
Esok pun tiba, langit yang cerah serta kicauan burung yang menyanyi merdu membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi nyaman.
Terutama bagi orang-orang yang sudah di sibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing.
"Huh, hari ini juga Nata tidak datang ke perusahaan. Bagaimana ya, kabarnya?" celetuk Yilan, seraya meraih ponselnya yang berada di atas meja.
"Kau belum dengar?"
"Dengar apa? Mengenai Nata?"
"Iya, katanya dia sudah keluar dari perusahaan," papar Janse yang kebetulan lewat di sampingnya.
"Se– sejak kapan dia keluar? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku soal itu …. Kira-kira, apa alasannya dia keluar?" Yilan melontarkan banyak pertanyaan, hingga membuat Janse kewalahan untuk menjawab satu persatu.
"Cukup! Aku tidak tau apa-apa!! Lebih baik kau tanyakan saja pada Tn. Hansen, aku masih sibuk …." imbuhnya.
Lantas Janse meninggalkan Yilan yang tengah memikirkan soal Nata. Disaat yang bersamaan, bos perusahaan mereka tiba-tiba saja muncul bersama seorang wanita yang tak lain adalah Floryn.
Memang akhir-akhir ini Hansen sering datang dengan wanita yang menjadi pusat perhatian di perusahaan.
Menyadari bahwa orang yang tengah ditunggu-tunggu nya tiba, Yilan pun mendekati Hansen dengan pikiran yang dipenuhi soal Nata.
"Tu– Tuan, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Apa Anda bisa meluangkan sedikit waktu untuk saya?" tanya Yilan dengan bibir yang bergetar hebat.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"I– ini soal Nata, Natalia Faralyn …."
Sontak Hansen menatapnya dengan tajam. Perasannya pada Nata pun kembali ia rasakan. Bahkan, kedua bola matanya yang berkilau itu sempat membendung air mata yang tak kuasa di tahannya.
"Aku tidak ada waktu untuk membicarakannya. Lebih baik kau kembali bekerja," perintah Hansen yang terdengar lirih.
Yilan hanya memandangi nya dengan penuh keraguan. Yang kemudian membiarkan Hansen pergi begitu saja sebelum dirinya sempat menanyakan soal Nata.
*****
Di sisi lain, Nata yang kini tinggal di tempat lain pun nampak tak mempermasalahkan kejadian yang telah berlalu.
Wajahnya yang terlihat dingin, serta sosoknya yang terlihat tegar tentu membuat siapapun yang melihatnya tak berpikir macam-macam.
"Heuh … " ia menghela nafas panjang. Walaupun kini ia telah lepas dari sosok Hansen, namun masa lalu kembali menyelimuti nya.
__ADS_1
Dimana sosoknya yang tinggal sebatang kara di rumah kecil, bahkan sulit untuk mencari makan. Kesendirian, yang membuat hidupnya terasa hampa nan sengsara.
*Tok! Tok! Tok!**
Tiba-tiba saja pintu rumah apartemen nya berbunyi. Nata yang masih membereskan beberapa pakaiannya ke dalam lemari pun terpaksa berhenti.
Perlahan kakinya melangkah menuju sebuah pintu yang terpasang tepat di hadapannya.
Tangannya menarik dengan lamban knop pintu hingga membuat pintu itu terbuka.
"Nata … " panggilnya, merasa tak percaya bahwa ia benar-benar menemukan sosok yang tengah dicari-cari nya.
"Ka– Kak Harwell? Kenapa kau ada di sini?" tanya Nata gugup.
Ia berusaha menutup pintu rumahnya agar bisa menghindari anggota keluarga suaminya, namun seberapa keras pun ia berusaha, tentu ia kalah cepat dengan Harwell.
"Tunggu!!! Aku ingin berbicara denganmu!!" sergah Harwell yang kemudian memasang tangannya pada sela-sela pintu.
"Maaf, aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Termasuk dirimu," ketus Nata dengan raut wajah iba.
"Ku mohon, biarkan aku berbicara denganmu walau hanya sebentar," pinta Harwell mampu membuat hati Nata luluh.
Setelahnya, ia langsung mempersilahkan Harwell yang sekarang bukan lagi kakak iparnya untuk masuk.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Nata membuka pembicaraan di antara mereka.
