Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 46 [Melenyapkan Parasit]


__ADS_3

Sepoi-sepoi angin terasa menyejukkan. Ditambah, hembusan angin masuk melewati kaca mobil. Rambut berwarna cokelat itu melayang menyapu debu-debu di antara kursi.


Ia membelai rambut panjangnya ke belakang disertai menyetir. Namun ke fokusannya sama sekali tak berkurang. Kedua bola matanya yang indah itu menatap jalanan yang penuh akan kendaraan.


Setelah cukup lama berada di perjalanan, akhirnya wanita itu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Rumah yang tak asing baginya, dengan corak keemasan serta halaman rumah yang begitu luas.


Tubuhnya yang kurus itu membawa beberapa koper di tangannya. Ia nampak kesulitan dengan semua bawaan yang ada.


......................


Angin sejuk di pagi hari tergantikan oleh suasana yang panas. Bahkan pendingin ruangan pun tak mampu menyejukkan satu ruangan itu saja.


Seorang wanita nampak membawa segelas jus di tangannya. Wanita itu adalah Nata. Ia berjalan dengan anggun menuju ruang santai. Pemandangan yang indah ia lihat dari ketinggian rumahnya.


"Harwell, aku harap kau bahagia di sana," ucapnya sembari memandang birunya langit siang hari.


Nata mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia membuka potret kenangan bersama Harwell. Dimana keduanya merasa bahagia setiap kali melakukan hal bersama-sama.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, lamunannya akan sang suami seketika terbuyar. Nama seseorang yang penting tertera di layar ponselnya, kontan ia bergegas untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Selamat pagi, Nn. Nata."


"Pagi, ada apa kau meneleponku?" tanya Nata pada sambungan telepon.


Ia mendengarkan penjelasan orang di seberang sana, hingga akhirnya Nata beranjak dari kursi tempatnya duduk.


Wanita itu membawa gelas jusnya masuk ke dalam rumah, diletakkannya gelas pada ruangan dapur.


......................


Panggilan mendadak itu membuat Nata berada di sebuah perusahaan pagi ini. Ia duduk pada salah satu kursi di antara beberapa kursi yang ada.


Terlihat wajah orang-orang yang nampak asing baginya, namun beberapa ada yang ia kenali.


"Selamat pagi, semuanya ... seperti yang kita tau. Pagi ini saya akan membahas saham peninggalan Alm. Tuan Gard," ucap seseorang membuka pembicaraan.


Matanya tertuju pada Nata seorang. Kini keduanya saling memberikan tatapan tajam dengan arti yang sama.

__ADS_1


Salah seorang di antara mereka mengangkat tangannya. Ia menjadi pusat perhatian dari beberapa orang di ruangan rapat tersebut. Orang itu baru membuka mulutnya setelah seseorang mempersilahkannya untuk berbicara.


"Pendapat saya, lebih baik saham itu diberikan pada Nn. Nata. Karena anak dalam kandungannya adalah penerus dari keluarga Gard."


Semua orang menatap salah seorang pria, pria itu adalah Hansen. Mereka menunggunya untuk memutuskan satu hal.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanyanya membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Menurutku Nn. Nata berhak atas seluruh saham perusahaan ini. Begitu juga dengan rumah peninggalan Tn. Gard," timpal nya dengan nada rendah.


Banyak orang yang setuju akan perkataannya. Mereka mengangguk dan menatap Nata yang duduk bersebelahan dengan Hansen.


Wanita itu mendekat ke arahnya, dan berbisik, "Aku yang akan menang, lebih baik kau berikan saja semuanya padaku."


Pria di sebelahnya membulatkan kedua matanya. Ia tertunduk lalu kembali mengangkat kepalanya.


"Baiklah, saya akan menentukan siapa yang akan mendapat warisan seluruh saham perusahaan dan juga rumah peninggalan Tn. Gard," papar seorang pria yang sudah cukup berumur.


Ia menatap wajah kedua calon penerima warisan yang duduk berhadapan dengannya. Seketika suasana berubah hening dan menegangkan, tak ada satupun di antara mereka yang mengeluarkan suara.


"Natalia Faralyn, adalah orang yang akan mengambil semua harta warisan peninggalan Tn. Gard," ungkapnya kontan membuat Hansen memukul keras meja di hadapannya.


