
Terik matahari menyinari luas ke seluruh Kota. Cuaca panas disertai kericuhan yang terjadi di kediaman Gard membuat suasana terasa menyesakkan.
"Bagaimana kau bisa melakukan hal sekeji itu, Floryn Lawrence!?" bentak sang Kakek sontak membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.
Ia tak menjawab perkataan yang dilontarkan oleh si tua itu, melainkan hanya terdiam mematung nan membisu mendengarnya.
Sang kakek nampak kesulitan akan hal yang terjadi, ia berjalan ke sana kemari memikirkan solusi untuk hal tersebut.
"Begini saja, kau harus mengecek kandunganmu ke dokter kandungan. Dan setelah anak itu lahir, hari itu akan menentukan apakah kau harus angkat kaki dari rumah ini atau tidak," lontar Pria paruh baya itu.
Beberapa orang yang tengah berada di satu ruangan yang sama saling menatap satu sama lain. Salah satunya adalah Natalia Faralyn.
"Ka– Kakek, kumohon jangan lakukan hal itu! Bagaimana anakku bisa hidup tanpa seorang ayah!" sanggah Floryn sembari bersujud pada Kakek.
Kedua bola matanya mengeluarkan cairan bening yang tak kunjung berhenti. Wanita itu menangis terisak sepanjang perbincangan itu dilakukan.
"Jangan membuatku jengkel! Kepalaku jadi sakit gara-gara dirimu!" bentak nya yang kemudian beranjak pergi meninggal beberapa orang di ruang keluarga.
Nampaknya sang kakek kesal akan sikap Floryn yang kekanak-kanakan. Namun, bagaimanapun juga dia adalah menantunya.
"Floryn, sesuai yang kakek perintahkan padamu. Kau harus mengecek anak dalam kandunganmu itu, dan kuharap dia masih hidup," tutur Hansen dengan raut wajah iba.
Wanita bernama Floryn itu mendekat ke arahnya. Dia memegang erat kedua tangan suaminya sembari memperlihatkan senyuman lebar.
"A– ayo, antar aku ke rumah sakit. Aku akan mengeceknya sekarang juga."
"He … pergi saja sendiri. Memangnya, setelah kau melakukan kesalahan, apakah kau pikir aku akan dengan mudah memaafkan kesalahanmu itu?" cetusnya diiringi senyuman sinis. Pria itu lantas pergi meninggalkan Floryn.
Wanita itu hanya terdiam mematung mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Walau sebenarnya hatinya hancur berkeping-keping, namun ia ingin tetap terlihat biasa saja dihadapan Nata.
Setelah beberapa orang pergi, kini hanya tersisa Floryn, Nata serta Harwell. Wanita yang tengah meneteskan air matanya itu mendadak mendekat ke arah Nata yang sedang duduk dengan santai di sebelahnya.
"Kau … ini semua terjadi gara-garamu! Hidupku menjadi hancur hanya karena dirimu! Seandainya sejak awal kau tidak berada disini, mungkin aku masih baik-baik saja," ungkap nya diiringi senyuman sinis dari wajahnya.
Nata meneguk segelas kopi yang dihidangkan khusus untuknya.
"Lalu? Apakah kau tidak merasa bersalah atas apa yang telah kau lakukan padaku dan juga Harwell?" cibir nya.
"Nata, lebih baik kita pergi. Biarkan saja dia berada disini sendirian," sela Harwell yang kemudian membawa Nata keluar dari ruang keluarga.
__ADS_1
******
Tak berselang lama, Floryn kembali dengan hasil tes kandungannya. Ia berlari terbirit-birit menuju ruangan sang kakek dengan perasaan bahagia.
*𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊!*
Ia mengetuk pintu ruangan tersebut dengan keras, hingga akhirnya sang kakek membukakan pintu untuknya.
"Ada apa kau menemuiku?"
"A– aku, aku membawa hasil tes kandunganku. Katanya, anakku masih hidup," ungkap Floryn merasa bangga.
"Baiklah, bagus kalau begitu. Masih ada kemungkinan bagimu untuk tinggal disini sampai anakmu lahir."
Pria paruh baya itu sempat menutup pintunya kembali, spontan Floryn menghentikannya.
"Tunggu, Kakek!"
"Ada apa lagi?"
