
"Yilan!!!" teriaknya memanggil seseorang.
Tak berselang lama, orang yang dipanggilnya menampakkan sosoknya.
Ia ternganga melihat keadaan Nata yang dipenuhi oleh darah. Darah itu berada di sekujur tubuhnya, termasuk wajah.
"Apa yang terjadi padamu?!!" tanya pria itu dengan raut wajah cemas. Sesegera mungkin ia membawa Nata masuk ke dalam rumahnya.
Ia merasakan getaran yang hebat muncul dalam diri Nata.
"Nata, apa yang terjadi padamu?"
"Aku ... membunuh seseorang ... " ungkap nya kontan membuat mata Yilan terbebalak.
"Sekarang ... aku tidak tau harus melakukan apa ... Yilan, kumohon tolong aku. Bantu aku mengurus mayatnya," pinta Nata sembari menangis tersedu-sedu.
Yilan terdiam tak berkutik, cukup lama baginya menatap kosong wajah wanita di hadapannya. Hingga akhirnya, ia mengambil sebuah jas dari kamarnya dan diberikan pada wanita itu.
Ia menjulurkan tangannya sembari berkata, "Pakailah, ganti pakaianmu dengan ini. Letakkan pakaian kotor yang kau pakai di kamar mandi, aku akan mengurusnya nanti."
Nata mengangguk pelan, ia berjalan dengan langkah kaki tak beraturan menuju kamar mandi. Beberapa kali ia sempat menoleh ke belakang menatap pria itu, dan kembali melanjutkan jalannya.
Tak berselang lama, Nata kembali dengan pakaiannya yang bersih. Ia duduk bersebelahan dengan Yilan di sebuah sofa. Keduanya saling berdiam tak mengatakan sepatah katapun.
Setelah cukup lama keheningan menyelimuti ruangan dimana keduanya sedang duduk, akhirnya Nata membuka mulutnya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"A-- aku, aku membunuh Hansen, aku membunuhnya ... " lontar nya membuat wajah pria yang duduk bersebelahan dengannya berubah pucat.
"A-- apa?!! Hansen?! Orang yang kau bunuh adalah Hansen?!" tanya nya terkejut. Ia menggeleng pelan, sembari memegang jidatnya.
"Iya ... aku membunuhnya ... itu semua terjadi karena dia memaksaku untuk kembali dengannya. Sekarang aku tidak tau harus berbuat apa."
"Baiklah, kau tenang saja. Aku akan menyuruh seseorang untuk membersihkan jasadnya di rumahmu. Dan setelah itu, yang perlu kita lakukan adalah ... berakting."
...----------------...
Hari esok telah tiba, kicauan burung terdengar berbeda dari biasanya. Bahkan cahaya mentari pagi pun tak masuk menembus hordeng kamarnya.
Seorang wanita terbangun di atas ranjang yang asing baginya. Perlahan ia membuka kedua bola matanya, menatap langit-langit kamar yang kosong tanpa harapan.
__ADS_1
Ia kembali memejamkan matanya, mengingat kejadian semalam. Itu terulang setiap kali ia mengingatnya.
*𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊!*
Bahkan suara ketukan yang berasal dari pintu pun terdengar lebih ringan. Wanita itu berdalih menatap sebuah pintu berwarna hitam. Ia membiarkannya menimbulkan bunyi berkali-kali.
"Nata, buka pintunya. Aku Yilan," ucap seseorang diluar yang mengaku bernama Yilan.
Ia menghembuskan nafas panjang, lalu melangkah turun dari rajang. Dibukanya pintu berwarna hitam itu.
"Apa ada masalah?" tanyanya dengan raut wajah kacau.
"Begini, masalah jasad Hansen sudah beres. Pasti asisten rumah tanggamu mempertanyakan sosoknya yang tak muncul. Jadi kau harus kembali dan berpura-pura tidak ada masalah," tutur nya memberi instruksi.
"Jika mereka mempertanyakan keberadaan Hansen, bilang saja dia ada dinas mendadak di luar negeri," lanjut ucapnya sembari meraih bahu Nata.
Wanita itu mengangguk, ia kemudian menutup kembali pintu kamarnya. Menyibukkan diri di kamar mandi, dan mengaplikasikan make up pada wajahnya.
......................
"Selamat pagi, Nn. Nata ... " sapa beberapa asisten rumah tangga yang berpapasan dengannya. Mereka menundukkan kepala lalu mempersilahkan Nata untuk masuk.
"Silahkan diminum, Nona." Salah seorang di antara mereka menghidangkan segelas teh hangat untuk Nata.
"Hmm, begini ... karena sekarang rumah ini sudah menjadi milikku, aku ingin mengubah beberapa ruangan," lontar nya seketika mengejutkan sejumlah asisten.
