
Makasih buat reader yang udah sabar, ngasih komen, like, vote dan share nya. 🙏🙏🙏
Minggu pagi
Kuterbangun karena dering panggilan telpon. Bu Ratna tetanggaku mengatakan kalau rumahku ada peminatnya. Dengan angka yang fantastis. Aku tak menyangka. Akupun langsung setuju. Aku senang sekali.
"Terima kasih bu. Nanti fee-nya saya tambah"
"Gak perlu neng. Kita saling menolong aja."
"Gak apa-apa bu"
"Ya sudah, terserah neng aja. Saya tutup dulu. Mau masak dulu. Udah kesiangan"
"Iya bu, makasih ya ..."
Panggilanpun kumatikan. Sudah pukul 10 siang. Kuberanjak mandi, dan lalu mencari Alang tuk mengabarkan hal ini. Im so excited.
Kucari di ruang keluarga, ke kamar lain juga tidak ada. Kuhubungi telponnya. Suaranya ada di sofa.
"Tumben gak bawa hape" pikirku.
Kulihat rak sepatu, hanya sendalnya yang tidak ada. Apa mungkin keluar cari makan. Atau belanja di market bawah.
Akhirnya kuputuskan untuk mencarinya.
Aku terkejut dengan apa yang kulihat.
Tidak mungkin ini terjadi.
Jantungku berdebar-debar melihat Alang dengan seseorang yang kukenali.
Hatiku sangat sakit.
Kubersembunyi ditempatku berdiri.
Berharap mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Untuk apa kau datang. Kau tau kalau aku sudah menikahinya?" geram Alang.
"Aku tak bisa bisa melepas orang yang kusayang begitu saja"
"Ch, sayang? Kau menyakitinya!"
"Pergilah, biarkan dia tenang, dan aku yang akan membahagiakannya"
Sambil Alang menahan pintu lift.
"Apa kau tau kalau dia ..."
"Aku tau semua! Dan aku tidak keberatan!" timpal Alang memotong kalimat Indra.
Aku langsung gemetaran mendengar perdebatan itu. Aku tak ingin mereka saling mengenali. Kututup mulutku agar tak bersuara, beringsut menjauh, bangun dan berlari.
\=\=\=
flashback
Alang POV
Aku bangun lebih dulu dari Vina, dia yang tertidur dipelukanku masih terlelap dialam mimpi.
Aku sudah hafal dengan kebiasaannya terbangun jam 2 pagi untuk minum. Ku hanya mengintip dan pura-pura tertidur, agar dia bisa istirahat lagi.
Semalam dia terbangun tidak hanya untuk minum tapi mencari sesuatu dan merobeknya.
Kupungut sobekan kertas di tong sampah yang dibuang Vina.
Tertera cek lima ratus juta rupiah
Apakah dia sudah melupakan laki-laki itu. Aku tak tau apa alasannya merobek cek ini.
Kutaruh lagi sobekan kertas itu ke tong sampah. Setidaknya aku mengetahui kalau dia tidak menggunakannya.
Setelah mandi dan merapikan diri, akupun membuatkan sarapan roti untuk Vina. Menyiapkan vitamin dan susu untuknya. Ku duduk di sofa dan menyalakan laptop, banyak laporan pekerjaan yang harus kuselesaikan.
Keasikan kerja membuatku lupa membangunkannya, tampaknya dia sudah bangun, karena kudengar suara orang yang sedang mandi, ku berbalik melihat laptop.
Panggilan telpon pun berbunyi.
"Tumben Iwan sudah menelpon pagi-pagi" pikirku heran.
"Laporan apa Wan?"
" ... "
"Tumben kau bercanda. Sampaikan berita baik dulu"
" ... "
"Good. Eksekusi besok. Berita buruknya?"
" ... "
"Kau yakin?" aku langsung berdiri saat mendengar laporan Iwan.
" ... "
"Apakah sudah lama?"
" ... "
"Baiklah, akan kutangani" aku pun bergegas pergi menuju lift. Menunggu tamu yang tidak diharapkan.
Aku sudah mengenali dan mengingat wajahnya dari foto yang tempo hari kuambil.
