Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 14 [Bukan Kesengajaan]


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Senja mulai terlihat di langit-langit sore yang berwarna oren. Kepakan sayap burung terdengar mendekat ke arah bangunan-bangunan dengan ganasnya.


*Ckitt**


Sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan Cafe. Seorang pria yang baru saja keluar dari mobil tersebut mampu memikat hati para wanita yang tengah bersantai.


"Masuklah, Nata ... " ucap Harwell sembari mempersilahkan Nata untuk masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa wanita yang berada di sana nampak kecewa lantaran Harwell lebih memilih Nata untuk di ajaknya pergi.


Setelah beberapa menit mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang, Harwell menarik tuas rem untuk menghentikan mobilnya di taman.


Keduanya keluar dari mobil dan duduk di sebuah kursi panjang yang memang disediakan di taman tersebut.


"Lihat langitnya ... sangat cantik, bukan?" lontar Harwell sembari menunjuk langit sore.


"Hmm, benar."


"Sebenarnya, aku ingin memberitahukan padamu mengenai Hansen. Dia sudah merencanakan pernikahannya yang akan diadakan empat hari lagi di kediaman kakek. Aku harap kau bisa datang," ungkap nya sambil menatap dengan dalam wajah wanita yang duduk di sebelahnya.


"Oh, begitu ya? Tapi, aku merasa bersalah akan kejadian yang menimpa nya 1 bulan yang lalu. Apa aku tidak terlihat seperti wanita yang kurang ajar, karena berani datang ke acara pernikahannya?"


"Tidak, kau bukanlah orang yang seperti itu. Dimataku, kau terlihat seperti malaikat yang cantik."


"𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘏𝘢𝘳𝘸𝘦𝘭𝘭. 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘒𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯, " gumam Nata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa hari yang telah ditunggu-tunggu oleh sejumlah orang pun tiba. Hari dimana banyak orang menantikan pernikahan Hansen, pewaris terbesar dari keluarganya.


Terlihat keramaian yang sudah memenuhi seisi kediaman sang kakek walaupun keadaannya masih pagi buta.


"Aku harap hari ini Nata benar-benar datang ke acara pernikahan Hansen," gumam Harwell sembari menekuk lengan pakaiannya.


Di lain sisi, terlihat Nata yang masih disibukkan oleh pakaian yang nantinya akan ia pakai. Dimana salah satunya juga ada pakaian pemberian Harwell.


"Mungkin aku harus mengenakan pakaian ini. Lagipula aku belum pernah memakainya di acara manapun," celetuk Nata sembari merapikan kembali beberapa pakaian yang sebelumnya ia keluarkan dari dalam lemari.


Begitu langit terlihat sudah cukup bersinar, Yilan memutuskan untuk segera menjemput Nata di rumahnya. Karena sebelumnya, ia sudah berjanji untuk datang bersama di acara pernikahan Hansen.


*TOK! TOK! TOK!**

__ADS_1


Nata yang masih sibuk dengan riasan nya pun terpaksa berhenti lantaran mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.


Ia beranjak mendekati pintu dan membukanya untuk seseorang yang berada di luar.


"Eh? Cepat sekali kau datang ...."


"Ku pikir lebih cepat akan lebih baik, jadi aku sengaja datang di jam ini," jawabnya sambil menggaruk kepala yang tak terasa gatal.


Nata hanya membalas perkataannya dengan senyuman lebar. Keduanya kemudian masuk, lantaran Nata harus melanjutkan riasan wajahnya yang terhenti akibat kedatangan Yilan.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nata pun selesai. Penampilannya yang terlihat elegan, ditambah wajahnya yang cantik bak bidadari membuat Yilan terpana melihat sosoknya.


"Dia benar-benar cantik," batin Yilan.


"Na-- Nata," panggilnya terbata-bata.


"Iya? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Nata lantaran Yilan terus menatapnya.


Pria itu perlahan berjalan mendekati Nata sampai membuatnya terpojok kan. Tangannya diluruskan ke arah dinding. Dan tanpa di sengaja, ia mencium bibir Nata yang sempat membuatnya nafsu.


