Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 44 [Apakah Ini Yang Dinamakan Takdir?]


__ADS_3

Dua hari setelah kematian kakek telah berlalu. Terlihat pasangan suami yang tengah menyelidiki kasus tersebut. Merasa janggal, tentu mereka menyelidikinya secara diam-diam, bahkan Hansen pun tak tau akan hal itu.


Keramaian kendaraan di pusat kota nampak menimbulkan polusi yang berlebih. Nata serta Harwell memutuskan untuk berjalan kaki dan menghindari kemacetan lalu lintas. Sudah lebih dari 2 jam mereka menghabiskan waktu hanya untuk menyelidiki kasus kematian kakek mereka yang terasa janggal.


"Harwell, bagaimana perkembangannya?" tanya Nata begitu Harwell keluar dari sebuah gedung besar.


"Sedikit lagi ... sedikit lagi kita pasti bisa menemukan jawabannya. Terlebih, dokter spesialis kakek bilang dia tidak sedang mengalami masalah kesehatan apapun. Kemungkinan besar kematiannya telah direncanakan oleh seseorang," ungkap Harwell sembari menggandeng lengan istrinya.


Mereka lantas melanjutkan perjalanan ke tempat lain untuk memastikan suatu hal. Beberapa kali pria di sampingnya sempat melirik ke arahnya yang nampak kelelahan lantaran terlalu lama berjalan kaki, ditambah suasana serta udaranya terasa begitu panas.


"Hmm, Nata ... apa kau mau minum sesuatu?" Harwell menawarkan.


"Boleh, kebetulan aku sedang merasa haus."


"Coba kita lihat ... ah, di seberang sana ada penjual minuman. Kau tunggu disini, ya."


"Baiklah."


Harwell melihat ke sekeliling, ia berdalih menatap kanan dan kirinya untuk memastikan bahwa tidak ada mobil yang sedang melaju ke arahnya.


Begitu mendapat kesempatan, tanpa berpikir panjang Harwell segera menyeberangi jalanan yang sempat kosong kendaraan melintas. Sementara Nata duduk di sebuah kursi yang berada di halte bus.


Setelah cukup lama menunggu Harwell yang sedang membelikan minuman untuknya, akhirnya pria itu pun mendapat dua bungkus minuman begitu berdiri untuk menunggu antrian panjang.


Ia melambai-lambaikan tangannya pada Nata, menandakan bahwa ia telah mendapatkan apa yang istrinya minta.


Wajah Harwell nampak memperlihatkan senyuman lebar yang terukir di wajahnya. Ia menyeberangi jalanan dengan dua minuman yang berada di tangan kanan di kirinya.


Namun, siapa sangka jika tiba-tiba saja ada sebuah mobil pickup yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Nampaknya Harwell tak menyadari akan hal tersebut. Dengan santainya, ia berjalan sembari membawa dua minuman di tangannya.


Menyadari akan ada sebuah hal besar terjadi, Nata spontan bangkit dari kursinya. Kedua bola matanya menatap tajam sang suami yang masih berada di tengah jalan raya.


"Harwell!!!!" teriaknya sontak menghentikan langkah kaki pria tersebut.

__ADS_1


"Larilah!!!!" Merasa heran, pria itu malah berdalih menatap sekelilingnya. Begitu menyadari maksud dari perkataan Nata, semuanya sudah terlambat.


*TIN!!! CKITTT**


*BRAAAKK!!!


Mobil itu menabrak Harwell tepat di tengah jalan. Kendaraan itu langsung melajukan mobilnya dan tak peduli dengan apa yang telah di lakukannya. Cairan merah berceceran di aspal hingga mengenai Nata. Bajunya kini ternodai oleh darah suaminya sendiri.


Cairan bening perlahan keluar dari bola matanya. Kedua tangannya menangkap sosok yang sudah tak bernyawa dari arah kejauhan. Ia merasa semua yang telah terjadi hanyalah mimpi, dan berpikir kematian suaminya hanyalah sebuah ilusi karena ia terlalu kelelahan.


Namun, sepertinya harapan bahwa suaminya masih hidup tidaklah benar. Ia lantas berteriak sekencang mungkin dengan cairan yang tak kunjung reda dari kedua bola matanya.


"Ha-- Harwell ... Harwell!!!!!"


