Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.1 Malam Itu


__ADS_3

Di rumah sakit ...


Tubuhku lunglai menatap sedih akan kondisi ayahku. Aku butuh seseorang menemaniku. Ketegaran yang biasa ada, kini hilang. Disaat ayahku kritis.


Kuambil hape dengan keraguan.


Kuketik pesan: "Saya di RS, nemenin ayah. Bisa datang ?" begitu pesan yang kukirim.


Lalu nomor tersebut menghubungiku.


"Hallo ..." sahutku


"Hallo ... Ini siapa?" tanya suara diseberang telpon


Kupastikan lagi nomor yang tertera di hape ku. "Ini benar nomornya, kenapa wanita yang menjawabnya?" pikirku heran.


"Bisa bicara dengan Dani?" tanyaku langsung.


"Ini pacarnya, ada urusan apa dengan Dani?" jantungku terkesiap. Jika dia pacarnya, lantas aku apa? Tiga tahun kami bersama.


"Saya bukan siapa-siapa nya" langsung kututup panggilan telponnya.


Nomor itu menghubungiku lagi. "Hallo ..." terdengar suara pria yang kukenali saat kuterima panggilan masuk.


"Ya..." jawabku singkat


"Dimana?"


"Rumah sakit, ayahku... Temani aku" pintaku. Tak pernah aku meminta sesuatu padanya. Tak pernah.


Kudengar suara isak tangis perempuan itu. Otakku langsung bekerja.


"Dia selingkuh lagi. Benar feelingku".


Kumatikan panggilan itu, seakan tak mau mendengar penjelasan. Bagiku itu sudah cukup.


Nomor itu menghubungiku lagi, ini yang ke tiga kali.


"Siapa wanita itu? Kamu selingkuh lagi? Jangan buat wanita itu mengeluarkan air mata, cukup aku saja". kumatikan lagi panggilan tersebut.


Aku tidak butuh penjelasan, keputusan ada padaku. Aku lelah menghadapi egonya. Dan ini saatnya bagiku tuk pergi.


Malamnya nomor itu menghubungiku berkali-kali, tapi selalu kutolak.


Kuhisap sebatang rokok, menghembuskannya dengan kasar.


Lahir batinku lelah, menunggui ayahku yang diopname. Bukan aku merasa terpaksa. Tidurku hanya 2-3 jam untuk menjaganya. Hatiku sedih melihat ayahku tak berdaya. Lahir & batinku lelah. Tapi fokusnya hanya untuk ayahku. Urusan pribadiku kuabaikan.

__ADS_1


Pekerjaanku kutinggalkan. Tidak mungkin aku bekerja jika jasadku di kantor, pikiranku pada ayahku. Aku tak bisa kerja.


Sedari sore, tingkah ayahku berbeda. Agak rewel. Pukul 2 pagi ayahku masuk ICU, abangku menggantikanku untuk menjaganya. Dalam lelahku, aku tertidur. Pukul 04:00 subuh suster memanggilku, dan mengabari ayahku yang telah berpulang. Aku terpaku, tak bisa berpikir apapun. Kurasakan sebatangkara. Kuhubungi keluarga yang lain. Abangku yang nomor satu langsung mengurus semua keperluan almarhum.


\=\=\=


Satu tahun kemudian ....


Kini aku bekerja di perusahaan dealer mobil. Dengan posisi bagian administrasi penjualan. Terkadang kuharus pergi keluar kota, mengurus transaksi penjualan. Tak terasa, sudah tujuh bulan aku bekerja.


Aku terbiasa lembur, tidak nyaman dengan pekerjaan yang tertunda dan akan selalu menumpuk.


Hari ini aku lembur, kulihat beberapa temanku juga ada yang lembur.


"Sudah jam sembilan malam" aku beranjak tuk pulang. Kepada semua aku pamit pulang.


Kubaringkan tubuhku, sesampainya aku di rumah warisan orang tuaku. Aku masih merasakan duka atas ayahku. Kadang ku masih menangisinya.


Kubuka hp ku, melihat medsos sebentar, lalu pergi mandi.


\=\=\=


Akuu sudah di kantor dan menyelesaikan tugasku. Menyerahkan laporan pekerjaan ke atasanku langsung pak Indra namanya.


"Ini berkas PT. HGC tolong kau urus semua kelengkapan surat-suratnya" perintah bossku.


Aku hanya menerimanya, dan berlalu membawa berkas.


Perusahaan tempatku bekerja memberikan bonus jalan-jalan. Hari ini kami semua akan pergi ke cottage di pantai Y. Dengan mencarter bus. Ada yang bawa keluarga dan ada yang sendiri.


Tanpa terasa, perjalanan memakan waktu empat jam penuh dengan candaan dan tawa para pegawai.


