Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 20 [Permulaan Dari Balas Dendam]


__ADS_3

"Ah, Nata? Ternyata kau sudah kembali," ucap Harwell sembari mempersilahkan Nata untuk kembali duduk.


"Ngomong-ngomong, dimana Hansen dan Floryn? Apa kau tidak bertemu dengannya tadi?" tanya sang kakek sambil melihat sekeliling, untuk memastikan bahwa orang yang dicari-cari nya benar tidak ada.


"Sepertinya tadi Hansen mencari sesuatu dengan Floryn. Tapi aku tidak tau apa yang sedang mereka cari," jawab Nata memberi alasan.


Selang beberapa waktu, kedua orang yang tengah ditunggu-tunggu akhirnya datang.


Keduanya nampak menyembunyikan sesuatu dari anggota keluarga mereka.


Sudah lebih dari dua jam mereka menghabiskan waktu bersama di restoran tersebut. Dan akhirnya, mereka pun selesai membahas perihal pernikahan antara Nata dengan Harwell. Setelahnya, dua keluarga itu memutuskan untuk segera pulang.


Namun, tiba-tiba saja terdengar suara rintik-rintik hujan yang semakin bergemuruh mendekat. Nampaknya, hujan deras melanda sekeliling restoran tersebut.


Tentu semua orang yang masih berada di restoran itu terjebak hujan deras. Karena terlalu deras, mereka khawatir akan ada kecelakaan jika bersikeras untuk mengemudikan mobil.


"Bagaimana jika kita kembali duduk? Sambil menunggu hujan reda," usul Floryn dengan raut wajah gelisah.


"Tidak masalah."


"Hmm, Nata. Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu. Tapi tidak disini, kita cari tempat duduk lain saja," ucap Floryn yang kontan membuat Nata merasa heran.


Nata hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Kedua wanita itu lantas beranjak pergi dan mencari tempat duduk yang kosong pengunjung.


Beberapa kali Floryn nampak melirik kecil ke arah Nata tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu tentu membuat wanita bernama Nata merasa ada hal penting yang ingin disampaikan padanya.


"Sepertinya hujan sudah sedikit reda. Mungkin lain kali saja kita berbicara," ketus Nata dengan tatapan dingin mengarah pada wanita di hadapannya.


"Ti– tidak, tunggu sebentar."


"Kalau begitu, cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu untukmu."


"Be– begini, aku ingin memintamu untuk menjauhi Hansen. kau tau sendiri, kan? Bahwa sekarang dia adalah suamiku?!" lontar Floryn dengan raut wajah kesal.


Kedua tangannya nampak mengepal. Tatapan benci pun tak lupa diperlihatkan padanya.


"Jadi maksudmu, kau tidak merasa bersalah karena sudah menggoda Hansen saat dia masih berstatus sebagai suamiku?" Nata mendekatkan wajahnya pada Floryn.


Wanita itu kontan berdalih menatap sudut ruangan yang tak terdapat apapun.

__ADS_1


Nata lantas beranjak dari kursinya lantaran Floryn hanya terdiam membisu begitu mendengar perkataannya.


"Nata, kau!!" Merasa geram, Floryn hampir menampar wajah Nata dengan keras. Namun hal itu didapati oleh Harwell yang kebetulan mencari calon istrinya.


Pria bertubuh tinggi itu dengan sigap menghentikan tangan Floryn yang hampir melukai Nata.


"Jangan coba-coba untuk menyakitinya. Kau pikir kau berhak untuk memukul Nata? Sadarlah, sekarang kau bukan lagi orang yang berkedudukan tinggi di mata Nata," cetus Harwell mampu membuat Floryn merasa malu atas perbuatannya.


"Harwell, jangan terlalu kasar padanya. Apa kau belum tau? Bahwa saat ini dia sedang mengandung anak Hansen," ungkap Nata yang sontak membuat keduanya terdiam mematung.


Tubuh Floryn nampak bergetar hebat begitu mendengar Nata mengatakan hal yang seharusnya hanya diketahui olehnya dan Hansen saja.


