Surat Perjanjian

Surat Perjanjian
Bab.24 Kejujuran Yg Menyakitkan


__ADS_3

makasih atas jejak komenya, like dan vote 🙏


Paginya


Ku sudah bersiap menuju dapur membuat sarapan roti di meja, kulihat Iwan sudah keluar kamar dan matanya terfokus pada Alang yang masih tidur di sofa.


Aku hanya melirikknya dan kembali membuat sarapan.


"Bangunkan dia, waktunya sarapan" kataku singkat, sambil mengunyah roti dan susu yang kubuat. Iwan hanya terdiam salah tingkah.


Kuselesaikan makanku dan pamit ke Iwan "Wan, gw mau pulang dulu. Mau mantau urusan toko dan keadaan rumah. Jaga dia ya" kubergegas pergi keluar.


\=\=\=


Alang POV


Di apartement


Aku masih penasaran soal pernikahan yang kujalani dengan sahabatku sendiri. Hanya Iwan satu-satunya yang pasti tahu semuanya.


"Wan, tolong lu cerita semua ke gua. Bagi gua semua nggak masuk akal banget" ujarku sambil menatap tajam Iwan. Dan mengingat kejadian semalam.


Iwan pun menceritakan semuanya padaku, apa yang telah terjadi sampai aku menikahinya. Aku terperangah mendengarnya.


"Kenapa gua kayak begitu, harusnya gua menolaknya. Walau bagaimanapun bukan urusan gua. Soal kemanusiaan bukan begini caranya".


\=\=\=


Vina POV


Indra menelponku, terlihat namanya dilayar hape ku.


"Ada apa lagi Ndra?" tanyaku langsung.


"Gua masih gak terima keputusan lu, gua punya hak atas anak yang lu kandung..!" katanya dengan geram.


"Urusan kita udah selesai, jangan lu campuri urusan pribadi gua. Cukup sampe situ..! kataku tegas.


"Gua harus ngomong sama suami lu, bahwa gua akan tanggung jawab..!!" bentaknya sambil menutup panggilan.


Aku bergegas kembali ke apartement, Indra tidak tahu kondisi Alang yang hilang ingatan, aku tak ingin membuatnya lebih sakit.


\=\=\=


"Hallo, Alang?" tanya suara diseberang telpon.


"Iya ini gua, siapa ini?" tanya Alang balik.


"Gua Indra, gua harus ngomong penting sama lu, gua lagi jalan ke tempat lu" katanya dan menutup panggilan.


.


.


Iwan melihat Indra di lobi, "Aku harus mencegahnya" pikir Iwan cepat. Tapi terlambat, pintu lift sudah tertutup.


Tanpa pikir panjang, Iwan langsung menuju tangga.


.


.


Alang membukakan pintu, setelah mendengar suara bell. Keduanya saling memperkenalkan diri, kemudian terjadi perdebatan.


Iwan terlambat, keduanya sedang adu mulut, Indra di lorong depan pintu dan Alang didekat pintu kamar apartement.


Iwan menoleh saat Vina sampai dengan nafas terengah-engah berlari, dan cemas memikirkan apa yang akan terjadi.


"Karna saat itu gua kasian, pikiran gua jadi bodoh, harusnya gua laporin lu kepolisi, jeblosin ke penjara atau maksa lu menikahin Vina" teriak Alang pada Indra.


"Kalo lu nggak cinta Vina, ceraikan dia. Gua akan menikahinya...!!!" balas Indra berteriak.


"Ok, gua akan....."


" TUAAAANNN..!! teriak Iwan memotong ucapan Alang. Sambil menoleh kesamping, arah Vina berada.


Keduanya menoleh pada Iwan, Alang maju selangkah untuk mengikuti arah pandangan Iwan. Terlihat Vina yang juga ada didekat sana. Mendengar semua pertengkaran tersebut.

__ADS_1


Seulas senyum Vina terlihat dipaksakan. Melangkah mundur, berbalik dan pergi. Mengepalkan tangannya, menahan air mata yang sudah tergenang agar tidak tumpah.


"Viiiinnn..." Indra berlari menyusul Vina, Alang yang akan menyusul tertahan oleh tangan Iwan.


"Waaannn" nada putus asa terdengar jelas.


"Kita pikirkan jalannya tuan" katanya singkat.


\=\=\=


" Viiiinnn, Vinaaa" panggil Indra mengejar sambil mengejarku di lorong apartement. Aku tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilan Indra. Kami berada di dalam lift yang sama.


"Vin, kasih gua kesempatan, gua nggak akan sia-sia in lu" rajuk Indra sambil memegang tanganku, ku tepis tangannya.


Pintu lift terbuka, aku bergegas keluar tanpa mempedulikan Indra yang mengikutiku.


"Vin..!" Indra menarik tanganku kasar menarik kesadaranku.


"Apa Ndra?" tanya ku lembut.


"Lu mau kemana, gua anterin".


"Gua mau menyendiri, tolong jangan ikutin gua lagi" mohon ku.


"Sejak lu paksa gua dalam hidup lu, hidup gua berantakan"


"Gua mau perbaiki Vin, gua tanggung jawab semua hidup lu yang gua berantakin".


"Gua mau ke mall, anter gua kesana" ujarku yang diangguki Indra.


