Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 36 [Ketahuan]


__ADS_3

Terlihat keramaian nampak terjadi di pusat Kota. Sinar matahari pagi serta udara yang sejuk melintas. Suara desas-desus para penduduk membangunkan orang-orang yang tengah tertidur lelap. Ditambah, adanya kendaraan yang sudah mulai melintasi jalan raya membuat udara tak lagi terasa sejuk.


Pagi itu Nata tengah menyibukkan dirinya di dapur keluarga Gard. Nampaknya, ia tengah bermain dengan beberapa peralatan dapur yang ada. Begitu juga dengan buku resep masakan di tangannya.


"Nata? Kau sedang apa?" tanya seorang Pria paruh baya yang tak lain adalah kakeknya.


"Ah, aku sedang mencoba untuk memasak menu sarapan pagi ini," jawabnya.


"Memangnya Kak Nata bisa memasak? Aku pikir Kakak tidak pernah berada di dapur," cibir Floryn yang kebetulan lewat.


"Oh ya? Bukankah kau yang tidak pernah berada di dapur? Setahuku, memasak air pun kau tidak bisa."


"Hai! Siapa bilang aku tidak pandai memasak air!"


"Sudah! Floryn, kau bantu Nata untuk memasak. Jangan banyak bicara dan hidangkan makanan untuk suamimu. Kau tahu sendiri, kan? Nantinya kau juga harus melayani Hansen," lerai sang kakek yang kemudian duduk di salah satu kursi ruang makan.


"𝘈– 𝘢𝘱𝘢?! 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬?! 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘕𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯!" gerutu Floryn dengan raut wajah kesal. Ia memanyunkan bibirnya hingga lebih panjang dari hidung.


"Kau sudah siap? Ayo bantu aku memotong bawang bombai," perintah Nata yang kontan membuat wanita itu merasa panik.


"A– aku, ah … perutku. Kakek, aku kan sedang hamil besar, tentu saja aku tidak boleh terlalu banyak melakukan aktivitas yang membuat lelah," rengek nya bak seorang bayi.


"Ah, baiklah. Kali ini Nata dulu yang memasak, aku ingin mencoba masakanmu."


"Baik, Kek …."


"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘫𝘢! 𝘉𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬!" gerutu Nata seraya melanjutkan pekerjaannya.


Setelah cukup lama empat orang menahan lapar mereka di ruang makan, akhirnya Nata pun usai menyelesaikan masakannya. Ia menghidangkan beberapa menu terbaru sarapan pagi ini.


Beberapa orang termasuk Harwell nampak tak sabar untuk menyantap makanan yang terlihat enak.


"Wah, i– ini … enak sekali … luar biasa!!!" puji Harwell seraya kembali melahap makanan di piringnya.


Begitu juga dengan Hansen serta Kakek, keduanya nampak menikmati masakan buatan Nata. Ditambah, menu dan rasa yang berbeda membuat mereka sangat menikmatinya.


"Floryn, kenapa kau diam saja? Apa ada yang salah dengan masakanku?" tanya Nata menatap wanita yang duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Ti– tidak, ini enak sekali … " puji nya dengan raut wajah iba.


******


Terik matahari berpindah tepat di tengah. Cuaca terasa semakin panas lantaran terik matahari siang itu berada tepat di atas kepala.


Seorang wanita yang tak lain adalah Nata nampak mengunjungi sebuah Cafe yang tak asing baginya. Ia masuk dan duduk pada sebuah kursi yang kosong.


Beberapa kali wanita itu sempat melihat sekeliling ruangan hingga ke arah kaca untuk memastikan bahwa orang yang tengah di tunggunya belum tiba.


Dilihatnya jam tangan di tangannya. Ia mendengus kesal lantaran terlalu lama menunggu. Hingga pada akhirnya …


**𝐊𝐑𝐈𝐍𝐆!*


Lonceng yang berada di pintu masuk Cafe berbunyi. Ia kontan melihat ke arah pintu dan mendapati sosok yang tengah di tunggunya tiba.


Nata melambai-lambaikan tangannya untuk memberitahukan keberadaannya pada orang tersebut.


"Ah, maaf … sepertinya aku terlalu lama datang, karena tadi ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan lebih dulu," ucapnya seraya duduk.


"Tidak masalah."