Sesampainya disana kami bebas menentukan kamar yang mau ditempati. Aku hanya mendapatkan kamar sisa. Bagiku tak masalah. Yang penting istirahat sebentar. Karena sudah disiapkan makan siang.


Koordinator acara memanggilku untuk makan siang. Akupun beranjak dan mengikutinya. Setelah makan adalah waktu bebas, mau istirahat atau melaksanakan ibadah. Pilihanku adalah istirahat. Karena malam ada acara lagi.


Malamnya ....


Semua pegawai ikut acara kuis dengan hadiah menarik berjalan seru juga api unggun. Menjelang malam semua misah dengan acara masing-masing. Sebagian pergi istirahat pun dengan diriku.


Kuambil hp, membuka medsos dan membalas sekedarnya pesan di aplikasi chat. Aku tertidur dengan hp yang masih ditangan.


Dalam keadaan setengah sadar. Aku merasakan ada seseorang didekatku. Suara nafasnya terdengar jelas.


"Apakah jin penunggu cottage ini?" pikirku. Kucoba membuka mataku. Berangsur-angsur penglihatanku jelas.


"Pak Indra ..." teriakku. Seketika dia membungkam mulutku. Aku berontak menepis tangannya, kutendang badannya.

__ADS_1


Aku tak bisa mengeluarkan teriakan, hanya cakaran dan jambakan yang jadi perlawananku.


Tenagaku terkuras tak mampu mengalahkannya.


Kurasakan sakit dan perih dibawah intiku. Seakan ulu hatiku dipukul, rasanya tak bisa bernafas.


Aroma alkohol yang begitu tajam, bersamaan dirinya menjelajahi leherku. Aku terus berontak, tak terima perlakuannya.


Aku merasakan sakit yang teramat dalam disetiap gerakannya.


Hingga terdengar erangannya bersamaan tubuh yang tersungkur diatasku dengan nafas tak beraturan, perlahan bergeser disampingku.


Aku menahan segala sakit. Tubuh dan hatiku terasa sangat sakit. Air mataku tak bisa ditahan. Aku tau apa yang terjadi, apa yang hilang dari diriku. Badanku sakit seakan remuk.


Kulihat pak Indra tertidur, dengan memaksakan sisa tenaga, kutarik selimut. Aku masih ketakutan, tak ada rasa kantuk, kupandangi terus dia, agar tidak mengulangi lagi.


Cukup lama kumenunggu pagi, rasanya seperti bertahun-tahun lamanya. Kemudian kulihat dia bergerak dengan mata terbuka.


Pandanganku tak lepas dari dirinya. Dia melihatku dan menatapku. Dia tau amarahku.


"Vina ..." suara seraknya memanggil namaku. Aku merasa muak namaku disebut olehnya.


"Kenapa kau lakukan ini?" aku menuntut jawaban.


Tak ada kata-kata, dia beranjak mengambil pakaiannya melihat noda merah di kasur dan memandangku sesaat, sampai akhirnya dia memakai pakaiannya, kemudian pergi berlalu.


Aku terpaku dan terguncang. Berusaha bangkit dan mengunci kamar. Terduduk lemah dan menyesali kejadian malam tadi.


Sayup-sayup terdengar aktifitas diluar kamar.


"Aku harus bagaimana?" bisikku.


Kubangkit menuju kamar mandi, menangis sejadi-jadinya dibawah kucuran air shower. Aku jijik pada diriku sendiri, kugosok semua tubuhku hingga terasa perih. Tapi rasa jijik ini tidak hilang. Membuatku semakin menangis.


Satu jam lebih aku mengasihani diriku sendiri di kamar mandi.


Kupakai pakaian ganti yang kubawa.


Merapikan diriku seakan tak ada kejadian apa-apa. Akupun berkemas.


Kubungkus seprei dan pakaianku semalam, membawa ke tempat pembakaran sampah yang kemarin kulihat. Ku bawa korek yang selalu menemaniku. Ku bakar semuanya, seakan semua kejadian malam tadi juga hilang.


Ku beranjak sebelum ada yang menyadari ulahku. Karena aku tak punya jawaban.


Setelah sarapan, semua berkumpul untuk kembali pulang. Akupun berbaur seperti biasanya. Semua kutahan ... Jangan ada kejanggalan.


Pria itu ... Indra adalah atasanku. Entah pidato apa yang diucapkanmya, rasanya tak terdengar olehku. Lalu terdengar tepuk tangan, dan semua menuju bus pariwisata.

__ADS_1


Selama perjalanan aku hanya terdiam. Pandanganku kosong. Tak ingin mengingat kejadian malam tadi.


\=\=\=


__ADS_2