Orang-orang di sebelahnya menatap heran satu sama lain. Namun mereka tak berani bertanya pada seorang wanita yang sekarang akan menjadi Nyonya rumah kediaman Gard.
Setelah usai mempersoalkan beberapa ruangan, Nata memutuskan untuk meninggalkan kediaman besar tersebut. Ia melajukan kendaraannya menuju sebuah Cefe yang tak asing baginya.
"Nata, ada perlu apa kau datang ke Cafe? Apa ada hal penting?" tanya seorang lelaki sembari berjalan menghampirinya.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat bagaimana perkembangan Cafe mu."
Pria di hadapannya melihat sekeliling, membulatkan matanya lalu menyelipkan bibirnya kedalam mulut.
"Biasa saja, tidak ada yang mewah. Aku hanya mendekorasi beberapa lalu menambah bahan Cafe. Selebihnya, bangunan baru untuk Cafe sedang dalam proses. Donasimu saat itu sangat membantu." ungkapnya menjelaskan.
Wanita itu memperlihatkan senyuman lebar yang terukir di wajahnya. Kepalanya perlahan tertunduk lalu mengubah raut wajahnya menjadi lemas.
__ADS_1
"Ada apa, Nata?" tanya Yilan heran.
"Menurutmu, bagaimana kehidupanku selanjutnya? Anakku membutuhkan seorang Ayah dalam hidupnya, apakah aku akan tega jika dia hanya memiliki seorang ibu saja?" cakap Nata hingga tak menyadari air mata bercucuran membasahi wajahnya.
Ia menatap senja sore itu dari atas jembatan. Langit perlahan menjadi gelap, cahaya mentari mulai berkurang. Hanya ada suara kepakan sayap burung yang terbang kesana kemari di atas air, serta derasnya air yang mengalir.
"Aku tidak menyangka hidupku akan serumit ini. Apakah takdir akan berkata lain, jika seandainya sejak awal aku tidak pernah bertemu dengan Hansen?"
"Ah, tidak ... jika aku tidak bertemu Hansen, maka aku tidak akan pernah memiliki pria sebaik Harwell. Begitu juga denganmu," Nata berdalih menatap pria di sebelahnya.
"Nata, kau tidak perlu khawatir. Anakmu boleh menganggapku sebagai Ayahnya. Ini demi kebahagiannya suatu saat ini," papar Yilan merubah raut wajah Nata dalam sekejap.
Wanita itu tertawa kecil, lalu kembali menatap senja yang perlahan tergantikan oleh gelapnya malam.
...****************...
Sudah begitu lama kehidupan yang kelam menyelimuti diri Nata. Kesepian, kesendirian tanpa adanya kebahagiaan yang abadi dalam hidupnya.
Hari-harinya ia jalani walau terasa berat. Beban yang ia tanggung seorang diri, kematian kakek, suami serta ayahnya yang berturut-turut. Semua itu meninggalkan luka yang dalam bagi Nata, setelah menjalani kehidupan selama 30 tahun. Akhirnya kini ia terbebas dari semua siksaan yang ia rasakan. Setelah 5 tahun berlalu sejak kematian Hansen.
"Ibu!! Ayah!!" teriak seorang anak lelaki dengan ransel di punggungnya. Anak itu berlari menghampiri dua orang yang di anggapnya sebagai orangtua.
"Sayang, jangan berlari ... kau bisa terjatuh. Bagaimana sekolahmu?" tanya seorang wanita dengan wajahnya yang cantik dan muda, walau sudah berumur 30 tahun.
"Hari ini ibu guru memberiku nilai 100. Ayah, lihatlah!" ungkapnya seraya memperlihatkan sebuah kertas dengan nilai 100.
Pria itu tersenyum lebar, lalu memeluknya dengan erat. Beberapa kali ia sempat memcium kening anak laki-laki dalam pelukannya.
"Anak Ayah memang hebat, kau pintar seperti ibumu," cakapnya menatap seorang wanita yang berdiri di sebelahnya, wanita itu adalah Nata.
Keduanya tersenyum, menatap wajah satu sama lain dengan jarak yang tak begitu jauh. Pria itu lantas menggenggam erat tangan wanita di sebelahnya, bersama dengan seorang anak laki-laki yang dibawanya masuk kedalam mobil.
"Nata, Tanan, bagaimana jika kita makan siang di restoran?" ajaknya.
"Yilan, kita tidak perlu makan di restoran. Lagipula setelah ini kau harus bekerja, kan?"
"Ibu!! Jangan menolak, aku ingin makan di restoran. Ayah, bawa kami ke restoran itu, perutku sudah berbunyi," sela seorang anak laki-laki bernama Tanan, ia adalah anak yang di kandung Nata lima tahun yang lalu. Dan kini usianya menginjak angka 5 tahun.
𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭 ...
__ADS_1
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝐃𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐫𝐭𝐢 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫, 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢. 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐢, 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐮𝐜𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 ...🍀