
"Saatnya berkemas" kuambil travel bag yang lumayan besar ukurannya.
"Pakaian kerja, santai, tidur. Peralatan mandi, kosmetik" semua seudah beres.
"Laper ..." kulihat jam baru pukul 8 pagi. Kumengecap lidahku, "Ingin sarapan apa. Bubur ayam sepertinya enaknya" segera kukeluar dan beli bubur di tempat pangkalan biasa.
"Bang, buburnya 1 jangan kasih kacang, sambelnya pisah. Bungkus ya" kulihat dengan sigap kang bubur menambahkan wadah untuk melayani pesananku. Setelah siap kukembali pulang dan memakan sarapanku.
"Apa dokumen itu kubawa ..." pikirku seketika.
Kuselesaikan sarapanku, lalu merapikan dokumen perjanjian dalam satu amplop plastik folder ijazah sekolahku.
Kuperhatikan sekeliling kamarku. Sambil mematik api tuk menghisap rokokku. Kualihkan perhatianku pada medsos dan aplikasi chat.
Medsos dunia tanpa beban. Semua postingan hanya seputar candaan dan sindiran. Aku memilah pertemanan seperti itu. Kami saling ejek dengan candaan yang sudah dipahami. Hanya beberapa orang yang mengenalku dekat.
Kubuang kembali rokokku yang rasanya aneh. Gak enak dilidah. Kopi pun terasa bikin kesal. Entah kenapa.
"Aku sedikit demam" kuperiksa leher dan keningku, telapak tanganku juga agak panas.
"Nantilah, sehabis makan siang minum obat" kembali aku bermalasan, hanya membaca medsos. \=\=\=
Sudah beranjak siang. Kubangkit untuk mandi. Kalau nggak kerja mager banget, sekalipun untuk mandi.
Kukeringkan rambutku yang berjuntai panjang, kuikat asalan model gempol. Dengan kaos oblong dan jeans sedengkul kupergi ke rumah makan dekat rumah.
"Bungkus satu pakai ayam bakar" pintaku. Tiba-tiba kepalaku pusing karena aroma nasi dan mual. Aroma nasi membuatku kesal tak keruan. Buru-buru aku keluar. Menetralisir udara. Setelah pesananku selesai baru kuambil dan pergi ke apotik beli obat demam.
Sesampainya di rumah, kupaksakan makan untuk mengganjal perut sebelum minum obat.
"Pokoknya makan nasi sebelum minum obat" itu pikirku.
Dengan menahan rasa mual dan kekesalan kuselesaikan makanku 4 suapan lalu minum obat. Kurebahkan tubuhku sambil main hp. Tertidur pulas karena efek obat.
Kuterbangun disore hari, karena suara dering panggilan hp. Kubaca layar yang tertera.
"Indra" bisikku dalam hati.
"Sore pak Indra. Ada apa ya?" kujawab dengan suara serak bangun tidur.
" ... "
"Saya pergi besok. Semua sudah saya siapkan. Jangan kuatir."
" ... "
Kututup panggilan telpon. Dan beranjak mandi.
"Dingin banget. Mandi koboy aja"
Buru-buru kuselesaikan mandiku.
"Tadi demam, sekarang meriang. Apa ke dokter aja" kupertimbangkan hal itu, karena besok aku jalan ke luar kota. Kurapihkan diriku, dan bersiap ke klinik setempat.
Setelah ambil nomor antrian, kutimbang berat badanku. "Stabil"
Tidak banyak antrian yang terlihat. Giliranku masuk setelah namaku panggil. Kusebutkan keluhanku, dan kini kubatuk juga.
"Haaaa test urine" aku tercengang.
Kuturuti permintaan dokter. Akupun ke toilet dengan tube bening yang diberikan. Kuserahkan dan keluar ke ruang tunggu.
Pikiranku was-was, tapi kutepis semua. Tibalah namaku dipanggil. Kududuk kembali di depan meja dokter. Tanganku mendingin karena cemas. Kudengarkan dokter mulai bicara.
"Bu, ini garisnya dua, ibu positif hamil ya. Sekalian saya kasih resep obatnya. Minum dengan rutin. Ibu ke bagian apotik dulu" ucapnya sambil merobek kertas dan merobek hatiku.
Aku terguncang, rasanya tidak siap untuk mendengar.
Aku melangkah dengan tegang menyerahkan resep, dan ke kasir.
Terduduk lemah. Rasanya ingin marah dan teriak.
Setelah selesai ambil obat, aku bergegas pergi pulang.
Kuhubungi sobatku.
"Bang ... Gue hamil" kataku langsung.
"Emangnya lu udah nikah"
"Belom"
"Gila lu ya."
"Gmn dong bang"
"Minta dia tanggung jawab"
"Ogah"
"Diiih. Lu gimana sih. Terus gua yang tanggung jawab?"
"Ho oh"
__ADS_1
"Saklek lu ya. Bisa ngamuk bini gua"
"Bantu gua bang"
"Bantu apa? Ngomong sama tuh laki?"
"Gak lah. Nikahin gua bang. Cuma nikah, gua gak minta apa-apa"
"Setress lu"
"Tega lu sama gua"
"Bodo amat"
"Lu mah aneh, lu mau ng*w* nya tapi gak mau nikahnya"
"Etdah ... Omongannya. Dah dulu, gw mau urus yang laen"
Kututup telpon.
Kurahasiakan yang terjadi. Kalaupun kucerita, ada yang tetap kusembunyikan.