Tak perlu berbasa-basi, langsung kuperkenalkan aku siapa.
flashback off
__ADS_1
\=\=\=
Kulangsung mengunci kamarku. Berpikir keras apa yang harus kulakukan. Apakah Alang tahu apa yang dia lakukan. Apakah Alang tau ayah bayi ini.
Pikiranku sangat kalut. Aku harus bagaimana. Mencoba bersikap seakan tak terjadi apa-apa.
Kudengar suara pintu. Apakah Alang seorang diri? Atau dengan laki-laki itu.
Aku takut membayangkannya.
"Vinaaaa" Alang memanggilku sambil mengetuk pintu.
"Viiinnn ... Makan siang dulu"
Rasanya dia seorang diri.
"Iya, sebentar" sahutku
Kutempelkan telingaku ke pintu, mencoba mendengar apa yang terjadi di ruang sebelah.
Hanya suara tv, artinya dia sendiri.
Syukurlah. Kubuka pintu dan bersikap biasa.
Alang menoleh padaku.
"Tumben dikunci"
Aku tidak punya jawaban untuk itu, kuhanya ke meja makan dan makan siang.
"Laaaang"
"Hemmm"
"Kapan ambil baju di laundry?"
"Kenapa? Gak sabaran? Pokoknya pilihanku pasti bagus." ucapnya dengan pede lalu menghampiriku.
"Kau juga pilihanku" sambil terkekeh.
"Bukan kau yang memilihku, tapi aku yang mengajukan diri" ketusku.
"Aku sudah memilihmu lebih dulu, tapi kalah cepat denganmu" sambil mencium pucuk kepalaku, tangannya bergerilya mer*m*s dadaku. Kutepuk agar berhenti.
Dia hanya tertawa dan kembali ke sofa.
"Sedang apa?" kutanya Alang yang sibuk dengan laptopnya sambil mencuci piring setelah makan.
"Sedikit kerjaan"
"Oooo"
"Kenapa ? Mau jalan?"
"Nggak, mau disini aja"
"Temani aku disini" sambil menepuk sofa.
"Vitamin dan susu udah?"
"Hemmmm" jawabku singkat.
Dia kembali mengerjakan yang ada di laptop. Sesekali tangannya bergerilya lagi tapi kusentil.
"Kenapa sih? Kan cuma megang" protesnya padaku.
"Yang punya lagi sibuk nonton tv" sungutku. Dia hanya tertawa, kembali sibuk dengan layar laptopnya.
"Mau kemana?" Alang bertanya saat kuberanjak ke kamar.
"Toilet" sahutku sembari berlalu.
Sekeluarku dari kamar mandi Alang sudah membobongku ke ranjang.
Langsung menghujamiku dengan ciuman dan rem*s"n. Dibuka dan dilempar seluruh pakaianku pun pakaiannya. Dia juga tidak membiarkan selimut menutup tubuhku.
Kumerasa ada yang berbeda, ada yang aneh. Apa yang meresahkannya. Apakah karena bertemu dengan Indra. Pikiranku terlintas semua itu.
"Laaang"
"Hemmm"
"Di sofa yuk"
"Kenapa?" sambil menengadahkan wajahnya yang sedang meng*l*m dadaku.
"Pengen aja" Alang memegang tanganku saat aku beranjak pergi.
"Tunggu, tutup dulu tirainya" sambil mengambil remote otomatis tirai. Dia lebih dulu di sofa dan memperhatikanku dengan tersenyum. Aku malu dibuatnya.
Sambil berbisik dia mengatakan.
"Aku suka bentuk perutmu yang sudah terlihat" sambil mengelusnya.
Aku duduk dipangkuannya, ******* bibirnya. Dan memperlakukan seperti yang biasa dia lakukan. Dia tampak terkejut atas sikapku.
"Kamu kenapa beb" tanyanya sambil terus menikmati yang kulakukan.
"Ssshhhh" aku tak punya jawaban. Aku hanya ingin dia tidak khawatir soal Indra. Aku bersamanya tidak kemana-mana. Aku akan melayaninya jangan pikirkan hal yang tidak mungkin.
Aku mendominasi permainan kami kali ini. Hingga dia mencapai pelepasannya, menarikku kepangkuannya dan memelukku.