"Bukan. Sebenarnya aku ingin memberimu uang untuk memperluas Cafe mu, ini sebagai rasa terima kasih karena kau mau membantuku saat itu," ungkap Nata seraya mengeluarkan amplop yang berisikan uang dari dalam tas miliknya.


"Ti– tidak usah! Kau terlalu berlebihan."


"Yilan, mungkin bagimu hal itu sangat sepele. Tapi bagiku, bantuanmu sangat berharga."


"Hmm, baiklah kalau kau memaksa." Pria yang tak lain adalah Yilan lantas menjulurkan tangannya untuk menerima uang tersebut.


"Aku juga ingin berinvestasi denganmu, aku yakin kau adalah rekan kerja yang baik," lanjut ucapnya diiringi senyuman lebar yang terukir di wajahnya.


Setelah cukup lama keduanya membahas perihal investasi, akhirnya Nata serta Yilan pun memutuskan untuk kembali pada kesibukan mereka masing-masing.


Keduanya berjalan secara bersamaan keluar dari Cafe.


Terlihat senyuman lebar yang terpampang pada wajah Yilan. Namun, begitu keduanya keluar dari Cafe, senyuman itu hilang dalam sekejap. Begitu mereka mendapati Floryn yang kebetulan lewat didepan Cafe tersebut.

__ADS_1


"Kau … kau adalah pria malam itu!!" tuduh Floryn seraya menodongkan jari telunjuknya.


"Ah, hai … ternyata kita dipertemukan kembali di sini. Dunia ini memang sempit, ya. Tidak ada yang tau kapan kita akan bertemu lagi," lontar Yilan sambil mengamati kendaraan yang melintasi jalan raya.


"Sudah kuduga kau bersekongkol dengan Nata!! A– aku harus memotret kalian sebagai bukti bahwa Nata adalah dalang dibalik kejadian malam itu!!" Floryn mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


Ia kemudian membuka kamera ponsel hingga membuat Yilan geram. Pria itu memegangi erat pergelangan tangan Floryn hingga membekas.


"Sa– sakit!!! Ugh!! Lepaskan tanganku!!!" teriaknya sembari berusaha melepaskan genggaman erat tangan Yilan.


Ia berusaha dan terus berusaha, namun usahanya itu tak membuahkan hasil sedikitpun untuk terlepas dari genggaman Yilan.


"Aku peringatkan padamu, jangan pernah sekali-kali mencoba untuk membeberkan hal ini pada orang lain, atau kau akan menerima konsekuensinya," ancam Nata dengan raut wajah sinisnya.


Namun, nampaknya Floryn sama sekali tak peduli akan perkataannya. Ia terus memberontak hingga membuat Yilan geram. Pria itu lantas mendorong Floryn yang posisinya sedang bediri tepat di hadapannya hingga terjatuh.


"Aaargghhh!!! Perutku!!!! Sakit!!! To– tolong aku, perutku sakit sekali!!" rintih Floryn hingga membuat sejumlah orang yang berada di dalam Cafe menghampirinya.


"Nata, ayo pergi!" Pria itu menarik tangan wanita di sebelahnya dan di bawanya masuk ke dalam mobil.


Namun, sebelum orang-orang itu datang, Nata serta Yilan sudah lebih dulu melajukan mobil mereka dan berusaha untuk kabur.


Sementara itu, Floryn tengah mendapat pertolongan dari beberapa orang. Mereka membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat, karena khawatir ada masalah pada kandungannya.


****


1 jam telah berlalu. Nampaknya, Hansen menerima panggilan telepon dari rumah sakit yang menginformasikan mengenai keadaan Floryn.


Ia yang mendengarnya, lantas segera menuju rumah sakit dimana Floryn dirawat. Walaupun posisinya saat itu sedang berada dalam rapat besar.


Ia keluar dari ruangan tempatnya rapat, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setelah sampai di rumah sakit, raut wajah geramnya terampang di wajah tampannya itu.


"Bagaimana bisa kau keguguran!! Baru 4 bulan kau mengandung, tapi apa? Kau sudah menyia-nyiakan hal itu! Padahal ada kemungkinan besar anak kita akan menjadi penerus keluarga Gard!!!" bentak Hansen yang menggema hingga ke luar ruangan.


Floryn nampak menangis tersedu-sedu setelah kehilangan anaknya. Ditambah, ia mendapat masalah besar dari sang suami yang begitu geram lantaran ia keguguran dari hamilnya yang baru menginjak empat bulan.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2