
Selama perjalanan aku hanya memikirkan hal ini. Karena setiap kuhubungi Vina, dia tidak pernah ada respon balik.
Sesekali kulirik Iwan di depan kemudi, dia terlihat begitu tenang. Kupikir dia akan gelisah.
Sesampainya di alamat tujuan. Kuperhatikan rumah ini dengan seksama. Semuanya terawat dengan baik.
Ku keluarkan kunci yang sudah kupegang. Membuka pintunya dan masuk. Melihat sekitar ruangan tamu.
Aku mengenali ruangan ini,
"Aku pernah kesini, dulu sekali" lirihku
.
.
"Perasaan apa ini... Rasanya hal yang lucu dan berkesan pernah terjadi disini" bisik ku perlahan.
Lalu kuberjalan menuju ke dapur, kemudian masuk kamar Vina.
\=\=\=
Kembali ke ruang tamu, ku duduk dan bersandar pada sofa.
Ada kedekatan yang tidak bisa ku tuliskan dengan kata-kata, hanya dapat kurasakan. Kehangatan.
"Kenapa ada perasaan emosional padaku, apa yang pernah terjadi antara aku dan Vina?" pertanyaan ini selalu berputar dikepalaku.
"Duduklah disini Wan..." ku lirik Iwan yang hanya memperhatikan ku dari kejauhan.
Iwanpun duduk disampingku.
"Ada rokok?" ku tanya setelah Iwan duduk. Iwan pun mengulurkan tangannya, memberikan rokok padaku.
Kunyalakan dan kuhisap rokok yang telah menyala. Memikirkan segala hal dengan tenang.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, aku berkata "Kita ke rumah Vina di Dyvette".
Selama perjalanan, ku lihat Iwan sesekali melirikku dari kaca spion. Mungkin dia khawatir padaku.
Terlihat kegugupan dari caranya merespon saat kami bertemu mata.
"Ada apa Wan?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa tuan" ku hanya menaikkan alisku. Mencoba meyakinkan ucapannya.
.
.
Sesampainya kami di perumahan Dyvette, Iwan memencet bell.
Tanda ada penghuni di dalamnya saat pagar di buka.
Terlihat ada ART yang membukakan dan menyambut kedatangan kami.
"Silakan masuk tuan Alang, pak Iwan" dari seseorang yang biasa dipanggil bi Mun.
Sayup-sayup ku mendengar ucapannya ke Iwan.
"Nyonya nggak ikut pak?" tak ada jawaban dari Iwan.
Aku pun masuk ke dalam, melihat sekeliling ruang tamu. Ku telusuri bagian ruangan satu persatu dengan mataku. Pandanganku tertuju pada pintu dekat ruang makan.
Aku masuk dan langsung menutup pintu. Terlihat lemari pakaian, kasur, meja rias. Semua tampak sederhana.
"Kenapa perasaan rindu membuncah dihatiku" bisikku.
Ku masuki kamar mandi yang bersih terawat. Memperhatikan lemari pakaian dan membukanya. Kosong. Tak ada sehelai pakaianpun yang tertinggal. Disini asa ku hilang.
Kulepas sepatuku dan naik ke atas kasur. Menginginkan ada seseorang yang biasa disampingku menemaniku.
"Vinaaa... Viiinnnaaa" desahku, tak terasa kesedihan menyeruak dihatiku.
Aku tak sanggup membendung air mataku.
Lama aku terdiam di kamar ini. Hingga Iwan mengetuk pintu untuk masuk. Kupersilakan dia masuk.
"Tuan... waktunya makan malam" dia mengingatkanku untuk makan.
"Aku mandi dulu, kau siapkan saja bajuku. Tunggulah aku di meja makan" jawabku.
.
.
"Malam ini aku tidur disini" ujarku pada Iwan.
__ADS_1
Selesai makan makan malam, aku langsung masuk kamar. Ingin sendiri dan mencoba mengingat semua kembali.
"Wan, jelasin sama gua maksud 2,5 bulan" pintaku.
Iwanpun menceritakan status antara Vina dan aku secara singkat.. Aku shock mendengarnya.
"Setelah melahirkan, nyonya akan menggugat cerai tuan..." katanya seraya menunduk lesu.
Begitu mendengar penuturan Iwan, hatiku seakan hancur.
"Apa selama menikah denganku, Vina sering kusakiti Wan?" tanyaku mencari alasan.
"... Tidak tuan, nyonya bahagia selama bersama tuan"
"Lantas kenapa dia ingin menceraikanku?"
"....."
Iwan tidak punya jawabannya, begitupun aku.
\=\=\=
Keesokannya seperti biasa, kami berangkat ke kantor.
Aku tidak bertanya apapun pada Iwan, pun Iwan tidak mengatakan apa-apa.
Kuanggap tidak ada yang terjadi.
Siangnya, aku menghubungi Niko di RS. Dyvette,
"Nik, gua mau ketempat lu, ada dimana lu sekarang?"
"... "
"Ok, gua kesana sekarang".
Aku yakin Niko tau keadaanku.
Dia pun menceritakan semua, setelah aku yang bercerita lebih dulu.
Tapi tetap saja aku tidak menemukan jawaban, sebab Vina pergi dariku.
"Hanya Iwan kuncinya, dia pasti tau yang terjadi" pikir ku.
