Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 40 [Hari Yang Berbeda]


__ADS_3

Hembusan angin masuk melalui hordeng kamar. Sayup-sayup angin membuat berkas-berkas berjatuhan ke lantai. Seorang wanita yang tengah tertidur lelap perlahan membuka kedua bola matanya. Ia melihat setiap sudut ruangan kamar yang sama setiap harinya.


Di pandanganya langit-langit kamar yang kosong tanpa harapan. Perlahan ia bangkit dari ranjang yang di tidurinya. Diambilnya sebuah ponsel yang berada di atas lemari kecil.


"Apakah Harwell sudah sampai? Tapi kenapa dia belum mengabariku?" pikir nya seraya membelai rambut panjangnya.


Ia melempar ponselnya ke atas ranjang. Wanita itu lantas memasuki ruang kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamarnya. Wanita itu memakan waktu cukup lama untuk berendam didalam bak, dengan air dari shower yang membasahinya.


****


Suara ketukan langkah kaki terdengar menuruni anak tangga menuju lantai satu. Gesekan cincinnya yang mengenai besi tangga pun tak kalah menggema di seluruh ruangan.


"Nata, makanlah. Kau harus sarapan," perintah Hansen sembari mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sebelahnya.


"Tidak, terima kasih. Aku akan makan diluar bersama temanku," tolak Nata dengan lembut.


Pria di hadapannya memperlihatkan wajah kecewa. Ia menghela nafas panjang seraya mengembalikan kursi yang di tariknya ke tempat semula.


"Tapi makanannya sangat banyak. Asisten rumah tangga sudah membuatkan banyak hidangan sehat untukmu," tuturnya memberitahukan.


Wanita itu lantas berjalan mendekati Hansen dengan langkah kaki kecil. Di tariknya kembali kursi tadi dan di dudukinya.


"Baiklah, aku akan makan di rumah."


"He'em, mari makan bersama." Pria itu tersenyum lebar, dan kembali melahap makanannya.


Setelah cukup lama menyibukkan diri di ruang makan, akhirnya Nata pun usai sarapan. Ia beranjak dari kursi tempatnya duduk dan sempat membuat Hansen berdalih menatapnya.


"Kau mau pergi kemana? Bukankah kau sudah makan?" tanya nya heran.


"Aku ada urusan di luar. Ini tidak ada hubungannya denganmu, jadi tidak usah ikut campur."


"Tapi, Nata …."


"Lanjutkan saja sarapanmu, kita punya kesibukan masing-masing." Wanita itu perlahan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dalam sekejap, sosoknya tak terlihat sehelai rambut pun.


*****


Sebuah mobil menarik tuas rem dan berhenti di depan sebuah perusahaan besar. Seorang wanita nampak keluar dari mobil mewah itu. Dengan kacamata hitam dan penampilannya yang elegan, membuatnya menjadi pusat perhatian sejumlah orang yang berada di perusahaan.


"Selamat pagi, Nn. Nata. Ada yang sudah menunggu Anda di ruangan Tn. Harwell," tutur seorang pegawai kantor padanya.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Kalau tidak salah, mereka bilang berasal dari keluarga Law. Saya tidak menanyakan tujuannya datang kesini, tapi yang pasti mereka menunggu Anda sejak pagi, Nona," ungkap nya memberitahukan.


Nata hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung melangkahkan kakinya menuju lift. Di tekannya tombol dengan nomor 23, dimana ruangan Harwell berada.


*π“π”πŠ*π“π”πŠ*π“π”πŠ*


Wanita itu perlahan membuka pintu ruangan tersebut. Di dapatinya sepasang suami istri dari keluarga Law. Wajahnya terlihat begitu familiar dimata Nata setelah beberapa hari sebelumnya makan malam bersama.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan dan Nyonya Law?" tanya Nata begitu duduk di sofa.


"Mengenai Floryn, kami ingin tau alasannya dia menjadi sakit jiwa," lontar Tn. Law dengan raut wajah sinisnya.


"Maaf, tapi aku tidak tau apa-apa. Kenapa tidak kalian tanyakan langsung saja pada Hansen, suaminya?"


"Kami punya alasan tersendiri kenapa menemuimu dan bukan Hansen. Karena kami yakin ini semua berkaitan denganmu," tuduh nya pada Nata.


Merasa geram, Nata langsung memanggil beberapa orang yang bekerja sebagai keamanan perusahaan.


"Bawa mereka keluar dari perusahaan ini. Aku tidak mau melihat mereka lagi."


"Baik, Nona!"


"Cepat bawa mereka keluar!"


Sosok pasangan suami istri dari keluarga Law menghilang dalam sekejap. Nata menghembuskan nafas panjang seraya memegangi kepalanya yang mendadak saja terasa sakit.