"Apa yang baru saja kau katakan, Nata?" tanya Harwell dengan raut wajah serius. Tangannya perlahan melepaskan pergelangan tangan Floryn yang sempat di genggamnya dengan erat.


"Sepertinya hujan sudah benar-benar reda. Maaf, Harwell. Kita bicarakan hal itu lain kali saja. Sekarang aku harus segera pulang."


"Tapi, Nata …."


"Selamat malam," ucap Nata menutup pembicaraan di antara ketiganya.


Pria itu nampak pasrah dengan keputusan Nata. Setelahnya, satu persatu di antara mereka mulai melajukan mobil masing-masing.


*****


Terlihat Floryn yang masih tidak bisa memejamkan kedua matanya, setelah sudah lebih dari tiga jam ia mencoba untuk tidur.


Lantas ia beranjak dari ranjangnya, dan keluar dari kamar yang terasa menyesakkan. Tindakannya itu ternyata diketahui oleh Hansen yang kebetulan terbangun.


"Floryn? Kau mau kemana?" tanya Hansen yang sontak membuat wanita itu berhenti melangkahkan kakinya.


"A– aku ingin mencari udara segar di luar. Bagaimana denganmu?"


"Tiba-tiba saja aku terbangun, dan melihatmu berjalan," jawab Hansen sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa aku katakan saja pada Hansen, bahwa Nata mengetahui tentang kehamilan ku?" gumam Floryn berpikir keras.


Wanita itu lantas memberanikan dirinya untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi di Restoran beberapa waktu lalu. Ia mengungkapkan bahwa Nata mengetahui akan kehamilannya.


Siapa yang tidak terkejut saat mendengar hal itu? Pria di hadapannya nampak menatap wajah Floryn dengan dalam.

__ADS_1


"Flo– Floryn? Apa maksudmu Nata sudah mengetahuinya sejak awal?" tanya Hansen memastikan. Tangannya perlahan memegangi wajah Floryn yang mendadak basah lantaran air matanya menetes.


Wanita itu hanya mengangguk sembari menangis tersedu-sedu, dan berharap bahwa Hansen tidak akan menyalahkannya.


*****


Di sisi lain, terlihat seorang wanita yang juga masih terbangun di tengah malam. Ia nampak sedang menikmati segelas susu di ruang makan seorang diri.


"Aku harap Floryn mengatakan semuanya pada Hansen. Dengan begitu, penyesalan Hansen akan bertambah," celetuk Nata yang kemudian meneguk segelas susu di tangannya.


Selang beberapa waktu, setelah merasa mulai mengantuk. Nata berjalan menaiki setiap anak tangga untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Beberapa kali ia sempat melihat ke arah layar ponselnya untuk menunggu Hansen mengirimnya pesan. Dan benar saja, pria itu meminta Nata untuk meluangkan waktunya besok.


"Ternyata apa yang aku pikirkan benar terjadi. Tidak ku sangka, Floryn terjebak dalam permainan ku," ucapnya sembari tersenyum licik.


Ia bahkan tak membalas pesan yang dikirimkan oleh Hansen, dan meletakkan ponselnya di samping bantal.


****


Semburat mentari pagi memanjakan mata Nata. Kicauan burung terdengar sedang menyanyi sambil menari-nari di atas ranting pohon.


Perlahan Nata membuka kedua bola matanya, begitu sinar matahari memancar ke arahnya melewati hordeng kamar.


Wanita itu lantas terbangun dan mengambil ponselnya yang semalam ia letakkan disamping bantal.


"Rupanya dia menelepon ku beberapa kali. Mungkin sudah waktunya aku menjalankan rencanaku."


*Tok! Tok! Tok!*


Tiba-tiba saja pintunya berbunyi. Sesegera mungkin ia membukakam pintu kamarnya untuk seseorang yang berada di luar.


"Ayah?"


"Putriku, ada yang ingin Ayah sampaikan mengenai pernikahan mu dengan Harwell. Setelah ini kau bersiap-siap untuk datang ke ruang keluarga, ya," perintah Tn. Lyn.


Nata membalasnya dengan anggukan kecil. Ia kemudian menutup pintu kamarnya dan mulai menyibukkan diri dengan sabun mandi di sebuah ruangan kecil.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2