Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 29 [Rencana 1]


__ADS_3

"Harwell, aku minta kau berpura-pura masih kehilangan ingatanmu," ucap Nata penuh harapan.


Pria di hadapannya mengangguk mantap. Lantas keduanya memutuskan untuk segera tidur di ruangan kamar yang sama.


*****


Burung berkicau sembari mengepakkan sayapnya. Langit cerah di pagi hari menjadi paduan yang sempurna bagi burung-burung untuk terbang tinggi di atas langit.


Nata membuka kedua bola matanya begitu mendengar dering alarm berbunyi.


Sesegera mungkin wanita itu menuju sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar mandi.


Suara shower menyala terdengar begitu deras. Air yang keluar dari shower itu menbasahi tubuh Nata yang dipenuhi oleh busa sabun mandi.


Setelah cukup lama menyibukkan dirinya dengan beberapa peralatan kamar mandi, akhirnya Nata pun usai membersihkan dirinya.


Ia mengenakan handuk yang panjangnya di atas lutut. Rambutnya yang juga basah tentu ditutup dengan handuk kecil.


Setelahnya, Nata keluar dan mendapati sang suami yang sudah terbangun.


"Cepat mandi, setelah ini kau harus sarapan dan pergi ke perusahaan," ujar Nata sembari mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Pria itu lantas beranjak turun dari ranjang. Bukannya menuju kamar mandi, ia malah memeluk Nata dari belakang yang tengah mengeringkan rambutnya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Lihat, jam berapa sekarang? Waktumu tidak banyak," imbuh nya tanpa melihat wajah Harwell sekalipun.


"Nata, aku malas pergi ke perusahaan. Tidak bisa kah kita bersenang-senang lebih dulu?" seru nya sembari mencium aroma harum dari tubuh Nata.


"Harwell, nanti saja ki--, ah!" seketika ucapannya terhenti begitu Harwell mendorongnya dengan lembut ke arah dinding.


"Jangan seperti anak kecil, cepat sana!"


"Nata, kau memakai sabun mandi apa? Kenapa tubuhmu harum sekali?" tanya Harwell dengan posisi kepala berada di leher Nata.


"Bukan saatnya untuk menanyakan hal yang tidak je--." Harwell langsung mencium bibirnya. Tangannya bergerak meraba seluruh tubuh Nata yang masih dibaluti kain dari handuk.


"Ha-- Harwell, sudah cukup!" tegas Nata.


"Kenapa harus berhenti? Kau sendiri yang membuatku ingin melakukan hal ini," cetus nya dengan manja.

__ADS_1


Pria itu menjatuhkan kepalanya pada bahu Nata. Sedangkan tangannya masih dengan liar meraba anggota tubuh lainnya.


Nata tak menggubris nya, Harwell lantas menarik lengan Nata hingga terbaring di atas ranjang. Tubuh kecilnya kini berada di bawah tubuh Harwell.


Tangannya merangkul leher Pria di atasnya sembari memperlihatkan senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.


Melihat dua gunung kembar di dada Nata, membuat Harwell tak bisa menahan nafsunya. Dalam sekejap, Pria itu langsung melepas handuk yang tengah dipakai oleh Nata, hingga membuatnya telanjang badan.


*****


Sudah lebih dari 30 menit Nata serta Harwell tak kunjung datang ke ruang makan. Hal itu membuat sang kakek khawatir dan memutuskan untuk datang ke kamarnya.


Ditengah berlangsungnya makan pagi, orang yang tengah ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Mereka terlihat datang dari arah yang berbeda, namun hal itu tak membuat satupun dari mereka merasa heran.


"Kenapa kalian baru datang?" tanya sang Kakek sambil menyantap makanan penutupnya.


"Aku bangun kesiangan, tapi tidak tau dengan wanita itu," jawab Harwell dengan raut wajah kesal. Ia menatap Nata dengan tatapan tajam yang membuat Floryn memperlihatkan senyuman liciknya.


"Ah, aku terlalu lama bersiap-siap. Jadi tidak sadar kalau ternyata sudah waktunya sarapan," timpal Nata seraya tersenyum lebar.


