Sudah Cukup Main Mainnya

Sudah Cukup Main Mainnya
Episode 11 [Sekumpulan Pria]


__ADS_3

Lalu lalang di jalanan membuatnya terlihat seperti pasar yang dipenuhi oleh para pelanggan. Lampu-lampu kecil di pinggiran jalan mulai dinyalakan sesuai dengan kebutuhannya.


Wanita bernama Nata itu berjalan seorang diri melewati sebuah gang kecil yang nampak sepi pejalan kaki. Mengingat bahwa stok makanan untuk makan malam hampir habis, Nata pun memutuskan untuk mampir ke Toserb yang kebetulan berada didepan gang kecil tersebut.


Setiap langkah dilaluinya dengan santai, sampai tak menyadari bahwa orang-orang yang berada di pinggiran jalan itu terus memperhatikannya.


"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴," gumam Nata sembari melihat setiap sudut jalan yang mulai ramai akan pejalan kaki.


"Hai Nona cantik, sepertinya baru kali ini kami melihatmu," ucap seorang pria sembari berjalan mendekatinya.


Perlahan Nata mempercepat langkah kakinya, ia terus berjalan dan berharap bisa cepat keluar dari gang tersebut.


Tapi siapa sangka, para pejalan kaki yang tiba-tiba saja muncul ternyata adalah bagian dari mereka. Itu artinya, tidak ada gunanya jika Nata mencoba untuk berlari.


"Wah wah, mau lari kemana kau?"


"Maaf, tapi apa bisa kau lepaskan tanganmu dariku?" celetuk Nata dengan wajah dingin bak es dalam freezer.


"Apa? Kau berani memerintahkan ku?"


"Bukan begitu, tapi ...."


Pria lainnya yang sedari tadi hanya menyaksikan hal itu lantas mulai mendekati Nata. Setiap wajah mereka memperlihatkan senyuman licik yang bahkan sudah terbaca oleh Nata sebelumnya.


"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪!" pikirnya sembari melihat sekeliling untuk memastikan bahwa ada benda yang bisa di gunakannya untuk kabur.


Menyadari ada balok kayu yang cukup besar, Nata pun langsung mengambilnya dan memukulkan balok kayu itu pada pria di hadapannya.


Begitu pria yang dipukul nya pingsan, sesegera mungkin Nata mencoba melarikan diri. Dengan cepat kakinya melangkah dan hampir keluar dari gang asing yang tengah dilewatinya.


Namun siapa sangka, langkah kakinya yang dirasa sudah begitu cepat ternyata masih bisa membuat para pria itu mengejarnya.


Alhasil Nata tertangkap dan mulutnya langsung dibungkam.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬! 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪!"


Sosoknya yang berusaha untuk terus memberontak, menjadikan para pria itu kesal dan membuat mereka terpaksa memukulnya.

__ADS_1


Lantas Nata dibawa pergi ke tempat lain menggunakan salah satu mobil milik para pria tersebut. Lantaran dirinya sudah tidak sadarkan diri.


......................


Malam semakin larut setiap detiknya. Hembusan angin yang kencang membuat pejalan kaki merasa kedinginan. Tidak hanya para pejalan kaki saja, bahkan orang-orang yang berada di dalam rumah mereka pun masih merasakan angin kencang tersebut.


"Sudah lebih dari sepuluh kali aku menghubungi Nata. Tapi dia sama sekali tidak menjawab panggilan ku," cakap Harwell sembari berjalan ke sana kemari lantaran khawatir akan keadaan Nata.


"Padahal masih jam delapan malam, biasanya sampai tengah malam pun dia belum tidur. Tapi kenapa sekarang rasanya ada yang aneh," lanjut ucapnya.


Masih khawatir akan keadaan wanita itu, tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam kamarnya. Sontak Harwell terkejut dan hampir menjatuhkan ponsel yang sedari tadi ditenggam olehnya.


"Kenapa kau masuk begitu saja? Seharusnya ketika pintu lebih dulu!" tegur Harwell dengan raut wajah kesal.


Matanya menatap tajam seorang asisten rumah tangga yang masuk tanpa izin ke kamarnya. Lantas asisten itu menunduk lantaran merasa bersalah.


"Ada apa?"