"Tidak! Aku menolak akan hal ini!" Dengan suara lantang penuh percaya diri. Ia mengangkat wajahnya.


"Aku tidak peduli, walaupun kau menolak akan keputusanku. Namun, disini lebih banyak orang yang mendukungnya."


Nata yang geram akan sikap Hansen lantas ikut berdiri. Kini ia saling menatap dengan Pria di sebelahnya. Namun bukan dengan tatapan cinta, melainkan tatapan benci.


"Jangan kekanak-kanakan. Sudah jelas semuanya memilihku, kau kalah." Wanita itu menyeringai penuh kemenangan. Sebelum rapat dibubarkan, Nata sudah lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut.


......................


Keheningan yang terasa begitu jelas menyelimuti kediaman Nata, yang hanya ditinggalinya seorang. Bahkan di rumah besar itu, tak ada penjaga maupun asisten rumah tangga.


Ia hidup dengan kemewahan sebatang kara. Hanya ditemani televisi yang menyala sepanjang malam, serta suara hembusan dari pendingin ruangan.


Diteguknya segelas susu. Ia menatap kosong ruangan dapur yang dipenuhi oleh peralatannya sendiri.

__ADS_1


Tiba-tiba saja suara langkah kaki seseorang membuatnya terbuyar dari lamunan. Ie berdalih menatap sekeliling ruangan, bahkan setiap sudutnya. Hanya untuk memastikan tidak ada orang yang masuk.


Nata menggerakkan kakinya beberapa langkah dari kursinya. Namun, seseorang tiba-tiba saja membungkam mulutnya. Ia melihat dengan jelas siapa orang yang masuk dan membungkam mulutnya.


"Hmph!!!"


"Nata, diam! Apa ada orang lain di rumahmu?" tanyanya memastikan. Wanita itu menggeleng pelan, sembari mencoba untuk melepaskan diri.


Tangannya meraih sebuah gelas yang penuh berisikan susu. Di lemparnya gelas itu pada Pria tersebut. Kini kepalanya berdarah begitu mendapat pemberontakan dari Nata.


"Nata, apa yang kau lakukan!! Sudah untuk yang kedua kalinya kau melukaiku!" celotehnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Hansen! Apa kau sudah gila, ha?!"


"Aku kesini dengan niatan baik. Kau tau sendiri, kan? Aku sudah menceraikan Floryn, dan sekarang aku ingin kau kembali padaku. Seperti dulu lagi, tapi kali ini aku akan memperlakukanmu dengan baik," ungkapnya penuh kepalsuan.


Nata tersenyum kecut mendengar perkataannya. Bahkan tiada rasa malu dari pria itu setelah membuangnya demi harta warisan.


"Tidak akan pernah!!"


Hansen lantas mendekatinya, ia menyudutkan tubuh Nata hingga terbaring di atas meja makan. Tangannya perlahan meraba wajah wanita itu, ia mendekatkan wajahnya untuk mencari kesempatan.


Namun wanita itu nampaknya tak suka dengan apa yang ia perbuat. Ia kembali memecahkan benda lain tepat pada kepala Hansen. Kini ia terlepas dari pelukannya. Sesegera mungkin Nata berlari, sementara Hansen mengejarnya.


Pria itu berhasil meraih lengan Nata. Ia kembali mendekatkan tubuhnya, dan tak sempat mengucapkan kata-kata manis sebelum Nata menusukksn pisau pada perutnya.


Tubuhnya keluar darah yang terus mengalir tanpa henti. Pria itu nampak tak kuasa menahan sakitnya, bahkan untuk bergerak pun kini ia tak mampu.


"A-- apa yang kau lakukan, Nata?!!"


"Kau, pantas mati. Aku akan membuatmu masuk kedalam neraka!!"


Ia mencabik cabik tubuh Hansen hingga tak bernyawa. Begitu menyadari akan perbuatannya, ia hanya bisa membulatkan kedua matanya. Dengan tangan yang dipenuhi oleh darah Hansen.


Ia menelan ludahnya, tubuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang terus bercucuran di sekujur tubuhnya.


Nata meraih ponselnya bersama dengan stop kontak. Ie melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman seseorang.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2