Nafasnya terdengar tak beraturan seiring dengan gerakan dadanya.
"Aku tak tau ada apa denganmu. Yang jelas aku menyukainya" ucapnya sambil mengatur nafasnya.
"Kau puas?" tanyaku menatapnya.
"Sangat puas" jawabnya manja.
"Mandi yuk, udah sore" kataku
__ADS_1
"Kamu belum beb"
"Perutku sedikit sakit" kataku berbohong.
"Kenapa bisa sakit? Kita ke dokter" ujarnya dengan nada cemas.
"Mungkin karena terlambat makan. Aku tidak sarapan" kucari alasan yang masuk akal.
"Aku lupa membangunkanmu. Maaf" sesalnya.
"Gak pa-pa"
Aku mengajaknya mandi. Membersihkan diri biar segar.
\=\=\=
Setelah makan malam aku menyibukkan diri dengan semua surat-surat rumah yang akan kuserahkan ke notaris.
"Ekheeemm." suara Alang yang ingin diperhatikan membuatku menoleh padanya.
"Ada apa?"
"Sebenernya kamu tadi kenapa?" tampak keseriusan diwajahnya.
"Aku kenapa? Kenapa apanya?" tanyaku dengan mimik heran.
"Itu... Tadi di sofa"
Sembari meletakkan berkas yang sudah rapi ke meja, kuhampiri Alang, duduk dipinggir ranjang.
"Di sofa kamu sibuk dengan laptop, kutinggal tidur" jelasku meyakinkannya.
"Serius beb"
"Aku serius. Emangnya kenapa?"
Dia menarikku tanganku untuk mendekat.
"Jangan becanda..." suaranya terdengar ada kecemasan.
"Justru kamu yang aneh, aku tidur koq dibangunin di kamar mandi"
"Masa' sih itu bukan kamu?"
"Siapa?"
"Di sofa"
"Kamu ngomong sofa mulu, tapi aku gak ngerti kemana arah omonganmu" ujarku kesal.
"Ya udah, aku cerita. Tapi jangan kaget ya..." katanya serius.
"Iya..."
"Beb, kamu kunci dulu pintu kamar"
"Koq tumben minta dikunci. Kan kita berdua doang disini"
"Kali ini beb, tolong kunciin"
Akupun mengunci kamar.
"Udah aku kunci, sekarang cerita ada apa" tanyaku dengan mimik penasaran.
"Tadi sore aku kan kerja pake laptop, kamu makan siang. Terus ikut ke sofa, rebahan di paha aku" sambil menepuk pahanya sebelah kanan.
"Lalu?"
"Kita bercumbu di kamar, tapi kamu minta di sofa. Ini aja udah aneh kan?"
"He eh, aneh"
"Terus kamu yang agresif"
"Masa' sih aku begitu?"
"Makanya, aku juga heran. Aku mau balas agresif, kamu nolak"
Aku langsung masuk kedalam selimut, dan memeluknya. Alang menepuk punggungku agar aku tidak ketakutan.
"Kamu yakin itu aku?"
"Sekarang jadi gak yakin" gumamnya.
"Kenapa sekarang jadi gak yakin? Tadi katanya suka aku yang begitu, katanya puaaasss" godaku sambil tersenyum.
Wajahnya berubah kesal.
"Kalo becanda jangan begini beb" melepaskan pelukannya dan memunggungiku.
"Diiih, ngambeknya jelek banget siih"
Aku memeluknya dari belakang, menciumi punggungnya.
"Ya udah deh, lain kali aku gak agresif lagi kalo kamu pikir aneh"
Sambil melepaskan pelukanku padanya.
Diapun berbalik, dan memelukku erat.
"Bukan soal agresif kamu beb, tapi kamu gak ngaku agresif di sofa itu yang bikin aku down"
Akupun tak dapat menahan tawaku lagi.
Dia mencolek pinggangku, aku memukul tangannya. Karena kegelian dengan colekannya.
"Udah ahhh bobok. Capek ketawa mulu, gigi kering"
"Pokoknya jangan becanda kayak gini lagi. Aku gak suka"
"Iyaaaa, iyaaa" sahutku.
__ADS_1
\=\=\=