"Ma-- maaf Tn, sebenarnya tadi saya sudah memanggil-manggil nama Anda. Dan saya juga sudah beberapa kali mengetuk pintu dengan keras, tapi Anda tidak mendengarnya," jelas asisten itu.


"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘕𝘢𝘵𝘢?" gumamnya sembari memikirkan kembali kejadian tadi.


"Baiklah, aku akan segera turun. Kau keluar lah."


"Baik, Tuan."


Begitu asisten itu keluar dari kamarnya, ia langsung terpikirkan untuk menanyakan keadaan Nata pada Hansen. Karena ia yakin, bahwa adiknya itu pasti masih sering mendatangi mantan istrinya.


Tanpa berpikir panjang, Harwell yang awalnya merasa enggan untuk menemui Hansen pun terpaksa turun ke bawah dan menuju ruang tamu.


Di injaknya setiap anak tangga, hingga membawanya sampai ke ruang dimana sang adik telah menunggunya.


"Ada apa kau datang ke sini?" tanya Harwell sembari duduk pada kursi di hadapannya.


"Memangnya kenapa? Lagipula, ini juga bukan rumahmu, kan?" sindir Hansen seraya memperlihatkan senyuman sinis.


"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘯𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳."

__ADS_1


"Ekhem!" dehem Harwell. Mata sang adik seketika menatap heran ke arahnya.


"Ngomong-ngomong, apa kau melihat Nata? Tadi aku menghubunginya beberapa kali, tapi dia sama sekali tidak menjawab satupun panggilan ku," ungkap Harwell sontak membuat Hansen terheran-heran.


"Jadi kau mau mengambil Natalia dariku? Tidak ku sangka kau sangat licik!"


"Memangnya kenapa jika aku mengambilnya darimu? Lagipula, sekarang Nata bukan siapa-siapa mu lagi."


"Jangan tanyakan padaku. Lebih baik kau mencarinya sendiri," gerutu Hansen yang nampak kesal lantaran kakaknya menanyakan keadaan mantan istrinya yang bahkan tidak ia ketahui.


"Aku tidak sedang bercanda. Masalah ini serius." Merasa geram, lantas Harwell berjalan menjauhi adiknya.


Karena dirasanya tidak ada yang penting jika ia tetap menemani Hansen di ruang tamu.


"Natalia? Ada apa dengannya? Kenapa Harwell sampai terlihat cemas seperti itu?" pikir Hansen yang sempat membuatnya merasa cemas juga.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku pakaiannya.


Tentu saja Hansen segera menghubungi Nata yang membuatnya mulai merasa khawatir.


"Nata, angkatlah ...."


Beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi wanita itu, namun sama sekali tak ada jawaban. Kecemasan kakaknya tentu menurunun padanya, begitu Hansen mendapat kabar bahwa mantan istrinya tidak bisa dihubungi.


"Aku yakin ada yang tidak beres dengannya!!" pria itu berlari keluar dari kediaman sang kakek dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di sisi lain, sosok Nata yang tengah dicari-cari oleh beberapa orang nampak masih tak sadarkan diri. Dengan posisi kaki serta tangan yang diikat kencang pada kursi. Kedua matanya juga terlihat ditutup oleh kain berwarna hitam, yang tentu membuatnya tak bisa melihat apa-apa.


Perlahan kedua bola matanya mulai terbuka. Didapatinya warna hitam yang membuatnya terus bertanya-tanya dimanakah dan bagaimanakah keadaannya saat ini.


"𝘗𝘰-- 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭, 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭𝘬𝘶?" gumam Nata sembari berusaha melepas tali yang mengikat kedua tangannya.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘥𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘰𝘳𝘦!"


Begitu mengingat akan kejadian yang menimpa nya sebelum ini, Nata pun berusaha untuk melarikan diri, dengan cara melepas beberapa tali yang diikatkan pada tubuhnya.


𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚋𝚞𝚗𝚐....

__ADS_1


𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚊𝚔𝚑𝚒𝚛, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚙𝚊 𝚕𝚒𝚔𝚎, 𝚐𝚒𝚏𝚝, 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚟𝚘𝚝𝚎 𝚍𝚊𝚗 𝚏𝚊𝚟𝚘𝚛𝚒𝚝! 𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚍𝚒 𝚎𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊!!!𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚔𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊🍀


__ADS_2