Tiba-tiba saja dering ponselnya berbunyi. Ia lantas mencari-cari sumber suara yang terdengar dari dalam tas miliknya. Tertera nama Harwell di layar ponselnya, membuat wanita itu bergegas mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hoam … sayang, bagaimana kabarmu? Aku tidak bisa menyapa pagi, siang atau malam, karena ada perbedaan waktu," sapa nya membuka pembicaraan dalam telepon. Wanita di seberang sana sempat tertawa kecil mendengarnya menguap.


"Hehe, tidak masalah, Harwell. Kabarku baik, bagaimana denganmu?" tanya Nata.


"Aku juga baik. Maaf baru bisa menghubungimu, karena aku baru saja tiba di bandara. Setelah ini aku akan langsung menuju hotel," tuturnya memberitahukan.


"Baguslah kalau kau baik-baik saja. Lebih baik kau beristirahat saja dulu, nanti kau bisa meneleponku lagi."


"Huh, baiklah. Padahal aku ingin sekali mendengar suaramu, tapi aku juga sangat lelah. Maaf, sayang …."


"Tidak masalah, sampai jumpa."

__ADS_1


"Sampai jumpa, sayang. Jangan lupa makan dan istirahat yang teratur," kata Harwell menutup pembicaraan di antara keduanya.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Menyadari hal itu, Nata memutuskan untuk pergi ke kantin perusahaan untuk mengisi perutnya.


Di dapatinya para pekerja kantor yang juga berada di kantin perusahaan untuk menunggu antrian panjang. Begitu juga dengan dirinya, ia harus mengantri untuk memesan makanan.


Sudah cukup lama sejak Nata berdiri untuk menunggu antrian panjang. Kebetulan, ia menggunakan sepatu hak dan membuat kakinya terasa keram, lantaran terlalu lama berdiri.


Salah seorang pekerja kantoran yang menyadari akan kedatangannya, kontan mempersilahkannya untuk mengambil makanan lebih dulu.


"Silahkan, Nn Nata. Saya bisa menunggu, tapi tidak dengan Anda," lontar nya.


"Ah, te– terima kasih," ucap Nata sembari memperlihatkan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.


Akhirnya, Nata bisa mengisi perutnya setelah begitu lama menunggu antrian panjang. Ia melahap hidangan makanan di mejanya dengan santai. Beberapa orang nampak memperhatikan kecantikannya saat sedang makan.


*****


Sinar terang dari matahari kini tergantikan oleh rembulan yang bersinar terang. Begitu juga dengan langit yang awalnya cerah, kini berubah menjadi gelap. Awan-awan nampak berjalan perlahan di atas langit malam.


Terlihat sebuah mobil yang berhenti tepat di depan kediaman Gard. Seorang wanita keluar dari mobil tersebut dan memperlihatkan sosoknya.


"Nata, akhirnya kau pulang juga. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu, aku harap besok kau tak lagi keluar dari rumah," celetuk seorang Pria begitu mendapati dirinya yang baru saja tiba.


Wanita itu lantas menghentikan langkah kakinya sembari menghela nafas panjang. Ia berdalih menatap sosok Pria di sebelahnya.


"Ini urusanku, jadi aku harap kau tidak perlu ikut campur. Maaf, aku harus beristirahat sekarang," tukas Nata dengan raut wajah kesal.


"Apa kau tidak mau makan malam lebih dulu? Kau pasti lapar."


"Jika lapar aku akan makan, kau tidak perlu menyuruhku."


Nata kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang tak lain adalah kamarnya. Dengan cepat ia membuka pintu ruangan tersebut.


"Tunggu!" Kontan Hansen menarik keras pergelangan tangannya. Ia memojokkan wanita itu ke sudut ruangan.


"Apa yang kau lakukan, Hansen?!"


"Tunggu … tunggu sampai aku menceraikan Floryn dan menikahimu kembali," ujar Pria itu yang kemudian mendorong Nata ke atas ranjang.


π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš....

__ADS_1


πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠ πš”πšŠπšœπš’πš‘ πšπšŽπš•πšŠπš‘ πš–πšŽπš–πš‹πšŠπšŒπšŠ πšœπšŠπš–πš™πšŠπš’ πšŠπš”πš‘πš’πš›, πš“πšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πš‹πšŽπš›πš’πš”πšŠπš— πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πš‹πšŽπš›πšžπš™πšŠ πš•πš’πš”πšŽ, πšπš’πšπš, πš”πš˜πš–πšŽπš—, 𝚟𝚘𝚝𝚎 πšπšŠπš— πšπšŠπšŸπš˜πš›πš’πš! πš‚πšŠπš–πš™πšŠπš’ πš“πšžπš–πš™πšŠ πšπš’ πšŽπš™πš’πšœπš˜πšπšŽ πšœπšŽπš•πšŠπš—πš“πšžπšπš—πš’πšŠ!!!π™ΉπšŠπš—πšπšŠπš— πš•πšžπš™πšŠ πšπšžπš”πšžπš—πšπšŠπš— πšπšŠπš— πšœπšŠπš›πšŠπš— πš—πš’πšŠ πš’πšŠπŸ€


__ADS_2