
Author mau ngebut, biar para reader mengisi waktu senggang dengan bacaan. Makasih jejak komennya, like, dan votenya. God Bless You all 😘😘
Hari ini aku sudah membuka toko di garasiku, kugeser pintu pagar rumah, kupasang spanduk bertuliskan :
"Toko Pakaian Vina & Debay"
Aku tersenyum bangga dengan hasil kerja kerasku, walau belum berjalan seperti yang kuinginkan.
Sudah ada beberapa pembeli. Lumayan buat penjual amatiran sepertiku.
Aku juga berjualan lewat aplikasi online, jadi tokoku sebagai showroom + gudang.
Jika di toko online, aku sebagai modelnya.
Ku posting dimedsos ku juga.
Aku harus berpikir banyak peluang untuk memasarkan usahaku.
"Selamat sore bu Vina" sapa pak Andi padaku.
"Ehhh sore juga pak Andi, silakan masuk" sapaku
"Waaah usaha pakaian bu?"
"Iya pak baru merintis, silakan lihat-lihat mungkin bapak berminat untuk beli pakaiannya" rayuku pada konsumen meluncur dengan indah.
Pak Andi melihat beberapa pakaian batik couple, dan pakaian lainnya.
Pak Andi pun membeli beberapa pakaian. Akupun tersenyum dengan puas.
"Hanya ini saja pak?" tanyaku sebagai penjual
"Iya bu, kalau menuruti kepengenan, semuanya saya mau, tapi dompet nanti manyun" candanya yang kubalas dengan tertawa.
"Ini belanjaannya, terima kasih ya pak, jangan bosan mampir untuk lihat-lihat juga nggak apa-apa"
"Anu bu Vina, ada yang mau saya bicarakan"
"Bicara apa pak?" tanyaku penasaran.
"Begini... Saya lupa kalau ada fasilitas yang diberikan ke pembeli jika beli rumah cash dan nilai sekitar 2M" aku hanya mendengarkan penjelasannya.
"Fasilitas 2 ART selama satu tahun"
"Nggak kebanyakan tuh pak? 2 ART dan 1 tahun?"
"Sudah kebijakan kantor saya bu. Mana berani saya membantah"
"Begitu yaaa... Kira-kira kapan mereka akan datang? Saya harus menyiapkan tempat mereka istirahat dan lain-lain"
"Besok mereka datang dan ibu nggak usah siapin apa-apa, semua sudah dipersiapkan kantor".
"Waduuuuh, apa nggak rugi kantor pak Andi?"
"Itu urusan atasan saya bu, saya cuma menjalankan tugas"
"Baiklah pak, silakan mereka datang".
"Lumayan juga ada fasilitas ART , untuk menemaniku dan teman ngobrol" bisikku.
\=\=\=
Flashback
Alang POV
Aku memasuki rumah itu kembali, kulihat beberapa barang yang sudah dibeli. Kuperiksa kulkas yang belum dipasang listrik karena tidak terisi.
Nasi hangat, rak piring yang sudah tertata. Sampah kulit telur..!
"Shiiit" lemari kitchen set berderit kasar. Tak berapa lama, Iwan datang membekap mulutku bersembunyi disamping kulkas yang jika terbuka akan terhalang pintu.
Benar saja, terdengar suara pintu kamar dibuka, artinya Vina keluar dari kamarnya. Akhirnya pintu dapur ada yang membuka, semoga Vina tidak melihat persembunyian kami. Dia akan sangat marah lebih parah dari sebelumnya.
__ADS_1
Dia membuka-buka lemari kitchen set satu persatu, meyakinkan apa yang didengarnya tadi. Ada celah yang bisa kulihat dari belakang garis pintu, jadi aku bisa memperhatikan apa yang dilakukannya.
Setelah dirasa keadaan aman, aku dan Iwan bergegas keluar rumah. Khawatir Vina akan memergoki kami.
"Apa yang tuan pikirkan?" setelah kami didalam mobil.
"Dia butuh ART untuk membuatkan makanan bergizi dan membantu usaha di tokonya"
"Laksanakan" Iwan menalar yang kumaksudkan.
"Jangan lupa memberitahu mereka, kita datang setiap malam".
Flashback off
\=\=\=
Aku terbangun dengan terkejut karena merasakan nafas yang panas dileherku. Kuberbalik tuk melihat siapa yang tertidur disampingku.
"Alang...!!" Pekik ku terkejut aku bangkit dan menarik tangannya untuk bangun.
"Alaaang, bangun. Jangan tidur disini..!"
"Heeey, banguuuunnn" aku terus menariknya, tapi dia tetap tertidur.
Kurasakan tangannya panas, kuperiksa kening dan lehernya.
"Dia demam? Untuk apa lagi dia kemari"
Kupanggilkan ART dirumahku untuk membantuku membawanya ke RS.
"Bi Mun, bi Sri" panggilku dari bawah tangga dekat dapur.
"Iya nyah" sahut bi Mun
"Bantu saya angkat suami saya ke taksi, saya mau bawa ke RS" pintaku
"Iya nyah" bergegas dia menyusulku ke kamar.
"Ayo bi" pintaku
"Heeey, bangun, melek dulu" sambil kutepuk pipinya.