"Katanya, anakku laki-laki. Di– dia bisa menjadi penerus keluarga ini nantinya, karena dia laki-laki. Kakek tidak mungkin menyia-nyiakan seorang penerus laki-laki, bukan?" imbuh wanita itu penuh harapan.
Sang Kakek terdiam cukup lama begitu mendengar bahwa anak yang dikandung oleh Floryn adalah laki-laki.
******
Makan malam pun tiba, seluruh anggota keluarga Gard berkumpul di meja besar ruang makan. Mereka semua nampak terdiam satu sama lain, membuat suasana menjadi hening.
Namun keheningan itu berakhir begitu sang kakek buka mulut dan mengatakan suatu hal pada keluarganya.
"Floryn mengandung anak laki-laki. Kemungkinan besar anaknya akan menjadi penerus keluarga ini, itu artinya kecil kemungkinan dia akan diusir dari rumah ini," ungkap nya membuat beberapa orang berhenti mengunyah makanan mereka.
"Kecuali Nata mengandung anak yang juga laki-laki," lanjutnya seraya menatap ke arah wanita bernama Nata.
Wanita itu lantas menaruh garpu serta sendok yang di gunakannya untuk makan.
Namun, perbincangan mereka ternyata hanya sampai titik itu saja.
Setelah makan malam usai, tak ada satupun orang yang membahas soal masalah Floryn kemarin malam. Mereka nampak pergi ke ruangan kamar masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1
Sementara itu, terlihat Nata serta Harwell yang tengah terduduk di kamarnya sambil memikirkan sesuatu.
Mereka mempertimbangkan tentang bagaimana caranya agar cepat mempunyai anak dan anak itu berjenis kelamin laki-laki.
"Nata, kau tau kan, apa yang harus kita lakukan malam ini?" tanya Harwell sembari mengusap wajah wanita di hadapannya.
Nata hanya mengangguk pasrah. Pria itu kemudian membuka seluruh pakaian yang tengah digunakan oleh Nata. Begitu juga dengan dirinya, dan membuat mereka telanjang seutuhnya.
*****
Semburat mentari pagi masuk menembus hordeng kamar milik Nata. Ia lantas terbangun begitu menyadari bahwa hari telah berganti. Terlihat seorang Pria yang masih telanjang tubuh tertidur tepat di sebelahnya.
Ia tak membangunkan ataupun menyentuh Pria itu sedikitpun. Nata memutuskan untuk segera menuju ruang kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah cukup lama menyibukkan dirinya dengan sabun mandi dan juga air yang penuh berisi sabun, mendadak sebuah pesan masuk pada ponselnya.
Tertera nama Yilan dilayar ponselnya, sontak membuat Nata bergegas untuk bersiap-siap.
Selang beberapa waktu, terlihat sosok Nata yang tengah duduk di sebuah Cafe di pusat Kota. Nampaknya, ia tengah menunggu seseorang untuk bertemu dengannya.
"Nata!" panggil seseorang membuatnya mencari sumber suara.
"Hai, Yilan," sahut Nata yang kemudian mempersilahkan Pria itu untuk duduk di sebelahnya.
"Terima kasih untuk malam itu. Kau sangat membantuku, Yilan."
"Ah, tidak masalah … aku juga senang bisa membantumu," balas nya seraya memperlihatkan senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.
"Ngomong-ngomong, maaf sudah menyeretmu masuk kedalam rencanaku. Aku khawatir kau akan terkena masalah besar karena hal ini," papar Nata dengan wajah yang tertunduk menghadap lantai Cafe.
"Siapa bilang begitu? Justru aku merasa sangat senang karena kau masih membutuhkanku."
Setelah perbincangan panjang itu, keduanya memutuskan untuk memesan minuman yang bisa menjadi teman ngobrol siang itu.
*****
Tak terasa beberapa hari telah berlalu. Sudah lebih dari tiga hari berlangsung sejak Floryn mendapat masalah. Dan hari ini adalah hari dimana Nata serta Harwell akan merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke dua bulan.
Nampaknya, Harwell tengah mempersiapkan acara anniversary nya bersama Nata dengan mewah. Ia bahkan sampai memboking satu restoran agar bisa menikmati acara mereka dengan santai dan nyaman.
__ADS_1
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