Beberapa orang yang berada di sana bergegas mendekat ke tempat kejadian, termasuk Nata. Ia berlari sekencang mungkin menghampiri suaminya yang kini dipenuhi oleh darah bercampur minuman.


Keadannya terlihat begitu parah, bahkan siapapun tidak ada yang bisa memastikan bahwa pria itu masih bisa selamat.


"Harwell!! Bangunlah ... kumohon ...." Nata menangis tersedu-sedu sembari memeluk erat tubuh suaminya. Ia sama sekali tak mau melepaskan pria itu untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat.


"Harwell, katakanlah sesuatu!!! Jangan membuatku kecewa, Harwell ... kumohon, hiks ...." Kini wajahnya di penuhi oleh air mata serta darah dari suaminya.


Beberapa kali ia mencoba untuk membangunkan suaminya, namun pria itu sama sekali tak bergerak. Tangan serta tubuhnya yang lemas persis seperti orang yang sudah tak bernyawa.


"Ha-- Harwell, aku yakin kau bisa bertahan. Kau adalah pria yang kuat, kau pasti bisa bertahan kumohon ... " rintihnya masih dengan posisi yang sama.


Tak berselang lama setelah hal itu terjadi, beberapa mobil polisi berdatangan. Mungkin Hansen juga sudah mendengar kabar burung tersebut, hingga membuatnya datang ke tempat kejadian untuk melihatnya secara langsung.


"Nata ... apa yang terjadi?!!" tanyanya dengan raut wajah panik.


"Dia mengalami kecelakaan, dia ... dia sudah ... hiks ... Hansen, tolong dia, kumohon ... " ucapnya membuat pria bernama Hansen merasa kasihan.


Pria itu lantas menarik Nata agar menjauh dari jasad Harwell. Namun nampaknya, wanita itu sama sekali tak bisa merelakan kepergian suaminya yeng terjadi begitu mendadak.

__ADS_1


******


Tn. Lyn berjalan memasuki ruangan kamar Nata. Ia mendapati putrinya yang tengah duduk sambil melamun memikirkan sesuatu. Perlahan kakinya melangkah mendekati Nata yang masih diam tak berkutik.


"Nata, turunlah ... dibawah banyak orang yang sedang memberikan do'a pada suamimu. Ayah harap kau menemani mereka dan mengucapkan terima kasih karena sudah mengirimkan do'a," cakapnya sembari mengusap ubun-ubun Nata.


Bukannya melaksanakan perintah sang ayah, wanita itu malah menangis tersedu-sedu. Kini matanya kembali meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya. Ia bersandar pada bahu sang ayah sembari menangis.


"Putriku, mungkin saat ini kau tidak bisa merelakan kepergian suamimu. Tapi semakin lama kau pasti bisa merelakannya dan bahagia bersama orang lain." Tn. Lyn membangkitkan Nata dari sandaran tubuhnya.


Ia lantas melangkahkan kakinya menjauhi wanita itu dan keluar dari ruangan tersebut. Beberapa saat setelah kepergian sang ayah, Nata nampak mengusap air matanya.


Perlahan ia bangkit dari ranjang dan memperbaiki penampilannya yang nampak berantakan. Di kenakannya pakaian berwarna hitam, bahkan ia melengkapi penampilannya dengan aksesoris yang serba hitam.


Setelah cukup lama mempersiapkan diri, Nata pun memutuskan untuk menuju ruang utama dimana banyak orang yang tengah memberikan do'a untuk suaminya.


"Hei, itu Nn. Nata!"


"Iya, benar. Itu dia, akhirnya dia muncul juga."


"Kenapa dia baru muncul sekarang? Seharusnya sejak awal dia berada disini."


"Mungkin dia merasa sedih, dan tidak berani memandang foto suaminya sendiri."


Kini kericuhan terjadi begitu Nata memperlihatkan sosoknya di depan banyak tamu, seakan dirinya menjadi pusat perhatian.


"Nata, apa yang sebenarnya terjadi?!!" tanya seorang pria sembari berlari ke arahnya.


Pria itu dengan sigap memegangi kedua bahu Nata. Namun, wanita itu sama sekali tak merespon bahkan ia juga gak memperlihatkan ekspresinya.


"Nata?"


"Jangan ganggu aku, aku ... aku benar-benar merasa semua ini hanyalah mimpi, tapi aku tidak tau apakah semuanya nyata atau tidak," ujarnya yang sempat membuatnya kembali membendung air mata.

__ADS_1


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2