Setelah menemui Niko, aku kembali pulang ke apartement. Mengingat percakapan antara Tara dan Iwan.
"Wan, ke apartement. Aku tunggu secepatnya..!" singkatku menelfon Iwan.
Aku menunggu Iwan di sofa, sambil memandangi tembok depan ku.
Ada benda yang seharusnya ada, tapi tidak ada. Itulah yang akan ku tanyakan pada Iwan, dan beberapa hal lainnya.
Setelah Iwan sampai di apartement, kusuruh dia menemaniku duduk di sofa. Dan memulai percakapan.
"Aku tadi menemui Niko, kuceritakan yang kualami, dan Niko menceritakan kejadiannya".
Iwan memandangku dengan tatapan nanar.
"Aku tidak tau apa yang kau sembunyikan dan alasannya".
"Bukankah seharusnya ada foto pernikahan ku dan Vina di sana?" sambil ku menunjuk tembok didepanku.
"Ya tuan, seharusnya ada foto pernikahan tuan dan nyonya disana".
"Dimana foto itu sekarang?" tanyaku.
"Saya simpan dikamar saya tuan"
"Ambil dan pasang kembali" perintahku.
Iwan pun mengambil dan memasangkannya kembali.
"Kenapa kau menurunkannya? Apa aku yang meminta?"
"Bukan tuan yang meminta tapi Nona Tara".
"Kenapa dia berbuat itu?"
"Nona Tara ingin kembali pada tuan dan berharap tidak pernah mengingat nyonya lagi".
Mendengar hal itu, aku hanya menghembuskan nafas.
"Bagaimana dengan lemari yang terkunci di dalam kamarku?"
"Saya yang merapikan dan menguncinya tuan".
Iwan bergegas menuju kamar utama, aku pun mengikutinya.
__ADS_1
Iwan membuka lemari dan ku melihat pakaian Vina beserta perlengkapan bayi yang tersusun di dalamnya.
Seketika aku terduduk dan terisak-isak. Entah apa yang sudah kulakukan hingga Vina pergi dariku.
"Debay... Debay..." kumerindukan yang sudah kunanti.
Iwan meninggalkan ku sendiri di kamar. Membiarkan ku menuntaskan semua penyesalanku.
.
.
Kutenangkan pikiranku dibawah guyuran shower.
"Vina harus kembali padaku" hanya itu pikiranku.
Setelah ku berpakaian casual, akupun keluar kamar. Kulihat Iwan menungguku.
"Kau masih punya rokok?" tanyaku, Iwan pun memberikannya padaku.
Setelahnya, Iwan membuka jendela balkon apartement.
Kunyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam. "Ceritakan padaku, dimulai dari pembelian rumah di Caera" ujarku.
Iwan menceritakan semuanya padaku. "Bukankah kau seharusnya tau kalau nyonya-mu berencana meninggalkanku?" aku menoleh padanya. Iwan hanya tertunduk.
"Kenapa kau tidak melaporkannya padaku?" aku menuntut penjelasannya.
"Jika saya melaporkan tentang nyonya, tuan akan semakin menjauhi nyonya"
"Kenapa saya menjauhinya?" tanyaku antusias.
"Pria masa lalu nyonya datang, tuan tidak nyaman dengan kedatangannya. Dan sempat cek cok di apartement".
"Apa yang dia inginkan?"
"Dia ingin tuan menceraikan nyonya" aku tercekat mendengarnya.
"Sekacau itukah hubunganku dan Vina, sampai dia meninggalkan ku?" bisikku.
"Apa nyonya ingin aku menceraikannya, dan kembali pada laki-laki itu?"
"Nyonya tidak ingin bersama laki-laki itu tuan".
"Aneh... Jika tidak ingin bersama laki-laki itu, kenapa pergi dariku?"
"Nyonya melihat tuan dan nona Tara di ruang meeting" seketika aku terkejut mendengarnya.
"Apa maksud mu di kantor ini?"
"Ya tuan, nyonya ke kantor saat itu. Setelah melihat tuan dan nona Tara, nyonya pergi"
"Kenapa kau tidak mencegahnya pergi?"
"Saya sudah mencegahnya, sampai terakhir pun saya masih mencoba mencegahnya".
Lalu Iwan memberikan ku foto.
Foto aku dan Tara. Kemudian Iwan menjelaskan kalau Tara mendatangi Vina dan bicara yang tidak benar.
Aku mulai mengerti. Kuambil hape ku dan menghubungi Tara.
"Hallo Tara..." begitu panggilanku diangkat.
"Sayaaang, aku kangen" sahutnya.
"Aku juga kangen kamu Tara sayang" balasku.
"Kamu lagi dimana sayang?"
"Aku ada di apartement. Kemarilah, makan malam disini. Aku jenuh makan bersama Iwan"
"Ha... ha... ha... Iya aku langsung kesana sayang".
"Kamu mau makan apa? Biar kupesankan dulu."
"Terserah padamu sayang"
"Ya sudah, kemarilah" dan panggilan ku matikan.
Ku ambil semua dokumen rumah Vina di kamar dan memberikannya pada Iwan.
"Ubah semua kepemilikan atas namaku"
Iwan hanya terdiam dalam kebingungannya.
\=\=\=
__ADS_1