Suasana hening menyelimuti ruang tamu yang berisikan dua orang yang saling berdiam diri.
Ditambah, Harwell merasa berat untuk membicarakan soal Hansen yang sekarang bukan lagi suami Nata.
"Natalia, aku merasa tidak enak padamu karena sikap Hansen yang kurang ajar. Aku harap kau memaafkannya," tutur Harwell yang terdengar lirih.
Nata hanya memperlihatkan senyuman sinis yang bahkan membuat Harwell menghela nafas panjang.
"Maaf aku membicarakan soal adikku. Tapi aku ingin kau tetap berhubungan denganku. Kau tidak perlu memanggilku Kakak, karena sekarang kita bukan lagi kakak dan adik," lanjut ucap Harwell yang sontak membuat Nata berdalih menatapnya.
"Langsung ke intinya saja, kau ingin mengatakan apa?"
"Sebenarnya, aku tidak sengaja mendengar bahwa Hansen akan menikah dengan Floryn bulan depan. Aku harap, kau tidak terlalu sedih akan hal itu."
"Memangnya aku terlihat seperti orang yang akan menangis bahkan bunuh diri setelah mengetahui bahwa mantan suamiku menikah dengan wanita lain? Tidak, aku bukan orang yang seperti itu," sanggah Nata kesal, lantaran sosoknya yang tegar dianggap seperti orang yang lemah.
__ADS_1
"Ah, maaf … aku tidak bermaksud untuk …."
"Berhenti mengatakan omong kosong. Jika urusanmu sudah selesai, silahkan keluar dari sini. Aku masih banyak urusan," usir Nata.
Ia kemudian beranjak dari kursinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum Harwell tiba. Tanpa disangka, sosok Harwell tiba-tiba saja mendekatinya, bahkan membantunya membereskan barang-barang.
"A– ada denganmu?"
"Aku hanya ingin membantumu saja, tidak masalah, bukan?" Senyuman lebar di perlihatkannya dengan tulus.
Wajah Nata langsung memerah begitu Harwell memperlihatkan senyuman yang mampu meluluhkan hati para wanita.
"Tidak, apa yang sedang aku pikirkan? Dia itu kakak Hansen, mereka berdua tidak ada bedanya!!" gumam Nata berusaha untuk tidak mempercayai kebaikan Harwell.
*****
Malam pun tiba, suasana kediamam keluarga Konglomerat terasa hening karena tak ada satupun orang yang berusaha untuk membuka pembicaraan seperti biasanya.
Makan malam itu terasa sangat berbeda semenjak hubungan mereka rusak hanya karena kebodohan Hansen saja. Nampak para asisten rumah tangga yang juga khawatir jika terjadi keributan besar.
"Hansen, bagaimana perkembangan rencanamu untuk menikah dengan Floryn?" tanya Harwell berusaha memecah keheningan di antara mereka.
"Kak Harwell, tenang saja! Hansen sudah mempersiapkannya dengan matang … " jawab Floryn dengan anggun.
Cara bicara serta senyumannya yang terlihat palsu dimata Harwell sempat membuat Harwell menutup mulutnya, agar tidak ada satupun di antara orang-orang yang tengah berada di ruang makan menyadari bahwa ia sedang tertawa kecil.
"Ah, begitu ya. Floryn, kau adalah wanita yang cantik," ucap Harwell mampu membuat wanita di hadapannya tersipu malu.
"Terima kasih, Kak Harwell. Aku tau bahwa diriku memang cantik," lontar nya sambil beberapa kali tersenyum anggun.
"Tapi … kecantikanmu tidak sebanding dengan Natalia Faralyn. Mantan istri calon suamimu, Hansen Gard," papar Harwell dengan nada kesal.
Orang-orang yang tengah menikmati makan malam itu sontak berdalih menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
Terlebih lagi Floryn yang tiba-tiba saia merengek pada Hansen bak seorang bayi.
"Hiks … Hansen, lihat kakakmu!! Berani sekali dia mengejekku seperti itu, hiks …."
"Sudahlah, Floryn. Yang kakak katakan memang benar, Natalia justru dua kali lipat lebih cantik dibandingkan dirimu," seloroh Hansen yang sontak membuat Floryn berhenti merengek.
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