Kami bergegas menuju parkiran, dan Indra mengantarku ke Mall Dyvette.


Indra ikut masuk ke mall denganku.


"Ngapain ke mall?" tanya Indra


"Nonton" jawabku singkat


"Nonton..?!" Indra heran dengan jawabanku.


"Kenapa ?" tanyanya lagi.


Kami pun antri untuk beli tiket nonton.


Aku tertawa-tawa melihat film komedi yang sedang tayang. Indra duduk disampingku hanya diam. Tidak menikmati pertunjukan dilayar besar.


"Ndra, gua ke toilet dulu bentar" ucapku sambil menitipkan popcorn ditanganku.


"Iya" menerima popcorn yang kutitipkan.


Aku menuju pintu keluar. Kearah toilet, dan menuju bioskop kembali. Arah lift parkiran basement langsung.


Melalui tangga parkiran basement aku keluar mall dan memberhentikan taksi. Memintaku menuju rumahku.


\=\=\=


Di rumah


Kedua ART ku terkejut melihat aku datang sendiri.


"Nyonya nggak sama tuan?" tanya bi Mun.


"Nggak bi, suami saya masih sakit. Biarin aja sembuh dulu, baru kesini"


"Udah makan nyah?"


"Belum bi" ujarku


"Bibi siapin makan dulu"


"Iya bi, makasih. Saya bersihkan badan saya dulu" aku menuju ke kamar.


Ku pergi ke ruang makan "Bi... temani saya makan" pintaku. Bi Mun menemaniku makan, sesekali bercerita kondisi toko aku hanya mengangguk dan tersenyum.


Setelah makan, aku kembali ke kamar. Membaringkan tubuhku yang terasa sangat lelah.


Bunyi dering panggilan masuk mengagetkanku. Kulihat nama yang tertera di layar ponselku.

__ADS_1


"Indra" gumamku, "dari mana dia tau nomor baruku?"


"Hallo Ndra" sapaku


"..."


"Tadi gua ada urusan mendadak, jadi buru-buru. Sori ya"


"..."


"Udah dulu ya, gua masih ada urusan" langsung ku putuskan sambungan telpon.


Kulihat ada 27x panggilan tak terjawab dari Alang, 40x panggilan dari Iwan, 6x panggilan dari Indra.


Dan banyak pesan yang tak ingin kubaca.


\=\=\=


Alang POV


Aku tak menyangka, pria yang menghamili Vina berani datang menemuiku. Mengintimidasi seakan aku adalah orang ketiga diantara mereka. Memuakkan.


Siang tadi aku tak bisa menahan emosiku. Aku tak menyangka, Vina mendengarkan perdebatan kami.


Aku menelponnya untuk meminta maaf tapi tidak diangkat.


"Wan, apa aku menyakitinya lagi?" asaku hanya meminta bantuan Iwan.


"Jika Vina memilih bersamanya setelah hari ini, aku akan merelakannya.


"Tuan akan menceraikan nyonya?"


Alang tercekat mendengar pertanyaan Iwan.


"Aku tidak pernah memikirkan untuk menceraikannya..."


"Membayangkan mereka bersama, membuatku sakit"


"Jangan mengatakan hal yang tuan sendiri tidak tau" sambil memberikan rekaman CCTV dari apartement dan CCTV pengawas jalan sampai mall yang didatangi Vina.


Kota Dyvette bekerjasama dengan anak perusahaan Alang dalam bidang CCTV kota itu. Semua bagian dari publik dibawah monitor perusahaannya.


"Kemana mereka mereka pergi?" tanya Alang


"Mall Dyvette tuan" jawab Iwan sambil mempercepat gerakan rekaman video.


"Untuk apa mereka kesana?" Alang semakin tertarik mengetahuinya. Ada sedikit rasa cemburu didadanya.


"Mereka nonton ke bioskop tuan"


Aku menghela nafas, semakin putus asa.


"Tampaknya, mereka akan bersama Wan, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ikatan pria itu lebih kuat daripada ikatannya dengan ku"


"Nyonya Vina meninggalkannya didalam gedung bioskop tuan" sambil menunjukkan rekaman video CCTV ke Alang.


Alang semakin tertarik melihatnya.


"Kenapa Vina meninggalkannya?" menuntut jawaban pada Iwan.


"Saya tidak tau pasti tuan"


"Pergi kemana lagi Vina?" tanya Alang yang semakin penasaran.


"Pulang ke perumahan Dyvette" mendengar itu, perasaan Alang sedikit lega.


"Apa langkah kita berikutnya Wan?" harap Alang mendapatkan solusi.


"Datangi nyonya, minta maaf darinya" Iwan berkata sambil menghela nafas.


\=\=\=


Paginya...


Kulihat diriku yang terpantul di cermin. Ku poles sedikit bibirku dengan warna peach.


Ku oleskan 2 tumpuk roti dengan selai kacang dengan lahapnya, mengambil susu yang ada di dapur. Ku lihat kedua ART ku sedang sarapan juga.

__ADS_1


"Makan yang banyak ya bi, biar gak sakit" kataku sambil tersenyum dan mengambil gelas berisi susu. Keduanya hanya mengangguk tersenyum.


__ADS_2