
Suara hembusan angin yang berasal dari AC menyejukkan tubuh para pengunjung yang datang.
Wangi bunga yang tercium harum menyebar ke seluruh ruangan.
Para pengunjung yang datang dibuat kagum dengan aksesoris toko yang terlihat elegan. Tak kalah dengan rasa nyaman yang juga mereka rasakan.
Nampaknya, Nata tengah menikmati perjalanannya mengelilingi toko gaun yang berbau harum itu. Diikuti oleh Harwell yang berjalan mengikutinya dari belakang.
"Harwell, menurutmu, bagaimana dengan gaun yang itu?" tanya Nata sembari menunjuk sebuah gaun yang dipajang.
"Apa tidak memesan gaun yang dibuat secara khusus saja. Mungkin ada desain gaun yang sangat kau inginkan ... " usul Harwell yang kemudian berdiri disebalah Nata.
"Sepertinya memang ada desain gaun yang aku inginkan."
"Baiklah, kalau begitu kita pesan pada perancang gaunnya langsung."
"He'em."
Tanpa berpikir panjang, keduanya langsung menemui perancang gaun yang berada di ruangan lain. Nampaknya, perancang gaun itu tengah disibukkan oleh beberapa rancangannya.
Sementara itu, terlihat seorang wanita yang memasuki toko gaun yang sama dengan Nata. Ia mengenakan kacamata hitam untuk menutupi identitasnya.
Begitu sampai di dalam, ia langsung meminta pelayan di sana untuk memanggil perancang gaun yang cukup handal.
"Maaf, tapi perancang gaun terbaik di toko kami sedang melayani klien," ungkap nya.
"Baiklah, panggil perancang yang lain saja ke hadapanku sekarang juga!" perintah wanita itu dengan jengkel.
Lantas sang pelayan toko langsung memanggilkan perancang gaun untuknya.
"Nona, gaun seperti apa yang Anda inginkan?"
"Aku ingin gaun yang elegan dan mewah. Intinya, buatkan aku yang terbaik, dan akan ku bayar dengan harga tinggi!" lontar nya.
******
Langit-langit mulai menampakkan senja yang indah. Senja yang berwarna oren itu memperlihatkan senyuman lebar yang mampu meluluhkan hati para manusia yang melihatnya.
Seorang wanita nampak menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang luas. Ia kemudian keluar dari mobilnya dan mencoba untuk memanggil-manggil orang di dalam.
"Yilan!" panggilnya dengan berteriak lantang. Namun, sekeras apapun ia berteriak, pria yang ia sebut-sebut sebagai Yilan tak kunjung keluar.
"Yilan!" panggilnya untuk yang kedua kalinya. Masih tetap sama, belum juga ada jawaban.
Ia kemudian membulatkan tekadnya untuk memanjat pagar yang tingginya tidak seberapa.
*𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊! 𝐓𝐎𝐊!*
Ia ketuk pintu rumah dengan keras. Dan tetap saja Yilan tak keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Wanita itu lantas menaruh sebuah undangan tepat di depan pintu rumah milik seorang Pria. Ditinggalkan nya undangan itu dalam keadaan terbungkus plastik.
******
Tak terasa hari yang tengah ditunggu-tunggu oleh sejumlah orang pun tiba. Nampaknya, tempat dimana acara pernikahan Nata diselenggarakan cukup ramai.
Keramaian terjadi sejak pagi buta, para tamu undangan mengisi penuh ruangan yang begitu besar. Terlihat beberapa orang yang tak mendapatkan tempat untuk duduk.
Di lain sisi, Nata tengah mempersiapkan dirinya untuk muncul dihadapan para tamu undangan.
Sosoknya yang cantik natural ditambah dengan make up tipis membuatnya menjadi sangat cantik bagaikan bidadari.
"Nona, make up nya sudah siap. Kami tinggal keluar sekarang, nanti akan ada orang-orang yang datang dan mengiringi Anda untuk ke ruang utama," papar salah seorang wanita yang memakaikan make up pada Nata.
"Baiklah, terima kasih ... " ucapnya sembari tersenyum lebar.
Mereka lantas keluar dari ruangan dan meninggalkan Nata seorang diri.
"Tidak ku sangka hari ini adalah hari dimana aku akan menikah untuk yang kedua kalinya," ujarnya pada diri sendiri.
"Kuharap hari ini Yilan juga datang ke acara pernikahan ku."
Suara langkah kaki dari luar ruangan terdengar mendekat ke arahnya. Nata berdalih menatap pintu ruangan yang berada dalam keadaan tertutup rapat.
Perlahan pegangan pintu terlihat berputar dengan sendirinya. Nampaknya, ada seseorang yang mencoba membuka pintu dari luar.
Seorang pria memperlihatkan sosoknya begitu sukses membuka pintu.