"Hemmmmm" sahutnya
"Bangun yuk" bujuk ku
"Nyah, saya ambil kompres dulu ya. Biar tuan sadar" segera bi Mun pergi mengambil kompres.
"Laaang bangun, kamu sakit. Kita pergi ke RS"
"Nggak usah, aku cuma kurang istirahat"
"Iiihh bandel banget sih kalo dibilangin" gerutuku kesal.
"Ini bu" sambil menyodorkan baskom air. Dan pergi menutup pintu kamarku.
Ku ambil 2 washlap di lemari kamar mandi. Kubasuh wajahnya dan mengompres keningnya.
Kubuka sepatu dan bajunya lalu membasuh badannya yang terasa panas.
kuminta dibuatkan bubur oleh bi Sri.
Kembali lagi ku kekamar, mencari hape nya untuk menghubungi siapa saja yang mengenalnya.
"Iwan" gumamku
Kuhubungi nomornya langsung.
"Ya tuan" aku merasa aneh, kenapa Alang dipanggil tuan olehnya. Hubungan apa yang mereka miliki.
"Aku bukan tuanmu, aku Vina. Dan tuanmu ada disini sedang sakit. Sebaiknya kau bawa dia ke RS karena aku bukan perawat apalagi dokter' omelku langsung.
"Baik nyonya" kulangsung mematikan telpon setelah mendengar jawabannya.
__ADS_1
"Iseng aaaah" kubuka gallery hp nya, terlihat foto-foto saat kami dipantai Dyvette.
"Dia menyimpannya? Harusnya kau menghapus semua yang berhubungan denganku, hargai istri barumu" bisikku.
"Kubantu buang yaaaa. Sebentar, aku gak punya ini semua, kamu kok punya, curang".
Delete folder ?
☑ Yes
⬜ No
Done
Kutaruh lagi hpnya setelah mendengar ada ketukan dipintu. Kuyakin itu soulmate anehnya... Iwan.
Kubukakan pintu dan menyuruhnya membawa Alang ke RS.
Iwan terkejut dengan penampilan Alang, tanpa memakai baju.
"Heeeey jangan mikir macam-macam, aku hanya membersihkan badannya"
Iwan segera mengangkatnya.
"Badanku sakit Wan, jangan digerakkan" ujarnya dengan suara yang parau. Iwan melirikku dengan tatapan meminta belas kasihan.
"Kau cari dokter untuknya, suruh dateng dan periksa dia"
Iwan mengeluarkan hp nya, dan menghubungi seseorang bernama tuan Niko. Aku bingung dengan dunia mereka, tuan Alang, tuan Niko, entah tuan manalagi.
"Saya tunggu dokternya diluar saja nyonya" pamit Iwan langsung pergi.
Kutinggal pergi mandi, lalu ke dapur mengambil bubur nasi untuknya.
"Toko dibuka atau jangan nyah?" tanya bi Sri.
"Buka aja bi, kalian bantu saya jaga toko hari ini, saya jaga suami saya".
Aku biasanya memanggil mereka untuk menemani ngobrol, kalau melayani pembeli aku sendiri yang turun langsung.
" Bagaimana kusuapi dia, jika membuka mulut saja susah" bisikku.
"Kutunggu dokternya saja" sambil kuganti kompres ulang.
Dokterpun masuk ke kamar ku, yang memang kubiarkan pintunya terbuka.
Dokter Niko memeriksa keadaannya, dan akan mengirim perawat untuk memberikan infus serta obat yang harus Alang makan.
"Sakit apa dok?" tanyaku serius
"Kecapean menahan rindu" sambil terkekeh menjawabku sekenanya.
Aku hanya cemberut menanggapi jawabannya.
"Tolong jaga pasien saya, biar cepat sehat. Saya khawatir pasien saya tidak lama lagi. Tolong berikan waktu terakhir dan terbaik untuk pasien saya" ujarnya dengan pandangan datar. Aku terkejut mendengarnya, jantungku rasanya turun diperut.
"Serius dok?" tanpa menjawabku, dia langsung berlalu pergi. Aku melirik Iwan dengan tanda tanya besar.
Iwanpun ikut menyusul dokter tadi, dan membicarakan tentang keadaan Alang, tapi percakapan mereka tidak terdengar jelas.
"Laaaang banguuunn, makan bubur dulu yuk" pintaku memohon.
Akhirnya Alang memakan bubur, setelah kusuruh Iwan menyuapinya, karena aku tidak tau cara menyuapinya. Dan perawat pun sudah meng-infusnya dan menyerahkan obat untuk diminum.
"Mau kemana Wan?" tanyaku saat kulihat Iwan akan pergi.
"Saya harus balik ke kantor nyonya. Permisi" dia berlalu tanpa bisa kugugat.
Aku lupa sarapan, dan perutku sudah berdemo. Setelah makan kuhampiri garasi dan menyuruh bi Mun dan bi Sri makan dulu, biar saya yang jaga toko. Sambil ku buka-buka buku penjualan toko dalam minggu ini.
Kedua ART ku akhirnya kembali menjaga toko, dan aku kembali ke kamar.
Menjelang sore, Iwan mampir datang untuk menyerahkan pakaian ganti Alang.
__ADS_1
\=\=\=
Makasih buat para reader. kita lanjut next bab yaaaa....