******


Siang di perusahaan terasa seperti siksaan. Cuacanya yang cukup panas, ditambah ada banyak pekerjaan yang harus diurus membuat siapa saja menjadi emosi.


Pria itu nampak memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Ia lantas menyeruput secangkir kopi yang disajikan khusus untuknya.


*Tok! Tok! Tok!*


Tiba-tiba saja ruangan kerjanya dibunyikan oleh suara ketukan pintu sebanyak tiga kali. Harwell yang terlalu fokus pada pekerjaannya, membuatnya tak menyadari bahwa ada orang yang berada di luar.


Terlihat seorang wanita yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya, setelah beberapa kali ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban.


"Permisi, Kakak!" panggil nya dengan suara lantang.


Spontan Harwell berdalih menatapnya dengan heran. Ia menepuk pelan jidatnya sambil menghembuskan nafas panjang.


"Ternyata kau, Floryn? Ada apa? Tidak biasanya kau datang ke perusahaanku," tanya Harwell yang kemudian mematikan komputernya.


"Apakah hari ini Kak Nata tidak datang kesini? Sudah kuduga, dia bukanlah wanita yang baik! Kak, asal Kak Harwell tau, sebelum kalian mengalami kecelakaan, Kak Nata itu selalu jahat pada Kakak!" ungkap Floryn yang sempat membuat Harwell tertawa kecil.

__ADS_1


Seorang wanita yang begitu cantik dengan make up sederhana nampak berdiri ditengah pintu. Menyadari akan sosok Floryn didalam, membuat wanita itu enggan untuk masuk.


Lantas ia berjalan mundur hingga tak sengaja menabrak seorang Pria di belakangnya.


"Na–." Mulutnya dibungkam oleh Nata dan di bawanya pergi ke sudut ruangan.


Ia kemudian melepas tangannya dari mulut pria tersebut.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nata ketus.


"Tentu saja untuk menemui Harwell. Kau sendiri kenapa berdiri di depan ruangannya dan tidak masuk?"


"Kau tidak perlu tau akan hal itu."


Tubuh keduanya kini saling menempel di sudut ruangan yang sempit. Nata berdalih menatap pintu ruangan milik Harwell, untuk menghindari kontak mata dengan Pria di hadapannya.


"𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘕𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶?" gumam Hansen yang kemudian meletakkan tangannya pada sudut ruangan.


Wanita itu lantas menatapnya. Tiba-tiba saja, Hansen mencium bibirnya dengan posisi tubuh yang juga saling menempel.


Ditambah, pakaian yang tengah digunakan Nata kali ini sangat minim dan terbuka. Hal itu membuat Hansen bisa menyentuhnya dengan mudah.


*𝐏𝐋𝐀𝐊!!*


Nata menampar wajahnya dengan keras. Hansen lantas memegangi pipinya yang terasa sakit akibat tamparan wanita itu.


"Dasar laki-laki brengsek!" geram Nata dengan nafas yang tak beraturan.


Hansen seketika terdiam mematung begitu mendapat tamparan keras dari mantan istrinya.


Tanpa berpikir panjang, Nata langsung melangkahkan kakinya pergi menjauhi Pria tersebut.


"Ah, apa yang baru saja aku lakukan padanya?!!!" Hansen memegangi keningnya sembari menggeleng pelan.


Sementara itu, diperlihatkan Nata yang berlari ke arah toilet perusahaan. Ia menutup salah satu pintu dan duduk di dalamnya. Cairan bening keluar dari kedua bola matanya. Ia mengusap setiap air yang keluar membasahi pipinya.


"Kenapa?!! Kenapa dia masih saja mencari kesempatan dalam kesempitan?! Padahal, sebelumnya dia sendiri yang lebih menginginkan Floryn dibandingkan diriku," isak nya sembari menangis tersedu-sedu.


Setelah cukup lama berada di dalamnya, ia keluar dalam keadaan mata yang memerah. Nata lantas mencuci wajahnya dan bercermin beberapa saat.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2