"Hansen? Ada urusan apa kau datang menemuiku? Seharusnya kau tidak masuk ke ruangan ini," celoteh Nata dengan wajah dingin.
"Natalia ... " pria itu berlari ke arahnya. Dipeluk dengan erat tubuh Nata kedalam dekapan tubuhnya.
"Ku mohon, untuk kali ini saja. Jangan menikah dengan Harwell, aku janji akan menikahimu lagi setelah kakek meninggal," timpal Hansen sembari menangis tersedu-sedu.
"Apa maksudmu?"
"Aku menceraikan mu saat itu, karena kakek menyuruhku untuk mencari pengganti yang sepadan denganku. Bukan wanita miskin," ungkap Hansen masih dengan erat memeluk tubuh Nata.
"Saat itu, kakek mengetahui bahwa kau adalah wanita miskin. Dan jika aku tetap bersamamu, maka kakek akan mengambil kembali warisannya yang sudah dia berikan padaku," lanjut ungkap nya sambil mengingat kembali apa yang sebelumnya sudah terjadi.
Tiba-tiba saja, Pria di hadapannya mencium bibir Nata. Ia sontak terkejut.
Pada saat yang bersamaan, seseorang masuk ke dalam ruangannya. Dia adalah wanita yang sama dengan wanita yang datang ke toko gaun beberapa hari yang lalu, Floryn Lawrence.
"A-- apa yang sedang kalian lakukan?!!!" Ponsel yang di genggamnya dengan erat terjatuh ke lantai.
"Hansen! Lepaskan aku!"
"Floryn, ke-- kenapa kau ... "
__ADS_1
"Jangan bicara apapun padaku! Kau berbohong! Janjimu saat itu, kau tidak menepatinya!! Pembohong!!" geramnya sembari meneteskan air mata.
Wanita itu lantas berlari keluar dari ruangan dengan perasaan kesal.
"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu karena sudah melakukan hal yang tidak sepatutnya," tegas Nata.
"Ya ... ini semua memang salahku."
Satu jam berlalu, kedua pasangan yang tengah ditunggu-tunggu oleh tamu undangan nampaknya mulai berjalan menuju ruang utama.
Begitu mereka memasuki ruang utama itu, sorak-sorai serta tepuk tangan yang meriah dilontarkan secara bersamaan.
Nata serta Hansen memperlihatkan senyuman lebar yang mampu meluluhkan hati para tamu undangan, entah pria maupun wanita.
"Nata, aku sangat mencintaimu. Ku harap, sampai akhir kita tetap bersama untuk selamanya ... " ucap Harwell sembari memakaikan cincin pernikahan pada Nata.
"Ku harap juga begitu, Harwell ...."
"𝐖𝐨𝐰!! 𝐰𝐨𝐚𝐚𝐚!!!"
"Hari ini adalah hari yang istimewa untuk kita berdua, Nata. Bersenang-senanglah, tebarkan senyumanmu."
"𝐂𝐢𝐮𝐦 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚𝐦𝐮!!!" Para tamu undangan berteriak lantang.
Nampaknya, perkataan orang-orang di sana segera Harwell wujudkan. Ia mencium Nata tepat di hadapan para tamu undangan, termasuk Hansen dan juga Floryn.
Sementara itu, Hansen memperlihatkan raut wajahnya yang tidak senang. Kedua tangannya mengepal hingga berkeringat dingin.
"Tidak!! Ini tidak boleh terjadi. Nata hanya milikku seorang, dia tidak boleh dimiliki oleh Harwell!!" geramnya dalam hati.
Begitu juga dengan seorang pria yang mendapat undangan dari Nata dua hari yang lalu. Nampaknya, ia datang ke acara pernikahan orang yang dicintainya secara diam-diam.
Senyuman kecut terpampang pada wajahnya. Pria itu tak menyadari bahwa cairan bening mulai bercucuran dan membasahi wajahnya.
"Nata, ku harap kau bahagia menikah dengannya. Jangan sampai kau menyesal untuk yang kedua kalinya ...."
******
Cahaya rembulan menerangi kehidupan di bawahnya. Rembulan dengan bentuk yang benar-benar bulat, cahaya kuning yang terang, serta ukurannya yang begitu besar.
Sebuah ruangan terlihat lebih mewah dari biasanya. Hiasan bunga-bunga yang bermekaran diletakkan pada pintu masuk ruangan tersebut.
"Nata ... " panggilnya sembari memegangi kedua lengan wanita di hadapannya.
"Jangan melihatku seperti itu. Ini pertama kalinya bagiku ... apa bisa matikan lampunya saja?" pinta Nata yang dibalas tawa kecil dari Harwell.
"Ini juga pertama kalinya bagiku. Baiklah, jika kau memintanya, maka akan ku kabulkan."
Sebuah lampu yang menerangi ruangan tersebut lantas dimatikan.
__ADS_1
𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....
𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