Kutelpon temanku yang lain. Kutau dia menyukaiku. Tapi tak pernah kugubris. Aku trauma dengan perselingkuhan mantanku. Ditambah yang dilakukan Indra. Membuatku tak ingin punya hubungan dengan laki-laki, hanya akan sebatas pertemanan.
"Alang apa kabar?" setelah panggilan diangkat.
"Baek. Lu apa kabar?"
"Kacau balau"
"Dih ... Kenapa lu"
"Gua mau nikah"
"Oooo ... Sama siapa?"
"Sama lu"
"Kacau lu"
"Iya kacau, kalo lu gak mau nikah sama gua"
"Mabok apa sih lu. Kayaknya enak banget"
"Bantu gua, nikahin gua. Gua gak minta apa-apa"
"Lu nelpon tiba-tiba, omongan lu kayak gini. Waras gak sih lu"
"Ya udah, kita ketemuan"
"Besok gua pindah kerja ke luar kota"
"Lu mah dadakan banget sih. Bikin pusing aja"
"Gua kirim shareloc. Gua tunggu gak pake lama"
Kututup panggilan telpon. Dan mengirim share loc. \=\=\=
Alang pun datang dengan wajah sewot langsung duduk di sofa.
"Lu tau gak ini udah jam berapa?"
Sambil nunjukkin jam di layar hp nya.
"Ini urgen Alaaaaang, klo gak urgen gak akan gua paksa" sambil menaruh minuman di mejanya.
"Dah jangan pake basa-basi. Langsung aja"
"Ternyata ngomong ditelpon lebih mudah daripada langsung. Jantung gua berdebar kencang" kata hatiku.
"Kenapa diem. Katanya mau nikah sama gua. Ngebet banget kayaknya" sambil terkekeh pede meneguk air minum yang kuberikan.
"Gue hamil."
Byuuurrrr
"Jorok lu." sambil kuserahkan tisu.
"Parah lu ya, enaknya sama yang laen. Gua yang nanggung" umpatnya kesal.
"Cuma nikahin doang. Gua gak minta nafkah lain-lain"
"Kemana tuh laki-laki?"
"Jujur, gua gak mau bahas" ucapku sambil menunduk.
Kami pun terdiam, dengan pikiran masing-masing.
Kuambil pematik untuk menyalakan rokok.
"Lu lagi hamil, jangan ngerokok lagi" umpat Alang sembari menarik rokok dari mulutku.
__ADS_1
"Iya ..." sejujurnya aku lupa akan kondisiku.
"Lu pindah kerja karna laki-laki itu?"
Kuhanya menggangguk.
"Apapun pertanyaan lu, gua sulit menjawab. Karna yang gua pikirin saat ini kondisi gua. Bukan ego gua doang, tapi buat legalitas anak gua nanti" jelasku beralasan.
"Laaang ... Gua gak minta apa-apa. Materi maupun yang laen. Lu boleh punya cwe laen. Lu tetep dikota ini, gua di kota laen. Gua minta status sampe anak gua lahir doang"
"Lu udah minta dinikahin ke siapa aja?"
"Bang Agus, terus elu"
"Njiiirrr gua cadangan" sambil terkekeh.
"Jadi gimana, lu mau nikahin gua gak?"
"Kalo gua gak mau gimana?"
"Ya udah, gak pa-pa. Nanti gua pikirin yang lain" sambil ku mengangguk pelan.
"Ya udah, sono pulang. Tapi jangan bilang siapa-siapa soal ini yak"
"Tega banget lu ngusir calon suami"
"Haaaah ... "
"Daripada lu aneh-aneh lagi. Mending gua nikahin aja"
"He ... he ... he ..." cengirku
"Puas ... Puas ..."
"Bentar yak" aku masuk ke dalam kamar mengambil dokumen yang sudah kusiapkan.
SURAT PERJANJIAN NIKAH
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Vina Putri
Pekerjaan : Karyawati
Alamat : - -
Selanjutnya disebut PIHAK I,
Mengadakan kesepakatan dengan :
Nama : Alang Asmadi
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : - -
Selanjutnya disebut PIHAK II,
Dalam rangka menyelesaikan masalah Vina Putri sebagai PIHAK I sepakat dengan Alang Asmadi sebagai PIHAK II untuk menikahi PIHAK I.
Kedua pihak menyetujui isi kesepakatan yaitu :
Dalam rangka menyelesaikan masalah Vina Putri sebagai PIHAK I sepakat dengan Alang Asmadi sebagai PIHAK II untuk membantu secara kekeluargaan dimana kedua belah pihak mengadakan kesepakatan yaitu :
Pasal 1
Dalam melakukan perjanjian damai ini, kedua belah pihak tidak ada yang merasa ditekan oleh pihak manapun.
Pasal 2
Pihak I bersedia membayar biaya hidup sejumlah Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) setiap bulan kepada Pihak II.
Pasal 3
Pihak II sepakat untuk merahasiakan sebab pernikahan.
Pasal 4
Pihak I tidak boleh menuntut apapun ke pihak II.
Pasal 5
Pihak I berhak menuntut pihak II bila dikemudian hari pihak II melanggar kesepakatan ataupun sebaliknya
Pasal 6
Perjanjian ini berlaku sejak ditanda tangani oleh kedua belah pihak, yang artinya sudah tidak ada masalah apapun dan tidak akan ada tuntutan apapun dikemudian hari, baik dari pihak I kepada pihak II ataupun sebaliknya.
Demikian perjanjian ini dibuat atas kesadaran dari kedua belah pihak, semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Xxxxx, Desember 20xx
Pihak I Pihak II
__ADS_1
Indra Saputra Vina Putri
.