik ke arahnya.
"Kita sama-sama laki-laki, tapi kenapa kau marah seperti itu?" tukas nya kesal.
"Bukan aku masalahnya, tapi kau lihat sendiri kan? Disini ada Nata dan istrimu, ceroboh sekali!" cibir nya sukses membuat Hansen kembali merapikan kancing pakaiannya.
Tak berselang lama, suara bising terdengar dari pintu masuk. Nampaknya, beberapa asisten rumah tangga tengah menyambut tamu mereka.
Sepasang suami istri serta seorang pria berpakaian serba hitam putih memasuki ruang tamu. Mereka memperlihatkan sosok yang tengah ditunggu-tunggu oleh keluarga Gard.
Ketiga orang itu disambut dengan hangat dan langsung di persilahkan untuk duduk secara langsung oleh sang kakek.
"Duduklah, ayo duduk."
"Senang bertemu dengan Anda, Tn. Gard," salah seorang di antara mereka memberi salam.
__ADS_1
"Senang bertemu denganmu juga."
"Sayang, akhirnya Ibu bisa bertemu denganmu. Ibu sangat merindukanmu, Floryn anakku," ucap seorang wanita dengan wajah yang sedikit keriput. Ia lantas memeluk putrinya yang juga berada di ruang tamu.
"I-- ibu, aku juga merindukanmu."
Canda tawa menyelimuti ruangan tersebut. Namun, beberapa hal sempat terlintas dikepala Floryn. Wanita itu memperlihatkan raut wajah tidak menyenangkan. Bahkan, jantungnya berdeguk kencang setiap detiknya.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya sang kakek memutuskan untuk mengajak mereka ke ruang makan. Terlihat hidangan makan siang dengan penataan yang mewah. Makanan yang dihidangkan pun menyajikan selera mereka masing-masing.
Orang-orang di sana termasuk Nata duduk di kursi yang telah disiapkan. Perlahan mereka melahap makanan tersebut. Nampaknya, semua orang yang memakan hidangan tersebut menyukainya. Tidak ada satupun di antara mereka yang menyisakan makanan pada piring.
"Oh ya, Floryn ... bagaimana kandunganmu? Anakmu sehat, kan?" tanya sang ibu yang sontak membuat wanita itu berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya.
Beberapa orang berdalih menatapnya dengan cemas. Termasuk suaminya, yakni Hansen.
"Ah, i-- iya, semuanya baik-baik saja. Katanya, anakku sehat," jawab Floryn beralasan.
"Baguslah, kau harus sering-sering memeriksakan kandunganmu ke dokter kandungan."
"I-- iya, bu ...."
Namun, siapa sangka jika ternyata sang kakek menyangkal perkataannya.
Pria tua itu memukul dengan keras meja makan hingga membuat sejumlah orang terkejut bukan main.
"Tidak, Floryn keguguran!" sanggah nya dengan suara lantang. Mendengar hal itu, kontan membuat tubuh Floryn bergetar hebat. Ibu serta ayahnya menatapnya dengan tajam ditambah rasa heran.
"Bagaimana bisa hal itu terjadi?!!"
"I-- itu semua ... itu semua gara-gara Nata!!" tuduhnya seraya menodongkan jari telunjuknya ke arah Nata.
"Jaga mulutmu, jangan terus-menerus menuduh istriku! Sebenarnya kau sangat membencinya, kan?" sangkal Harwell dengan raut wajah kesal.
Nata yang berjarak lima kursi darinya perlahan berjalan menghampirinya. Ia mendekatkan wajahnya pada wanita itu.
"Apa perlu aku katakan pada orang tuamu, bahwa kau tidur bersama pria lain malam itu. Dan, kecelakaan yang menimpaku ... kau adalah dalang dibalik semua itu," ancam Nata sambil berbisik.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