"Yi-- Yilan?!" wanita itu mendorong kecil tubuh pria di hadapannya. Namun tenaganya yang terlalu lemah, tentu tak membuat pria itu goyah sedikitpun.


"Uhmm ...."


"Hari ini kau sangat cantik," ucap Yilan sembari memegang dagu Nata.


Entah apa yang membuatnya akan mengulang kembali hal yang baru saja di lakukannya. Namun, begitu Nata menolaknya, Yilan jadi kembali tersadar bahwa yang ia lakukan saat ini tidaklah benar.


"Ma-- maaf, aku tidak bermaksud untuk--."


"Tidak masalah," sela Nata seraya berusaha untuk terlepas dari genggaman Yilan.


*Drttt**


Terdengar suara dering ponsel yang begitu nyaring dari dalam tas miliknya. Tertera nama Harwell di layar ponsel, membuatnya


sesegera mungkin mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Nata memulai pembicaraan. Panggilan itu tiba-tiba saja terputus, lantaran dirinya lupa untuk mengisi pulsa yang hanya tersisa sedikit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Acara sudah dimulai sejak 13 menit yang lalu. Beberapa kali Harwell sempat keluar dari rumahnya untuk memastikan bahwa Nata sudah sampai. Namun ternyata, sama sekali tak dilihatnya wanita tersebut.


Untuk yang keempat kalinya, ia baru mendapati sosok Nata yang tengah keluar dari mobil berwarna hitam. Terlihat seorang lelaki yang berjalan beriringan dengannya sembari menggandeng tangan Nata.


"Siapa dia?"


Kedua sosok itu terus mendekat ke arahnya, dan kini Harwell dapat melihat dengan jelas siapa pria yang berjalan bersama dengan Nata.


"Ini lebih baik dibandingkan dia tidak datang," celetuk nya sembari berjalan masuk.


Terlihat beberapa orang yang juga berada di luar tengah memperhatikan Nata serta Yilan. Mereka kagum akan kecantikan Nata yang luar biasa. Ditambah, keduanya terlihat sangat cocok hingga menyita perhatian orang-orang disekeliling mereka.


****


Masih pada acara pembukaan, Harwell menghampiri Nata yang tengah duduk berdampingan dengan Yilan.


"Terima kasih karena kau sudah datang di acara ini," ucap Harwell dengan senyuman lebar yang mengembang di wajahnya.


"Hari ini kau sangat cantik, aku sampai kagum melihatnya," lanjut ucap Harwell yang sempat membuat Nata tersipu malu.


"Terima kasih kembali."


"𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘕𝘢𝘵𝘢? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪!" gumam Yilan dengan tatapan tajam menatap Harwell.


Selang beberapa waktu, terlihat Harwell yang berjalan menaiki panggung kecil tempat dimana Hansen dan juga Floryn sedang duduk. Ia kemudian mengambil sebuah mic untuk di gunakannya.


"Maaf mengganggu waktunya ... berdirinya saya disini, adalah karena saya ingin memanggil seorang wanita yang sangat cantik untuk naik," tutur Harwell yang dalam sekejap membuat suasana di dalam ruangan itu menjadi ricuh.


Beberapa orang terlihat saling berbisik satu sama lain, dan menebak-nebak siapa wanita yang dimaksud oleh Harwell.


"Natalia Faralyn," ungkapnya. Sontak beberapa wanita yang sudah berharap besar merasa kecewa lantaran bukan nama mereka yang disebut, melainkan Nata.


Begitu mendengar Harwell memanggil namanya, tentu membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.


"Naiklah ...."


Perlahan Nata melangkahkan kakinya untuk naik ke atas panggung kecil. Terlihat wajah Hansen serta Floryn yang nampak geram akan kemunculannya di atas panggung mereka.


"Hari ini juga, aku akan melamarmu. Maukah kau menjadi bagian dari hidupku?"


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2